Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Aisha yang sama sekali tidak menyadari gejolak perasaan atasannya hanya mengulas senyum ramah.
Ia masih merasa geli sekaligus kagum menyadari bahwa Pak Anton yang dikenal dingin dan irit bicara di kantor, ternyata bisa berbicara panjang lebar dan hangat jika sedang diajak mengobrol santai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki menyertai kehadiran Tania yang melangkah mendekati mereka seraya membawa cup kopinya. Wajahnya dipenuhi senyum jahil yang amat lebar.
"Aduh... kayaknya kalian berdua sudah kelihatan akrab banget ya?" tegur Tania memecah suasana.
"Dari tadi aku perhatikan, kalian asyik banget ngobrol sampai tertawa-tawa berdua!"
Aisha tersentak canggung. Pipinya mendadak merona merah, lalu ia dengan cepat mengibaskan tangannya membantah.
"Eh? Ngg... bukan begitu, Miss! Pak Anton cuma lagi menceritakan filosofi keindahan alam di tempat ini kok."
Tania menghentikan langkahnya, menaikkan kedua alisnya seraya menatap Aisha penuh rasa ingin tahu. "Filosofi? Filosofi apa?"
"Tentang aliran sungai Sligachan ini, Miss," sahut Aisha polos.
"Pak Anton bilang air sungai itu mengalir sangat lembut, tapi perlahan-lahan sanggup meluluhkan bebatuan hitam yang keras."
Mendengar penuturan Aisha, sudut bibir Tania seketika terangkat tinggi. Ia menyunggingkan senyum penuh arti seraya melirik Anton yang langsung berdehem canggung dan berpaling muka.
Tania tentu sangat tahu dan paham betul apa maksud terselubung dari ucapan kakaknya itu.
Tania terkekeh geli, lalu melangkah lebih dekat ke arah jembatan batu.
"Oh... gitu? Bagus banget ya filosofinya. Tapi kamu tahu nggak, Aisha? Selain filosofi air dan batu itu, konon katanya orang-orang lokal di sini punya cerita yang tak kalah menarik."
"Cerita apa, Miss?"
"Mitos romantis tempat ini!" seru Tania dengan nada menggoda, sengaja mengerlingkan mata nakal ke arah Anton untuk meledeknya.
"Masyarakat lokal percaya, siapa pun sepasang insan yang berdiri bersama di atas jembatan Sligachan ini sambil menikmati pemandangan pegunungan Cuillin, perasaan kagum dan cinta yang tersimpan di hati mereka bakal makin kuat, dalam, dan abadi... persis kayak ketahanan batu tebing di belakang kalian itu!"
Tania jeda sejenak, menahan tawa geli melihat raut wajah kakaknya yang kian memerah canggung, lalu menambahkan kalimat yang makin menyudutkan Anton.
"Bahkan ya, Aisha... banyak yang bilang setelah dari sini, hubungan pasangan yang datang ke pulau ini bisa berlayar sampai ke pelaminan lho! Makanya tempat ini tuh pas banget buat pasangan untuk bikin cinta mereka makin kuat..."
Tania lalu mendesah pelan. "Tapi... sayangnya aku ke sini malah sendirian!"
Anton seketika melirik adiknya dengan tatapan tajam yang panik, bersiap menyela.
Namun Aisha, yang otaknya sama sekali tidak ada romantis-romantisnya dan selalu memproses segala hal secara polos serta harfiah, justru menyahuti keluhan Tania dengan senyum polos tak berdosa.
"Wah... kalau begitu, nanti kapan-kapan Miss Tania harus datang ke sini lagi bareng pasangannya," ujar Aisha.
"Biar setelah dari sini, perjalanannya beneran berlayar sampai ke pelaminan, terus nanti saya bisa ikut hadir di acara pernikahan Miss Tania!"
Deg.
Anton membisu seketika, helaan napas pasrah lolos dari bibirnya. Kode keras dan ledekan berlayar ke pelaminan dari adiknya sama sekali membal dari dinding kepolosan Aisha, malah berbalik berbelok mendoakan Tania.
Dari samping, Tania yang tadinya berniat menyudutkan sang kakak kini malah ganti dipojokkan oleh do'a polos Aisha.
Muka Tania seketika kaku, sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak sampai menepuk jembatan batu karena gemas setengah mati.
"Aduh, Aisha... Aisha! Kamu ini ya, malah doain aku yang nikah!" gelak Tania puas melihat ekspresi pasrah kakaknya.
Aisha menyengir kebingungan melihat Tania yang tertawa pingkal-pingkal.
Di bawah naungan langit akhir musim semi Isle of Skye, kehangatan tawa mereka bertiga membingkai momen manis dan menggelikan tersebut sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor cabang.