Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 9
Senja memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Angkasa sedang duduk di balik meja besarnya, menggulung kemeja putihnya hingga sebatas siku seraya menatap layar monitor. Aura di ruangan itu terasa begitu berat dan penuh intimidasi.
"Permisi, Pak Angkasa," panggil Senja pelan, melangkah mendekat ke meja kerja.
"Ini berkas revisi skenario efisiensi anggaran yang Bapak minta sebelum jam lima sore."
Angkasa tidak langsung mengambil map itu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Senja dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pasang mata yang menusuk.
"Tepat waktu," komentar Angkasa datar, menerima map yang diulurkan Senja.
Tangannya membuka lembar demi lembar dengan cepat, matanya menyapu angka-angka hasil analisis Senja. Jantung Senja berdegup kian kencang. Ia menahan napas setiap kali alis Angkasa bertaut saat membaca. Takut jika hitungannya kembali dinilai terlalu lemah atau kena semprot di depan muka lagi.
"Potongan lima persen pada biaya operasional vendor luar," kata Angkasa tiba-tiba, menatap Senja lurus.
"Bagaimana kamu memastikan efisiensi ini tidak mengganggu kualitas pengadaan?"
"Saya sudah memangkas jalur distribusi perantara dan bernegosiasi langsung dengan produsen utama, Pak," jawab Senja cepat, berusaha menjaga suaranya tetap tegas walau tangannya di balik punggung mengepal erat.
"Kualitas barang tetap sama, namun margin biaya berhasil dipangkas."
Hening sejenak. Angkasa menatap lembaran kertas itu satu detik lagi, sebelum akhirnya menutup map tersebut dengan bunyi plak yang cukup keras.
"Bagus," ucap Angkasa singkat. "Perhitungan ini jauh lebih berani dan masuk akal dibanding laporan pagi tadi."
Napas lega yang ditahan Senja akhirnya berhembus pelan. Namun, bukannya segera berbalik keluar ruangan, Senja justru mematung di tempatnya. Kakinya seolah terpaku di atas karpet tebal ruang kerja sang CEO.
Angkasa yang hendak meraih cangkir kopinya menghentikan gerakan. Matanya menyipit melihat stafnya tak kunjung bergerak.
"Ada hal lain, Bu Senja? Ada kendala di divisi keuangan yang belum kamu laporkan?" tanya Angkasa, alurnya kembali menajam.
Senja menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa. Wajahnya yang semula tegang karena urusan pekerjaan, kini berganti menjadi raut dingin yang sarat akan luka dan kepasrahan.
"Bukan soal divisi keuangan, Pak Angkasa," bisik Senja. Suaranya bergetar tipis, namun matanya menatap Angkasa tanpa rasa takut.
"Ini soal hal pribadi... yang juga melibatkan Anda."
Angkasa meletakkan cangkir kopinya kembali ke piring porselen. Tatapannya mendadak berubah sangat serius. "Jelaskan."
Senja merogoh saku blazernya, mengeluarkan ponsel yang layarnya masih menampilkan pesan dan berkas video terakhir dari Arum. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, lalu meletakkan ponsel itu tepat di hadapan sang CEO.
"Baru saja... satu jam yang lalu," ucap Senja dengan nada datar yang menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa.
"Calon istri Anda, Mbak Lyra atau yang selama ini saya tahu bernama Arum, mengirimkan video ini kepada saya. Dia makan siang bersama suami saya, Adam Surya, di dalam mobil."
Angkasa mengerutkan keningnya dalam-dalam. Jarinya terulur menyentuh layar ponsel Senja dan menekan tombol play. Wanita di dalam video itu benar-benar Lyra. Karena pakaian yang dia gunakan masih sama dengan pakaian saat siang tadi datang ke ruangannya.
Suara manja Lyra dan adegan ciuman mesra Adam di dalam mobil langsung terdengar jelas memenuhi ruangan yang sepi itu. Raut wajah Angkasa yang tadinya dingin perlahan mengeras bagaikan batu karang. Rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menegang.
"Dia sengaja mengirim video ini untuk memamerkan kemenangan," lanjut Senja seraya menatap reaksi Angkasa.
"Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda, Pak. Tapi saya rasa... Anda berhak tahu siapa wanita yang akan Anda nikahi bulan depan. Jika anda membutuhkan, saya masih punya banyak video dan foto-foto yang di kirim sediri oleh Arum kepada saya."
Angkasa mematikan video tersebut, lalu menggeser ponsel itu kembali ke arah Senja. Tidak ada ledakan amarah, namun aura di sekitarnya mendadak terasa begitu berbahaya dan mencekam.
"Lalu?"
"Maaf. Lalu apa ya Pak?" tanya Lyra bingung.
"Sejak kapan kamu tahu? Jika suamimu selama ini bertingkah seperti itu?"
"Saya baru tahu suami saya selingkuh saat Arum sendiri yang mengirimkan buktinya. Namun, kecurigaan saya sudah terasa tiga bulan lalu, karena suami saya sikapnya mulai berubah. Dan... Sebenarnya sebelum menikah dengan saya, seharusnya Mas Adam memang menikah dengan Arum. Namun Arum pergi tanpa kabar satu minggu sebelum pernikahan mereka,"
"Baiklah, terima kasih atas informasi kamu! Silahkan kamu boleh keluar dari ruangan saya, Bu Senja..."
Senja mengangguk pelan, merapikan ponselnya dari atas meja dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Terima kasih atas waktunya, Pak Angkasa. Saya permisi."
Angkasa tidak menjawab. Pria itu bahkan tak lagi menatap ke arah Senja. Ia kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran, menyambar cangkir kopi dingin di meja, lalu memfokuskan pandangannya pada layar monitor seolah Senja dan seluruh informasi menyakitkan tadi tak pernah ada di ruangan itu. Ketenangan yang amat dingin dan berjarak. Namun tak lama dia memanggil asistennya.
Senja menarik napas panjang, memutar tumitnya, lalu melangkah keluar dari ruang kerja sang CEO. Pintu kayu berukir itu tertutup pelan, memutus atmosfer mencekam yang sempat meremas dadanya.
Di luar ruangan, Anggi yang sudah menunggu di dekat kubikel langsung menghampiri Senja dengan raut panik.
"Senja! Kamu nggak apa-apa, kan?" bisik Anggi seraya memegang kedua bahu Senja.
"Pak Angkasa nggak marah-marah lagi soal revisi anggaran, kan?"
Senja mengulas senyum tipis, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Nggak apa-apa, Anggi. Revisinya sudah diacc. Pak Angkasa cuma minta aku lebih teliti lagi."
"Duh, syukurlah!" Anggi mengelus dadanya lega.
"Muka Pak Angkasa dari tadi dingin banget, aku takut kamu kena semprot dua kali."
"Aku aman, Anggi," kata Senja pelan seraya mulai merapikan barang-barang pribadi di mejanya. Tangannya bergerak cekatan memasukkan buku catatan, mug kesayangan, hingga beberapa dokumen penting ke dalam tas besarnya.
Anggi mengerutkan kening memperhatikan gerak-gerik sahabatnya. "Kok beres-beresnya lengkap banget, Senja? Wajah kamu juga pucet banget. Apa kamu sakit?"
"Aku tidak apa-apa, kok!"
"Senja. Jangan bohong padaku! Apa yang sedang terjadi padamu? Apa kamu punya masalah? Kamu bisa cerita sama aku! Kamu tidak sendirian..."
"Aku harus nyari tempat tinggal secepatnya, Anggi...." Anggi sangat kaget mendengar jawaban Senja.
"Loh kenapa? Apa kamu bertengkar dengan Adam?"
"Mas Adam sudah kembali kepada Arum, dan itu artinya aku harus segera pergi. Tugasku menjadi istri Mas Adam sudah selesai,"
"Apa? Tapi selama ini rumah tangga kalian baik-baik saja kan? Kamu bilang selama enam bulan ini Adam sudah bersikap baik padamu!"
Senja menunjukkan semua foto dan video yang di kirim oleh Arum.
"Apa? Apa aku nggak salah lihat? Ini kan...."
"Dia orang yang sama... Sepertinya Mas Adam juga sudah tahu kalau Arum akan menikah. Makanya aku yakin selama tiga bulan hubungan mereka kembali, Mas Adam tak langsung menceraikan aku seperti yang dia katakan di awal pernikahan kami..."
"Gilaaa... Ini sih Gila... Enak saja mereka malah seenaknya padamu, Senja. Ini nggak bisa di biarin! Ayo aku antar kamu cari tempat kost! Kamu harus kelaur dari hubungan menji-jikan mereka! Kamu harus bahagia, Senja. Cukup dua tahun kamu ngemis cinta dan menjalankan peranmu jadi istri Adam!"