Tiga tahun lalu, Ye Chen, pewaris tunggal klan misterius terkuat di Yanjing sekaligus penguasa Kuil Naga Langit (Tianlong Dian)—organisasi militer, finansial, dan medis paling ditakuti di dunia—diserang oleh pengkhianat internal hingga mengalami luka dalam yang melumpuhkan meridiannya. Dalam kondisi sekarat dan hilang ingatan sementara di pinggiran Kota Jiangcheng, ia diselamatkan oleh seorang gadis berhati lembut bernama Su Qingxue.
Demi membalas budi sekaligus memulihkan kekuatannya secara diam-diam sesuai petunjuk mendiang kakeknya, Ye Chen bersedia masuk ke Keluarga Su (keluarga kelas tiga di Jiangcheng) sebagai menantu numpang hidup. Selama tiga tahun pernikahan di atas kertas, Ye Chen menyembunyikan taringnya: ia memasak, mencuci pakaian, dan menerima segala hinaan dari ibu mertua yang matre, ipar yang sombong, serta kerabat Keluarga Su yang memandangnya tak lebih dari sampah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tiga Tahun Penghinaan, Segel Naga Terbuka.
Kota Jiangcheng, pukul lima pagi.
Di dalam gudang sempit berukuran dua kali tiga meter di sudut halaman belakang rumah Keluarga Su, seorang pria muda duduk bersila di atas tikar bambu yang sudah usang.
Pria itu bernama Ye Chen. Ia mengenakan kaus putih murah yang sudah pudar warnanya, namun garis wajahnya tampak tegas bagaikan pahatan pisau, dengan sepasang mata yang sedalam lautan malam.
Di dadanya yang telanjang, tampak sembilan jarum emas tipis yang tertancap membentuk formasi rasi bintang kuno. Delapan di antaranya sudah tampak redup, sementara jarum kesembilan yang berada tepat di titik jantungnya kini bergetar hebat, memancarkan cahaya keemasan yang samar.
Deng!
Suara dengungan halus yang hanya bisa didengar oleh telinga Ye Chen menggema di dalam benaknya. Aliran udara panas yang dahsyat meledak dari pusar bawahnya (Dantian), mengalir deras menembus seluruh pembuluh darah dan meridian yang telah tersumbat selama tiga tahun penuh!
Jarum emas kesembilan itu terpental keluar dengan sendirinya, lalu ditangkap dengan dua jari oleh Ye Chen.
"Tiga tahun..." gumam Ye Chen dengan suara rendah dan serak, namun mengandung wibawa yang seolah mampu meruntuhkan gunung. "Segel Sembilan Naga akhirnya terbuka sepenuhnya. Meridianku tidak hanya pulih, tetapi juga menembus batas Alam Transenden!"
Tiga tahun lalu, sebagai penguasa tertinggi Kuil Naga Langit sekaligus pewaris tunggal Klan Ye di Ibu Kota Yanjing, ia dikepung oleh musuh-musuh terkuat di dunia akibat pengkhianatan orang dalam. Sebelum jatuh koma dan hanyut ke Sungai Jiangnan, mendiang kakeknya menggunakan teknik rahasia untuk menyegel seluruh energi bela diri dan ingatannya dengan sembilan jarum emas agar tubuhnya dapat meregenerasi diri secara alami.
Selama masa tergelap itu, Su Qingxue—wanita tercantik di Kota Jiangcheng yang berasal dari cabang kedua Keluarga Su—menemukannya terkapar di tepi jalan dan menyelamatkan nyawanya. Kebetulan saat itu, Nyonya Besar Su sedang mencari seorang pria tanpa latar belakang untuk dinikahkan secara paksa sebagai menantu numpang hidup (ruzhui) dengan Su Qingxue, semata-mata untuk mempermalukan keluarga ayah Su Qingxue dan menghalangi gadis itu mewarisi bisnis utama keluarga.
Demi melindungi ayahnya yang sedang sakit keras dan membutuhkan biaya operasi dari Nyonya Besar Su, Su Qingxue terpaksa menerima pernikahan konyol tersebut.
Tiga tahun. Seribu sembilan puluh lima hari.
Bagi seluruh warga Kota Jiangcheng, Ye Chen hanyalah lelucon terbesar—seorang sampah tak berguna yang menumpang makan di rumah istrinya, yang bahkan untuk membeli sebungkus rokok murah pun harus menengadahkan tangan. Namun tidak seorang pun tahu bahwa di balik celemek dapur yang ia kenakan setiap hari, bersemayam sosok yang mampu mengguncang ekonomi dan militer dunia hanya dengan satu jentikan jari!
Brak! Brak! Brak!
Pintu kayu gudang ditendang dengan kasar dari luar hingga engselnya berderit keras.
"Ye Chen! Dasar sampah pemalas! Sudah jam berapa ini masih mendekam di dalam kandang?!"
Suara melengking yang memekakkan telinga itu milik Liu Lanfang, ibu mertua Ye Chen.
Ye Chen menyimpan kesembilan jarum emasnya ke dalam saku dengan gerakan tenang, mengenakan kembali kausnya, lalu membuka pintu gudang.
Di luar pintu, Liu Lanfang berdiri sambil berkacak pinggang. Wanita paruh baya itu mengenakan piyama sutra dengan wajah yang penuh bedak tebal dan rol rambut di kepalanya. Begitu melihat Ye Chen keluar, tatapannya langsung dipenuhi rasa jijik yang tak disembunyikan sedikit pun.
"Apa yang kau lihat-lihat?! Cepat pergi ke dapur dan siapkan bubur sarapan, lalu cuci mobil Qingxue!" bentak Liu Lanfang sambil menunjuk hidung Ye Chen. "Hari ini adalah perjamuan ulang tahun ketujuh puluh Nyonya Besar Su di Hotel Grand Royal! Kalau sampai kami terlambat dan kehilangan muka di depan paman-paman Qingxue gara-gara kau, aku akan melempar buntelan pakaianmu ke jalanan hari ini juga!"
Dari ruang tamu, ayah mertua Ye Chen, Su Dahai, terdengar menghela napas panjang sambil membaca koran. "Sudahlah, Lanfang. Pagi-pagi jangan berteriak terus, nanti tetangga mendengar..."
"Memangnya kenapa kalau tetangga mendengar?!" Liu Lanfang langsung berbalik dan menyemprot suaminya. "Su Dahai, kau juga sama tak bergunanya! Lihat kakak tertuamu, menantunya adalah direktur di biro properti dengan penghasilan jutaan yuan setahun! Sedangkan keluarga kita? Putrimu yang cantik bagai bidadari malah harus menanggung sampah yatim piatu yang kerjaannya hanya mengepel lantai dan memasak! Selama tiga tahun menikah, jangankan membelikan kita rumah atau mobil, membelikan sepotong giok palsu di pasar malam saja dia tidak sanggup!"
Liu Lanfang meludah ke lantai dengan kesal, lalu menatap Ye Chen dengan mata menyipit. "Dengar baik-baik, Ye Chen! Hari ini Tuan Muda Zhao Tianhao dari Keluarga Zhao juga diundang ke perjamuan Nyonya Besar. Tuan Muda Zhao sudah lama menyukai Qingxue. Nyonya Besar sendiri sudah memberi kode bahwa hari ini pernikahan konyol kalian akan diakhiri! Sebelum tengah hari, bersiaplah menandatangani surat cerai dan angkat kaki dari rumah kami!"
Mendengar nama Zhao Tianhao, sorot mata Ye Chen berubah sedingin es selama sepersekian detik, namun wajahnya tetap datar.
"Aku mengerti, Bu. Aku akan menyiapkan sarapan sekarang, lalu pergi ke pasar sebentar," jawab Ye Chen tenang.
Tak lama kemudian, pintu kamar di lantai dua terbuka.
Seorang wanita muda melangkah turun melewati tangga kayu. Ia mengenakan setelan jas kerja berwarna putih gading yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut hitam panjangnya tergerai lembut di bahu, memperlihatkan wajah yang begitu jelita tanpa cela—kulit seputih salju, alis melengkung indah, dan tatapan mata yang jernih namun memancarkan kesan dingin yang sulit didekati.
Dialah Su Qingxue, bunga terindah di Kota Jiangcheng yang menjadi impian seluruh tuan muda kaya di kota itu.
"Bu, berhentilah bicara omong kosong pagi-pagi begini," ujar Su Qingxue dengan kening berkerut tipis. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Zhao Tianhao, dan aku tidak akan bercerai hanya karena paksaan Nenek atau Paman."
"Qingxue! Kau ini bodoh atau keras kepala?!" Liu Lanfang menepuk pahanya dengan gemas. "Keluarga Zhao itu keluarga kelas satu di Jiangcheng dengan aset miliaran yuan! Kalau kau menikah dengan Tuan Muda Zhao, ibumu ini bisa berjalan dengan kepala tegak di seluruh kota! Apa bagusnya bertahan dengan sampah seperti Ye Chen? Selama tiga tahun kalian bahkan tidur terpisah, apa bedanya dengan janda?!"
Wajah Su Qingxue memerah tipis mendengar ucapan kasar ibunya. Ia melirik ke arah Ye Chen yang sedang menuangkan bubur hangat ke atas meja makan tanpa sepatah kata pun.
Di dalam hati Su Qingxue, perasaannya terhadap Ye Chen cukup rumit. Memang benar Ye Chen tidak memiliki uang, tidak memiliki koneksi, dan tidak memiliki ambisi besar. Namun selama tiga tahun ketika seluruh anggota Keluarga Su menindas dan mengucilkannya di perusahaan, hanya pria pendiam inilah yang selalu menyiapkan air hangat untuk merendam kakinya yang lelah setiap malam, membuatkan sup pereda nyeri saat ia datang bulan, dan mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah mengeluh.
Su Qingxue berjalan mendekati meja makan, lalu mengeluarkan selembar uang seratus yuan dari dompetnya dan meletakkannya di dekat tangan Ye Chen.
"Nanti siang di Hotel Grand Royal pasti banyak kerabat yang mencari gara-gara denganmu," ucap Su Qingxue dengan nada lembut namun datar. "Kau tidak perlu ikut masuk ke aula utama kalau merasa tidak nyaman. Gunakan uang ini untuk makan siang di luar saja, tidak usah mendengarkan ucapan ibuku."
Ye Chen menatap selembar uang seratus yuan itu, lalu menatap wajah Su Qingxue. Senyum tipis yang hangat terukir di sudut bibirnya.
"Jangan khawatir, Qingxue. Hari ini adalah hari penting bagi keluargamu, aku pasti akan datang tepat waktu," kata Ye Chen lembut. "Lagipula... mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun di Kota Jiangcheng ini merendahkanmu lagi. Termasuk Keluarga Su, dan termasuk Keluarga Zhao."
Liu Lanfang yang mendengar ucapan itu langsung tertawa terbahak-bahak hingga air matanya hampir keluar.
"Hahaha! Kau dengar itu, Qingxue?! Sampah yang baru saja diberi uang saku seratus yuan oleh istrinya berani sesumbar tidak akan membiarkan Keluarga Zhao merendahkanmu?! Ye Chen, apakah kepalamu terbentur pintu gudang tadi pagi?!"
Su Qingxue hanya menghela napas pelan, mengira Ye Chen hanya berusaha menghiburnya. "Sudahlah, aku berangkat ke kantor dulu untuk mengambil berkas laporan sebelum ke hotel."
Setelah Su Qingxue pergi dan Ye Chen selesai membereskan meja makan, ia mengambil keranjang belanjaan dan melangkah keluar dari kompleks perumahan tua itu.
Begitu langkah kakinya melewati gerbang gang sempit menuju jalan raya, postur tubuh Ye Chen yang tadinya tampak sedikit membungkuk layaknya pria biasa seketika berubah tegak lurus. Aura tajam bagaikan pedang terhunus terpancar dari tubuhnya, membuat beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengannya tanpa sadar menepi karena merasakan tekanan dingin yang tak bisa dijelaskan.
Tepat di seberang jalan pasar pagi yang ramai, tiga buah mobil sedan mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat dengan pelat nomor khusus Ibu Kota telah berhenti secara beriringan, menarik perhatian ratusan warga yang lewat.
Begitu melihat sosok Ye Chen keluar dari gang, pintu mobil bagian tengah terbuka. Seorang pria tua berambut perak yang mengenakan setelan Tang hitam dengan bekas luka pedang di pelipisnya melangkah turun dengan tergesa-gesa.
Pria yang dikenal di seluruh dunia bawah tanah Provinsi Jiangnan sebagai Long Wu—sosok yang bahkan walikota dan para miliarder harus mengantre tiga bulan hanya untuk bertemu dengannya—berjalan cepat menghampiri Ye Chen, lalu membungkuk sembilan puluh derajat dengan kedua tangan gemetar menahan haru!
"Bawahan Long Wu... memberi hormat kepada Penguasa Naga! Selamat atas pulihnya kekuatan Penguasa Naga setelah tiga tahun!"