Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Besok Malam
Damar tidak menjawab pertanyaan itu di lampu merah. Dia juga tidak menjawabnya ketika mobil masuk ke carport Pondok Indah dan Anala mematikan mesin.
Sebagai apa.
Pertanyaan itu duduk di antara mereka di sepanjang Jalan Sudirman, di sepanjang Simatupang, sampai ke pagar rumah. Dia tahu jawabannya. Dia hanya tidak tahu cara mengatakannya tanpa memberikan perempuan itu sesuatu yang tidak bisa dia berikan.
Dia tidak sanggup naik tangga. Dia hanya sanggup sampai ke sofa ruang tengah, sofa yang sama dengan malam Laras pulang, dan menjatuhkan diri di sana dengan satu lengan menutupi mata.
Laras masih di Menteng. Dia sudah mengirim pesan pada Reza untuk mengantar anak itu pulang nanti, dan dia tahu Reza akan melakukannya dengan senang hati.
Anala datang dari dapur membawa segelas air dan handuk kecil yang dibasahi.
Dia duduk di pinggir sofa dan menempelkan handuk dingin itu ke dahinya. Lalu ke lehernya. Lalu ke sudut bibirnya yang luka, pelan-pelan, menyeka darah yang sudah mengering.
Damar menurunkan lengannya dan menatapnya.
"Mereka pasti sudah sampai di bagian paling menarik sekarang," katanya. Suaranya masih serak. "Eyang tidak akan membatalkan pertunangan itu. Eyang tidak pernah membatalkan apa pun yang sudah diumumkan. Tapi Eyang juga tidak akan membiarkan nama Hadiwijaya dipermalukan di depan empat puluh orang. Jadi Bianca tetap menikah dengan Hadiwijaya. Hanya Hadiwijaya yang lain."
"Kamu sudah tahu Eyang akan bilang begitu."
"Eyang paling sayang pada mukanya sendiri."
Anala menatapnya lama. Lalu sudut bibirnya naik sedikit.
"Jadi Pak Damar diselingkuhi tunangannya," katanya. "Gratis pula."
Damar tertawa. Tawa itu menyakiti bibirnya yang luka, tapi dia tidak bisa berhenti.
"Pelayan itu," kata Anala. "Tagih. Eyang yang datang tepat tujuh menit kemudian. Kamu menyusun semua itu dalam keadaan begitu?"
"Aku tidak suka dijebak."
"Di rumah keluargamu sendiri."
"Justru karena itu."
Dia meraih pergelangan tangan Anala yang memegang handuk. Menariknya pelan, dan perempuan itu tidak melawan. Dia jatuh ke dadanya, rambutnya yang sudah lepas dari sanggul menyapu wajah Damar. Wangi sedap malam. Bukan mawar.
Obat itu masih ada di darahnya. Dia bisa merasakannya, panas yang belum benar-benar padam. Tapi bukan obat itu yang membuat tangannya bergerak ke punggung Anala, menariknya lebih dekat.
Tangan Anala menekan dadanya. Tidak mendorong. Hanya menahan.
"Nikahi aku dulu."
Damar berhenti.
Dia membuka matanya. Wajah perempuan itu hanya beberapa senti dari wajahnya. Tidak ada senyum di sana. Tidak ada permainan.
Dia melepaskan tangannya dari punggung Anala.
"Aku tidak menikah," katanya. "Sudah kubilang."
Anala duduk tegak lagi. Dia mengambil handuk yang jatuh ke lantai, melipatnya, dan meletakkannya di meja. Gerakannya rapi dan pelan. Seperti sekretaris yang membereskan meja rapat setelah semua orang pulang.
Damar menatap langit-langit.
Dia memikirkan Eyang, di ruang kerja yang berbau cendana itu. Jangan pernah punya kelemahan. Begitu orang tahu apa yang kamu sayangi, mereka tahu ke mana harus menusuk.
Pernikahan adalah pengumuman. Pernikahan adalah nama perempuan itu di atas kertas, di surat-surat resmi, di mulut setiap orang di keluarga besar. Pernikahan adalah memberi tahu Eyang, dan Gilang, dan siapa pun yang menunggu di Batam, persis di mana dia bisa ditusuk.
Malam ini, Gilang mengirim seseorang ke taman danau untuk perempuan ini. Dan dia, Damar, bahkan bukan suaminya.
Kalau dia suaminya, apa yang akan mereka kirim?
Dia bangkit dengan susah payah dan berjalan ke ruang kerja. Anala tidak mengikutinya. Ketika dia kembali, dia membawa sesuatu di genggaman tangannya.
Dia duduk lagi di sofa, meraih tangan kanan Anala, membuka jari-jarinya satu per satu, dan meletakkan benda itu di telapak tangannya.
Sebuah kunci. Kuningan, berukir sederhana. Kunci yang tidak pernah dia berikan kepada siapa pun, bahkan kepada Bi Iyah.
"Kamarku," katanya.
Anala menatap kunci itu.
"Besok malam," kata Damar. "Kamarku. Bukan sebagai sekretaris."
Jam dinding di ruang tengah berdetak. Pukul dua belas lewat dua puluh. Hari sudah berganti.
Anala tidak langsung menjawab. Jari-jarinya pelan-pelan menutup di atas kunci itu, sampai kuningannya hilang di dalam kepalannya. Dia tidak menatap Damar. Dia menatap kepalan tangannya sendiri.
Akhirnya dia berkata, "Baik."
Hanya itu. Lalu dia berdiri, mengucapkan selamat malam, dan berjalan keluar menuju paviliun.
Damar menatap pintu yang tertutup itu. Dia merasa sudah menang. Dia memberikan sesuatu, dan perempuan itu menerimanya, dan tidak ada nama siapa pun yang perlu ditulis di atas kertas apa pun.
Dia tidur di sofa itu sampai pagi.
***
Pukul tujuh, ponselnya menyala dengan belasan notifikasi.
Grup keluarga besar. Gilang dan Bianca ketahuan di kamar, di rumah Eyang, di malam HUT. Seseorang mengirim foto buram pintu kamar tamu. Seseorang lain menghapusnya. Sebuah akun gosip sosialita di Instagram sudah memposting versi samar-samar: Pewaris H dan aktris B tertangkap basah di pesta keluarga?
Lalu yang paling baru, satu jam yang lalu. Pernyataan resmi dari bagian humas Wibisono Prima, dalam huruf tebal: Kabar yang beredar adalah kabar bohong. Keluarga Wibisono akan menempuh jalur hukum terhadap penyebar fitnah.
Damar menatap pernyataan itu dan tersenyum.
Ponselnya berdering. Reza.
"Mar. Semalem kenapa? Laras bilang kamu kayak orang mabuk, terus ngilang. Terus pagi-pagi grup keluarga meledak. Gilang? Bianca? Serius?"
"Serius."
"Kamu yang..."
"Za." Damar duduk dan memijat pelipisnya. "Mulai besok, jangan panggil Anala ke rumah lewat jam sembilan malam lagi. Urusan kantor, kantor. Urusan rumah, bukan urusanmu."
Hening di seberang. Lama sekali, sampai Damar mengira sambungannya putus.
"Mar," kata Reza akhirnya. Suaranya tidak bercanda lagi. "Kamu yakin?"
Damar tidak menjawab.
"Dua tahun aku ngawasin dia. Dua tahun aku nggak bisa nemu apa-apa. Itu justru yang bikin aku takut."
"Aku tahu."
"Terus?"
"Terus aku yakin."
Reza menghela napas panjang. "Oke. Oke, Mar. Tapi kalau nanti..."
"Nanti, ya nanti."
Dia menutup telepon.
***
Sarapan di meja makan rumah utama hari itu terasa berbeda.
Bi Iyah meletakkan nasi uduk, telur balado, dan tempe goreng. Anala duduk di kursi yang biasa, di ujung meja, di seberang Damar. Dia sudah mandi, rambutnya diikat rapi, memakai blus putih sederhana. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Kecuali Damar tahu ada sebuah kunci kuningan di saku blus itu.
Dia mengambil sepotong telur balado dari piring saji dan meletakkannya di piring Anala.
Bi Iyah, yang sedang menuang teh, berhenti. Teko di tangannya menggantung di udara sebentar sebelum dia melanjutkan menuang.
Anala menatap telur di piringnya. Lalu dia makan tanpa berkata apa-apa.
Setelah sarapan, Damar pergi ke ruang kerja untuk mengambil berkas. Ketika dia kembali melewati lorong dekat dapur, dia mendengar suara Bi Iyah. Pelan, rendah, setengah berbisik.
"Bu, Bibi cuma mau bilang, ya. Bibi nggak ikut campur." Hening sebentar. "Tapi Bibi ini perempuan juga. Kalau nanti orang ngomong macam-macam, Bu, yang nanggung itu perempuannya. Bukan laki-lakinya. Dari dulu begitu."
Tidak ada jawaban dari Anala. Hanya bunyi piring yang ditaruh pelan di rak.
Damar berdiri di lorong itu, di luar pintu dapur, dengan berkas di tangannya. Dia tidak masuk.
***
Ponsel Anala berdering ketika dia sedang mengumpulkan berkas di meja makan.
Dia menatap layar itu. Damar melihat ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Seperti orang yang melihat nomor dari masa lalu.
"Om," katanya ketika mengangkat telepon.
Suara di seberang terdengar keras, cukup keras untuk sampai ke ujung meja tempat Damar duduk. Suara laki-laki tua dengan logat Jawa yang kental.
"Walah, Nduk. Nduk, ini bener? Ini kamu? Om lihat di grup keluarga, ada yang kirim foto. Kamu keluar dari rumah laki-laki jam tujuh pagi. Satu Solo sudah tahu, Nduk!"
Anala memejamkan mata. "Om, itu..."
"Kamu jadi simpanan orang Jakarta? Begitu? Bapakmu dulu banting tulang biar kamu bisa sekolah tinggi, biar kamu nggak..." Suara itu pecah sedikit. "Om ini sudah malu, Nduk. Utang Om saja belum bisa Om bayar, orang-orang sudah ngomongin, sekarang ditambah ini..."
Utang. Damar mengangkat kepalanya.
Anala tidak membela diri. Dia tidak menjelaskan soal paviliun. Dia hanya mendengarkan, jari-jari tangan kirinya mencengkeram ujung taplak meja.
"Nala," kata suara itu, lebih pelan sekarang. "Kalau bapak-ibumu masih hidup, mereka bilang apa?"
Anala tidak menjawab.
Dia menurunkan ponsel dari telinganya dan menekan tombol merah. Lalu dia meletakkannya di meja, layar menghadap ke bawah, persis di samping kunci kuningan yang entah sejak kapan sudah dia keluarkan dari sakunya.
Dia menatap kunci itu lama. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap Damar.
Matanya kering.
"Nanti malam," katanya.