NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Wusss.

Angin sore bertiup cukup kencang menyapu atap beton gedung SMA Garuda Kelam yang kusam.

Bara berdiri dengan napas terengah-engah dan keringat sebesar biji jagung membasahi kemeja seragamnya.

Rico duduk bersila di lantai atap sambil memangku laptop dengan jari yang terus menari di atas keyboard.

Tak tak tak.

"Saya ulangi argumen saya, masyarakat berpenghasilan rendah yang menduduki tanah negara adalah parasit pembangunan."

Husen berjalan mengelilingi Bara dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi.

"Mereka melanggar hukum tata negara, merusak estetika, dan menghambat investasi asing yang masuk ke daerah."

"Silakan bantah argumen saya sekarang juga tanpa menggunakan nada tinggi, Bara."

Bara menggertakkan giginya sangat kuat sampai otot rahangnya terlihat jelas menonjol keluar.

Topik tentang penggusuran dan kemiskinan selalu berhasil memancing emosi jalanannya untuk meledak tak terkendali.

"Mereka tinggal di sana karena pemerintah gagal menyediakan perumahan rakyat yang layak dan murah!"

Bara berteriak dengan nada keras membela kelompok masyarakat yang paling sering ditindas tersebut.

Bugh.

Husen langsung memukul paha Bara menggunakan sebatang penggaris kayu panjang dengan lumayan keras.

"Aduh!"

"Kamu baru saja kehilangan sepuluh poin dari juri provinsi karena kamu gagal mengontrol intonasi suaramu, Bara."

Husen meletakkan kembali penggaris kayu itu dan menatap muridnya dengan raut wajah sangat kecewa.

"Di tingkat provinsi, lawanmu tidak akan berteriak marah sepertimu saat membahas isu sensitif."

"Mereka akan menggunakan bahasa hukum yang sangat halus namun mematikan karaktermu secara perlahan."

Bara mengusap pahanya yang sedikit perih sambil menundukkan wajahnya merasa bersalah.

"Maaf Pak, gue emang gampang kepancing kalau udah bawa-bawa urusan nasib orang kecil yang digusur sembarangan."

"Rasanya pengen langsung gue tonjok aja muka orang berdasi yang ngomong jahat kayak gitu."

Husen menghela napas panjang dan melangkah mendekati Bara lalu menepuk bahunya dengan pelan.

Puk puk.

"Emosi adalah senjata yang bagus jika kamu tahu cara mengarahkannya menjadi logika yang tajam."

"Tapi jika emosi itu meledak menjadi kemarahan buta, kamu hanya akan terlihat seperti preman bodoh di mata mereka."

Rico langsung berhenti mengetik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk meminta izin berbicara.

"Terus Bos Bara harus jawab gimana Pak biar kelihatan pintar dan elegan di depan juri nanti?"

Husen tersenyum tipis dan mengambil alih posisi Bara seolah dia yang sedang menjadi peserta lomba.

"Dengar dan perhatikan baik-baik struktur kalimat bantahan ini."

"Pelanggaran hukum tata ruang oleh warga miskin bukanlah akar masalah, melainkan gejala dari kegagalan sistemik tata kelola lahan negara."

Bara dan Rico langsung melebarkan mata mereka mendengar pilihan kata yang terdengar sangat luar biasa cerdas itu.

"Menyebut mereka parasit sama saja dengan pemerintah mengakui kegagalannya sendiri dalam mendistribusikan kesejahteraan ekonomi nasional."

Husen menoleh kembali ke arah Bara dengan tatapan penuh tantangan.

"Bisa kamu rasakan perbedaan daya hancurnya, Bara?"

"Kalimat itu tidak terdengar marah, tapi efek serangannya langsung menghancurkan dasar argumen mereka berkeping-keping."

Bara menelan ludah dengan susah payah menyadari betapa jauhnya jarak kualitas debatnya dengan sang wali kelas.

"Gila, itu kedengerannya sopan banget tapi nusuknya langsung ke jantung pemerintahannya ya Pak."

"Gue harus ngafalin semua struktur kalimat bahasa dewa kayak gitu mulai sore ini juga."

Husen mengangguk puas dan kembali mundur ke posisi awalnya sebagai lawan debat.

"Bagus, sekarang kita ulangi simulasinya dari awal dan Rico pastikan kamu menyiapkan data rasio gini kesenjangan ekonomi."

"Siap laksanakan, Pak Husen!"

Mereka bertiga kembali larut dalam latihan perdebatan hukum tata negara yang sangat intens dan menguras otak.

Bara dipaksa untuk terus menelan amarahnya dan mengubahnya menjadi kalimat-kalimat terstruktur yang tajam.

Latihan itu terus berlangsung sampai matahari benar-benar terbenam meninggalkan ufuk barat.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang hangat menembus masuk melalui jendela kelas XI-7.

Suasana kelas terlihat cukup tenang karena ini adalah jam pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru baru mereka.

Krieet.

Pintu kelas terbuka dan Dimas melangkah masuk membawa buku absen dengan senyum manis andalannya.

"Selamat pagi semuanya, bagaimana kabar kalian hari ini?"

"Pagi Pak Dimas, kabar baik!"

Seluruh kelas menjawab serempak dengan nada yang sengaja dibuat sesopan mungkin sesuai instruksi Husen kemarin.

Dimas meletakkan bukunya di meja guru dan mulai memindai seluruh murid di ruangan itu dengan matanya.

Pandangannya langsung berhenti pada sosok Bara yang sedang duduk bersandar santai di bangku paling belakang.

"Target utamaku hari ini adalah menghancurkan mental ketua preman ini agar kelas ini kehilangan sosok pemimpinnya."

Dimas membatin dengan sangat licik dan mulai menyusun strategi provokasi halus di dalam kepalanya.

Tap tap tap.

Dimas berjalan pelan menyusuri lorong antar meja dan berhenti tepat di samping meja milik Bara.

"Bara, Bapak dengar dari Pak Haris kamu berhasil masuk ke perlombaan debat tingkat provinsi ya minggu depan?"

Bara mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tersenyum Dimas dengan ekspresi datar yang tenang.

"Iya Pak, doain aja semoga kelas kita bisa bawa pulang piala yang lebih besar lagi dari sebelumnya."

Dimas tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya dengan gaya merendahkan yang sangat kentara.

"Tentu saja Bapak doakan yang terbaik untukmu dan Nisa."

"Tapi Bapak dengar lawan kalian di ibukota provinsi nanti rata-rata adalah anak pejabat dan pengusaha besar."

Dimas meletakkan satu tangannya di pundak Bara seolah sedang memberikan dukungan moral seorang guru.

"Kamu tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk menang atau belajar sampai pusing, Bara."

"Anak-anak dari kalangan bawah seperti kita ini memang harus sadar diri kalau bersaing dengan mereka yang punya segalanya."

Rico yang duduk di sebelah Bara langsung menahan napas mendengar hinaan terselubung yang sangat halus itu.

Nisa yang duduk di depan juga menghentikan gerakan pulpennya dan menajamkan pendengarannya.

"Orang ini benar-benar sengaja memancing emosi jalanan Bara dengan membawa isu status sosial kelas bawah."

Nisa bergumam dalam hati sambil melirik cemas ke arah belakang punggung Bara.

Dimas tersenyum semakin lebar melihat Bara hanya diam membisu seolah perkataannya barusan menembus mentalnya.

"Kalau nanti kamu kalah di panggung sana, jangan merasa kecil hati ya."

"Toh dari awal nasib dan masa depan kalian sudah ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga kalian masing-masing."

Brak!

Rico tidak tahan lagi dan hampir saja menggebrak meja marah namun Bara dengan cepat menahan tangan temannya itu.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!