NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

"Ta-tapi..."

"Kepala gue tiba-tiba pusing"

Tiba-tiba eca pingsan di tengah-tengah kegaduhan ini.

Gerakan theo melesat secepat kilat ketika menangkap lunglainya raga di hadapannya. Tangannya yang kekar merengkuh pinggang ramping itu sebelum sempat menghantam kasarnya trotoar, mendekapnya erat ke dada bidang yang kini berdegup kencang tak beraturan. Jaket kulit tebal miliknya tergulung membungkus tubuh sang gadis, menahan terpaan hawa dingin yang menusuk tulang.

"Woy! Sadar, jangan bercanda lo!"

bentak theo panik, menepuk pipi pucat itu perlahan dengan jemarinya yang mendadak dingin. Sorot matanya yang biasa angkuh kini dipenuhi kekacauan rasa yang membuncah.

Ia mengangkat tubuh tak berdaya itu ke dalam gendongannya, menghiraukan tatapan kaget anak buahnya yang masih berjaga di sekitar persimpangan.

"Rian! Bawa motor gue, cari copet sialan itu sampai dapat!"

perintah theo lantang, suaranya menggelegar membelah malam tanpa keraguan sedikit pun.

"Sisanya, cegat taksi sekarang juga! Neneknya nungguin obat, dan si ceroboh ini nggak boleh mati di tangan gue!"

Kepanikan menyengat benak theo saat mendapati gadis itu tak kunjung membuka mata di dalam taksi. Membiarkannya tergeletak di klinik tanpa kejelasan alamat hanya membuang waktu, terlebih bayang-bayang seorang nenek yang menanti obat terus mengusik nuraninya. Tanpa banyak pertimbangan rasional, ia membawanya ke paviliun pribadinya yang sunyi.

theo menendang pelan pintu kamar, lalu merebahkan raga yang ringan itu ke atas ranjang berseprai kelabu miliknya. Gerakannya canggung namun luar biasa hati-hati saat melepaskan selubung jaket tebalnya dan menarik selimut hingga sebatas dada sang gadis. Bau minyak angin dan aroma manis samar menyeruak, memenuhi ruangannya yang biasanya hanya berbau tembakau dan logam.

Ia mengusap tengkuknya yang basah oleh peluh dingin, mendengus gusar melihat wajah pucat yang tak berdaya itu.

"Bikin susah aja lo. Awas kalau bangun pura-pura amnesia,"

desis theo rendah, berusaha menutupi gundah yang mengaduk dadanya.

Lelaki itu segera beranjak ke meja kecil, menyambar segelas air putih dan baskom berisi air hangat. Sikap pongahnya luruh, digantikan tatapan cemas yang tak sanggup ia pungkiri lagi.

Hawa panas yang menyengat kulit telapak tangannya membuat theo menarik napas tajam. Suhu tubuh itu naik drastis, jauh melampaui batas wajar hingga peluh dingin membasahi pelipis sang gadis. Rintihan lirih yang memilukan itu menyentak nuraninya, memicu denyut perih yang asing di rongga dada theas. Seluruh arogansi dan gengsi yang biasa ia agungkan mendadak luruh, tergantikan desakan panik yang membuat gerak-geriknya kalang kabut.

theo segera memeras kain kompres di dalam baskom, menyingkirkan anak rambut yang menempel di kening pucat tersebut dengan kehati-hatian yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Saat kain basah itu mendarat lembut di dahi yang panas, rahangnya terkatup rapat, menahan kegelisahan yang memuncak.

"Nenek, eca kangen,jangan tinggalin eca nek"

Eca yang menggigau hingga meneteskan sedikit air mata membuat theo tersentak kaget melihat eca yang masih menangis.

"Gue di sini, nggak ada yang ninggalin lo,"

gumam theo rendah, suaranya parau namun sarat ketegasan yang berusaha memberi rasa aman.

Di sela-sela theo menyeka eca, Ia menyiapkan baju kering dan segera meminta tolong pelayannya untuk membantu menggantikan baju eca yang basah kuyub terkena hujan malam.

Ia meraih ponsel pintarnya dengan tangan gemetar, menghubungi kontak dokter pribadi keluarganya tanpa membuang tempo semenit pun.  Tatapannya tak sedetik pun lepas dari paras yang tersiksa demam itu.

"Sialan... bertahan sedikit lagi, jangan bikin gue gila malam ini."

Terdengar suara bel berbunyi,dokter yang telah di panggil theo telah kunjung datang, dengan gegas theo berlari menuju depan pintu, tapi tiba-tiba eca memegang tangan theo

"Jangan pergi...tolong" gumam eca sedikit lirih dengan sedikit membuka matanya dengan samar-samar terlihat.

...****************...

1
Siput
hallo semua, mulai episode ini saya buat POV Theo ya jadi saya rubah dengan kata "Aku" biar lebih menjiwai kalian di dunia theo.🤭 thanks

enjoy reading guys🩷
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Siput: galak dikit nyaplok dia kak🤣🤣
total 1 replies
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!