Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kehebohan Para Santri
Angin pagi menembus jendela asrama, seolah membawa gosip segar tentang Anisa yang kabur, kini menjadi heboh, apa lagi setelah mereka tahu saat Mudabbiroh dan Abdi ndalem kemarin memindahkan barang-barang Anisa ke ndalem.
"Bil... kasihan ya, Nisa. Kenapa kemaren kita nggak nungguin dia." Ujar Rahma penuh sesal.
"Iya... aku juga nyesal ngikutin arahannya suruh duluan, harusnya kan kita sama-sama dihukum." Sahut Nabila sambil memakai hijabnya.
Sementara di ndalem, setelah sarapan, Anies langsung bangkit dari kursinya, dan membereskan piringnya dengan cekatan, lalu masuk ke kamar.
Gus Hafiz mengangkat wajahnya, menoleh menatap Anisa sekilas, tanpa bertanya dan tak pula menahannya untuk menunggunya hingga selesai makan.
Setelah beberapa menit, Anisa keluar dari kamar dengan menyandang tas ranselnya. Langkahnya cepat, seolah ingin segera kabur dari hadapan Gus Hafiz.
Di ruang tengah Anisa berpapasan dengan Ibu Nyai Laila.
"Sudah mau berangkat, Nduk." Sapa Umi Lail, sambil membawa kitab ditangannya.
"Nggih, Um," ucapnya lirih, kepalanya tertunduk hormat.
"Anisa pamit, Umi."
Umi Laila menatap lekat, sorot matanya lembut tapi tajam, memperhatikan seragam yang Anisa kenakan.
"Nggih..." sahutnya, dengan kening berkerut.
Anisa lalu buru-buru melangkah menuju pintu depan, tanpa menoleh. Yang ada dalam pikirannya satu, ia ingin buru-buru ketemu ketiga sahabatnya. Atu mungkin sengaja melupakan satu orang yang seharusnya ia datangi lebih dulu sebelum keluar rumah.
Tepat saat tangannya meraih sepatu di rak, suara khas itu terdengar dari belakang punggungnya.
"Ada yang kamu lupakan."
Ucapnya.
Langkah Anisa terhenti. Jantungnya mencelos.
Ia menoleh setengah, menatap Gus Hafiz, sekedar tahu siapa yang berdiri dibelakangnya. Anisa kembali menunduk.
"Biasakan izin."
Anisa reflek menggigit bibirnya kaku.
"Saya Pamit, Gus," ucapnya ragu, dengan wajah tertunduk.
Gus Hafiz tak menyahut, pria dewasa di hadapannya malah justru mengulurkan tangannya ke arah Anisa.
Anisa membeku.
Apa maksudnya?
Batin Anisa bergidik, dadanya mendadak panas.Tanpa pikir panjang, ia berbalik badan, pura-pura tak melihat uluran tangan Gus Hafiz.
Namun baru dua langkah suara Gus Hafiz mendadak mengunci langkah Aisah.
"Kamu lupa pentingnya ridho suami?"
Kalimat itu singkat, tapi cukup untuk memakukan kaki Anisa di tempat.
Perlahan dengan tarikan napas berat, Anisa membalikkan badan. Tangannya dingin saat menyentuh jemari Gus Hafiz. Dan dengan gerakan terburu, Anisa mencium punggung tangan Gus Hafiz.
"Pamit, Gus. Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumussalam," jawab Gus Hafiz pelan.
Ia melangkah membiarkan Anisa lebih dulu berjalan, di depannya. Jarak mereka dekat, bahkan terlalu dekat untuk sekedar kebetulan.
Anisa menelan ludahnya serat, ia baru ingat, jika hari ini Gus Hafiz ada jadwal mengajar pagi di kelasnya. Anisa melangkahkan kakinya lebih cepat.
Saat Anisa melangkah ke lorong kelas, Gus Hafiz sempat melirik seragam Anisa yang pas badan. Namun pria berwajah kamu itu tak mengatakan apa pun. Beliau melangkah lurus kearah kantor guru.
Begitu Anisa masuk kelas, suasana yang semula riuh mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anisa.
Beberapa santri berbisik, bahkan sebagian terang-terangan menoleh tanpa malu. Anisa bisa merasakan tatapan itu menempel di punggungnya. Karena gosip Anisa kabur dan diberi hukuman langsung oleh Ibu Nyai itu sudah santer diperbincangkan, di lingkungan pondok.
Anisa pura-pura santai, melangkah menuju bangkunya, seperti tak terjadi apa-apa.
Namun belum sempat ia duduk, tiga sahabatnya, sudah lebih dulu menghampiri.
"Nisa!"
"Nis!"
"Ya Allah, ternyata kamu masih hidu?"
Ujar Nabila dengan hebohnya. Gadis remaja itu langsung memutar tubuh Anisa, menatapnya dari atas sampai bawah, dengan ekspresi dramatis.
"Nis, kamu ndak dihukum cambuk to, sama Gus Hafiz?" tanya Nabila setengah panik.
Anisa mendelik.
"Iya kali aku dicambuk. Emang aku pendosa po?" sahutnya cepat, sambil tergelak.
"Aku hanya santri iseng yang lompat pagar, Nab." ujarnya dengan masang muka santai.
Dan beberapa temannya yang ikut mendengar pun jadi malah ikut tertawa. Ketegangan pagi itu mencair seketika.
"Edan pol, awakmu, Nis" celetuk Sasa dari belakang.
"Jan edan, ndak nyangka, awakmu sekendel itu, Nis. Ngadepin Gus Hafiz."
Anisa diam, ia pun jadi mikir, ia kok dia berani ya ngadepin Gus Hafiz, toh selama ini satu Ustadz itu yang selalu membuat moodnya berantakan di kelas.
Anisa semakin diam, mengingat setiap kejadian. Dan anehnya, kenapa Gus Hafiz bahkan dia ndak pernah menyalahkan Anisa sedikit pun soal pernikahan mereka.
Anisa pun menggeleng.
"Ah nggak mungkin, nggak mungkin, Orang kayak Gus Hafiz nerima pernikahan ini begitu aja, pasti dia punya rencana licik." Batin Anisa mulai waspada, jaga-jaga jika satu Saat nanti dirinya terlena.
"He... kok malah ngelamun." ujar Nabila sambil menepuk bahu Anisa. Anisa menoleh menatap Nabila sejenak lalu duduk di kursinya.
"Terus Nis, awakmu dikasih hukuman apa?"
Satu persatu temannya mendekat, meja Anisa dikerubungi. Bahkan santri yang biasanya cuek ikut menyimak, pura-pura membuka buku, sambil pasang telinga.
"Anisa lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Hukumanku ya?" Anisa menatap langit-langit kelas sepersekian detik.
"Aku harus jadi Abdi ndalem seumur hidup." sahutnya, dengan wajah datar. Kelas mendadak sunyi.
"Kamu nggak bercandakan?"
Anisa menggeleng.
"Papa, Mama udah pasrahkan aku ke keluarga Romo Yai, Aku bisa apa, Nab." Mata Anisa berkaca-kaca, menahan sesak di dadanya.
Tak satu pun diantara mereka tahu, bahwa di balik kalimat santai itu, Anisa sedang menutup rapat status barunya.
Bukan sekedar Abdi ndalem, Melaikan mengabdi untuk seorang suami yang tak ia inginkan.
"Setelah tamat kamu kan bisa keluar dari ndalem, Nis. ndak usah sedih to..." Anisa tersenyum, senyum itu getir di dadanya.
"Aku dipaksa mengabdi, untuk sesuatu yang tak pernah aku inginkan."
Ada jeda panjang setelah kalimat itu. Anisa tanpa sengaja melirik ke samping, matanya sontak membulat.
Siluet itu.
Postur yang terlalu ia kenal.
Sorot matanya, yang tak mungkin salah ia tafsirkan.
Nafas Anisa tercekat. Anisa sepontan berdiri,
saat pandangannya bertemu. Anisa bahkan tak menyadari sejak kapan, Gus Hafiz berdiri di depan pintu.
"Gus..." bisiknya dengan wajah tertunduk.
Gus Hafiz melangkah menuju meja, dengan wajah datar, langkahnya tenang, para santri sontak bubar tergolong kembali ke tempat duduknya masing-masing.