Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31: Tangisan di Rumah Ibu
____🌺
Nayara meletakkan ponselnya yang sudah mati di atas meja belajar. Ia menunduk sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Kamar itu begitu hening, hanya diisi suara detak jarum jam dinding.
Klek ...
Pintu kamar terbuka perlahan. Bu Rini masuk sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat. Setelah meletakkan gelas itu di atas meja, wanita paruh baya tersebut duduk di tepi kasur, tepat di samping putrinya.
“Minum dulu tehnya, Nay,” ujar Bu Rini lembut sembari menepuk punggung putrinya. “Tadi kamu menangis keras sekali di teras. Sekarang coba cerita pelan-pelan sama Ibu. Ada masalah apa, antara kamu dan Adrian?”
Nayara menoleh. Matanya masih bengkak dan memerah. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan suaranya.
“Aku mau cerai, Bu.”
Bu Rini terdiam sesaat. Tangannya yang semula mengusap punggung Nayara pun berhenti.
“Cerai? Kalian bertengkar karena apa sampai kamu berpikir untuk bercerai? Adrian berbuat kasar sama kamu?”
“Mas Adrian selingkuh, Bu.”
Wajah Bu Rini seketika berubah. Dahinya berkerut, seolah sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
“Selingkuh? Kamu yakin, Nay? Kamu punya bukti? Jangan sampai kamu salah paham hanya karena mendengar cerita orang lain.”
“Aku tidak mendengarnya dari orang lain, Bu.” Nayara menelan ludah sebelum melanjutkan. “Aku melihat sendiri foto mereka berciuman di lobi hotel. Aku juga menemukan kuitansi pemesanan kamar hotel. Dan Mas Adrian ... dia sudah mengakuinya, tadi malam.”
Bu Rini spontan menutup mulut dengan sebelah tangan. Matanya membelalak.
“Ya Tuhan ... sama siapa, Nay?”
“Sama Selena, Bu. Mantan pacarnya sebelum menikah denganku.”
Nayara menunduk. Air matanya kembali mengalir, membasahi punggung tangannya.
“Mas Adrian sudah membohongiku selama enam bulan terakhir. Sekarang, perempuan itu, bahkan sedang mengandung anaknya.”
“Astaghfirullah ....”
Bu Rini menarik napas panjang, lalu merangkul kepala Nayara dan memeluknya erat.
“Adrian benar-benar keterlaluan. Teganya dia melakukan semua itu sama kamu, Nay.”
Tangis Nayara kembali pecah dalam pelukan ibunya. Ia membalas pelukan tersebut seolah ingin menumpahkan seluruh kesedihan yang selama ini ditahannya.
“Bukan cuma Mas Adrian yang membohongiku, Bu. Mamanya juga tahu semuanya.”
Bu Rini sedikit melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah putrinya dengan tidak percaya.
“Besan Ibu tahu kalau Adrian selingkuh?”
Nayara mengangguk sambil mengusap pipinya.
“Iya, Bu. Tadi siang aku dipanggil ke rumah keluarga Mahendra. Bu Marissa sendiri yang bilang kalau dia sengaja memasukkan perusahaan Selena ke dalam proyek Mas Adrian supaya mereka bisa dekat lagi.”
“Kenapa dia melakukan itu? Bukankah kamu istri sah Adrian?” Nada suara Bu Rini meninggi. Kemarahan mulai terlihat jelas di wajahnya.
“Karena aku belum bisa memberikan cucu untuk keluarga mereka, Bu,” jawab Nayara getir. “Bu Marissa menyuruhku diam saja. Dia bahkan memintaku menerima anak Selena dan membesarkannya dalam rumah tanggaku nanti demi menjaga nama baik keluarga Mahendra. Mereka cuma ingin menjadikanku alat untuk menutupi aib mereka.”
Bu Rini mengepalkan tangan di atas paha. Ia memalingkan wajah, berusaha menahan amarah yang semakin membuncah.
“Kurang ajar! Mereka pikir anak perempuan Ibu ini apa?”
“Tapi, itu belum semuanya, Bu.”
Nayara merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning. Ia menyodorkannya kepada ibunya.
“Ibu tahu soal ini?”
Bu Rini menerima kertas tersebut dan mulai membaca tulisan di atasnya. Namun, begitu melihat tanda tangan suaminya di bagian bawah, tangannya mendadak gemetar.
“Ini ... surat sengketa utang ayahmu dulu,” gumamnya. Ia mengangkat wajah, menatap Nayara dengan bingung. “Kamu mendapatkan surat ini dari mana, Nay?”
“Dari brankas Mas Adrian. Dimas sudah menceritakan semuanya, Bu. Ternyata pernikahanku dengan Mas Adrian cuma kesepakatan bisnis. Ayah Mas Adrian bersedia membantu menutupi utang Ayah dengan syarat Mas Adrian menikah denganku. Mas Adrian menyetujuinya karena dia membutuhkan jabatan di perusahaannya.”
Bu Rini terdiam. Ia meletakkan surat itu di atas pangkuannya, seolah masih berusaha mencerna pengakuan putrinya.
“Ibu tahu soal ini?” tanya Nayara lagi. Tatapannya tertuju pada wajah ibunya.
Bu Rini menunduk, menghindari tatapan tersebut.
“Ibu tahu ayahmu punya sengketa besar dengan keluarga Mahendra, Nay. Tapi, Ibu bersumpah, Ibu sama sekali tidak tahu kalau pernikahanmu dijadikan alat untuk membayar utang. Ayahmu hanya bilang Adrian melamar mu, karena dia memang menyukaimu.”
Nayara mengembuskan napas panjang. Setidaknya, ia sedikit lega mengetahui bahwa ibunya tidak ikut menyembunyikan kebenaran itu darinya.
“Semuanya palsu, Bu,” ucapnya lirih. “Perhatian Mas Adrian, kebaikan keluarganya, semuanya cuma sandiwara. Aku tidak bisa dan tidak mau kembali ke rumah itu. Besok pagi, aku mau menggugat cerai Mas Adrian.”
Bu Rini menatap putrinya beberapa saat sebelum mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Kemarahan di wajahnya perlahan mereda, berganti dengan ketenangan seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
“Ibu mendukung keputusanmu, Nay. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Kalau kamu memang sudah tidak sanggup bertahan, lepaskan saja. Ibu lebih rela melihat kamu hidup sederhana di sini daripada hidup mewah di sana, tetapi hatimu terus diinjak-injak.”
“Terima kasih, Bu,” balas Nayara pelan.
“Tapi, Nay ...” Bu Rini memegang kedua bahu putrinya, memastikan Nayara menatapnya. “Ibu mau menyampaikan satu hal. Dengarkan baik-baik, ya.”
Nayara mengangguk. “Apa, Bu?”
“Ibu tahu kamu hancur. Ibu tahu kamu marah dan membenci Adrian beserta keluarganya,” ujar Bu Rini tegas. “Tapi, kalau kamu memang ingin berpisah, lakukanlah demi kebahagiaanmu sendiri. Jangan sampai kamu mengambil keputusan ini hanya karena emosi.”
Nayara mengernyitkan dahi. “Maksud Ibu?”
“Jangan jadikan perceraian ini sebagai cara untuk menyakiti Adrian. Kalau tujuanmu hanya ingin melihat dia hancur, hatimu sendiri tidak akan pernah tenang, Nay. Kamu akan terus memikirkannya dan mencari tahu kehidupannya bersama perempuan itu. Ibu tidak mau kamu terus terjebak dalam keadaan seperti itu.”
“Aku cuma ingin lepas dari mereka, Bu.”
“Iya, Ibu percaya.” Bu Rini mengangguk pelan. “Sekarang, fokuslah pada masa depanmu sendiri. Tutup buku tentang keluarga Mahendra. Biarkan mereka mengurus kehidupan mereka sendiri. Karma itu ada, Nay. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu hanya untuk membalas perbuatan mereka.”
Nayara terdiam, meresapi setiap perkataan ibunya. Setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan.
“Iya, Bu. Aku mengerti.”
“Bagus.” Bu Rini menepuk lutut putrinya sebelum berdiri. “Sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu, kita makan malam. Ibu sudah masak sayur asem kesukaanmu. Kamu pasti belum makan sejak siang, kan?”
“Iya, Bu. Nanti Nayara menyusul ke meja makan.”
Bu Rini kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.
Ceklek.
Nayara mengembuskan napas lega. Dukungan ibunya adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan malam itu. Ia bangkit, membuka koper, lalu mulai merapikan pakaian untuk dimasukkan ke dalam lemari kayu tuanya.
Baru saja hendak mengambil handuk, suara ketukan keras dari pintu depan terdengar bertubi-tubi.
TOK!
TOK!
TOK!
“Nay! Nayara! Buka pintunya!”
Nayara langsung mengenali suara Maya yang terdengar panik dari luar.
Ia bergegas keluar kamar. Bu Rini yang sedang berada di dapur pun menoleh ke arah ruang tamu.
Nayara mempercepat langkahnya dan membuka pintu depan. Maya berdiri di teras dengan napas terengah-engah. Celemek kerjanya masih melekat di tubuhnya, seolah ia baru saja meninggalkan kafe tanpa sempat berganti pakaian.
“May? Kamu kenapa malam-malam begini? Kok panik banget?” tanya Nayara heran.
Maya langsung masuk ke dalam rumah, menutup pintu, lalu memegang kedua lengan Nayara.
“Nay, HP kamu kenapa mati dari tadi?!” tanyanya dengan suara tinggi. “Aku sudah menelepon berkali-kali, tapi nggak bisa tersambung!”
“Sengaja aku matikan, May. Mas Adrian meneleponku puluhan kali sambil marah-marah karena aku nggak datang ke acara keluarganya. Memangnya ada apa?”
“Kamu belum tahu beritanya?!”
Nayara menggeleng bingung. “Berita apa?”
“Ya ampun, Nay! Tadi Dita meneleponku.” Maya berbicara cepat, seolah tak sabar menyampaikan kabar yang dibawanya. “Kamu tahu, kan, Dita juga ada di acara keluarga Mahendra karena dia staf hotel?”
“Iya. Terus, kenapa?”
Maya menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Selena mengalami pendarahan di lobi hotel, Nay.”
Jantung Nayara seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Maya tanpa berkedip.
“Pendarahan? Di acara itu?”
“Iya!” Maya mengangguk cepat. “Kata Dita, Selena baru turun dari mobil di depan lobi ketika tiba-tiba mengeluh sakit perut, lalu jatuh pingsan. Darahnya keluar banyak sekali.”
Nayara terdiam. Meskipun membenci perempuan itu, kabar tentang pendarahannya tetap membuat Nayara terkejut.
“Terus, Mas Adrian ada di mana waktu itu?” tanyanya.
“Itu masalahnya, Nay!” Maya semakin erat mencengkeram lengan sahabatnya. “Adrian sedang berada di dalam ruangan, berkumpul bersama semua paman dan bibinya. Begitu asisten Selena masuk dan berteriak memberi tahu apa yang terjadi, Adrian langsung panik. Dia berlari keluar dan meninggalkan seluruh keluarganya begitu saja!”
Nayara membisu. Ia bisa membayangkan betapa kacaunya acara keluarga itu setelah kejadian tersebut.
“Adrian sendiri yang mengangkat Selena ke mobilnya. Dia sama sekali nggak peduli meskipun puluhan kolega bisnis dan anggota keluarganya melihat,” lanjut Maya. “Dita dengar dia berteriak menyuruh sopirnya ngebut ke rumah sakit terdekat.”
“Jadi, sekarang mereka ada di rumah sakit?”
“Iya. Tapi, bukan itu saja alasan aku buru-buru ke sini.” Wajah Maya berubah serius. Kemarahan tampak jelas di matanya. “Dita menyusul ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Selena atas perintah manajernya.”
“Terus, bagaimana dengan bayinya? Selamat?”
“Bayinya selamat. Selena cuma perlu istirahat total,” jawab Maya. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “Tapi, Dita sempat mendengar percakapan Adrian dan mamanya di lorong rumah sakit.”
Nayara mengerutkan kening. “Percakapan apa?”
Maya menatap lurus ke mata Nayara, bersiap menyampaikan kabar yang membuatnya bergegas datang malam itu.
Adrian mengumumkan bahwa Selena akan tinggal di salah satu properti keluarga Mahendra.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣