Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - JERUJI BESI YANG TERKUNCI
Angin dingin menyapu selasar depan Apotek Sentral, membawa aroma khas alkohol cair bercampur bau tanah basah dari arah jalan raya. Luna berdiri kaku di hadapan jeruji besi tempa yang menjulang setinggi tiga meter, melapisi seluruh permukaan pintu kaca utama apotek tersebut. Jemari tangannya yang dilapisi sarung tangan taktis meraba batang besi hitam yang dingin, merasakan kekokohan struktur pengamanan yang terpasang tanpa cela.
Steve melangkah mendekat, menyandarkan berat tubuhnya pada celah jeruji besi seraya mengintip ke dalam.
"Jeruji ini tidak bakal tembus cuma dengan dorongan bahu." kata Steve seraya mengusap pelipisnya yang memerah.
Napas Steve terdengar makin memburu. Keringat dingin mengalir membasahi leher kemeja hitamnya, memancarkan hawa panas yang kian pekat dari balik perban balutan bahunya. Nancy yang berdiri tepat di sampingnya memperhatikan raut wajah Steve dengan rasa cemas yang kian mendalam.
"Suhu tubuhmu makin tinggi, Steve. Kita tidak punya banyak waktu untuk berdiri di sini." kata Nancy seraya jemarinya yang dingin menyentuh pergelangan tangan Steve.
"Aku masih sanggup menahannya, Nona. Jangan khawatirkan aku." balas Steve seraya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.
Nancy menghela napas panjang, membetulkan kacamata tebalnya dengan cermat. "Pembengkakan di sekitar lukamu bisa meluas kalau infeksi sekunder dari spora luar terus dibiarkan tanpa penanganan antiseptik medis. Kita harus bisa masuk ke dalam apotek ini dalam hitungan menit."
Luna memutar badannya, menatap tiga selot baja raksasa dan gembok tebal yang tergantung kaku di bagian tengah jeruji besi. Ketiga selot itu terpasang dari sisi dalam, dengan lidah pengunci baja yang tertancap dalam ke kerangka dinding semen.
"Gemboknya ada tiga, semuanya dikunci dari dalam." bisik Luna seraya meneliti engsel baja di selat pintu.
"Kalau dikunci rapat dari dalam, berarti ada orang yang sengaja mengisolasikan diri di dalam sana." kata Rian dengan mata terbelalak penasaran.
"Atau ada makhluk terinfeksi yang terkurung..." gumam Nancy khawatir seraya memeluk erat tablet digitalnya.
Steve mengepalkan tangan kanannya, mengayunkan pipa besi tebalnya pelan ke udara. "Bagaimana kalau aku hantam gembok ini pakai pipa besi? Dua atau tiga ayunan keras mungkin bisa mematahkan poros engselnya."
"Jangan konyol, Steve." potong Luna cepat seraya menahan lengan kekar Steve.
"Suara benturan besi beradu baja di ruang terbuka ini bakal terdengar sampai ke ujung Jalan Sudirman. Suara itu sama saja dengan memanggil seluruh gerombolan zombie dari radius dua ratus meter untuk mengepung kita di selasar sempit ini." lanjut Luna memperingatkan dengan nada dingin yang penuh kepastian taktis.
Steve menghela napas pasrah, menurunkan kembali pipa besinya ke lantai keramik. "Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak bisa menerobos kaca kalau jerujinya masih terkunci begini."
Nancy dengan cepat membuka antarmuka skematik bangunan Apotek Sentral pada layar tablet digitalnya. Jemarinya yang lincah menggeser gambar cetak biru dua dimensi gedung dua lantai tersebut, menyisir setiap celah akses dan saluran utilitas yang ada.
"Apotek ini punya dua rute masuk sekunder." kata Nancy seraya menunjukkan titik-titik indikator di layarnya.
"Pintu bongkar muat barang di lorong samping kanan, dan jendela ventilasi udara di dinding belakang dekat area gudang racik." jelas Nancy detail.
"Kita periksa pintu samping dulu. Rian, jaga pandangan ke arah jalan utama." perintah Luna tegas seraya memutar arah langkahnya.
Mereka berempat menyusuri selasar depan, berbelok menyelinap masuk ke dalam lorong sempit berukuran satu setengah meter yang mengapit dinding samping gedung apotek. Lorong samping itu gelap dan lembap, ditutupi tumpukan kardus kemasan obat yang sudah basah melapuk. Di ujung lorong, berdiri sebuah pintu besi tunggal berwarna hijau kusam.
Steve maju ke depan, memegang gagang pintu besi itu lalu memutarnya perlahan.
Klek... klek...
Gagang pintu terhenti kaku, tidak bergerak sedikit pun. Steve mendorong pintu tersebut menggunakan bahu kanannya, namun permukaan pintu besi itu tetap kokoh menyatu dengan bingkai semennya.
"Pintu samping ini juga dipasangi pengunci palang kayu atau rantai tebal dari dalam." ujar Steve seraya menggelengkan kepala.
"Seseorang benar-benar membarikade gedung ini secara menyeluruh dari bagian dalam." analisis Luna seraya menyapu pandangannya ke dinding atas lorong.
Di dinding atas lorong samping, terdapat dua buah jendela kaca berbingkai kayu yang dilapisi jeruji besi silang. Kaca-kaca jendela itu tertutup rapat dari dalam, dihalangi oleh gulungan tirai kain tebal berwarna biru kusam yang mencegah pendaran cahaya menerobos masuk.
Nancy mendekatkan tabletnya ke dinding semen, menatap layar dengan kening berkerut halus. "Siapa pun yang mengurung diri di dalam sini, dia melakukannya dengan sangat rapi dan penuh perhitungan. Semua akses utama ditutup rapat untuk mencegah spora udara dan ancaman luar masuk."
"Berarti ada kemungkinan besar penyintas di dalam sana masih hidup." tutur Rian dari balik bahu Luna.
"Atau dia sudah tewas membusuk akibat kehabisan pasokan makanan di dalam." balas Steve realistis seraya menyapu keringat dingin di lehernya.
Rasa hangat akibat peradangan luka di bahu Steve kian terpancar jelas. Wajah pria kekar itu makin pucat, dan tumpuan kakinya di atas lantai semen lorong mulai tampak agak gemetaran. Nancy yang berdiri di sampingnya tidak bisa lagi menutupi rasa khawatirnya. Ia meraihkannya lengan kemeja Steve, menatap mata pria itu dengan pandangan yang dalam.
"Steve, kamu harus duduk sebentar. Jangan paksakan otot bahumu." bisik Nancy lembut dengan nada memohon yang jujur.
"Aku baik-baik saja, Nancy. Selama kita belum dapat obatnya, aku tidak bakal tumbang." jawab Steve seraya tersenyum hangat, mencoba menenangkan hati wanita berkacamata itu.
Melihat perhatian murni yang terjalin di antara rekan-rekannya, Luna menyadari bahwa waktu mereka makin sempit. Demam Steve bisa memburuk menjadi serangan kejang jika infeksi sekunder dari debu spora terus menjalar tanpa henti. Keputusan tegas harus diambil sekarang juga.
Luna melangkah kembali ke arah pelataran depan, berdiri tepat di hadapan jeruji besi tempa yang terkunci rapat. Ia mendekatkan wajahnya ke celah jeruji, memindai kegelapan interior apotek di balik tersingkapnya tirai kain jendela depan.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, di antara deretan rak etalase obat yang rapi, Luna menangkap sebuah pergerakan sangat halus. Sebuah bayangan kecil di sudut area kasir belakang mendadak bergeser pelan, disusul oleh suara gemersik kain yang menggesek lantai keramik.
Mata kelam Luna menyipit tajam. Ada kehidupan bernapas di balik jeruji besi ini.
Luna mengangkat busur recurve-nya, menggunakan notch takik kayu di ujung anak panah karbonnya untuk mengetuk salah satu batang besi tempa dengan ketukan yang teratur, halus, namun cukup jernih membelah keheningan.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan kayu beradu besi itu memantul lembut di selasar depan apotek.
Steve, Nancy, dan Rian seketika menahan napas serentak, merapatkan tubuh mereka ke dinding semen dengan kewaspadaan penuh.
Di dalam ruangan apotek yang gelap dan tertutup rapat itu, suara ketukan Luna menciptakan reaksi instan. Suara derit kaku dari sebuah bangku kayu yang tergeser mendadak terdengar dari arah pojokan kasir belakang, disusul oleh nafas tercekat yang ditahan secara histeris oleh seseorang di dalam sana.
"Ada orang di dalam." bisik Luna pelan tanpa berpaling dari celah jeruji.
Barikade besi tebal yang mengunci Apotek Sentral dari dalam ini kini tidak lagi sekadar menjadi penghalang fisik, melainkan batas pemisah antara kelompok penyintas yang membutuhkan pertolongan medis dan seorang penghuni misterius yang bersembunyi dalam ketakutan murni.