NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Kebohongan Evelyn

Evelyn Zhao tidak pernah menyukai kejutan, terutama ketika kejutan itu datang dari seseorang yang seharusnya berada di bawah kendalinya.

Pagi itu, ia duduk di ruang pribadi sebuah hotel mewah di Shanghai, menatap layar ponselnya dengan wajah pucat. Pesan anonim yang diterimanya beberapa menit lalu hanya terdiri dari satu kalimat.

“Alexander mulai membuka kembali arsip malam kematian William Wang. Jika kau masih ingin mempertahankan rahasiamu, temui aku malam ini.”

Evelyn membaca pesan itu berulang kali.

Selama bertahun-tahun, ia telah berusaha memastikan nama William Wang tidak pernah muncul dalam percakapan keluarga Wu. Ia mengira dokumen lama sudah terkubur, saksi-saksi telah diam, dan Celine tidak akan pernah mengetahui hubungan antara kematian ayahnya dan transaksi 0917.

Ia salah.

Celine Wang yang dahulu dikenal sebagai istri pendiam kini telah berubah menjadi perempuan yang tidak mudah ditakuti. Lebih buruk lagi, Alexander mulai mempertanyakan masa lalu yang selama ini Evelyn bantu sembunyikan.

Evelyn meletakkan ponselnya dan menarik napas panjang.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Ia segera menghubungi Victor Wu.

Panggilannya baru dijawab setelah beberapa kali berdering.

“Apa yang terjadi?” tanya Victor tanpa basa-basi.

“Alexander sudah menyerahkan surat William kepada Daniel Zhou.”

Keheningan terdengar di ujung telepon.

“Dari mana kau tahu?”

“Aku memiliki sumber.” Evelyn merendahkan suaranya. “Kalau surat itu diperiksa lebih jauh, mereka akan menemukan nama-nama yang seharusnya tidak muncul lagi.”

“Kau seharusnya tidak membiarkan ini terjadi.”

Evelyn mengeraskan rahangnya.

“Aku tidak menyebabkan Alexander menyerahkan surat itu. Dia melakukannya sendiri karena rasa bersalahnya terhadap Celine.”

“Kalau begitu, pastikan rasa bersalah itu tidak berubah menjadi keberanian untuk menghancurkan keluarganya sendiri.”

Sambungan terputus.

Evelyn menatap layar ponselnya dengan mata menyipit.

Selama ini, Victor selalu berbicara seolah-olah dirinya yang memegang kendali. Namun, Evelyn tahu bahwa lelaki tua itu juga memiliki sesuatu yang ingin disembunyikan.

Dan jika keadaan semakin memburuk, ia tidak berniat menjadi satu-satunya orang yang menanggung akibatnya.

Siang harinya, Evelyn mendatangi kantor Wu Group tanpa pemberitahuan.

Alexander sedang membaca laporan ketika sekretarisnya mengumumkan kedatangan perempuan itu. Ia hampir menolak, tetapi akhirnya mengizinkannya masuk.

Evelyn memasuki ruangan dengan gaun krem dan senyum lembut yang sudah lama dikenalnya. Penampilannya sempurna, seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang mampu mengusik ketenangannya.

“Aku dengar kau sedang mengalami banyak masalah,” katanya sambil duduk.

Alexander tidak membalas senyumnya.

“Kalau kau datang untuk membicarakan Shen Capital, aku sedang sibuk.”

“Aku datang karena mengkhawatirkanmu.”

“Aku tidak membutuhkan kekhawatiranmu.”

Senyum Evelyn sedikit memudar.

Dahulu, Alexander selalu memberinya perhatian ketika ia mengaku sedang kesulitan. Ia terbiasa menjadi perempuan yang membuat pria itu melupakan masalahnya, tempat Alexander kembali ketika dunia terasa melelahkan.

Namun, sekarang Alexander bahkan tidak berusaha menyembunyikan kejengkelannya.

“Celine benar-benar mengubahmu,” kata Evelyn.

Alexander menutup laporan di tangannya.

“Jangan menyalahkan Celine atas masalah yang kau sendiri tidak pahami.”

“Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa Adrian Shen mungkin tidak sebaik yang kau kira. Dia memiliki kepentingan terhadap keluarga Wu. Kedekatannya dengan Celine bisa menjadi cara untuk menyerangmu.”

Alexander menatap Evelyn dengan dingin.

“Apakah kau memiliki bukti?”

Evelyn terdiam sesaat.

“Aku mengenal orang-orang seperti Adrian.”

“Itu bukan bukti.”

“Alexander, aku hanya berusaha melindungimu.”

“Kalau begitu, jawab satu pertanyaan.”

Nada suara Alexander berubah, membuat Evelyn tanpa sadar menegakkan punggungnya.

“Apa hubunganmu dengan transaksi 0917?”

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Evelyn kehilangan senyumnya.

Hanya sesaat, tetapi Alexander melihatnya.

“Transaksi apa?”

“Transaksi yang melibatkan aset keluarga Wang, Shengyuan Holdings, dan perusahaan perantara yang menerima pembayaran dua hari sebelum William meninggal.”

Evelyn tertawa kecil, berusaha terdengar santai.

“Aku tidak mengerti urusan keuangan lama keluarga kalian.”

“Namamu tercantum pada salinan perjanjian pengalihan aset yang kutemukan.”

Wajah Evelyn memucat.

Alexander bersandar di kursinya.

“Sekarang kau mengerti mengapa aku bertanya?”

“Aku tidak pernah menandatangani perjanjian semacam itu.”

“Kalau begitu, kau tidak keberatan jika dokumennya diperiksa oleh ahli forensik?”

Evelyn menggenggam tasnya lebih erat.

“Alexander, kau tidak sedang berpikir jernih. Celine sedang memengaruhimu. Dia ingin membuatmu meragukan semua orang yang dekat denganmu.”

Alexander berdiri.

“Cukup.”

Evelyn terdiam.

“Jangan pernah menggunakan nama Celine untuk menghindari pertanyaan dariku lagi.”

Ia berjalan ke sisi meja, menatap perempuan yang dahulu selalu ia percayai.

“Dulu aku mengira kau selalu mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Sekarang, setiap kali kau menjawab pertanyaan, aku justru bertanya-tanya bagian mana yang kau sembunyikan.”

Mata Evelyn mulai berkaca-kaca.

“Kau tega mencurigaiku setelah semua yang pernah kita lalui?”

Alexander tidak menjawab.

Dan bagi Evelyn, keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada tuduhan.

Sementara itu, Celine sedang berada di kantor Daniel Zhou ketika sebuah berkas lama tiba melalui kurir.

Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah amplop cokelat yang disegel dengan rapi.

Daniel mengenakan sarung tangan sebelum membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat salinan laporan pembayaran, foto lama, dan selembar kertas dengan tulisan tangan yang hampir pudar.

Celine segera mengenali nama yang tercantum pada laporan.

Evelyn Zhao.

“Ini bisa menjadi penting,” kata Daniel.

Celine membaca catatan pembayaran dengan teliti. Nama Evelyn tercantum sebagai saksi dalam sebuah transaksi yang melibatkan perusahaan perantara. Tanggal dokumen itu hanya dua hari sebelum kematian William.

Namun, ada sesuatu yang lebih mencurigakan.

Di bagian bawah laporan terdapat catatan bahwa pembayaran tersebut disetujui setelah perubahan mendadak pada daftar penerima aset.

“Apakah tanda tangannya asli?” tanya Celine.

“Kita belum bisa menyimpulkan. Ini hanya salinan, dan sebagian informasi mungkin telah diubah.” Daniel menunjuk bagian yang kabur. “Kita harus mendapatkan dokumen asli atau catatan resmi dari bank.”

Celine mengangguk.

Ia tidak ingin membuat kesalahan dengan menuduh seseorang sebelum memiliki bukti yang kuat.

Namun, ketika ia membalik foto lama di dalam amplop, ia menemukan tulisan yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Evelyn mengetahui siapa yang berada di mobil kedua.

Celine membaca kalimat itu sekali lagi.

“Daniel, siapa yang mengirimkan ini?”

“Kita akan melacak asal pengirimannya, tetapi jangan berharap mudah. Amplop ini tidak memiliki informasi yang cukup.”

“Kalau Evelyn mengetahui siapa yang berada di mobil kedua, berarti dia mungkin tahu apa yang terjadi pada malam Ayah meninggal.”

“Mungkin. Tapi ingat, seseorang juga bisa mengirimkan dokumen ini untuk menjebaknya.”

Celine menyimpan foto tersebut.

“Kalau begitu, aku akan mencari tahu melalui bukti, bukan melalui tuduhan.”

Daniel mengangguk setuju.

Namun, sebelum mereka sempat membahas langkah selanjutnya, ponsel Celine berdering. Nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar.

Ia mengangkatnya.

Suara perempuan terdengar pelan.

“Jika kau ingin mengetahui kebohongan Evelyn Zhao, jangan tanyakan kepadanya tentang William Wang.”

“Siapa ini?”

“Tanyakan mengapa dia meninggalkan Shanghai selama tiga hari setelah kecelakaan itu.”

Sebelum Celine sempat mengajukan pertanyaan lain, sambungan terputus.

Ia menatap Daniel.

“Cari semua catatan perjalanan Evelyn pada minggu kematian Ayah.”

Daniel segera mencatat permintaannya.

Kecurigaan Celine semakin kuat, tetapi ia tahu satu hal: seseorang sedang berusaha mengarahkannya kepada Evelyn.

Dan orang yang memberikan petunjuk itu mungkin memiliki tujuan sendiri.

Malamnya, Evelyn tiba di sebuah restoran pribadi di kawasan tua Shanghai.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggunya di sudut ruangan. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tetapi Evelyn mengenal suaranya begitu pria itu berbicara.

“Kau terlambat.”

“Aku tidak datang untuk menerima perintahmu.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kalau begitu, mengapa kau datang?”

Evelyn duduk dengan tubuh tegang.

“Alexander mulai mencurigai perjanjian lama. Dia juga sudah menyerahkan surat William kepada pengacaranya.”

“Dan kau belum melakukan apa pun untuk menghentikannya?”

“Aku tidak bisa mengendalikan Alexander seperti dulu.”

“Karena Celine?”

Evelyn menatap pria itu tajam.

“Jangan menyebut namanya.”

Pria itu tertawa pelan.

“Menarik. Perempuan yang kau kira sudah kau singkirkan ternyata masih menjadi ancaman terbesar bagimu.”

Evelyn mengepalkan tangan.

“Apa yang kau inginkan?”

“Salinan dokumen yang masih kau simpan.”

“Aku tidak memilikinya.”

Pria itu mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di atas meja.

Foto itu memperlihatkan Evelyn muda berdiri di dekat sebuah mobil hitam. Di belakangnya, tampak seorang pria yang wajahnya tidak sepenuhnya terlihat.

Evelyn langsung pucat.

“Dari mana kau mendapatkan foto itu?”

“Pertanyaan yang salah.” Pria tersebut mendorong foto itu ke arahnya. “Pertanyaan yang seharusnya kau ajukan adalah: siapa yang akan melihatnya setelah Celine menemukan salinan lainnya?”

Evelyn meraih foto itu dengan tangan gemetar.

“Kalau foto ini sampai ke Alexander, semuanya akan hancur.”

“Bukan hanya kau.”

Pria itu berdiri dan merapikan jasnya.

“Ingat, Evelyn. Kita memiliki rahasia yang sama. Jika kau memutuskan mengorbankanku untuk menyelamatkan dirimu sendiri, aku akan memastikan semua orang mengetahui peranmu.”

Ia meninggalkan ruangan tanpa menoleh.

Evelyn tetap duduk, menatap foto di tangannya.

Selama bertahun-tahun, ia telah berbohong kepada Alexander, menyembunyikan masa lalunya, dan berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang kematian William.

Namun, kebohongan terbesarnya bukanlah tentang transaksi 0917.

Melainkan tentang apa yang sebenarnya ia lakukan pada malam kecelakaan itu.

Di apartemennya, Celine menerima pesan baru dari nomor tak dikenal.

Sebuah foto Evelyn muda berdiri di dekat mobil hitam muncul di layar.

Di bawahnya tertulis:

“Kau sudah menemukan satu kebohongannya. Sekarang cari tahu siapa yang membawanya pergi dari Shanghai tiga hari setelah William Wang meninggal.”

Celine memperbesar foto itu.

Di sudut gambar, ia melihat pantulan seseorang di kaca mobil. Wajahnya kabur, tetapi bentuk tubuh dan jam tangan yang dikenakannya terasa familier.

Celine membuka kembali foto lama Victor Wu yang tersimpan dalam arsip keluarga.

Jam tangan itu tampak serupa.

Ia segera mengirimkan kedua gambar kepada Daniel untuk diperiksa.

Kemudian ia berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota.

Jika Victor berada di dekat Evelyn pada malam itu, dan Evelyn meninggalkan Shanghai setelah kematian ayahnya, maka rahasia keluarga Wu jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, pesan itu berasal dari Alexander.

“Celine, aku menemukan sesuatu tentang Evelyn. Jangan menemuinya sendirian. Ada hal yang belum kau ketahui tentang malam kematian ayahmu.”

Celine membaca pesan itu tanpa segera membalas.

Dulu, ia mungkin akan langsung mempercayai Alexander.

Sekarang, ia hanya mengetik satu kalimat.

“Kalau kau memiliki bukti, kirimkan kepada Daniel. Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatanku hanya karena kau memintaku percaya.”

Ia meletakkan ponselnya.

Untuk pertama kalinya, kebohongan Evelyn mulai retak. Namun, Celine belum mengetahui apakah perempuan itu pelaku, saksi, atau hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar.

Yang pasti, seseorang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk memastikan kebenaran tetap terkubur.

Dan kini, orang itu mulai kehilangan kendali.

Celine tersenyum tipis.

Permainan mereka belum berakhir.

Justru sekarang, permainan itu baru benar-benar dimulai.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!