NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Tiga Tahun

​Di kedalaman Gua Es Kuno, waktu seolah berhenti berputar.

​Informasi dari Seni Pedang Sembilan Es Kuno yang melebur ke dalam kesadaran Hu Jin bukan sekadar jurus bertarung. Warisan itu berisi cara menyelaraskan dua energi yang saling bertolak belakang di dalam Dantian-nya: hawa dingin mematikan dari energi es, dan aura agung yang membara dari Tulang Kaisar.

​Dua kekuatan itu perlahan menyatu, menempa fondasi kultivasi yang belum pernah ada dalam sejarah Benua Timur.

​Hu Jin duduk bersila di atas altar giok putih tanpa bergerak sedikit pun. Es merayap menyelimuti tubuhnya, membentuk kepompong kristal tebal yang mengisolasinya dari dunia luar. Di dalam kurungan es itu, pembuluh darah dan jalur meridiannya diperluas secara ekstrem dan menyiksa.

​Satu tahun... dua tahun... tiga tahun berlalu.

​CRACK

​Pada tahun ketiga, retakan halus muncul di permukaan kepompong es. Retakan itu merambat cepat, hingga akhirnya—

​BUMMM

​Gelombang energi bernuansa biru-emas meledak menghantam dinding gua! Kepompong kristal hancur menjadi debu berkilau yang melayang di udara. Tekanan Qi yang padat memenuhi ruangan, mematahkan batasan tubuh yang selama ini menahannya.

​Hu Jin berhasil menembus ke Ranah Pembentukan Qi (Qi Foundation) di usianya yang baru menginjak tiga belas tahun!

​Matanya terbuka perlahan, memancarkan kilatan biru-emas yang tenang dan tajam. Perubahan fisiknya begitu drastis. Bocah sepuluh tahun yang dulu nakal kini telah menjelma menjadi pemuda tegap, ramping, dengan rambut hitam panjang yang terurai bebas. Garis wajahnya makin tegas, memancarkan aura ketenangan seorang pangeran sekaligus ketajaman ahli pedang sejati.

​Hu Jin berdiri, merenggangkan bahunya hingga terdengar derak tulang yang kokoh. Ia merawat pedang hitam pekat peninggalan sang senior, mengikatnya di punggung, lalu melangkah keluar dari gua es yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun.

​Sinar matahari hangat menyambut wajahnya. Badai salju tiga tahun lalu telah reda, berganti menjadi langit biru yang cerah.

​Hu Jin menyusuri kaki pegunungan ke arah barat. Setelah berhari-hari menembus jalan setapak, sayup-sayup suara riuh pemukiman dan aroma asap dapur bertiup menghampirinya. Di balik bukit kecil, terhampar permukiman bersahaja—Desa Mawar Putih.

​Desa ini jauh dari intrik sekte maupun kekejaman istana. Warganya hanya rakyat biasa yang hidup dari bercocok tanam.

​Saat melangkah ke pinggiran desa, mata tajam Hu Jin menangkap sosok nenek berambut perak yang kesulitan memikul sekeranjang kayu bakar. Langkah kakinya gemetar hebat, hampir tersungkur ke tanah berlumpur.

​Tanpa ragu, Hu Jin melangkah cepat dan menahan beban keranjang itu sebelum sang nenek jatuh.

​"Nenek, berhati-hatilah," ucap Hu Jin lembut. Ia mengambil alih keranjang kayu bakar itu dan menggendongnya di punggung dengan mudah.

​Nenek tua itu mendongak, tertegun melihat pemuda tampan berjubah pengembara yang membantunya dengan senyum hangat.

​"Ah... Terima kasih banyak, Nak. Kayu-kayu ini memang terlalu berat untuk orang tua sepertiku."

​Nenek itu mengajak Hu Jin ke rumah panggung sederhananya. Sebagai bentuk terima kasih, ia menyajikan semangkuk sup sayur hangat dan teh desa. Nenek itu menatap Hu Jin dengan pandangan lembut, menyadari betapa tenangnya mata pemuda ini di balik pedang besar di punggungnya.

​"Melihat pakaian dan pedangmu, kau pasti seorang pendekar dari luar, bukan?" tanya nenek itu pelan seraya tersenyum.

​"Benar, Nenek. Aku hanya pengembara yang sedang mencari jalan hidup," jawab Hu Jin sopan.

​Nenek tua itu memegang jemari Hu Jin yang terasa kasar karena tempaan latihan pedang.

​"Nenek sudah hidup lama di perbatasan ini, Nak. Nenek sering melihat para pendekar dengan kekuatan luar biasa, tapi hati mereka menjadi dingin dan kejam karena haus kekuasaan. Mereka lupa bahwa kekuatan sejati ada untuk melindungi, bukan merusak."

​Ia menatap lurus ke mata Hu Jin, memberikan nasihat tulus:

​"Ingatlah, Nak... seberapa tinggi pun ranah kultivasimu nanti, dan seberapa berat pun beban masa lalu yang kau pikul, tetaplah menjadi orang baik. Jangan biarkan kegelapan dunia mengotori hatimu. Hati yang baik adalah benteng terkuat seorang manusia."

​Kata-kata sederhana itu merasuk hangat, meruntuhkan kebekuan di dalam dada Hu Jin. Selama ini ia berlatih keras agar tidak dibuang atau dibunuh, namun nasihat nenek ini mengingatkannya pada kehangatan gurunya, Qian Renxue.

​"Terima kasih atas wejangannya, Nenek. Aku akan selalu mengingatnya," jawab Hu Jin tulus, membungkuk hormat dari lubuk hatinya.

​Sebelum berpamitan, Hu Jin secara sembunyi-sembunyi menyelipkan beberapa keping perak di bawah cangkir tehnya—jumlah yang cukup untuk menjamin kehidupan nenek itu selama bertahun-tahun.

​Saat singgah di kedai teh depan desa untuk membeli perbekalan, Hu Jin mendengar percakapan beberapa pedagang keliling.

​"Kau sudah mendengar kabar terbaru dari Kota Seribu Pedang?" bisik seorang pedagang gemuk.

​"Tentu saja! Kota itu sedang gempar. Pusat perdagangan terbesar di perbatasan barat itu bersiap menggelar Lelang Besar Tahunan minggu depan!" sahut pedagang lainnya antusias. "Bukan cuma senjata tingkat tinggi yang dijual, tapi faksi-faksi besar dari seluruh Benua Timur juga berkumpul di sana."

​Kota Seribu Pedang... gumam Hu Jin dalam hati.

​Kota metropolitan khusus kultivator yang dikuasai secara netral oleh Serikat Dagang Perbatasan. Tempat berkumpulnya para pengembara, pedagang obat spiritual, hingga mata-mata dari berbagai kerajaan dan sekte besar. Tempat yang sempurna bagi Hu Jin untuk menguji kemampuannya, menjual hasil buruan, serta mencari informasi tentang dunia luar.

​Dengan semangat baru yang membara, pemuda berusia tiga belas tahun itu membenahi letak pedang hitam di punggungnya, lalu melangkah mantap menuju Kota Seribu Pedang.

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!