Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 bertahan Sendiri
Sudah dua minggu Alkina pergi dari rumah. Tidak ada jejak dan perlahan rumah itu mulai berubah. Ranti mulai kesulitan melakukan pekerjaan rumah. Tidak ada lagi yang bangun paling pagi. Tidak ada lagi yang membersihkan semuanya.
Sisil jelas tidak mau membantu.
“Mama, aku capek,” katanya setiap diminta melakukan sesuatu.
Makanan tidak lagi tersaji seperti biasanya. Rumah mulai kotor, tidak ada lagi yang membersihkannya dan pertengkaran pun semakin sering terjadi.
Meskipun mereka sudah mencari pembantu untuk bekerja di rumah mereka, namun entah mengapa mereka belum juga menemukan pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang semakin menumpuk.
Sekarang Ranti baru merasakan repotnya mengurus rumah seorang diri.
“Sisil kamu jemur pakaian kamu ya nak. Mama sedang repot sekarang.”
“Aku bukan pembantu!” bentak Sisil yang membuat Ranti langsung terdiam.
Kalimat itu terasa familiar, karena dulu itulah yang sering ia perlakukan pada Alkina dan sekarang ia merasakan seperti apa berada di posisinya Alkina.
Sementara itu di tempat lain yang jauh dari rumah, Alkina duduk di kamar kos kecil sambil menghitung uang tabungannya yang hampir menipis, namun anehnya ia merasa lebih tenang dibandingkan saat berada di rumah sendiri. Setidaknya tidak ada yang membencinya di sini. Perutnya berbunyi pelan karena lapar.
Alkina memutuskan untuk mencari makan malam dengan uang yang tersisa. Alkina berharap uang itu cukup untuk dirinya sampai ia menerima gaji. Alkina sudah mendapatkan sip pagi, jadi sore harinya ia bisa pulang.
“Kalau bang Arkan masih hidup…” bisiknya lirih, “apa dia juga akan membenciku seperti mama?” ucapnya sambil berjalan, air mata jatuh lagi namun kali ini, tidak ada yang menyuruhnya berhenti menangis dan Alkina membiarkan dirinya hancur sepenuhnya.
Saat mengingat rumah itu dadanya kembali terasa sakit.
“Seharusnya malam itu yang mati kamu.” Kalimat mamanya terus terngiang di kepalanya seperti pisau yang menusuk berulang kali.
Alkina buru-buru menutup telinga, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya, tapi tetap tidak bisa. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku cuma ingin disayang…” bisiknya lirih.
Bukan rumah mewah, bukan barang mahal ia hanya ingin dipeluk ibunya sekali saja tanpa kebencian, namun bahkan itu pun tidak pernah ia dapatkan.
“Kamu belum pulang?” Suara seorang wanita membuat Alkina tersentak. Ia mendongak pelan. Seorang wanita paruh baya berdiri di sebelahnya sambil membawa kantong belanja.
Wajahnya terlihat lembut. Alkina buru-buru menghapus air mata.
“S-saya cuma...” Alkina bingung harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menceritakan kisah hidupnya yang memilukan.
Wanita itu memperhatikan Alkina beberapa detik. Mungkin karena matanya yang sembab.
“Kamu kabur dari rumah?” Pertanyaan itu membuat Alkina tercekat.
Ia tidak menjawab, namun diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya, perempuan itu menghela napas pelan.
“Sudah makan?”
Alkina menunduk.
“Belum, tadi rencananya mau beli pecal ayam, tapi sudah habis.”
Wanita itu akhirnya duduk di sampingnya lalu memberikan roti hangat dari kantong belanja.
“Ini untuk kamu.”
Alkina langsung panik. “Tidak usah, nek.”
“Ambil saja.” Tatapan perempuan itu begitu tulus hingga membuat dada Alkina terasa sesak. Dengan tangan gemetar, Alkina menerima roti itu dan begitu gigitan pertama masuk ke mulutnya air matanya langsung jatuh. Karena baru sekarang ada seseorang yang memberinya makanan tanpa bentakan.
Wanita itu tersenyum kecil.
“Nama kamu siapa?”