"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Menghabiskan Uang
"Rana! Gimana caranya kamu bisa dapat kartu eksklusif itu? Setahuku syarat punya kartu ini ketat banget!"
Kirana memutar kartu itu di sela-sela jemarinya yang lentik sambil tersenyum jahil.
"Mas Ardy yang kasih. Lebih tepatnya, aku yang memaksanya memberikannya padaku sebagai kompensasi rasa bersalahnya dan dia tidak punya pilihan selain menyerahkannya."
"Hah?! Serius?!" Vanessa mencondongkan tubuhnya ke depan, masih sangat sulit mempercayai pendengarannya. "Dia kasih begitu aja?! Limitnya pasti gila-gilaan, Rana!"
"Limitnya tanpa batas. Dan itulah sebabnya hari ini kita akan belanja."
Vanessa terkekeh pelan. "Oh, aku paham. Belanja secukupnya buat self-reward setelah keluar dari rumah sakit, kan? Beli baju, tas."
Kirana menggeleng pelan. Senyumnya kini berubah sama sekali, bukan lagi senyum hangat, melainkan senyum penuh perhitungan.
"Pokoknya kita habiskan limitnya hari ini."
"Rana, kamu nggak lagi bercanda, kan?"
"Menurutmu aku kelihatan sedang bercanda?"
"Kok aku jadi merinding, ya?" Vanessa mengusap lengannya sendiri. "Kamu mau beli apa sampai mau ngabisin limit?"
"Dulu, aku terlalu naif, Nes. Aku terlalu sibuk menghemat uang suamiku, mengatur pengeluaran rumah tangga sampai beli baju seharga lima ratus ribu saja aku merasa sangat berdosa padanya. Tapi sekarang?"
Kirana menatap lurus ke mata sahabatnya.
"Aku tidak akan membuang uang ini untuk hal bodoh seperti pakaian yang nilainya akan turun. Kita akan membeli perhiasan, emas batangan, dan jam tangan limited edition bermerek. Benda-benda yang nilainya setara dengan investasi."
Mata Vanessa membesar menyadari kecerdasan taktik Kirana.
"Kamu sedang berniat mencuci uang suamimu secara legal?"
"Aku sedang mengamankan masa depanku. Kalau suatu hari nanti aku harus keluar dari rumah itu, aku tidak akan keluar dengan tangan kosong seperti gelandangan. Aku akan memiliki miliaran aset di tanganku yang mudah dicairkan. Sudah saatnya Ardy tahu betapa sangat mahalnya harga air mata seorang istri yang dikhianati."
Vanessa menatap sahabatnya itu dalam diam selama beberapa detik.
"Oke! Kalau begitu tunggu apa lagi?" Vanessa meraih tasnya dan langsung berdiri dengan semangat berapi-api. "Hari ini kita bikin tagihan kartu kredit Ardy meledak sampai dia jantungan di kantor!"
Kirana ikut berdiri. Senyum tipis terukir sempurna di bibirnya.
"Ingat, Van, ini baru permulaan."
Mereka berdua bersiap untuk pergi. Namun, belum genap dua langkah mereka berjalan, seorang pelayan pria berseragam rapi berlari kecil menghampiri meja mereka dengan napas sedikit terengah.
"Nyonya, tunggu sebentar! Ini ada dokumen laporan penjualan minggu—"
Ucapan pelayan itu terputus seketika.
Kirana menoleh. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan tajam. Tidak ada senyum di wajahnya. Ia memberikan isyarat agar pelayan cafe agar diam.
Pelayan pria itu sontak menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya menegang dan wajahnya berubah pucat menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia lakukan di depan tamu bosnya.
Vanessa, yang berdiri tepat di samping Kirana, langsung mengernyitkan dahi. Ia menatap pelayan itu dan sahabatnya bergantian dengan raut penuh kebingungan.
"Laporan?" ulang Vanessa heran, alisnya bertaut. "Laporan penjualan apa maksudnya, Rana?"
Dalam sekejap mata, ekspresi Kirana berubah total. Tatapan tajamnya menguap, digantikan oleh senyum santai dan ramah seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Nggak tahu, Van," jawab Kirana dengan acuh. "Mungkin dia salah mengenali orang."
Mendapat kode dari bos besarnya, pelayan itu buru-buru menundukkan kepala.
"M-maaf, Nyonya... eh, maksud saya, maaf, Mbak! Saya benar-benar keliru. Saya kira anda adalah bos pemilik kafe cabang ini yang sedang kami tunggu kedatangannya. Postur anda sangat mirip dari belakang. Maaf sekali kalau saya lancang menahan jalan anda."
Tanpa menunggu jawaban atau omelan lebih lanjut, pelayan itu segera membalikkan badan dan bergegas pergi dengan wajah tegang yang masih menunduk.
Vanessa melipat tangannya di dada, masih menatap punggung pelayan itu hingga menghilang di balik pintu dapur.
Instingnya mengatakan ada sesuatu yang janggal.
"Rana..." panggil Vanessa penuh selidik.
"Hm?" sahut Kirana sibuk merapikan kerah bajunya.
"Kamu beneran nggak kenal sama pemilik kafe elit ini?"
"Nggak, Van. Kenal dari mana coba?"
"Yakin?" kejar Vanessa, melangkah mendekat.
"Iya, astaga. Kenapa sih?"
"Kok aneh ya?" gumam Vanessa, matanya menyipit menatap wajah sahabatnya. "Pelayan sekelas kafe ini nggak mungkin sebodoh itu sampai salah mengenali bosnya sendiri, kan? Apalagi cara pelayan itu bicara tadi, nada bicaranya benar-benar seperti bawahan yang mau memberikan laporan keuangan pada atasannya."
Kirana tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat natural. Ia langsung memeluk lengan sahabatnya itu dan menariknya menuju pintu keluar.
"Udah, ah, jangan mikirin pelayan salah tingkah. Waktu kita berharga, Van. Ayo, katanya kita mau belanja besar-besaran?"
Vanessa masih sempat menoleh sekali lagi ke arah kasir kafe, namun melihat Kirana yang tampak sangat enggan dan santai membahasnya, ia memilih mengurungkan rasa penasarannya.
"Sudahlah Hari ini tugasku cuma satu, membuat Rana tersenyum lagi dan melupakan semua masalahnya itu," batin Vanessa mengalah.
Satu jam kemudian...
Sebuah taksi menurunkan mereka di lobi sebuah pusat perbelanjaan paling mewah di jantung kota. Deretan butik desainer kelas dunia berjejer rapi di lantai dasar.
Begitu Kirana melangkah masuk ke butik pertama yang memajang logo brand asal Paris, mata Vanessa langsung membulat sempurna.
"Rana, tunggu dulu. Yakin Kita masuk ke sini?" bisik Vanessa.
"Kenapa memangnya?" Kirana balas berbisik santai.
"Ini butik langganan artis papan atas, Rana! Harga ikat pinggangnya aja bisa buat DP mobil!"
Kirana hanya tersenyum simpul, auranya memancarkan kepercayaan diri yang membuat para pelayan butik langsung menyambutnya bak bangsawan.
"Bagus dong," ucap Kirana pelan sambil berjalan masuk. "Berarti kualitas barangnya nggak main-main. Dan yang paling penting, harganya nggak akan turun kalau dijual lagi."
Tanpa pikir panjang dan tanpa melihat label harga sekecil apa pun, Kirana mulai berjalan menyusuri rak, menunjuk barang demi barang dengan jari telunjuknya.
"Gaun sutra yang ini. Blazer yang itu juga. Sepatu heels edisi terbatas yang di rak kaca itu tolong dibungkus ukuran 38," perintah Kirana lancar pada tiga pelayan yang kini mengekorinya.
"Oh ya, tas kulit buaya yang di etalase utama itu keluarkan juga. Aku ambil."
Manajer butik yang turun langsung melayaninya sampai harus berkali-kali memastikan pendengarannya.
"Mohon maaf, Nona, anda ingin mengambil semuanya?" tanya sang manajer dengan mata berbinar sekaligus tak percaya.
"Iya."
"Semuanya, Nona? Tanpa dicoba lebih dulu?" ulangnya memastikan.
"Semuanya dan segera siapkan tagihannya," jawab Kirana dengan santai.
Di belakang Kirana, Vanessa sudah memegangi kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling. Vanessa pikir Kirana sedang bercanda dan nyatanya, tidak sama sekali.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy