Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Modal Awal dan Harga Diri
Sinar mentari pagi menembus celah dinding kayu rumah reyot milik Dirga. Di atas meja sederhana, lembaran uang tunai tertata rapi. Di sisi kiri, terdapat tumpukan uang kertas kusam hasil keringatnya menembus dinginnya malam sebagai pengemudi ojek daring, berjumlah tak lebih dari sembilan ratus ribu rupiah. Di sisi kanan, tergeletak amplop cokelat tebal milik Lisa Larasati yang berisi lima puluh juta rupiah.
Dirga memandangi dua tumpukan uang itu dengan tatapan mata yang dalam dan penuh pertimbangan. Kepalanya masih menyisakan denyut ringan, dampak dari fokus tinggi saat menyaksikan lonjakan harga saham PT Medika Perkasa Tbk dalam penglihatan masa depannya semalam.
"Sembilan ratus ribu rupiah tentu tidak akan pernah cukup untuk melakukan lompatan besar di bursa saham," ucap Dirga pelan, memecah keheningan kamar. Tangannya terulur meraba amplop cokelat di hadapannya. "Namun menggunakan uang ganti rugi dari Lisa secara cuma-cuma hanya akan menghancurkan harga diriku. Aku tidak pernah meminta belas kasihan darinya."
Ia menarik napas panjang, merapikan kerah jaket ojeknya yang mulai memudar.
"Aku tidak akan membelanjakan uang ini untuk kebutuhan hidup sehari-hari atau bersenang-senang," tegas Dirga pada dirinya sendiri, matanya memancarkan keteguhan yang makin dingin. "Uang ini akan kupakai murni sebagai modal investasi. Setiap rupiah yang terpakai dari amplop ini akan kukembalikan utuh kepada Lisa saat wanita itu datang mencariku nanti. Ini bukan hutang budi, melainkan langkah taktis untuk membendung ancaman Pak Bambang dan membangun kekuatanku sendiri."
Dengan keputusan yang sudah bulat, Dirga mengambil uang hasil narik ojeknya sebesar sembilan ratus ribu rupiah dan menarik empat puluh juta rupiah dari dalam amplop Lisa. Sisa sepuluh juta rupiah ia tinggalkan tetap berada di dalam amplop sebagai simpanan darurat rumah. Ia memasukkan seluruh uang tunai itu ke dalam tas pinggang kulit kusam miliknya, lalu melangkah mantap keluar rumah menuju kawasan pusat keuangan kota.
Gedung kantor sekuritas berlantai tinggi itu berdiri megah di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan kilau cahaya matahari pagi. Di dalam ruang pelayanan nasabah yang sejuk dan beraroma harum premium, beberapa investor berpakaian setelan jas rapi serta wanita bergaun elegan tampak sedang mengantre dengan tenang di meja pendaftaran akun saham.
Langkah Dirga yang mengenakan jaket ojol kusam bertuliskan logo memudar dan celana kain yang agak kebesaran mendadak mencuri perhatian seluruh ruangan. Sepatu kets tua yang ia kenakan mencicit pelan saat bergesekan dengan lantai marmer yang mengilap.
Seorang petugas layanan nasabah pria berpenampilan rapi dengan papan nama 'Rian' menatap kedatangan Dirga dari balik meja kaca. Tatapannya menyapu penampilan Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan alis terangkat dan sudut bibir yang sedikit tertarik ke bawah.
"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" tanya Rian dengan nada suara datar, hampir tanpa keramahan. Matanya masih tertuju pada logo ojol di dada jaket Dirga. "Jika Anda ingin mengantar paket atau makanan pesanan, pintu kurir ada di sebelah kiri belakang gedung, bukan lewat pintu utama ini."
Dirga berhenti tepat di depan meja pendaftaran. Ia menatap lurus ke dalam mata petugas sekuritas tersebut tanpa berkedip sedikit pun. Posisi tubuhnya tegap, sama sekali tidak menunjukkan rasa minder meski dikelilingi kemewahan ruangan.
"Saya datang kemari bukan untuk mengantar makanan atau paket," jawab Dirga dengan nada suara formal, tenang, dan berat. "Saya ingin membuka akun rekening dana nasabah dan melakukan deposit modal awal untuk transaksi saham hari ini."
Rian terkeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari melipat kedua tangan di dada. Matanya menunjukkan keraguan yang sangat jelas.
"Membuka akun saham?" ulang Rian dengan nada meremehkan yang sulit disembunyikan. "Mas, saya jelaskan sedikit ya. Ini adalah perusahaan sekuritas prioritas. Proses pembukaan akun di sini membutuhkan dokumen identitas yang valid, verifikasi rekening bank, dan yang paling penting, ada batas minimum deposit awal agar akun bisa langsung aktif untuk perdagangan hari ini."
"Saya paham betul prosedurnya," balas Dirga singkat. "Setahu saya, syarat utama pembukaan akun adalah KTP, NPWP, dan modal tunai yang sah. Apakah ada aturan hukum di bursa efek yang melarang seorang pengemudi ojek untuk memiliki akun saham?"
Pertanyaan tajam Dirga membuat wajah Rian sedikit mengeras. Beberapa nasabah berjas di antrean sebelah mulai menoleh, tertarik memperhatikan perdebatan kecil di meja pendaftaran tersebut.
"Tentu tidak ada larangan," potong Rian cepat, berusaha menjaga formalitasnya meski nada bicaranya makin dingin. "Hanya saja, untuk pendaftaran akun secara langsung dan mendapatkan fasilitas eksekusi order cepat hari ini, minimum deposit awal di sekuritas kami adalah sepuluh juta rupiah. Jika modal Anda di bawah angka itu, saya sarankan Anda menggunakan aplikasi mandiri berbasis ponsel pintar saja di rumah. Itu jauh lebih efisien untuk investor skala mikro."
"Apakah deposit sebesar empat puluh juta rupiah cukup untuk mendapatkan pelayanan eksekusi cepat di meja ini?" tanya Dirga tanpa mengubah raut wajahnya.
Rian terdiam sejenak. Ia menatap Dirga dengan pandangan menyindir.
"Empat puluh juta rupiah?" ujar Rian pelan, hampir tertawa kecil. "Mas, tidak perlu bersikap impulsif hanya karena merasa tersinggung. Uang empat puluh juta rupiah itu bukan jumlah yang kecil untuk pekerjaan Anda. Kami harus memastikan bahwa dana yang disetorkan benar-benar ada dan jernih secara administrasi."
"Anda meragukan keberadaan dana tersebut atau Anda meragukan kapasitas saya sebagai calon nasabah di sekuritas ini?" cecar Dirga langsung, suaranya yang tegas mengalihkan perhatian beberapa staf supervisor di balik area kantor.
"Saya hanya bersikap realistis berdasarkan penampilan dan profesi Anda," sahut Rian jujur tanpa keraguan, tatapannya dingin. "Kami di sini terbiasa melayani nasabah institusi dan individu berpenghasilan tinggi. Kami tidak ingin membuang waktu untuk proses verifikasi jika pada akhirnya dana deposit tidak mencukupi batas minimum."
"Pekerjaan dan pakaian saya tidak menentukan sah atau tidaknya mata uang negara ini," tegas Dirga.
Tanpa membuang waktu lagi untuk berdebat kusir, Dirga menarik ritsleting tas pinggang kusamnya. Jemarinya yang kasar masuk ke dalam tas, lalu mengeluarkan empat ikatan tebal uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang masih terikat rapi dari bank.
Plak!
Dirga meletakkan empat ikatan tebal uang tunai itu tepat di atas meja kaca di hadapan Rian. Bunyi debukan uang kertas tebal yang menerpa permukaan meja terdengar begitu nyaring di tengah ruangan yang tenang.
Mata Rian seketika membelalak lebar. Senyum remeh yang tadinya menghiasi wajah petugas sekuritas itu lenyap seketika, berganti dengan ekspresi syok yang amat sangat. Pria itu terpaku menatap tumpukan lembaran uang seratus ribu rupiah berwarna merah cerah yang berjejer rapi di hadapannya.
"Empat puluh juta rupiah tunai," ucap Dirga dingin, suaranya tenang namun memancarkan wibawa yang menekan. "Beserta sembilan ratus ribu rupiah tambahan dari hasil keringat saya sendiri sebagai pengemudi ojek. Total empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah."
Suasana di sekitar meja pendaftaran mendadak hening. Seorang nasabah pria berjas hitam yang berdiri tak jauh dari sana menatap tumpukan uang itu dengan mata terbelalak, lalu mengalihkan pandangannya pada Dirga dengan rasa takjub yang tak tersembunyi.
Rian menelan ludah dengan susah payah. Tangannya agak gemetar saat terulur mendekati tumpukan uang tunai di atas meja.
"Ini... ini benar-benar empat puluh juta rupiah tunai?" gagap Rian, suara congkaknya hilang sepenuhnya.
"Silakan Anda hitung menggunakan mesin pemindai uang di sebelah Anda," perintah Dirga tegas. "Dan setelah itu, segerakan formulir pendaftaran saya. Saya ingin seluruh dana ini dialokasikan penuh ke dalam sistem perdagangan sebelum sesi pertama bursa dibuka pagi ini."
"Ba... baik, Mas. Maksud saya, Pak..." jawab Rian terbata-bata. Ia dengan cepat mengubah posisi duduknya menjadi sangat tegap, sikap meremehkannya luntur total berganti dengan kepanikan profesional. "Saya... saya mohon maaf atas ketidaknyamanan tadi. Saya akan segera memproses verifikasi berkas dan pembukaan akun Rekening Dana Nasabah Anda secara prioritas!"
Dirga berdiri tegap di depan meja, memperhatikan Rian yang kini bekerja dengan jemari gemetar memasukkan data KTP milik Dirga ke dalam sistem komputer.
"Proses akun Anda akan selesai dalam sepuluh menit, Pak Dirga," ucap Rian dengan suara yang sangat sopan, tak berani lagi menatap mata Dirga secara langsung. "Seluruh dana sebesar empat puluh juta sembilan ratus ribu rupiah akan langsung aktif di portal transaksi Anda."
Dirga mengangguk pelan. Tatapan matanya yang tajam tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan harga saham secara real-time. Di dalam benaknya, bayangan grafik hijau PT Medika Perkasa Tbk yang melonjak naik tiga ratus persen kembali menyala terang.
"Segera selesaikan administrasinya," ujar Dirga dingin, menatap layar monitor tanpa ragu. "Perjalanan saya di bursa saham baru saja dimulai."