NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerakan Mahasiswa X Pengorbanan Sahabat

‎   Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya ketika Reza dan Poltak kembali dari Danau Kenanga. Keduanya berjalan gontai menyusuri gang sempit di kawasan Kutek menuju kosan. Namun, alih-alih disambut oleh keheningan malam dan bau obat nyamuk bakar, kos-kosan mereka malam itu justru riuh rendah.

‎

‎Di teras kosan yang tak seberapa luas, puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas sudah berkumpul. Di tengah mereka, berdiri Bang Boris—senior berjaket kulit yang kemarin memaksa mereka minum oplosan—kini tengah memegang toa kecil. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol, meneriakkan orasi berapi-api yang memecah keheningan malam Depok.

‎

‎"Kawan-kawan! Reformasi belum selesai! Elite politik masih asyik bagi-bagi kursi, sementara rakyat di bawah masih menjerit kelaparan! Besok siang, kita kosongkan kelas! Kita turun ke jalan, bergerak ke Bundaran HI dan Gedung DPR! Kita tunjukkan bahwa mahasiswa UI masih menjadi guardian of value, penjaga moral bangsa!" teriak Bang Boris, disambut kepalan tangan dan sorakan riuh dari kerumunan.

‎

‎Poltak yang baru saja tiba langsung terpaku. Darah muda Bataknya yang memang mudah mendidih mendadak terpompa. Matanya berbinar-binar melihat semangat perlawanan itu. "Sedap kali orasi Abang ini, Za. Merinding bulu romaku!" bisiknya pada Reza.

‎

‎Bang Boris yang melihat kedatangan dua maba yang sempat menentangnya itu langsung menunjuk dengan toa. "Nah! Ini dia dua maba kita. Besok kalian wajib ikut! Ini bukan soal cupu atau berani lagi, ini soal negara, bray! Kalau kalian absen, mending cabut aja status mahasiswa kalian. Setuju kawan-kawan?!"

‎

‎"Setuju!" sahut yang lain.

‎

‎Reza menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia menatap Bang Boris dengan pandangan datar yang jauh dari kesan heroik.

‎

‎"Maaf, Bang," suara Reza memotong sorakan, pelan tapi mengiris. "Gue nggak bisa ikut. Besok siang gue ada kuis Tingli (Listening Mandarin), sorenya gue harus part-time nyuci piring di Kopitiam Margonda."

‎

‎Hening sejenak. Lalu tawa sinis meledak dari mulut Bang Boris. "Cih. Nyuci piring lo bilang? Negara lagi krisis, lo lebih milih ngurusin piring kotor warung kopi? Lo nggak punya rasa nasionalisme apa gimana?"

‎

‎"Nasionalisme gue bentuknya beda, Bang," jawab Reza tenang, meski hatinya mulai panas. "Bapak gue rela jual motor satu-satunya biar gue bisa bayar SPP. Kalau gue bolos kuis terus nilai gue jeblok, itu namanya gue berkhianat sama keluarga gue sendiri. Dan kalau gue nggak nyuci piring, gue nggak bisa makan. Negara nggak bakal ngasih gue nasi bungkus kalau gue kelaparan di kosan."

‎

‎Suasana mendadak kaku. Kata-kata Reza sangat telak, menelanjangi idealisme buta dengan realitas perut yang keroncongan.

‎

‎Poltak, yang merasa situasi mulai tidak enak, buru-buru menengahi. "Eee... Bang Boris, kawan-kawan, tenang dulu. Si Reza ini memang workaholic, macam mesin dia. Biar dia belajar. Tapi aku! Aku, Poltak Hasibuan, siap turun ke jalan! Siap mengawal reformasi!" Poltak membusungkan dada besarnya, menepuknya dua kali bak gorila jantan yang siap bertempur.

‎

‎Reza menoleh, menatap sahabatnya dengan kening berkerut. "Tak, lo ngapain? Besok kan lo juga ada kelas."

‎

‎"Bah, tenang aja kau, Za. Sekali-sekali aku harus ngerasain jadi aktivis. Biar kalau nanti aku pulang kampung ke Medan, ada ceritaku sama Inang. 'Mak, anakmu ini pahlawan reformasi!' Mantap kan?" kekeh Poltak sambil menepuk bahu Reza. "Kau urus aja piring-piring itu, biar negara aku yang urus besok."

‎

‎Reza tahu tidak ada gunanya mendebat Poltak jika anak itu sudah mengambil keputusan. Malam itu, jalan mereka berpisah; Poltak sibuk membuat spanduk dari kain perca bersama kating-kating, sementara Reza mengurung diri di kamar, menghafalkan puluhan karakter Hanzi sambil sesekali memegang kelereng baretnya.

‎

‎Gue nggak peduli sama reformasi gedung dewan, batin Reza. Satu-satunya reformasi yang mau gue wujudin cuma satu: reformasi nasib, biar gue bisa beli tiket pesawat ke Cina.

‎

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti dua rel kereta yang berbeda. Pagi hingga siang, Reza sukses melewati kuis Tingli-nya meski telinganya terasa berdenging mendengar audio tape berbahasa Mandarin yang diputar cepat oleh dosennya.

‎

‎Sore harinya, tepat pukul empat, Reza sudah memakai celemek hitamnya di Kedai Kopi Koh Lim di kawasan Margonda. Kedai itu sedang ramai-ramainya. Aroma kopi O yang pekat bercampur dengan wangi roti bakar srikaya menguar di udara. Reza mondar-mandir bagai gasing; mengantarkan pesanan, membersihkan meja yang lengket, lalu berlari ke area belakang untuk menyikat tumpukan piring dan gelas kotor yang menggunung.

‎

‎"Reza! Itu meja nomor empat minta tambah es teh! Jangan lelet lu, anak muda!" teriak Koh Lim, pemilik kedai yang perutnya buncit dan selalu mengalungkan handuk kecil di lehernya.

‎

‎"Siap, Koh! Meluncur!" sahut Reza sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung lengan.

‎

‎Waktu menunjukkan pukul enam sore ketika televisi layar cembung di sudut kedai yang tadinya menayangkan sinetron, tiba-tiba berubah menjadi siaran berita Breaking News.

‎

‎Berita itu menampilkan rekaman live dari kawasan Semanggi, Jakarta. Suasana kacau balau. Demonstrasi mahasiswa yang tadinya damai berujung bentrok dengan aparat dan oknum tak dikenal. Gas air mata mengepul tebal, suara sirine meraung-raung. Kamera reporter menyorot beberapa mahasiswa beralmamater kuning yang berlarian kocar-kacir, beberapa di antaranya dipapah karena terluka.

‎

‎Reza yang sedang membawa nampan berisi tiga mangkuk mi ayam tiba-tiba terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat betul jaket almamater kuning itu. Dan ia sangat tahu siapa salah satu pemakai jaket sebesar tenda pecel lele yang hari ini ikut berteriak di sana.

‎

‎"Poltak..." gumam Reza.

‎

‎Tiba-tiba, telepon rotary (putar) milik kedai yang ada di dekat kasir berdering nyaring. Koh Lim mengangkatnya dengan nada kesal karena sedang sibuk menghitung uang. "Halo? Kedai Koh Lim. Hah? Cari siapa? Reza?"

‎

‎Koh Lim menoleh ke arah Reza yang masih mematung memegang nampan. "Za! Ada telepon buat lu. Cewek nih suaranya, nangis-nangis. Pacar lu ya?"

‎

‎Reza buru-buru meletakkan nampannya di meja kosong dan merebut gagang telepon. "Halo?"

‎

‎"Reza! Ini... ini Mbak Dini, senior kosan depan," suara di seberang terdengar panik dan putus asa. "Za, lo harus ke rumah sakit sekarang. IGD Rumah Sakit UKI."

‎

‎Napas Reza tertahan. "Ada apa, Mbak? Siapa yang di rumah sakit?"

‎

‎"Poltak, Za. Tadi barisan kita disusupi oknum pas lagi orasi. Tiba-tiba ada yang rusuh, dan Poltak ditarik ke dalam kerumunan. Dia dipukuli pakai balok kayu sama oknum nggak dikenal pas nyoba ngelindungin maba cewek. Kepalanya bocor, Za. Dia belum sadar. Cuma lo keluarga terdekatnya di sini, nomor HP orang tuanya di Medan nggak aktif!"

‎

‎Dunia Reza seakan berhenti berputar. Bau kopi dan mi ayam di sekelilingnya mendadak menguap, digantikan oleh memori masa lalu yang kelam. Gambaran Mei 1998 berkelebat di benaknya. Asap ban terbakar, teriakan kepanikan, dan wajah Chintya yang menangis di dalam mobil kijang. Dulu, ia hanya bisa berdiri diam tanpa bisa melindungi orang yang ia sayangi dari kebrutalan jalanan.

‎

‎Kali ini, ia tidak akan tinggal diam.

‎

‎Tanpa berpikir panjang, Reza melempar celemek hitamnya ke atas meja kasir.

‎

‎"Eh, lu mau ke mana?!" teriak Koh Lim kaget. "Piring di belakang masih numpuk! Meja nomor tujuh belum diantar pesanannya!"

‎

‎"Maaf, Koh. Teman saya sekarat di rumah sakit. Saya harus pergi sekarang," kata Reza tegas, matanya berkilat menahan emosi.

‎

‎"Heh! Lu pikir gampang nyari kerjaan? Kalau lu keluar pintu itu sekarang, lu nggak usah balik lagi besok! Gue pecat lu!" ancam Koh Lim, wajahnya memerah karena marah.

‎

‎Reza menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh ke arah bosnya itu sejenak, lalu menjawab pelan, "Pecat aja, Koh. Piring bisa diganti, nyawa sahabat saya cuma satu."

‎

‎Dengan itu, Reza berlari menerobos kemacetan Margonda. Ia menyetop sebuah angkot dan berteriak kepada sopirnya, "Bang, ke RS UKI Cawang sekarang! Ngebut, Bang, saya bayar dobel!"

‎

‎Sepanjang perjalanan yang terasa seperti berabad-abad itu, Reza merogoh sakunya, menggenggam kelereng Chintya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan mati, Tak. Lo utang cerita soal Jakarta sama gue. Jangan mati konyol gara-gara orang-orang bodoh itu," bisiknya berulang kali.

‎

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Suasana Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS UKI malam itu bagaikan medan perang. Bau amis darah, betadine, dan karbol menyerang penciuman Reza begitu ia menerobos pintu kaca otomatis. Dokter dan perawat berlarian ke sana kemari, menangani belasan mahasiswa yang terluka dengan berbagai kondisi; dari yang sesak napas karena gas air mata, hingga yang patah tulang.

‎

‎"Sus, pasien atas nama Poltak Hasibuan! Mahasiswa UI! Di mana dia?" tanya Reza panik pada perawat di meja jaga.

‎

‎"Di bed nomor 12, Mas. Ujung kanan, tirai hijau," jawab perawat itu cepat.

‎

‎Reza setengah berlari menyibak tirai hijau tersebut. Pemandangan di depannya membuat lutut Reza lemas. Poltak, si beruang Batak yang biasanya tertawa menggelegar dan makan dengan porsi kuli, kini terbaring tak berdaya. Almamater kuningnya robek dan bernoda darah di bagian kerah. Kepalanya dibalut perban putih yang mulai merembes merah. Mata sebelah kirinya lebam membengkak sebesar bola kasti, dan bibirnya pecah.

‎

‎Di sampingnya berdiri Mbak Dini yang masih terisak. "Za..."

‎

‎Reza berjalan perlahan mendekati ranjang, tangannya bergetar menyentuh lengan sahabatnya. "Tak... Poltak, woy. Lo denger gue nggak?" panggil Reza dengan suara serak.

‎

‎Selama beberapa detik tidak ada respons. Jantung Reza nyaris copot. Namun, tiba-tiba terdengar suara erangan pelan dari mulut Poltak yang bengkak. Pemuda itu perlahan membuka satu matanya yang tidak lebam, menatap Reza dengan pandangan kabur.

‎

‎"Za..." suara Poltak lebih mirip decitan tikus kejepit daripada suara bariton khasnya.

‎

‎"Iya, ini gue, Tak. Gue di sini. Lo jangan banyak gerak dulu," ucap Reza buru-buru, kelegaan yang luar biasa membanjiri dadanya. Sahabatnya masih hidup.

‎

‎Poltak menelan ludah, meringis menahan sakit di rahangnya. "Za... hidungku... masih mancung kan?"

‎

‎Reza terbelalak. Sedetik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar, antara ingin menangis terharu atau ingin mencekik leher sahabat bodohnya itu. "Hidung lo dari awal emang pesek, gila! Sempat-sempatnya lo mikirin hidung pas kepala lo bocor begini!"

‎

‎"Bah... rusaklah pasaranku di kampus," gumam Poltak pelan, mencoba tersenyum tapi malah berdesis kesakitan. "Kau tahu, Za? Tadi ada maba cewek, cantik kali, anak Psikologi. Dia hampir kena hantam balok sama preman bayaran itu. Aku lompatlah, kupasang badanku. Keren kan aku macam di film-film Andy Lau?"

‎

‎"Keren dari Hongkong! Lo hampir mati, bodoh!" omel Reza, meski ia diam-diam membetulkan selimut Poltak agar menutupi tubuh sahabatnya yang kedinginan. "Lo di sini aja, jangan banyak tingkah. Dokter bilang kepala lo harus dijahit tujuh jahitan. Biaya administrasi biar gue yang urus dulu pakai uang kosan gue."

‎

‎"Nggak usah, Za. Bapakku udah ditelpon sama kating, besok pagi ajudannya dari Jakarta datang bawa uang," tolak Poltak lemah. Ia menatap Reza dengan satu matanya. "Makasih ya, Kawan. Kau udah datang. Tadi kulihat kau lari-lari macam dikejar debt collector."

‎

‎Reza mendengus pelan, duduk di kursi plastik di samping ranjang. "Tidurlah. Nggak usah banyak omong, napas lo bau obat."

‎

‎Malam itu, Reza tidak tidur. Ia berjaga di samping ranjang IGD, memastikan infus Poltak menetes dengan lancar, sambil sesekali memegang kelereng di sakunya. Ada kehangatan aneh di dadanya. Di kota asing yang keras ini, ia bersyukur masih memiliki seseorang yang bisa ia sebut keluarga.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Dua hari kemudian, Poltak diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kepalanya masih dibalut perban yang menyerupai peci haji berwarna putih, dan jalannya masih sedikit pincang, tapi semangatnya sudah kembali seperti sedia kala.

‎

‎Reza memapah Poltak kembali ke kamar kosannya yang sedikit berantakan. Setelah merebahkan Poltak di kasur busa, Reza berjalan ke sudut kamarnya sendiri, membuka celengan ayam jagonyadari tanah liat, dan mulai menghitung uang receh koin lima ratusan dan lembaran ribuan yang lecek.

‎

‎Poltak yang memperhatikan dari pintu penghubung kamar mereka mengerutkan kening. "Lagi ngapain kau, Za? Sibuk kali ngitung uang receh macam tukang parkir."

‎

‎Reza tidak menoleh. "Lagi ngitung buat makan seminggu ke depan. Target gue sehari maksimal ceban (sepuluh ribu). Kalau lebih, harus puasa Daud."

‎

‎Poltak terdiam sejenak. "Kerjaanmu di kedai kopi itu... uangnya belum cair?"

‎

‎Tangan Reza berhenti bergerak. Ia membalikkan badan, menatap Poltak dengan ekspresi santai. "Gue dipecat, Tak. Pas malam lo masuk IGD, gue cabut gitu aja ninggalin kedai pas lagi rame. Bos Koh Lim murka, hari itu juga gue dikeluarin tanpa pesangon."

‎

‎Mendengar itu, raut wajah Poltak langsung berubah drastis. Matanya yang bulat terbelalak lebar. Rasa sakit di kepalanya seolah hilang, digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa besar dan menghantam dadanya.

‎

‎Pemuda bertubuh besar itu tiba-tiba merosot dari kasurnya, berjalan tertatih menghampiri Reza, dan jatuh berlutut di lantai kamar Reza yang beralaskan tikar plastik.

‎

‎"Ya Tuhan... Za," suara Poltak bergetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca. "Gara-gara aku. Gara-gara kebodohanku sok jagoan ikut demo, kau kehilangan pekerjaanmu. Kau yang mati-matian nabung buat ke Cina... kau yang kerjanya macam kuda lumping... hancur semuanya gara-gara aku."

‎

‎Poltak mulai menangis. Tangisannya bukan tangisan jantan, melainkan tangisan tersedu-sedu bak anak TK yang es krimnya jatuh ke pasir. Hidungnya kembang kempis, air matanya membasahi pipinya yang masih lebam.

‎

‎"Maafkan aku, Za! Pukul saja aku! Pukul kepalaku yang bocor ini biar makin bocor! Aku janji, mulai besok aku yang bayar semua makanmu. Aku suruh Bapakku beli itu kedai kopi Koh Lim biar kau jadi manajernya! Aku rela jadi babu di kosan ini buat nebus dosaku sama kau, Kawan!" ratap Poltak dengan nada teatrikal yang sangat dramatis. Ia memeluk kaki Reza erat-erat, tidak peduli pada harga diri marga Hasibuan-nya yang luntur saat itu juga.

‎

‎Reza menatap Poltak yang sedang mewek sambil memeluk kakinya. Ia melihat perban di kepala sahabatnya, memar di matanya, dan mendengar janji-janji absurd yang diucapkan pemuda kaya raya tapi berhati selembut kapas itu.

‎

‎Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hanya terdengar isak tangis Poltak.

‎

‎Lalu, sudut bibir Reza berkedut.

‎

‎Ia mencoba menahannya, tapi tak bisa. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. "Pfft..."

‎

‎Poltak mendongak dengan wajah penuh ingus. "Kau... kau nangis saking sedihnya, Za?"

‎

‎"Hahahahaha!" Tawa Reza akhirnya meledak. Ia tertawa lepas, keras, hingga memegangi perutnya. Tawa yang menggema di kamar kosan sempit itu, memantul di dinding-dinding tripleknya.

‎

‎Poltak kebingungan. "Za, kau gila gara-gara stres dipecat ya? Jangan gila dulu kawan, nanti beasiswamu hangus!"

‎

‎Reza menarik napas panjang, mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya karena terlalu keras tertawa. Ia menunduk, menarik kerah baju Poltak untuk membantunya berdiri.

‎

‎"Lo itu emang bego, Tak. Bego kuadrat," kata Reza masih dengan sisa tawa, menepuk bahu lebar Poltak. "Lo pikir gue nyesel ninggalin kerjaan itu buat nyusul lo? Kerja part-time kayak gitu mah gampang dicari lagi. Di sepanjang Margonda itu banyak warung pecel lele yang butuh tukang cuci piring. Tapi temen bego yang rela kepalanya bocor demi ngelindungin cewek yang bahkan nggak dia kenal? Cuma ada satu di Depok, dan sialnya dia lagi meluk kaki gue sambil nangis minta ampun."

‎

‎Poltak mengerjap-ngerjapkan matanya, ingusnya sempat tersedot masuk ke dalam hidung. "Jadi... kau nggak marah?"

‎

‎"Marah sih dikit, soalnya bos gue belum bayar gaji minggu ini. Tapi ya udahlah," Reza mengedikkan bahu. Ia berjalan ke arah meja, mengambil kelerengnya dan melempar-lemparnya ke udara. "Cinta gue di Cina itu jauh, Tak. Kalau gue nggak punya mental baja buat ngadepin masalah sekecil dipecat Koh Lim, mending gue nyerah dari dulu. Tenang aja, besok gue keliling cari kerjaan baru."

‎

‎Melihat ketenangan dan ketangguhan Reza, rasa kagum Poltak semakin membuncah. Ia mengusap ingusnya dengan lengan baju. "Kau memang gila, Za. Gila karena cinta. Tapi tenang aja... selama ada Poltak Hasibuan di sini, kumasukkan namamu ke dalam daftar prioritas negara! Aku bakal bantu kau dapat tiket pesawat itu, walau aku harus merampok bank... eh, nggak deng, minta uang Bapakku ajalah."

‎

‎Reza tertawa lagi, menggelengkan kepalanya pelan. Di tengah situasi yang secara finansial merugikan baginya, Reza justru merasa kaya. Ia belajar bahwa perjalanan menuju impian ternyata tidak harus dilewati dengan kesepian. Terkadang, Tuhan mengirimkan bala bantuan dalam wujud seorang pemuda Batak bertubuh gempal yang hobinya menangis sambil menawarkan jabatan manajer kedai kopi khayalan.

‎

‎"Makan yuk, Tak," ajak Reza tiba-tiba. "Perut gue keroncongan belum diisi sejak sore tadi."

‎

‎"Ayo! Makan enak kita malam ini! Aku traktir nasi padang pakai ayam pop dua potong! Sekalian merayakan kepalaku yang baru dijahit!" seru Poltak antusias, seketika melupakan rasa bersalahnya.

‎

‎Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan Kutek, dua mahasiswa yang babak belur oleh realitas—yang satu babak belur fisiknya, yang satu babak belur dompetnya—berjalan beriringan menembus malam. Janji Reza pada Chintya belum terpenuhi, perjalanannya masih sangat panjang dan penuh teka-teki. Namun setidaknya, langkah Reza kini terasa jauh lebih ringan.

‎

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!