Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNGKAPAN CINTA
Revan tiba di lokasi!
Ia berlari masuk ke dalam GOR bersama Pak Kades dan Pak RT Lorong 8 yang tak lain adalah ayah kandung Rika.
Rika yang menyaksikan sahabat tomboynya hancur-hancuran langsung gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi.
Saat hendak berbalik melarikan diri, tangannya langsung dicengkeram erat oleh ayahnya sendiri dengan raut wajah malu dan marah besar.
Sementara itu, napas Nara masih naik-turun. Matanya dipenuhi amarah yang belum tuntas. Ia berniat melangkah mendekati Iduy, Namun dari belakang, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar erat mengunci pinggangnya.
Revan mendekap Nara dari belakang, menahan tubuh wanita itu agar tak melanjutkan serangannya.
Revan tahu betul, jika Nara yang dalam kondisi gelap mata melancarkan satu serangan lagi, Iduy bisa tewas di tempat.
"Lepas,......!"
bentak Nara garang, mencoba menyiku dan memukul siapa pun yang menahannya.
Seketika Nara berbalik dan melayangkan serangan emosional ke dada Revan.
Namun, Revan sama sekali tidak membalas.
Pria gagah itu hanya pasrah, merengkuh Nara semakin dalam dengan penuh kesabaran dan kehangatan, berusaha meredam badai amarah di dada wanita yang dicintainya.
BUUUUUUGHK!
Salah satu pukulan emosional Nara tanpa sengaja mendarat keras tepat di bahu Revan,bahu yang masih baru sembuh akibat luka sabetan parang saat jalur misi kemarin!
"Akhhh...!" erang Revan tertahan.
Wajah tampannya mendadak pucat, napasnya tersengal menahan rasa nyeri luar biasa yang menjalar hingga ke tulang.
Suara erangan itu seketika mematikan seluruh amarah Nara.
Nara mengembuskan napas panjang, kesadarannya kembali sepenuhnya.
Matanya membelalak saat melihat Revan berdiri memegangi bahunya yang mulai meneteskan darah segar menembus kain seragamnya.
Wajah Revan yang merintih kesakitan seketika mengirimkan rasa sakit yang sama bahkan lebih dalam ke dalam dada Nara.
"Bang Revan..."
bisik Nara bergetar, jemarinya perlahan terulur memegang bahu pria itu dengan rasa penyesalan yang membakar hati.
"Ada apa ini?!" seru Pak Kades, baru tersadar dari keterkejutannya melihat tempat olahraga desa mendadak seperti arena pertarungan.
"Si Iduy duluan yang cari gara-gara, Pak Kades!" potong Ujang cepat, membela Nara.
"Benar, Pak Kades!" sambung Nisa dengan napas memburu. "Dia datang langsung marah-marah tak jelas! Bilang Kak Nara kotor, nuduh merebut Bang Revan, terus marah-marah tak suka kalau ayahnya diobati Kak Nara!"
"Iya, Pak! Kami semua di sini saksinya!" sahut warga lain bersahutan membela Bidan kesayangan mereka.
Nara yang menyadari kondisi sekitar mengelus keningnya, meredakan debar di dada. Ia menatap Pak Kades dengan raut penyesalan. "Maafkan saya, Pak Kades... Saya tidak bermaksud membuat keributan di sini."
Revan yang bahunya masih meneteskan darah, tak peduli pada rasanya sendiri. Ia bergeser mendekati Nara, menatap manik mata gadis itu penuh kepastian.
"Abang tak punya pacar, Nara. Tidak pernah punya," tegas Revan, suaranya menggema mantap di dalam ruangan. "Selama ini Abang hanya sibuk dengan tugas negara. Abang bahkan tak pernah tahu rasanya jatuh cinta..."
Iduy yang terkulai dengan wajah babak belur terhenyak mendengar ucapan Revan.
"Tapi... tapi Abang sering kirim kata-kata romantis ke Rika!"
seru Iduy tak percaya. Ia menatap Rika dengan pandangan terluka, tak menyangka sahabat yang dipercayainya tega berbohong.
"Coba telepon nomor itu sekarang," perintah Revan dingin.
Iduy dengan tubuh gemetar merampas ponsel dari tangan Rika yang sudah pucat pasi. Jarinya memencet nomor yang tertera di pesan singkat itu. Namun, ponsel di saku Revan sama sekali tak berdering.
"Itu bukan nomor saya," potong Revan tegas, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri. "Ini nomor saya."
Revan menekan satu tombol, memanggil nomor Nara.
Kring! Kring!
Suara nada dering ponsel Nara membahana di tengah keheningan GOR.
Nara menatap Revan dengan cibir tipis. "Kekanak-kanakan..." bisiknya pelan.
Melalui isyarat mata dan bahasa wajahnya, Revan memohon agar Nara mengangkat panggilan itu.
Nara akhirnya mendengus pelan, menempelkan ponsel itu ke telinganya meski matanya tetap menatap lurus wajah tampan sang Komandan yang berjarak hanya dua langkah di depannya.
Revan mengulas senyum tulus, lalu berbicara pelan melalui sambungan telepon yang suaranya bergema hangat di telinga Nara:
"Nara... Satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan hati Abang cuma kamu. Abang tak tahu kapan rasa ini mulai bertaut... Entah saat kesalahpahaman kita di kereta dulu... Entah saat melihat senyum ikhlasmu merawat warga... Atau saat melihat keberanianmu menghajar habis-habisan para pemberontak itu... Abang tak tahu pasti..."
Revan menghentikan kalimatnya sejenak, menatap Nara dengan seluruh kesungguhan jiwanya.
"Tapi di depan semua orang di sini, Abang menetapkan... pelabuhan pertama dan terakhir Abang hanya padamu, Nara."
Nara tersentak pelan. Ada desiran hangat yang merayapi dadanya, melumerkan dinginnya benteng pertahanan yang selama ini ia bangun. Namun, wibawa dan gengsinya membuat Nara tetap menampilkan wajah datar dan tenang.
Melihat respons Nara yang diam, Revan tersenyum tipis tanpa berkecil hati. "Tak tahu kapan kamu akan membukanya... Abang akan tetap setia menanti."
Ungkapan cinta sang Komandan seketika membuat seluruh warga di GOR terharu hingga menahan napas.
"Beruntungnya... dicintai secara ugal-ugalan begitu!" bisik seorang warga wanita disambut anggukan iri yang lain.
"Duh, mau dong dicintai tentara kayak gitu!" celetuk cewek-cewek di sudut lapangan.
"Bang Revan bisa gombal juga ternyata, ya!" goda Ujang sambil tertawa lebar.
"Ah... so sweet banget!"
Nisa tersenyum lega dengan mata berbinar. Bahagia luar biasa melihat kakak kandungnya yang dingin dan kaku akhirnya benar-benar jatuh cinta pada wanita yang tepat.
Revan melangkah pelan memangkas sisa jarak di antara mereka. Jarinya yang kokoh terulur, menyapu lembut sisa noda darah di sudut bibir mungil Nara. Tatapannya terkunci rapat pada manik mata wanita di depannya.
Sebelum Nara sempat merespons atau mengelak, Revan merapatkan posisinya.
melumat bibir bawahnya dalam satu lumatan untuk menghilangkan sempurna!! darah yang ada dibibirnya.....
Satu ciuman hangat dan penuh kelembutan mendarat tepat di bibir manis Nara.
Dunia seolah berhenti berputar seketika.
Nara menatap tak percaya,.
Sentuhan bibir Revan dan sorak-sorai hangat warga yang mengelilingi mereka tak sanggup lagi mengobati rasa lelah yang teramat sangat di dada Nara.
Benteng ketahanannya runtuh.
Ia tidak hanya lelah oleh fitnah, tetapi juga lelah menjadi pusat kegaduhan yang tiada henti.
Nara perlahan mundur, merenggangkan jaraknya dari Revan.
Tatapannya mendadak kosong, tidak ada lagi kilat amarah maupun binar hangat di wajahnya ada kelelahan yang teramat dalam.
"Sudahlah..."
bisik Nara pelan, suaranya terdengar begitu serak dan rapuh di tengah keriuhan GOR.
"Nara lelah."
Nara membalikkan badan, menatap Pak Kades yang berdiri kaku tak jauh darinya.
Dengan sisa wibawa dan ketenangan yang tersisa, Nara membungkukkan badannya sedikit.
"Pak Kades... Nara izin pulang ke rumah. Dan besok... Nara resmi mengajukan pengunduran diri sebagai Bidan Desa di sini. Besok pagi Nara akan berangkat pulang."
DEG!
................