Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Harapan di Tengah Luka
Dua hari kemudian, Zinnia diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan dan pemantauan. Dokter mengingatkannya agar beristirahat, tidak melakukan aktivitas berat, serta segera kembali jika nyeri perut muncul lagi atau terdapat gejala yang mengkhawatirkan.
Riri membawa pulang putrinya dengan hati-hati.
Sesampainya di kamar kontrakan, ia membantu Zinnia berbaring dan menyiapkan makanan.
“Kamu jangan mikirin kerjaan dulu,” ujar Riri sambil meletakkan segelas air di meja kecil. “Kesehatanmu lebih penting.”
Zinnia menggeleng, lalu menggerakkan tangannya.
Aku sudah merasa lebih baik, Bu.
“Merasa lebih baik bukan berarti kamu boleh langsung kerja. Dokter juga nyuruh kamu istirahat.”
Zinnia terdiam. Ia tahu ibunya benar. Namun, pikirannya sudah dipenuhi kekhawatiran lain.
Ia baru mulai membangun kehidupan di kota. Uangnya terbatas, sedangkan biaya kamar, makanan, dan kebutuhan sehari-hari terus berjalan. Ia tidak ingin bergantung pada ibunya terlalu lama.
Riri seolah memahami apa yang dipikirkannya. “Urusan kerjaan bisa nunggu beberapa hari. Ibu masih di sini. Kita pikirkan semuanya pelan-pelan.”
Zinnia mengangguk kecil. Untuk saat ini, ia tidak ingin membuat ibunya semakin khawatir. Namun, ketika Riri beranjak ke dapur, pandangannya tanpa sadar jatuh pada perutnya sendiri.
Di balik pakaian yang dikenakannya, ada kehidupan yang terus tumbuh. Ia belum tahu bagaimana menghadapi masa depan bersama bayi itu. Ia juga belum menemukan pria yang telah mengubah hidupnya dalam satu malam.
Dan yang paling menyakitkan, ia masih harus menjaga jarak dari Dandy, pria yang sebenarnya ingin tetap berada di sisinya.
Selama beberapa hari berikutnya, Dandy masih berusaha membujuk Zinnia.
Ia beberapa kali datang menjenguk setelah memastikan waktu kedatangannya tidak mengganggu istirahat Zinnia. Ia membawa makanan, menanyakan kondisinya, dan menawarkan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, setiap kali pembicaraan beralih pada pernikahan, jawaban Zinnia tetap sama.
Ia tidak mau.
Sore itu, Dandy duduk di kursi dekat jendela kamar sewaan Zinnia. Riri sedang membeli kebutuhan di minimarket, meninggalkan mereka berdua.
“Zin, aku gak bakal maksa kamu ngambil keputusan sekarang,” ujar Dandy. “Tapi, setidaknya jangan tutup semua kesempatan buat kita.”
Zinnia mengangkat tangan.
Aku sudah memutuskan.
Dandy menunduk, lalu mengangguk perlahan. “Aku tau. Kamu sudah mengatakannya berkali-kali.”
Ia mengangkat wajah kembali. “Tapi aku masih cinta sama kamu, Zin. Perasaanku gak berubah cuma karena kamu nolak aku.”
Zinnia menggigit bibirnya. Ia ingin mengatakan bahwa justru itulah masalahnya. Dandy terus memberinya alasan untuk bertahan, sementara ia sendiri merasa tidak mampu memberikan masa depan yang layak bagi pria itu.
Namun, ia hanya menunduk.
“Aku pulang dulu,” kata Dandy akhirnya. “Istirahat yang cukup. Kalo kamu butuh sesuatu, hubungi aku.”
Zinnia mengangguk.
Dandy berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh. “Aku masih berharap suatu hari nanti kamu mau kasih aku kesempatan buat dampingi kamu lagi.”
Zinnia tidak menjawab. Ia hanya melihat Dandy pergi, lalu memejamkan mata untuk menahan air mata yang kembali menggenang.
Hari-hari berlalu. Riri belum memutuskan pulang ke desa. Ia tahu Zinnia ingin kembali bekerja, tetapi ia juga melihat putrinya belum sepenuhnya pulih. Selain itu, ada sesuatu yang masih disembunyikan Zinnia, sesuatu yang membuatnya sering melamun ketika mengira tidak ada orang yang memerhatikan.
Riri tidak ingin memaksanya bercerita. Ia hanya berusaha tetap berada di dekat putrinya.
Sementara itu, Zinnia mulai membuka kembali berkas lamaran kerja yang telah disiapkannya sebelum kecelakaan.
Ia memeriksa satu per satu alamat perusahaan yang pernah didatanginya. Beberapa menolak lamarannya, sedangkan yang lain belum memberikan kabar.
Ia hampir menutup map ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal muncul di layar. Zinnia segera mengangkat panggilan itu.
“Selamat siang. Apakah benar ini Zinnia Arunika?”
Zinnia mengangguk refleks, lalu tersadar bahwa lawan bicaranya tidak bisa melihat gerakannya.
Ia segera membuka fitur komunikasi di ponselnya, mengetik jawaban, lalu menekan tombol untuk membacakannya dengan suara buatan.
“Ya, benar. Saya Zinnia.”
“Baik, Mbak Zinnia. Kami menghubungi Anda dari bagian rekrutmen perusahaan tempat Anda mengirimkan lamaran untuk posisi asisten desainer perhiasan. Kami sudah meninjau portofolio Anda dan ingin mengundang Anda mengikuti wawancara.”
Mata Zinnia membesar. Ia segera meraih buku catatan di dekat tempat tidur dan mencatat nama perusahaan, tanggal, serta waktu wawancara agar tidak ada informasi yang terlewat.
“Apakah Anda bersedia hadir?”
Zinnia buru-buru mengetik jawaban lain, lalu memutar suara dari ponselnya.
“Ya, saya bersedia. Terima kasih atas kesempatannya.”
Setelah panggilan berakhir, ia menatap layar ponselnya beberapa saat. Ia mendapat panggilan wawancara.
Bukan untuk menjadi petugas kebersihan, bukan pula untuk pekerjaan lain yang tidak berkaitan dengan pendidikannya. Perusahaan itu tertarik pada portofolionya.
Zinnia memeluk ponsel ke dadanya. Senyum kecil muncul di wajahnya setelah berhari-hari ia kesulitan menemukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa lega.
Ia akhirnya mendapat kesempatan untuk bekerja sesuai bidang yang dipelajarinya. Kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bisa mandiri. Namun, senyumnya perlahan memudar ketika pandangannya kembali jatuh pada perutnya.
Bagaimana jika ia diterima?
Bagaimana jika beberapa bulan lagi tubuhnya mulai berubah dan kehamilannya semakin sulit disembunyikan?
Apakah perusahaan itu masih akan menerimanya ketika mengetahui kondisinya?
Ia belum tahu apakah ia harus memberi tahu pihak perusahaan sejak wawancara atau menunggu sampai ada pertanyaan yang relevan. Ia juga belum memahami seluruh haknya sebagai pekerja hamil di tempat kerja yang baru.
Zinnia menunduk, meletakkan telapak tangan di atas perutnya. Ia ingin bekerja. Ia ingin tetap merawat bayi itu. Ia ingin membuktikan bahwa hidupnya tidak berakhir hanya karena kejadian di pantai.
Namun, ia juga takut.
Takut orang-orang akan menghakiminya. Takut pekerjaannya terancam. Takut suatu hari ia tidak lagi mampu menyembunyikan keadaan yang bahkan belum sanggup ia ceritakan kepada orang-orang terdekatnya.
Pintu kamar terbuka. Riri masuk membawa kantong belanjaan. Melihat Zinnia duduk diam dengan ponsel di tangan, ia segera menghampiri.
“Ada apa, Zin?”
Zinnia mengangkat wajah. Kali ini, senyum kecil kembali muncul. Ia menunjukkan catatan wawancara di ponselnya kepada ibunya.
Riri membaca nama perusahaan dan posisi yang ditawarkan, lalu wajahnya berbinar. “Syukurlah! Akhirnya ada juga yang manggil kamu untuk pekerjaan sesuai bidangmu.”
Zinnia mengangguk.
Riri mengusap rambutnya. “Ibu bangga sama kamu. Tapi ingat, kesehatanmu tetap nomor satu. Kalau kamu diterima, kita cari cara supaya kamu bisa kerja tanpa mengabaikan kondisimu.”
Zinnia memeluk ibunya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya menikmati kebahagiaan itu tanpa memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
Ia belum tahu bahwa perusahaan yang memanggilnya merupakan bagian dari grup usaha milik Arvid Danendra.
Ia juga tidak tahu bahwa pria yang sedang berusaha ia temukan itu kini berada di luar kota, menyelesaikan masalah perusahaan yang sama.
Dan ketika akhirnya ia melangkah masuk ke gedung tempat wawancara, Zinnia tidak pernah membayangkan bahwa kesempatan yang begitu ia syukuri akan membawanya kembali kepada pria yang selama ini menghantui pikirannya.
...🔸🔸🔸...
...“Bangkit bukan berarti kita sudah melupakan apa yang menyakitkan. Bangkit berarti kita memilih untuk tetap melangkah, meskipun ada bagian dari diri kita yang masih berusaha pulih dari apa yang telah terjadi.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar