Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
“Oh, jadi kau mengalami demam dalam ya? Gejalanya memang seringkali tidak terlihat dari luar,” ucap Zoey, tiba-tiba memasang wajah panik dan penuh simpati yang sangat meyakinkan.
Victoria mengangguk lemah, memperkuat aktingnya.
“Ya, kepalaku sangat pusing dan tulangku ngilu. Tolong beritahu paman Lukas untuk mengantarkan sarapanku ke kamar saja.”
“Ya ampun, Sayang, ini sangat berbahaya,” balas Zoey dengan serius, tangannya merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponsel. “Demam tanpa suhu panas di luar biasanya adalah gejala awal infeksi virus langka. Kita tidak bisa hanya mengandalkan parasetamol dan sarapan. Harus ada tindakan medis secepatnya.”
Mata Victoria menyipit curiga. “Apa maksudmu?”
Zoey mulai menekan layar ponselnya dengan cepat.
“Aku sedang menelepon dokter keluarga. Aku akan menyuruhnya datang ke sini membawa antibiotik dosis tinggi. Kau harus segera diberi suntikan langsung ke pembuluh darahmu.”
Seketika, mata Victoria melotot sempurna dan nyaris keluar dari sarangnya. Wajahnya yang tadi pura-pura lemas kini memucat pasi seputih kertas.
“Suntikan dosis tinggi dia bilang?” jerit Victoria tertahan.
Selama belasan tahun hidupnya, hal yang paling tidak ia sukai di dunia ini, bahkan lebih ia benci daripada pelajaran matematika adalah jarum suntik.
“Tentu saja,” Zoey mengangguk mantap, menempelkan ponsel ke telinganya. “Karena infeksinya tidak terdeteksi dari luar, jarumnya harus cukup panjang dan besar agar bisa menembus masuk ke jaringan otot dalam di pantatmu. Kira-kira sepanjang... ini,” ujar Zoey seraya merenggangkan ibu jari dan telunjuknya sekitar sepuluh sentimeter.
“T–tunggu! Jangan panggil dokter atau siapapun!” seru Victoria panik, refleks melompat dari ranjang dengan gesit dan merampas ponsel Zoey dengan tenaga luar biasa. “Aku... aku rasa pusingku tiba-tiba sudah agak reda!”
Zoey tersenyum miring, senyum kemenangan seorang ibu yang baru saja menaklukkan anak pembangkang.
“Wow, pemulihan yang sangat cepat dan ajaib,” sindir Zoey telak, merapikan rambutnya yang tak berantakan.
“Nah, Nona penurut yang tiba-tiba sehat, kau punya waktu sepuluh menit untuk memakai seragammu dengan rapi, lalu turun ke meja makan untuk sarapan. Atau kau mau ku ambilkan ponselku lagi untuk memanggil dokter dengan jarum suntik raksasanya?”
“Kau gila? Sepuluh menit? Aku butuh—”
“Sepuluh menit, Victoria,” potong Zoey.
Victoria menggeram frustrasi sembari menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal karena aktingnya dipatahkan begitu saja.
*****
Zoey berjalan anggun memasuki ruang makan. Ia menarik kursi di ujung meja dan duduk tak jauh dari Victor yang sedang menjejalkan sepotong roti isi ke dalam mulutnya dengan rakus.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga.
Victoria muncul dari lantai dua dengan seragamnya yang rapi, namun dengan raut wajah luar biasa cemberut. Gadis remaja itu menarik kursi dan duduk dengan kasar di samping saudara kembarnya.
Victor menoleh, melirik Victoria dari ujung matanya. “Kau kena juga?” bisiknya tak ingin Zoey mendengar.
Victoria mendengus kesal, menyilangkan tangan di dada.
“Hmm. Kupikir kau yang punya otak cerdas itu berhasil mengelabuinya dan punya ide lain. Ternyata sama saja, kau juga gagal total,” ketusnya, membalas bisikan Victor dengan nada menyalahkan.
Victor mendelik tak terima. “Hei, dia mau mendatangkan dokter gigi! Aku tidak mau gigiku dicabut!”
“Sama! Dia mau menyuntik pantatku pakai jarum raksasa!”
Brak!
Gebrakan ringan di atas meja sukses membuat kedua anak kembar itu tersentak kaget dan refleks menutup mulut.
Jantung mereka berdebar kencang saat melihat Zoey menatap mereka dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan.
Namun, alih-alih berteriak atau marah-marah, wanita muda itu justru tersenyum manis, senyum keibuan yang membuat Victor dan Victoria seketika merinding karena tak bisa menebak jalan pikiran ibu sambung mereka ini.
“Dilarang mengobrol saat makan. Selesaikan sarapan kalian dengan tenang,” ucap Zoey lembut. “Aku tidak mau kalian sampai jatuh sakit sungguhan hanya karena drama payah kalian pagi ini.”
Zoey tahu betul, menghadapi remaja pemberontak seperti mereka tidak bisa selalu menggunakan kekerasan atau kata-kata kasar.
Menaklukkan benteng pertahanan si kembar membutuhkan kombinasi antara ketegasan, kecerdasan dan perhatian tulus yang tak pernah mereka dapatkan dari Damian.
“Tapi kami sudah bilang, kami tidak mau kau ikut ke sekolah!” protes Victoria memberanikan diri, meski nyalinya sudah menciut.
“Iya! Kami sudah dewasa. Kami bisa urus urusan kami sendiri,” tambah Victor menimpali.
Zoey menopang dagunya, menatap mereka bergantian dengan sorot mata geli. “Oh, ya? Mengurus diri sendiri sampai mau dikeluarkan dan dimusuhi satu sekolah? Itu yang kalian sebut sudah dewasa?”
Perkataan menohok itu seketika membuat Victor dan Victoria mati kutu.
Mulut mereka rapat terkunci. Bagaimana wanita ini bisa tahu masalah rahasia mereka?!
“Makan yang benar!” perintah Zoey lagi, kali ini nadanya tak menerima bantahan sedikit pun.
Tak punya pilihan lain juga karena perut mereka lapar, Victor dan Victoria akhirnya menundukkan kepala.
Keduanya melahap habis sarapan mereka dalam diam, lalu meneguk habis segelas susu hangat yang sudah disiapkan Lukas.
Melihat piring dan gelas mereka bersih, Zoey mengangguk puas. Ia bangkit dari kursinya, merapikan mantelnya.
“Bagus. Begini kan lebih manis,” puji Zoey sembari mengambil tas tangannya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum benar-benar pergi, Zoey menoleh ke arah meja makan.
“Aku tunggu di mobil. Dan ingat, jangan ada ide atau drama murahan lagi seperti mencoba kabur lewat jendela belakang. Asal kalian tahu, saat aku masih remaja, aku jauh lebih berpengalaman dalam hal membuat onar.”
Setelah meninggalkan kalimat mutlak itu, Zoey melangkah keluar, meninggalkan Victor dan Victoria yang saling bertatapan dengan wajah pucat dan bahu merosot pasrah.
Trik mereka benar-benar sudah terbaca habis sekarang.
nti salah temen lagi siapa coba yg repot 🤦
dia cuman bingung mesti berbuat apa pas ada yg merhatiin
ini mekanisme perlindungan diri ,kalau 🥹🥹
andaikan
jaga jga hatinya sakit kalau nanti udah nyaman malah ditinggal lagi