Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Lucas dan Catherine?
Pagi hari menyapa kota London dengan nuansa abu-abu yang pekat. Ketika Alexa perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan selimut tebal yang melingkupi tubuhnya.
Mata birunya mengerjap pelan, mengamati langit-langit kamar yang sangat ia kenali. Alexa tersentak kaget dan buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk.
"Bagaimana bisa aku berada di ranjangku?" batin Alexa heran.
Ingatannya melayang pada kejadian semalam. Bukankah semalam ia duduk di gazebo taman bersama Lucas? Ia ingat betul bagaimana ia menangis, meminta maaf, dan menumpahkan seluruh isi hatinya pada pria itu. Lalu setelah itu... ah, Alexa meringis pelan saat ingatan samar-samar kembali. Sepertinya ia tertidur di gazebo akibat kelelahan luar biasa setelah emosinya meluap.
"Apakah Lucas yang menggendongku sampai ke kamar ini?"
Alexa menepuk keningnya sendiri di atas ranjang, merutuki kebodohannya. "Bodoh sekali... bagaimana bisa aku tertidur di depan pria dingin itu?" gumamnya meratapi ketidakberdayaannya semalam. Alexa bahkan tidak bisa mengingat secara utuh setiap kalimat kepasrahan yang terlontar dari bibirnya.
Menepis rasa canggung yang mendera, Alexa akhirnya beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri. Seusai mandi dan mengenakan gaun hamil berbahan kain rajut hangat yang menutupi perut buncitnya, Alexa melangkah turun menuju lantai satu.
Di dekat area ruang tamu, seorang pelayan wanita bernama Raine tengah merapikan beberapa vas bunga. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, Raine segera menghentikan pekerjaannya dan membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Nyonya Alexa," sapa Raine hangat dengan senyuman tulus.
Alexa mengukir senyum kecilnya yang tenang. "Selamat pagi, Raine."
Mata Alexa menyapu sekeliling ruangan yang sepi. "Raine... apakah kamu melihat Lucas? Di mana dia sekarang?"
"Tuan Lucas sudah pergi sejak tengah malam tadi, Nyonya," jawab Raine jujur dan sopan.
"Beliau pergi menggunakan mobil bersama Tuan Ben."
Mendengar hal itu, Alexa hanya mengangguk pelan tanpa bertanya lebih jauh. "Oh, begitu. Terima kasih, Raine."
"Sama-sama, Nyonya. Apakah Anda ingin saya menyiapkan sarapan sekarang?"
"Nanti saja, Raine. Aku mau bersantai sebentar di sofa," sahut Alexa halus.
Alexa melangkah menuju sofa empuk di ruang tengah dan mendudukkan tubuhnya perlahan. Ia meraih remote dan menyalakan layar televisi besar di hadapannya.
Hal pertama yang muncul di layar adalah siaran berita prakiraan cuaca darurat. Seorang pembawa berita dengan raut wajah serius menyampaikan laporan terkini.
"Peringatan darurat bagi seluruh warga London dan sekitarnya. Badai tornado dan angin kencang diperkirakan akan melanda wilayah kota sore nanti. Warga diimbau untuk tetap berada di dalam rumah selama dua hingga tiga hari ke depan mengingat potensi pohon tumbang dan kerusakan infrastruktur..."
Alexa menatap layar itu datar. Cuaca ekstrem seperti ini sebenarnya sudah biasa terjadi. Terkurung di dalam rumah selama beberapa hari bukan lagi hal yang mengejutkan baginya. Ketika ia mengalihkan pandangannya ke balik jendela kaca besar, suasana di luar memang terasa sangat dingin. Langit London tampak gelap gulita tertutup awan mendung tebal, seolah sang surya enggan memunculkan dirinya hari ini.
Dengan bosan, Alexa menekan tombol remote untuk mengganti saluran televisi. Namun, tombol jari tangannya mendadak terhenti pada salah satu saluran berita hiburan populer.
Di layar monitor, wajah tampan Lucas dan keanggunan Catherine terpampang jelas dalam balutan busana formal berkelas. Sebuah judul berita besar tercetak di bagian bawah layar.
"Pasangan Serasi Abad Ini: Lucas Clinton & Catherine Ebera Siap Menuju Altar?"
Tayangan itu menampilkan rekaman Catherine yang baru saja keluar dari sebuah gedung pemotretan mewah, dikerumuni oleh puluhan wartawan dan kilatan blitz kamera yang menyilaukan.
Seorang reporter mengarahkan mikrofonnya seraya bertanya heboh. "Nona Catherine! Berdasarkan rumor yang beredar, apakah dalam waktu dekat Anda dan Tuan Lucas Clinton akan segera menggelar pernikahan resmi?"
Catherine di layar televisi mengumbar senyuman manis dan percaya diri yang memikat. Dengan nada bangga, ia menjawab lancar. "Kami memang sudah merencanakannya dengan sangat matang. Mohon doa restunya dari kalian semua agar niat baik kami dalam waktu dekat ini berjalan lancar."
Riuh sorak dan desakan pertanyaan dari puluhan jurnalis seketika memenuhi tayangan tersebut sebelum video berakhir.
Alexa terdiam mematung di sofa. Matanya menatap lurus pada layar televisi yang menyala, sebelum akhirnya ia mematikan televisi tersebut sepenuhnya. Ruang tengah kembali diliputi kesunyian yang dingin.
Alexa menghela napas panjang dan berat. Keputusannya kini benar-benar sudah bulat dan tak tergoyahkan.
Ia tidak boleh dan tidak sudi menjadi duri dalam hubungan orang lain lebih lama lagi. Rasa sakit akibat ditolak keluarga dan dianggap sebagai perusak hubungan harus segera diakhiri.
"Aku harus segera mendesak Lucas untuk mengurus perceraian kami," bisik Alexa pada dirinya sendiri seraya memegang lembut perut buncitnya.
Lagipula, pernikahan mereka sama sekali tidak sah di mata hukum karena tidak memiliki berkas atau buku nikah resmi. Mengakhiri hubungan ini seharusnya jauh lebih mudah dan tanpa kendala birokrasi yang rumit.
Setelah ikatan ini terputus, Alexa sudah merencanakan langkah selanjutnya. Ia berniat pergi membawa bayinya dan menetap di Swiss. Kota yang tenang dan damai untuk membesarkan anaknya sendirian. Tabungan pribadinya kini sudah cukup banyak setelah ia diam-diam menjual beberapa koleksi tas dan perhiasan branded miliknya. Meskipun barang-barang mewah itu dulu dibeli menggunakan uang pemberian Lucas, Alexa berjanji dalam hati akan menganggapnya sebagai uang pesangon terakhir dari pria itu.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa di dekat pintu utama mendadak memecah lamunan Alexa.
Klek.
Pintu utama terbuka lebar. Sosok Ben melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah, sementara di belakangnya, berdiri pria bertubuh tinggi besar berbalut mantel hitam tebal.
Lucas Damarion Clinton.
Alexa tersentak kaget dari sofanya. Ia tidak menyangka pria itu akan kembali ke rumah ini di pagi hari, terlebih setelah tayangan berita yang baru saja ia lihat.
Ben membungkuk kaku ke arah Alexa. "Selamat pagi, Nyonya Alexa. Maaf atas kedatangan kami yang mendadak."
Lucas melangkah maju, melepaskan sarung tangan kulitnya dan menyerahkannya pada Ben. Mata abu-abu gelapnya langsung terkunci rapat pada keberadaan Alexa yang berdiri kaku di dekat sofa.
"Kenapa kamu berada di luar kamar?" tanya Lucas dengan suara berat yang kaku, melangkah mendekat.
Alexa menetralkan raut wajahnya agar tampak biasa saja. "Aku hanya ingin menonton televisi, Lucas."
Lucas berhenti tepat di hadapan Alexa, menatap intens pada wajah istrinya yang nampak sangat tenang, jauh berbeda dari histerisnya semalam.
"Badai akan datang sore nanti," pangkas Lucas datar.
"Semua penerbangan dan akses jalan akan ditutup."
"Aku tahu. Aku baru saja melihat beritanya di televisi," sahut Alexa pelan. Lalu, dengan tatapan mata yang jujur dan tanpa keraguan, Alexa menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
"Lucas... karena kamu sedang di sini, ada hal penting yang ingin ku bicarakan."
Lucas menyipitkan matanya tipis. "Bicara."
"Soal perceraian dan perpisahan kita," tutur Alexa tenang tanpa intonasi emosi sedikit pun.
"Tadi aku melihat berita tentang rencana pernikahanmu dengan Bibi Catherine. Karena pernikahan kita tidak tercatat secara hukum, bisakah kita menyelesaikannya sekarang? Agar setelah badai ini mereda, aku bisa langsung pergi tanpa mengganggu kalian lagi."
Suasana di ruang tengah seketika membeku.
Ben yang berdiri di dekat pintu mendadak menahan napasnya, sementara rahang Lucas mengetat keras hingga garis wajahnya tampak mengeras sangat tajam. Aura dingin dan berbahaya memancar dari tubuh pria itu, menatap Alexa dengan ketegangan yang amat membara.
Bersambung...
Author mau ngasih sedikit bocoran yaa... Di part selanjutnya akan ada sesuatu yang mengejutkan, itu aja sihh.. Yang mungkin tidak disangka-sangka, author aja sampe nggak ekspek, sangat diluar dugaan guys dan tentunya semakin menegangkan, selamat membaca.🥰😘
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor