NovelToon NovelToon
Bertukar Ranjang dengan Saudari Kembarku

Bertukar Ranjang dengan Saudari Kembarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Dark Romance / Selingkuh
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Nadia dan Nadine adalah saudari kembar identik berusia 28 tahun. Wajah mereka nyaris sama, tetapi kehidupan pernikahan mereka sangat berbeda.
Nadia lelah menghadapi Arga, suaminya yang dingin dan selalu sibuk. Sementara itu, Nadine hidup bersama Fajar, fotografer muda yang hangat, manja, dan penuh perhatian.
Berawal dari sebuah rencana nekat, mereka sepakat bertukar identitas selama lima belas hari. Nadia ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai Fajar, sedangkan Nadine berniat memberi pelajaran kepada Arga agar lebih menghargai istrinya.
Mereka sudah menghafal kebiasaan, cara bicara, bahkan rahasia tubuh satu sama lain. Seharusnya tak ada yang menyadari pertukaran itu.
Namun mereka melupakan satu hal: perasaan tidak bisa ditiru.
Saat satu kamar berubah menjadi satu ranjang, sentuhan yang awalnya harus ditolak justru terasa semakin sulit dilepaskan. Nadia mulai mendambakan suami adiknya, sementara Nadine menemukan gairah yang tak pernah ia rasakan bersama suaminya sendiri.
Kebohongan selama lima belas hari itu akhirnya menyeret dua keluarga ke dalam cinta terlarang, kehamilan, pengkhianatan, dan rahasia yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Dimas bergegas turun ke lobi dan melihat seorang perempuan tinggi serta anggun. Di satu tangan ia membawa tas LV edisi terbatas, sedangkan tangan lainnya menenteng kotak makanan dari Restoran Nusantara. Rambut sebahu, tatapan lembut, setelan putih, dan sepatu hak tinggi berwarna perak membuat penampilannya terlihat rapi serta berkelas. Dimas langsung mengenalinya sebagai istri Arga. Ia menghampiri dengan sopan. "Bu Nadia, Pak Arga masih rapat. Mari saya antar ke ruangannya."

Nadine tersenyum kepada Dimas. "Terima kasih, Dimas." Pria itu terkejut karena mengira istri atasannya masih mengingatnya, padahal mereka hanya sempat bertemu sekilas di pesta pernikahan lima tahun lalu. Nadine tentu tidak mengenal Dimas secara langsung; Nadia sudah menceritakan tentang asisten Arga itu dan menunjukkan fotonya.

Keduanya naik lift ke lantai sepuluh bersama-sama. Dimas membawa Nadine ke kantor Arga. Ia sambil berpikir menuangkan teh dan meminta Nadine duduk dan menunggu. Dia juga berkata dengan hormat: "Arga akan menyelesaikan pertemuannya sebentar lagi. Bu, mohon tunggu sebentar." Lalu dia menutup pintu dengan hati-hati dan pergi.

Nadine duduk di sofa sambil mengamati ruang kerja Arga. Perabotan hitam yang sederhana dan dokumen yang tertata rapi terasa sangat berbeda dari meja kerja Fajar yang sering berantakan. Perutnya kemudian berbunyi. Ia belum sarapan dan sudah lebih dari lima belas jam tidak makan. Aroma hidangan dari Restoran Nusantara akhirnya membuatnya membuka kotak bekal: udang bakar, gurame, tumis kangkung, semur iga sapi, dan sayur asem. Nadine segera mengambil seporsi dan makan dengan lahap.

Begitu Arga memasuki kantor, dia mencium bau yang familiar. Ketika dia berbalik, dia melihat istrinya sedang minum sup, seperti tupai kecil yang montok, dengan mulut penuh. Dia ingin tertawa, tapi dia menahan diri. Saat Nadine mendengarnya masuk, ia buru-buru menelan iga yang ada di mulutnya dan berkata, "Rapatnya sudah selesai, ayo cepat makan."

Arga sedikit tidak senang karena istrinya hanya sibuk menikmati supnya dan tidak menghiraukannya. Nadia biasanya selalu menjadi istri yang sangat perhatian dan pasti akan memberikan perhatian padanya setiap saat. Ia berpura-pura batuk dua kali, dan Nadine mengangkat kepalanya untuk melihatnya. Ia melihat Arga duduk penuh gengsi, dengan tangan terlipat di depan dada, mengedipkan mata padanya berulang kali, memintanya untuk menyajikan sup untuknya.

Nadine bukan Nadia. Sejak lama ia merasa kakaknya terlalu memanjakan Arga, jadi ia tetap menikmati makanan dan pura-pura tidak memahami isyarat pria itu. Arga memperhatikannya dengan heran. Mengingat perlakuannya semalam dan laporan Dimas bahwa istrinya tampak kesal, ia akhirnya mengambil lauk sendiri tanpa memaksa.

Keduanya fokus pada makanan. Ketika Nadine akhirnya merasa cukup makan, perlahan-lahan ia mengeluarkan dokumen-dokumen itu dari tasnya dan menaruhnya di atas meja. Dia mengetuk meja dua kali dengan jarinya dan berkata, "Dokumennya sudah terkirim. Aku pulang dulu." Lalu dia berpura-pura pergi.

Bagaimana Arga bisa tega bersikap dingin seperti itu? Dia menariknya, memeluknya dari belakang, bersandar ke telinganya, dan berbisik, "Kamu masih marah, Nadia." Yang diinginkan Nadine adalah pria itu membujuknya, dan laki-laki tidak bisa memanjakannya. Dia berpura-pura meronta dua kali dan berkata dengan marah, "Itu bukan salahmu." Arga mencium bagian belakang telinganya dan berkata dengan nada lembut, "Sulit mengendalikan diri."

Tubuh Nadine akhirnya sedikit mengendur di dalam pelukan itu, meski ia tetap memasang wajah tidak puas. Ia mengatakan bahwa permintaan maaf tanpa perubahan tidak ada gunanya. Kalau Arga memang ingin memperbaiki hubungan mereka, ia harus pulang tepat waktu, memberi kabar, dan berhenti memperlakukannya seperti bagian dari perabot rumah. Arga terdiam sebelum menyetujui satu per satu syarat tersebut. Nadine sengaja tidak segera tersenyum. Ia baru memahami bahwa ketegasan yang selama ini tidak berani ditunjukkan Nadia justru membuat Arga mau mendengarkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!