NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUGAS SISTEM YANG ANEH

Dua dentang jarum jam dinding plastik di kamar kontrakan Enzo beradu samar dengan dentum angin malam yang berhembus menembus celah ventilasi. Di atas kasur busa yang tipis, Enzo terbangun secara mendadak. Bukan karena suara bising dari luar, melainkan karena getaran ritmis yang berulang tanpa henti dari ponsel tua di samping bantalnya.

Enzo menggosok kedua matanya yang masih berat, lalu merogoh ponselnya. Cahaya biru redup dari layar kaca retak itu langsung menyilaukan pandangannya. Di balik kegelapan kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, antarmuka hitam milik Sistem Penakluk Dewi telah terbuka secara otomatis, menampilkan baris-baris kalimat bercahaya kuning keemasan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

[Notifikasi Misi Khusus Karakter: Integritas Tanpa Kompromi]

[Membuka Parameter Ujian Pembentukan Sikap...]

[Durasi Misi: 7 Hari (168 Jam Mulai Sekarang)]

[Tugas Utama: Dilarang keras memberikan 'Janji Manis', kepastian semu, ucapan penenang tak berdasar, atau komitmen masa depan yang belum pasti kepada SIAPA PUN.]

[Definisi Pelanggaran: Kalimat seperti "Semua bakal baik-baik saja", "Gue janji bakal bantu", "Pasti lunas tepat waktu", atau ucapan penenteram sejenis yang diucapkan semata-mata untuk menyenangkan lawan bicara atau menghindari konflik.]

[Sanksi Pelanggaran: Pembekuan Poin Keberanian, kegagalan Misi Utama Arc 1, dan penurunan drastis pada seluruh indikator keterikatan target.]

Enzo terduduk kaku di atas kasurnya seraya membaca deretan teks tersebut berulang kali. Keningnya berkerut tebal, rasa kantuknya menguap seketika digantikan oleh rasa heran yang amat sangat.

"Tidak boleh kasih janji manis selama seminggu?" gumam Enzo pelan seraya mengusap dagunya yang kasar.

Sistem ini benar-benar aneh dan tidak terduga. Semula, Enzo mengira aplikasi ini akan memberinya tugas-tugas klise seperti merayu wanita, membelikan barang-barang mewah, atau berpura-pura menjadi pahlawan yang sempurna. Namun, perintah kali ini justru memotong kebiasaan paling mendasar dari cara manusia berinteraksi sosial.

Enzo menyandarkan punggungnya pada tembok kamar yang dingin, mencoba merenungkan filosofi di balik instruksi tersebut. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit tentang dirinya sendiri dan kebanyakan pria pada umumnya. Selama ini, orang-orang sangat terbiasa melempar janji manis sebagai pelumas sosial. Ketika berhadapan dengan orang yang sedang cemas, terluka, atau menagih sesuatu, manusia sering refleks mengucapkan "Tenang saja, gue janji semua bakal beres" hanya demi meredakan ketegangan sesaat dan membuat diri mereka disukai.

Padahal, janji manis yang diucapkan tanpa kepastian riil hanyalah bentuk kebohongan halus—sebuah jalan pintas pengecut untuk melarikan diri dari kenyataan yang tidak nyaman. Dan bagi seseorang yang sedang berada di titik rawan, janji manis yang akhirnya meleset justru akan memberikan rasa sakit dan rasa dikhianati yang jauh lebih dalam.

"Sistem ini mau gue bicara fakta jujur, selapis apa pun kenyataannya..." desah Enzo seraya menghembuskan napas panjang.

---

Pagi harinya, pukul setengah tujuh, matahari terbit menyinari lorong kontrakan dengan cahaya kuning yang hangat. Enzo sudah mengenakan kaus polos kusam dan celana jins lamanya, bersiap melangkah keluar untuk mencari pekerjaan bongkar muatan harian di pasar komersial.

Namun, begitu ia memutar selot besi dan membuka pintu kamarnya, sosok bertubuh subur dengan daster merah bermotif bunga sudah berdiri mematung di lorong. Wanita paruh baya itu adalah Bu Salmah—pemilik kompleks kontrakan murah tersebut. Di tangan kanannya, Bu Salmah menggenggam sebuah buku catatan bersampul batik yang tebal.

"Pagi, Enzo," tegur Bu Salmah dengan suara berat dan raut wajah yang sudah ditekuk masam sejak awal.

"Pagi, Bu Salmah," jawab Enzo ramah seraya menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk sopan.

Bu Salmah membuka lembaran bukunya dengan gerakan kasar, lalu menunjuk sebuah baris tulisan bertinta merah. "Ibu nggak mau basa-basi lagi ya, Zo. Sewa kamar kamu sudah nunggak delapan hari. Jumlahnya tiga ratus ribu rupiah. Kamu ini kan sudah dewasa, harusnya paham tanggung jawab."

"Saya paham banget, Bu Salmah," sahut Enzo tenang, tetap berdiri stabil di ambang pintu.

"Nah, kalau paham, Ibu mau ketegasan," potong Bu Salmah seraya menatap Enzo dengan mata membelalak menagih. "Kamu bisa janji nggak, akhir minggu ini kontrakan kamu pasti lunas seratus persen? Kalau kamu janji pasti lunas, Ibu kasih kelonggaran sampai hari Minggu. Tapi kalau meleset lagi, kunci kamar ini Ibu ganti!"

Pertanyaan Bu Salmah menghantam Enzo tepat di dada. Di masa lalu, refleks alami Enzo yang penakut tentu akan langsung menjawab: *"Iya Bu, janji! Akhir minggu ini pasti lunas semuanya, percaya sama saya!"* demi membuat Bu Salmah pergi dan tidak mengomel lagi di depan penghuni kontrakan lain.

Namun, bayangan peringatan sistem bercahaya kuning tadi pagi mendadak terlintas jelas di dalam benaknya.

Enzo menatap lurus mata Bu Salmah tanpa ada keraguan atau kedipan panik. `"Saya tidak bisa janji pasti lunas akhir minggu ini, Bu Salmah,"` jawab Enzo dengan suara yang mantap, jujur, dan teratur.

Mendengar jawaban itu, Bu Salmah tertegun seketika. Matanya makin membelalak lebar, kaget karena tidak menyangka pemuda kontrakan yang biasanya selalu mengangguk penurut itu justru memberikan jawaban yang begitu dingin dan tidak populer.

"Lho! Kok kamu malah ngomong gitu?" bentak Bu Salmah dengan nada tinggi, merasa harga dirinya disinggung. "Kamu mau sepelekan sewa rumah Ibu, ya?"

`"Sama sekali tidak, Bu,"` balas Enzo tenang seraya merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. `"Pekerjaan saya saat ini cuma buruh panggul harian dan pekerja lepas. Upah saya tidak tentu setiap hari. Saya sedang berusaha keras mencari borongan kerjaan lain, tapi saya tidak mau membohongi Bu Salmah dengan janji manis yang belum tentu bisa saya tepati."`

Bu Salmah melipat kedua tangannya di dada, dadanya kembang kempis menahan kejengkolan, namun kalimat Enzo berikutnya membuat wanita tua itu mati kutu.

`"Setiap kali saya dapat sisa uang harian hari ini atau besok, berapa pun jumlahnya, bakal langsung saya setorkan ke Bu Salmah tanpa ditahan-tahan,"` sambung Enzo lugas. `"Tapi untuk janji pasti lunas di hari Minggu, saya tidak mau sesumbar."`

Keheningan melingkupi lorong kontrakan selama beberapa saat. Bu Salmah memperhatikan raut wajah Enzo dengan saksama. Tidak ada tatapan licik, tidak ada alasan dibuat-buat, dan tidak ada kebohongan manis yang biasa diucapkan para penunggak sewa lainnya. Kejujuran polos yang tidak dihias itu justru memancarkan ketegasan karakter yang sangat nyata.

Bu Salmah menghembuskan napas kasar, lalu menutup buku catatannya dengan bunyi tepukan yang keras. "Dasar anak aneh... orang lain mah sibuk janji setinggi langit biar nggak diusir, kamu malah ngomong begitu," omel Bu Salmah, walau nada bicaranya sudah jauh melunak. "Ya sudah! Pokoknya tiap ada uang harian, langsung setip ke Ibu! Awas kalau kamu kabur!"

"Siap, Bu Salmah. Terima kasih," jawab Enzo seraya menyunggingkan senyum tulus.

Bu Salmah berbalik badan dan melangkah pergi menyusuri lorong dengan gerutuan pelan yang makin menjauh. Enzo menyapu peluh tipis di dahinya, menyadari betapa sulit dan mendebarkannya mengatakan kenyataan pahit tanpa dibungkus janji manis.

---

Enzo melangkah keluar dari gang kontrakan menuju jalan raya utama. Saat melewati pagar besi rumah permanen berlantai dua milik Tante Rika, ia melihat wanita paruh baya itu sedang menyiram tanaman bunga kertas di teras rumahnya. Tante Rika mengenakan gaun rumah yang rapi, tampak jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya.

"Pagi, Enzo!" sapa Tante Rika hangat seraya mematikan selang airnya dan melangkah mendekati pagar.

"Pagi, Tante Rika," balas Enzo seraya menghentikan langkahnya di luar pagar.

"Sup yang semalam benar-benar habis ya?" tanya Tante Rika dengan binar mata bahagia. "Terima kasih banyak ya sudah bantu Tante semalam. Kamu mau berangkat kerja sekarang?"

"Iya, Tante. Mau ke pasar induk cari borongan," jawab Enzo ramah.

Tante Rika meremas selendang di bahunya, lalu menatap Enzo dengan raut wajah canggung dan sedikit ragu-ragu. "Enzo... Tante mau tanya sesuatu. Kalau... kalau nanti kran air di dapur atau ada alat rumah tangga Tante yang rusak lagi pas Bapak lagi dinas luar, kamu janji ya mau bantu Tante lagi?"

Pertanyaan itu meluncur begitu halus, penuh dengan harapan dari seorang wanita yang haus akan rasa aman dan kehadiran seseorang di rumahnya yang sepi.

Aturan misi sistem kembali bergema di kepala Enzo. Sebagai tetangga yang baik, jawaban paling umum dan menyenangkan tentu adalah: *"Pasti Tante! Janji, kapan pun Tante butuh bantuan, panggil saya saja."*

Namun, Enzo tahu bahwa kehidupan pekerja lepas seperti dirinya tidak pernah pasti. Ia bisa saja dipindah tugas ke luar kota, bekerja lembur hingga larut malam, atau menghadapi urusan mendadak lainnya. Memberikan janji keberadaan yang mutlak hanya akan membangun rasa ketergantungan semu pada diri Tante Rika.

Enzo menatap Tante Rika dengan pandangan yang hangat namun jujur. `"Saya tidak bisa janji selalu ada setiap saat, Tante Rika,"` kata Enzo dengan nada suara yang rendah dan sopan.

Tante Rika agak tertegun, pegangannya pada pagar besi sedikit mengendur.

`"Jadwal kerja harian saya tidak menentu dan sering mendadak,"` lanjut Enzo menjelaskan situasinya tanpa ada rasa canggung. `"Tapi kalau pas saya sedang tidak kerja dan ada di dalam kamar kontrakan, saya pasti akan usahakan bantu Tante sebisanya."`

Tante Rika mematung di balik pagar. Senyum di wajahnya tidak pudar, melainkan perlahan-lahan berubah menjadi tatapan takjub yang amat dalam. Jawaban Enzo tidak terasa manis di telinga, namun ucapan itu sangat membumi, dewasa, dan tidak menjual harapan palsu demi sekadar menyenangkan hatinya. Tante Rika menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini adalah sosok yang sangat menghargai arti sebuah komitmen—ia tidak akan mengobral kata jika tidak yakin bisa memenuhinya.

"Tante paham, Enzo," bisik Tante Rika dengan senyum lembut yang tulus. "Terima kasih ya sudah jujur sama Tante. Hati-hati di jalan."

"Siap, Tante. Saya jalan dulu," pamit Enzo seraya menganggukkan kepalanya sopan.

Enzo melanjutkan langkah kakinya menyusuri trotoar jalan raya menuju pangkalan angkutan umum. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit wajahnya. Sambil menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana jins, Enzo tersenyum tipis.

Misi seminggu tanpa janji manis ini ternyata bukan sekadar hukuman dari sistem, melainkan sebuah latihan keras untuk melatih ketegasan moralnya. Kejujuran yang polos mungkin terasa pahit dan tidak nyaman di awal, tetapi itulah satu-satunya fondasi yang sanggup membangun kepercayaan sejati di antara sesama manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!