Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Terlihat
Suara pintu mobil yang dibanting masih bergema di kepala Lily, lebih keras daripada guntur di luar. Hujan deras mengguyur atap seng rumah Nenek, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan ke arah jalan raya, seolah-olah dunia luar telah memutuskan untuk menutup diri dari mereka. Namun, badai di dalam dada Lily jauh lebih dahsyat daripada cuaca di luar sana.
Lily duduk memeluk lutut di sudut ruang tengah, matanya kosong menatap lantai kayu yang kini memiliki noda lumpur bekas sepatu ayahnya. Kata-kata itu—*“Aku talak kau”*—terdengar berulang-ulang di kepalanya seperti rekaman rusak. Ia merasa dingin, meski selimut tebal sudah melilit tubuhnya. Dingin yang bukan berasal dari suhu udara, melainkan dari kehampaan yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.
Ibu terbaring di sofa, wajahnya tertanam di bantal, bahunya berguncang pelan. Ia tidak menangis meraung-raung; tangisnya sunyi, menyakitkan, dan membuat dada Lily sesak. Nenek Surti duduk di samping Ibu, mengelus punggung putrinya dengan gerakan lambat dan menenangkan, namun wajah wanita tua itu juga tampak pucat dan syok.
“Ma…” panggil Lily lirih. Suaranya serak, hampir tak terdengar di antara deru hujan.
Ibu tidak menjawab. Hanya isakan kecil yang lolos dari bibirnya.
Lily bangkit perlahan, kakinya terasa berat seperti dibebani timah. Ia berjalan mendekati sofa dan duduk di tepi karpet, menyentuh lengan ibunya yang gemetar. “Ma, bangun, Ma. Jangan diam saja.”
Ibu mengangkat wajahnya. Matanya bengkak, merah, dan penuh dengan rasa hancur yang begitu mendalam hingga Lily merasa takut melihatnya. Ini bukan sekadar sedih karena perpisahan; ini adalah luka penghinaan di depan keluarga, di depan anak sendiri, dengan cara yang paling primitif dan menyakitkan.
“Dia benar-benar melakukannya, Lil,” bisik Ibu, suaranya pecah. “Di depan kamu… di depan ibuku… dia mengucapkan kata itu. Seperti membuang sampah.”
“Aku tahu, Ma. Aku tahu,” jawab Lily, air matanya kembali mengalir deras. “Tapi… kenapa? Kenapa harus sekejam itu? Kenapa nggak bisa baik-baik saja?”
Nenek Surti menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tajam. “Karena ego, Nak. Ayahmu merasa tersudut. Ketika seorang pria merasa harga dirinya direndahkan, apalagi di hadapan mertua, ia akan melakukan apa saja untuk merasa ‘menang’, bahkan jika itu berarti menghancurkan semuanya.”
“Aku benci dia,” ucap Lily tiba-tiba. Kalimat itu keluar begitu saja, tajam dan penuh racun. “Aku benci Ayah. Dia jahat. Dia nggak sayang sama kita. Dia cuma sayang sama egonya.”
Ibu menggeleng lemah, mencoba meraih tangan Lily. “Jangan bilang begitu, Lil. Jangan biarkan kebencian memakan hatimu. Itu hanya akan menyakiti kamu sendiri.”
“Tapi sakit, Ma!” teriak Lily, melepaskan genggamannya. Ia berdiri, berjalan mondar-mondir di ruangan sempit itu. “Sakit banget! Tadi… tadi aku kira dia datang buat minta maaf. Aku kira dia bakal nangis, bakal peluk kita, bakal bilang kalau dia salah. Tapi dia malah marah-marah, ngomong kasar sama Nenek, terus… terus ngucapin talak gitu aja. Seolah-olah selama enam belas tahun hidup bareng, itu nggak ada artinya.”
Lily berhenti, napasnya memburu. Ia menatap jendela yang berembun. Bayangan dirinya di kaca terlihat kabur, sama seperti masa depannya sekarang.
“Aku takut, Ma,” akunya, suaranya kembali mengecil menjadi bisikan putus asa. “Aku takut kalau nanti aku juga bakal jadi kayak dia. Dingin. Kejam. Nggak bisa percaya sama siapa-siapa. Apa perceraian itu nular, Ma? Apa cinta itu bohong?”
Ibu bangkit dari sofa, meski langkahnya goyah. Ia mendekati Lily dan memeluknya erat, kali ini dengan kekuatan yang berbeda. Bukan pelukan orang yang meminta perlindungan, melainkan pelukan ibu yang berjanji akan melindungi.
“Dengarkan Mama, Lily,” kata Ibu tegas, meski air matanya masih mengalir. “Cinta itu tidak bohong. Yang bohong itu ekspektasi kita bahwa orang lain akan selalu berubah sesuai keinginan kita. Ayahmu… dia sakit. Dia punya trauma sendiri, mungkin dari masa lalunya, mungkin dari tekanan pekerjaannya. Tapi itu bukan alasan untuk menyakiti kita. Dan kamu… kamu tidak akan menjadi seperti dia. Karena kamu punya hati. Kamu punya empati. Kamu memilih untuk tetap lembut meski dunia sedang keras padamu.”
“Tapi aku merasa hancur, Ma,” keluh Lily, membenamkan wajahnya di bahu ibu. “Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang. Bagian yang percaya pada ayah. Sekarang tinggal apa? Kebencian? Kekecewaan?”
Nenek Surti mendekat, ikut merangkul mereka berdua. “Kalian tidak kehilangan segalanya, Cucuku. Kalian kehilangan seseorang yang memang sudah lama pergi secara emosional. Hari ini hanyalah konfirmasi resmi. Luka ini memang dalam, tapi ingatlah: besi yang ditempa api panas justru menjadi lebih kuat. Kalian akan sembuh. Perlahan, tapi pasti.”
Lily menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma teh jahe dan kayu basah yang khas dari rumah Nenek. Aroma itu mulai terasa familiar, mulai terasa seperti jangkar.
“Aku nggak mau ketemu dia lagi,” kata Lily tiba-tiba, suaranya datar namun tegas. “Untuk sementara waktu. Aku nggak sanggup lihat wajahnya. Setiap kali aku lihat dia, aku bakal inget kata-kata tadi. Aku bakal inget gimana dia ngelakuin Mama.”
Ibu mengusap rambut Lily, mencium keningnya. “Tidak apa-apa, Sayang. Kita beri jarak. Waktu akan menyembuhkan, dan jarak akan memberikan kejernihan. Kamu tidak wajib memaafkannya hari ini. Kamu bahkan tidak wajib memaafkannya besok. Fokuslah pada dirimu sendiri. Fokuslah pada sekolah, pada teman-temanmu, pada hal-hal yang membuatmu bahagia.”
“Bagaimana dengan sekolah?” tanya Lily, kecemasan baru muncul. “Apa teman-temannya bakal tahu? Apa mereka bakal ngejek aku sebagai anak broken home?”
Nenek tersenyum tipis. “Biarkan mereka bicara, Lil. Mulut orang tidak bisa dikontrol. Tapi tindakanmu yang berbicara. Jika kamu tetap berprestasi, tetap sopan, dan tetap bahagia, omongan mereka hanya akan menjadi angin lalu. Jangan biarkan label ‘broken home’ mendefinisikan siapa kamu. Kamu adalah Lily. Anak yang cerdas, baik hati, dan kuat.”
Lily menatap neneknya, lalu menatap ibunya. Ada kelelahan di wajah mereka, namun juga ada tekad baru. Tekad untuk bertahan.
“Aku lelah, Ma,” gumam Lily, rasa adrenalin yang tadi menopangnya mulai surut, digantikan oleh kelelahan fisik yang luar biasa.
“Ayo tidur, Nak,” ajak Ibu lembut. “Besok adalah hari baru. Masalahnya masih sama, tapi kita akan menghadapinya dengan kepala yang lebih dingin.”
Mereka bertiga berjalan menuju kamar. Lily berbaring di tempat tidurnya yang sederhana, memeluk bantal yang masih berbau sabun Nenek. Di luar, hujan mulai reda, berubah menjadi gerimis halus. Langit malam yang gelap mulai menunjukkan celah-celah awan, memperlihatkan beberapa bintang redup.
Lily menutup matanya, namun bayangan wajah marah ayahnya masih menghantui. *Talak.* Kata itu masih terngiang. Namun, di sisi lain, ia merasakan kehadiran Ibu di kamar sebelah, dan Nenek di ujung lorong. Ia tidak sendirian. Ia mungkin kehilangan sosok ayah yang ideal, tetapi ia menemukan kembali kenyataan bahwa ia dicintai dengan cara yang tulus, tanpa syarat, dan tanpa drama.
Air mata terakhir mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal. Lily tidak menghapusnya. Ia membiarkannya mengalir, sebagai bentuk pelepasan rasa sakit yang telah tertahan terlalu lama. Malam ini, ia menangis bukan karena lemah, tetapi karena ia akhirnya berani mengakui lukanya. Dan dari pengakuan itulah, proses penyembuhan yang sebenarnya akan dimulai.