NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 18 - Dunia Para Pendekar Abadi — Hutan Pedang yang Bernyawa

Langit di sini bukan biru biasa — berwarna ungu keemasan, dengan tiga bulan yang melayang di ketinggian berbeda, memancarkan cahaya lembut yang menembus dedaunan hutan lebat yang menjulang di sekeliling mereka. Udara terasa berbeda — tebal, berdenyut, seakan setiap helai daun, setiap batu, setiap hembusan angin mengandung tenaga yang tak terlihat.

Kompas di tangan Kai berdenyut hangat, jarumnya menunjuk lurus ke arah jantung hutan tempat kabut tipis berputar perlahan.

"Ini Dunia Para Pendekar Abadi," bisik Lyra, matanya tak lepas dari pepohonan yang batangnya seperti pilar batu raksasa. "Dikatakan di sini bela diri bukan sekadar jurus — ia adalah kehidupan. Yang lemah tak bertahan sehari. Yang kuat bisa hidup berabad-abad."

"Dan yang menguasai tempat ini… tak membiarkan orang asing lewat begitu saja," tambah Elara, tangannya sudah di gagang pedang.

Belum sempat Kai menjawab, suara berdentang memecah keheningan — bukan dari logam, melainkan dari udara sendiri. Tiba-tiba, dari balik pohon-pohon raksasa, muncul puluhan sosok berpakaian serba putih, wajah mereka tertutup kain, tangan mereka memegang senjata yang bercahaya samar. Mereka melingkari rombongan tanpa suara, gerakan mereka begitu serempak hingga terlihat seperti satu makhluk berbadan banyak.

"Berhenti," perintah suara yang datang dari mana-mana sekaligus. "Siapa yang melintasi perbatasan Tanah Suci tanpa izin?"

Kai melangkah maju, tangan terangkat menandakan niat damai. "Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami mencari pengetahuan… dan sekutu."

Pemimpin kelima itu melangkah keluar — seorang pria berwajah tajam, matanya menyala keperakan, di punggungnya terselip pedang lurus yang sarungnya tertutup ukiran naga tua. "Pengetahuan tidak diberikan kepada pendatang yang hanya bermodal keberanian. Di sini, kekuatan diukur dari satu hal: kemampuan menahan ujian Hutan Pedang."

Ia menunjuk ke arah hutan yang semakin gelap di depan. "Masuklah. Jika kalian bisa keluar dari sana dalam keadaan utuh, kalian boleh bicara dengan Tetua Agung. Jika tidak… kalian akan menjadi bagian dari hutan ini selamanya."

"Kami tidak punya waktu untuk permainanmu," desis Ren maju selangkah.

"Ren," tahan Kai pelan. Ia menatap pemimpin itu lurus. "Baik. Kami terima tantanganmu."

"Kai!" Elara menatapnya tak setuju. "Kita tak tahu apa yang menanti di sana."

"Justru itulah tujuannya," jawab Kai lembut namun tegas. Ia menoleh ke Aurelia. "Tetap dekat denganku, Sayang."

Gadis kecil itu mengangguk mantap, tangannya mencengkeram jubah ayahnya. "Aku tahu jalan yang benar, Ayah. Aku merasakannya."

Mereka melangkah masuk ke dalam Hutan Pedang. Begitu melewati batas pepohonan, udara berubah — dingin, hening, dan penuh tekanan yang menekan ke dada. Di sini, tak ada jalan yang terlihat. Setiap arah tampak sama — pohon-pohon raksasa yang batangnya berlekuk seperti otot, akar yang melintasi tanah seperti ular tidur, dan di antara mereka, kabut yang bergerak pelan seakan mengamati.

"Tetap bersama," perintah Kai rendah. "Jangan terpisah walau apa pun terjadi."

Namun kata-katanya belum selesai, tanah bergetar pelan. Kabut menebal seketika, dan saat menyebar kembali — mereka berempat terpisah. Kai sendirian di lorong sempit yang dikelilingi pepohonan yang berderit pelan. Elara di tepi jurang yang tak berdasar. Ren di ruang terbuka tempat angin berputar liar. Dan Aurelia berdiri sendirian di tengah tempat yang paling tenang — sebuah halaman batu kuno, di mana berdiri satu sosok tinggi yang menunggu diam.

"Aurelia!" panggil Kai, suaranya kembali padam di dahan-dahan lebat. Ia mencoba maju, namun dahan-dahan pohon bergerak menutup jalannya, membentuk tembok tak kasat mata. "Ujian ini memisahkan kita…" gumamnya paham. "Masing-masing diuji sendiri."

Di tempatnya sendiri, Elara berdiri tegak di tepi jurang. Di hadapannya muncul bayangan — sosok yang ia kenal sangat baik. Kakaknya. Tersenyum lemah, penuh luka.

"Kau membiarkanku jatuh," ucap bayangan itu pelan. "Dan kau akan membiarkan mereka juga."

Elara menatapnya, air mata menetes tanpa ia sadari. "Aku tidak membiarkanmu. Aku berjuang."

"Kau berjuang dengan rasa bersalah," jawab kakaknya. "Itu bukan kekuatan. Itu beban."

Elara menarik napas dalam, lalu mengangkat kepalanya. "Dulu aku percaya itu. Tapi sekarang aku tahu — rasa bersalah mengingatkanku agar tak lalai lagi. Ia bukan beban. Ia janji." Ia mengangkat pedangnya, bukan menyerang, melainkan menancapkannya ke tanah di antara mereka. "Dan aku tidak akan melawan bayanganmu lagi. Aku akan membuktikan kepada diriku sendiri — aku layak melindungi mereka yang bersamaku."

Bayangan itu menatapnya lama, lalu perlahan tersenyum tulus. "Akhirnya… kau paham." Ia memudar perlahan, dan jalan di depan Elara terbuka kembali.

Sementara itu, Ren berdiri di tengah pusaran angin. Di hadapannya, sosok dirinya sendiri — dingin, kejam, kuat. "Kau lemah karena kau membiarkan orang lain menentukan arahmu," ejeknya. "Bebaskan dirimu. Tinggalkan mereka. Kau bisa menjadi yang terkuat sendirian."

Ren tertawa pelan. "Dulu aku mendambakan kekuatan itu. Sampai aku sadar — berdiri sendirian bukan kebebasan. Itu kesepian." Ia berdiri tegak, membiarkan angin menerpa tubuhnya. "Kekuatan sejati bukan untuk diri sendiri. Ia ada untuk orang yang berdiri di sampingmu."

Bayangan dirinya itu meraung, lalu hancur menjadi butiran cahaya yang menyatu dengan angin. Jalan Ren pun terbuka.

Dan di tempat paling dalam, Aurelia berdiri tenang di hadapan sosok tinggi itu — pria tua berambut putih perak, jubahnya bercorak naga yang terlihat hidup, matanya menampakkan ribuan pertarungan yang telah ia saksikan. Ia tidak menyerang. Ia hanya menatap gadis kecil itu dalam-dalam.

"Kau membawa cahaya yang tak ada di dunia ini," suaranya berat namun lembut. "Tapi kau rapuh. Orang akan menggunakanmu, menyakitmu, bahkan mengorbankanmu demi kekuatan itu. Apa yang akan kau lakukan saat itu terjadi?"

Aurelia menatapnya lurus, tak takut sedikit pun. "Aku tidak akan membiarkan cahayaku padam. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun sendirian."

Pria itu terdiam. "Bahkan orang yang menyakitimu?"

Aurelia mengangguk mantap. "Kadang orang menyakiti tanpa bermaksud. Kadang mereka takut. Dan kalau aku bisa menolong mereka tidak takut lagi… aku akan melakukannya."

Pria tua itu menghela napas panjang, lalu perlahan berlutut di hadapan gadis kecil itu — tanda penghormatan tertinggi. "Belum pernah ada yang menjawab demikian. Selama ribuan tahun… belum pernah."

Ia berdiri tegak, lalu menunjuk ke arah jalan yang terbuka di belakangnya. "Ayahmu dan teman-temanmu sedang menunggu di sana. Pergilah. Tetua Agung sudah menunggu kalian."

Saat mereka berkumpul kembali di halaman batu yang luas, di mana langit kini cerah dan kabut telah lenyap, pemimpin penjaga tadi berdiri di sana — bukan dengan senjata terhunus, melainkan menunduk hormat. Di sampingnya berdiri pria tua yang baru saja berbicara dengan Aurelia.

"Aku Tetua Agung," ucapnya pelan namun menggetarkan tanah. "Dan aku tahu mengapa kalian datang. Ada kekuatan yang bangkit di tempat yang tak terjamah — Menara Langit Gelap. Mereka tidak menginginkan keseimbangan. Mereka menginginkan penguasaan mutlak atas semua dunia."

Ia menatap Kai tajam. "Dan pemimpin mereka… adalah keturunanmu sendiri. Saudara seperguruanmu yang hilang puluhan tahun lalu."

Jantung Kai berdebar kencang. "Siapa?"

"Namanya… Kaelan," jawab Tetua Agung berat. "Ia adalah murid paling berbakat yang pernah ada. Sampai suatu hari ia pergi mencari kekuatan yang terlarang — dan tak pernah kembali. Kini ia berdiri di puncak Menara Langit Gelap, mengumpulkan kekuatan untuk menyerang dunia-dunia yang baru saja kalian pulihkan."

Aurelia memegang tangan ayahnya erat. "Ayah… ia tidak jahat. Ia hanya kesepian dan marah."

Tetua Agung menatapnya dengan kagum sekaligus sedih. "Kau mungkin benar, Putri. Tapi kemarahannya telah memakan banyak orang. Dan ia tidak akan berhenti sebelum semua tunduk padanya."

Kai menarik napas dalam, menatap cakrawala tempat bayangan menara gelap mulai terlihat samar di kejauhan. "Kalau begitu, kami akan menemuinya. Bukan untuk bertarung — tapi untuk memulihkannya."

Tetua Agung tersenyum tipis. "Maka kalian butuh sesuatu yang tak dimiliki siapa pun saat ini — Senjata yang Tak Terbentuk. Bukan pedang, bukan tongkat. Melainkan kebulatan tekad yang tak tergoyahkan. Dan untuk menemukannya… kalian harus naik ke Puncak Cahaya Pertama, tempat di mana para pendiri dunia ini pernah berdiri."

Ia melambaikan tangan, dan di hadapan mereka terbentang tangga cahaya yang menjulang ke langit.

"Jalan itu berat. Banyak yang naik, tak ada yang kembali. Tapi kalian… mungkin berbeda."

Kai menggenggam tangan putrinya, lalu menatap teman-temannya satu per satu. Semua mengangguk tanpa ragu.

"Maka kita naik," ucapnya tegas.

Bersama-sama, mereka melangkah ke tangga itu — langkah demi langkah, semakin tinggi, semakin dekat ke tempat di mana takdir pertarungan sesungguhnya akan ditentukan. Dan jauh di puncak menara gelap, sesosok sosok berdiri diam menatap ke arah cahaya yang mendekat. Tangan kanannya mencengkeram benda yang berdenyut gelap — pecahan kekuatan kuno yang semakin kuat setiap harinya.

"Datanglah, Saudaraku," bisiknya dingin. "Aku akan tunjukkan padamu siapa yang benar-benar layak mewarisi darah naga ini."

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!