Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 (KASUS 1) SEKAR ARUM, SANG PEREWANGAN SETIA
Dr. Haruma baru saja hendak mendorong handle pintu besi laboratorium untuk memanggil Bripda Bowo.
Namun...
Tepat sebelum telapak tangannya menyentuh permukaan logam yang dingin itu...
Tiba-tiba saja...
Sebuah pusaran "hawa asing" yang mendadak meledak di belakang punggungnya membuat seluruh gerakan tubuh Haruma terhenti kaku.
Syuuuttt...
Sensasi dingin yang menerpa tengkuknya kali ini sama sekali bukan berasal dari embusan pendingin udara ruangan. Hawa es itu membawa beban yang sangat berat, berbau busuk gabungan antara uap belerang dan amis darah yang mengendap.
Secara refleks, Haruma memutar tubuhnya, dan kembali menghadap ke arah meja cold-storage di tengah ruangan.
Di bawah pendaran redup lampu operasi, jasad Jonathan Nasution yang rongga dadanya telah dibedah tampak bergetar amat halus.
Dari dalam rongga dada yang berisi organ jantung dan paru-paru mengkerut itu, membumbung tipis gumpalan asap berwarna kelabu kehitaman.
Gumpalan asap itu berputar perlahan di atas tubuh korban, memancarkan gelombang energi "tak kasat mata" yang terus berdenyut, persis bagaikan "detak jantung gaib" yang memanggil-manggil Haruma.
Mata jernih dr. Haruma seketika berkilat tajam.
Sebagai seorang dokter forensik yang sejak kecil (bersama Almarhum kedua orang tua kandungnya, Pak Diki dan Bu Fitri), serta sejak remaja dahulu yang tumbuh dalam kehidupan dunia spiritual dan penuh unsur mistis bersama keluarga barunya (Zaki, Nisa, dan Harumi)...
Haruma tahu betul apa yang sedang terjadi sekarang di depan mata kepalanya sendiri!
Sisa-sisa "sukma gaib" Jonathan Nasution belum sepenuhnya beranjak meninggalkan raganya itu.
Kerusakan fisik organ dalamnya telah berhasil dibuktikan oleh pisau bedah, namun kebenaran tentang siapa sosok iblis yang telah mencuri sukmanya malam itu masih terkunci rapat di dalam memori gaib sang jasad.
Haruma melangkah mundur satu tindak.
Tanpa ragu sedikit pun, tangannya terulur menjangkau selot besi manual di samping pintu laboratorium.
Klak!
Haruma mengunci kembali pintu besi ganda itu dari dalam. Ia memutar selot ganda hingga terdengar bunyi kait logam yang mengunci rapat.
Tidak boleh ada satu pun orang luar yang melangkah masuk atau mengganggu "proses sakral" yang akan dimulainya.
"Bowo... maafkan saya," gumam Haruma pelan pada pintu yang terkunci. "Laporan fisik otopsi memang sudah selesai, tapi tugas utama saya untuk menegakkan keadilan baru saja dimulai."
Haruma berbalik arah, melangkah perlahan menuju panel sakelar lampu di dinding samping.
Dengan gerakan tenang, jemarinya menekan tombol pengatur pencahayaan.
Satu per satu lampu operasi gantung yang terang menyilaukan mati padam, menyisakan pendaran lampu pijar darurat bernuansa biru keemasan di sudut plafon.
Suasana laboratorium forensik yang semula steril dan terang benderang, seketika berubah menjadi sangat temaram, dingin, dan diliputi nuansa mistis yang amat pekat.
Haruma melangkah mendekati meja cold-storage.
Haruma berdiri tegap di samping kepala jasad Jonathan.
"Pemeriksaan fisik kedokteran telah mencapai batasnya," ucap Haruma dengan suara lembut yang bergema di dalam ruangan yang sunyi.
"SEKARANG... IZINKAN ILMU BATINKU YANG BERBICARA..." ucap Haruma kemudian, dengan sangat tenang. Jauh lebih tenang dari biasanya.
Lalu...
Haruma merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memejamkan mata rapat-rapat.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan lewat mulut sambil merapalkan bait-bait doa tauhid.
Ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalun indah di dalam benak Haruma, menyirami jiwanya dengan ketenangan yang kuat dan membentengi otaknya dari pengaruh hawa hitam yang berputar di atas meja bedah.
Begitu benteng imannya berdiri kokoh, Haruma menurunkan kedua tangannya.
Ia membuka mata, lalu berbisik dengan suara yang mantap, sebuah "panggilan mistis dan sakral" kepada satu "sosok gaib" yang sudah bertahun-tahun menjadi pengawalnya di batas dua dunia, diucapkan oleh Haruma:
.....
"SEKAR ARUM... WAHAI PEREWANGANKU... HADIRLAH..."
.....
Kemudian...
Wussshhh...
Seketika itu juga, hembusan angin gaib yang teramat hangat berputar lembut di sekeliling tubuh Haruma.
Bau busuk belerang dan aroma amis darah dari jasad Jonathan seketika terusir, digantikan oleh semerbak keharuman wangi bunga cempaka dan melati yang sangat segar, menenangkan, dan memancarkan keagungan.
Dari dalam bias cahaya biru keemasan di samping kiri Haruma...
Wujud sosok gaib itu perlahan-lahan mewujud sempurna. Dan hanya Haruma yang dapat melihatnya sekarang.
Sesosok wanita berparas jelita dengan anggun berdiri melayang beberapa senti di atas lantai keramik.
Sosok wanita itu mengenakan kemben kain sutra berwarna hitam legam sempurna dengan ukiran emas yang berkilauan. Rambut hitamnya yang panjang terurai indah hingga ke pinggang, dihiasi rantai-rantai bunga melati putih yang harum. Sepasang matanya yang sangat mirip dengan mata Haruma, memancarkan sinar kuning keemasan yang penuh wibawa namun sarat akan kasih sayang.
SEKAR ARUM... Entitas perewangan agung berwujud bidadari yang setia mengawal Haruma sejak kecil—menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Aku hadir, Haruma~~~" suara Sekar Arum bergema halus, terdengar bagaikan alunan gending perunggu yang merdu di dalam tengkorak kepala Haruma.
Haruma menoleh, menatap sosok perewangannya dengan kedalaman rasa saling percaya yang tak terbatas.
"Terima kasih sudah selalu ada di sampingku, Sekar Arum..." ucap Haruma.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dan menuntun langkahmu, Haruma~~~" balas Sekar Arum lembut.
Sinar mata keemasan Sekar Arum kemudian bergeser menatap ke arah jasad Jonathan di atas meja bedah. Dahi cantiknya berkerut tipis, aura keemasannya membumbung tinggi secara refleks.
"Hawa hitam di atas raga ini, sungguh sangat pekat dan beracun, Haruma~" ujar Sekar Arum, suaranya berubah menjadi sangat serius. "Ini bukan sihir santet biasa. Ada cengkeraman iblis luar yang sangat tua, yang telah merobek dan menyedot paksa sukma orang ini hingga raganya kering~"
Haruma mengangguk pelan mendengar ucapan perewangannya itu.
"Aku sudah menduganya saat melihat organ jantungnya yang mengkerut tadi, Sekar Arum. Itulah alasannya aku mengunci pintu ruangan ini kembali. Dan aku memanggilmu untuk hadir."
"Apa kau berniat menembus dimensi kematiannya, Haruma?~~~" tanya Sekar Arum memastikan.
"Iya," jawab Haruma tanpa ragu sedikit pun. Matanya menatap lurus ke arah gumpalan asap kelabu yang berdenyut di atas dada jasad Jonathan.
"Harumi dan timnya di luar sana cuma punya waktu 24 jam untuk membuktikan kejahatan ini di hadapan para petinggi. Aku harus masuk ke dalam sisa memori sukma Jonathan sebelum pintu alam barzakh-nya tertutup sempurna." ucap Haruma kepada Sekar Arum.
Sekar Arum melayang mendekati Haruma...
Tangan gaibnya yang halus terulur, membentuk lingkaran perlindungan gaib di udara.
"Jika itu sudah menjadi ketetapan hatimu, maka aku akan menjadi perisai dan penunjuk jalanmu, Haruma~~~" ucap Sekar Arum mantap.
"Namun aku harus peringatkanmu, Haruma. Memori terakhir dari seseorang yang mati akibat sihir pencuri usia ini dipenuhi oleh rasa sakit dan teror yang amat kuat. Kesadaran batinmu bisa ikut terguncang jika tidak berhati-hati~~~" jelas Sekar Arum memperingatkan Haruma.
Haruma menyunggingkan senyuman tipis yang memancarkan ketegaran seorang dokter forensik. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan pada Harumi, Sekar Arum. Tidak ada rasa takut yang boleh menghalangi jalan keadilan."
"Niat yang sangat mulia, Haruma. Baiklah, aku siap~~~" jawab Sekar Arum penuh takzim.
Sekar Arum mengangkat kedua tangannya yang berkilauan cahaya keemasan.
Selubung aura kuning keemasan itu meledak pelan dari tubuhnya, melingkupi seluruh tubuh Haruma dari ujung kepala hingga ujung kaki. Selubung gaib itu bertindak sebagai pelindung spiritual, memastikan agar racun sihir hitam di dalam memori jasad Jonathan di depan mereka tidak dapat menyentuh atau mencemari sukma Haruma.
"Pegang tanganku, Haruma~~~" pinta Sekar Arum.
Haruma mengulurkan tangan kanannya di udara kasat mata. Meski jemarinya hanya menyentuh pusaran udara hangat, rasa saling terhubung di antara raga manusia dan entitas perewangan itu terasa begitu nyata dan kokoh.
Haruma memposisikan telapak tangan kirinya mengambang beberapa sentimeter tepat di atas dahi jasad Jonathan Nasution.
Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh konsentrasi batinnya pada titik pertemuan energi di dadanya.
"Bismillahirrahmannirrahim..." bisik Haruma lirih.
Dan...
Wuuuuttt!
.....
.....
.....
Seketika itu juga, pemandangan laboratorium forensik yang dingin dan suara deru mesin pendingin udara LENYAP TOTAL dari kesadaran Haruma.
Suasana ruangan yang temaram seketika runtuh, tergantikan oleh pusaran angin berwarna kelabu yang meraung-raung di sekeliling jiwa Haruma.
HARUMA SUDAH BERPINDAH DIMENSI BERSAMA PEREWANGAN SETIANYA, SEKAR ARUM.
Haruma dan Sekar Arum kini melayang di ambang batas antara alam nyata dan alam kematian—sebuah dimensi memori kelabu (residual memory) yang menyimpan detik-detik terakhir dari hembusan napas Jonathan Nasution.
Di dalam dimensi kelabu yang hampa udara itu, gumpalan kabut hitam pekat berputar-putar liar. Dari dalam pusaran kabut tersebut, terdengar gema suara jeritan, rintihan tangis, dan rasa keputusasaan yang sangat menyayat hati.
"Tetap di belakangku, Haruma~~~" Sekar Arum memperingatkan Haruma dengan suara tegas. Wujud perewangan itu kini membesar, mengibaskan selendang kuningnya untuk membelah kabut hitam yang mencoba menghadang langkah batin mereka.
Cahaya keemasan dari Sekar Arum menerobos pekatnya kegelapan dimensi kelabu tersebut, membuka sebuah lorong penglihatan lurus ke depan.
Di ujung lorong cahaya itu, Haruma mulai melihat kepingan-kepingan ingatan yang berkedip cepat. Bayangan kemewahan kamar penthouse di lantai 35 mulai terbentuk dari udara hampa. Haruma melihat sosok Jonathan Nasution yang masih hidup, sedang berdiri di samping tempat tidurnya pada jam 3 dini hari.
"Kita sudah berhasil masuk ke dalam memorinya, Sekar Arum!" bisik Haruma dengan napas batin yang tertahan.
"Benar," sahut Sekar Arum dengan mata keemasannya yang berkilat tajam. "Perhatikan baik-baik... inilah detik-detik di mana sihir iblis itu merobek jiwanya!"
Haruma memfokuskan seluruh indera penglihatannya pada kepingan memori di hadapan mereka.
Di dalam ruang dimensi kematian yang membeku itu...
Tabir rahasia tentang bagaimana nyawa Direktur Keuangan muda itu dirampas secara keji...
Kini siap untuk terlihat sepenuhnya di depan mata Haruma, sang dokter forensik.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu