NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.9k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manis, Aku Suka

Bab 15

 

“Isi apa?”

Bara berdeham untuk menghilangkan canggung, berharap Ruby tidak peka dengan ucapannya tadi.

“Isi kepalamu. Minggir saya sudah gerah dan kepala panas. Butuh didinginkan.”

Ruby mencibir lalu menyingkir, membiarkan Bara lewat dan mengekor langkah pria itu. “Emang apa isi kepalaku. Mas suami, kamu biasa pulang malam begini ya.”

“Tidak juga. Hanya sesekali. Kalaupun terlambat atau lebih larut, biasanya ada yang menemani anak-anak. Bisa Ibu, bisa keluarga almarhum istri saya.”

Mulut Ruby membulat seraya berkata, oh. Menunggu Bara dengan bersandar di sofa.

“Lihat aja, nggak dibantuin gue beneran kabur,” gumam Ruby.

Bara keluar dari walk in closet sudah mengenakan piyama, rambutnya setengah basah mungkin tidak dikeringkan dengan hair dryer. Meski ada gurat lelah, tidak mengurangi kadar ketampanannya.

“Emang ganteng sih.” Ruby menggeleng pelan. “Jangan terpesona, jangan baper apalagi sampai jatuh cinta.”

Bara berjalan tanpa beban menuju ranjang.

“Eh, ngapain naik ke ranjang?”

“Tidur. Memang mau apa lagi atau kamu ada saran selain tidur?"

Ruby mendekat dengan tangan bersedekap. “Eh, mas duda yang udah jadi suami. Saya punya dospem nggak tanggung jawab, sebagai suami kamu harus bantu selesaikan revisian. Kalau nggak ….”

“Tinggal direvisi, saya sudah tulis penjelasan revisinya.”

“Ck, nggak ngerti. Sudah lebih dari 3 tahun, udah lupa sama materinya. Mas Bara, bantuin, please!” rengek Ruby dengan manja. 

Bara mengusap wajahnya. “Bawa kemari berkas dan laptop kamu. Saya malas turun.”

“Nah gitu dong, makin ganteng tahu kalau nurut sama istri. Jadi, pengen kasih cium. Bentar, aku ambil dulu berkasnya.” Tidak menunggu nanti, takut Bara berubah pikiran. Dengan langkah setengah berlari, Ruby meninggalkan kamar.

“Kasih cium.” Bara membayangkan sambil meraba bibirnya lalu menarik nafas. “Lama-lama aku bisa gila.”

***

Bara mengusap wajahnya kasar. Kacamata sudah meluncur turun sampai ke ujung hidung. Sebagai dosen senior dan berpengalaman baru kali ini menangani mahasiswi bebal dan ribet. Ditambah istrinya sendiri, tingkat kesabarannya benar-benar diuji luar dan dalam.

"Ruby, tolong fokus sebentar," ujar Bara dengan suara berat yang mulai serak. Tangannya menunjuk salah satu paragraf di layar laptop. "Bagian latar belakang ini kenapa kamu memasukkan teori ekonomi makro? Kita sedang bahas manajemen operasional mikro. Kamu salah teori.”

Ruby duduk bersila di karpet sedangkan Bara di sofa, agak menunduk menunjuk layar. “Teori ini penting.”

Ruby menguap. Rambut yang dicepol asal-asalan, menyandarkan dagunya di atas meja. Matanya sudah setengah terpejam, bobot kepalanya terasa makin berat.

“Tapi hampir selesai bab empat, semua hasil penelitian udah saya masukin kenapa balik lagi ke teori.”

“Karena salah. Skripsi kamu bisa out of topic. Saat sidang nanti bisa dicecar penguji.”

"Ya kan ada Mas Bara yang bela aku dari para penguji tak berbudi itu,” sahut Ruby polos, matanya sudah terpejam.

"Di ruang sidang saya ini dosen pembimbing kamu, bukan pahlawan kesiangan kamu," balas Bara tegas, meski tatapan matanya meleleh melihat wajah mengantuk istrinya. "Ayo, lanjut. Sedikit lagi ini, habis itu boleh tidur."

Ruby memaksa matanya terbuka lebar-lebar, mencoba menatap layar laptop yang mendadak kelihatan berbayang ganda. Mengetik sejenak lalu mengangkat laptop dan meletakan di atas pangkuan sang suami.

“Lanjutkan ya, sedikit lagi kok.”

Rasanya ingin berteriak, tapi ditahan. Selama ini Bara dikenal sebagai pria sabar dan kalem, mana mungkin mendadak berubah jadi singa garong karena kelakuan sang istri.

Ruby meletakan kedua tangannya terlipat di tepi bantalan sofa sebagai tumpuan, lalu ia mendaratkan dagunya di sana. Mendongak, berusaha menatap wajah pria yang sejak tadi membimbing dengan sabar. Namun, kantuk tidak bisa dihalau. Perlahan matanya terpejam.

Bara membaca layar mencari bagian yang harus dirubah. Perlahan wajahnya tersenyum dan terkekeh pelan mendapati tulisan disana. 'Mas Bara galak tapi ganteng. Sama perempuan lain cukup galak aja, gantengnya jangan’.

Hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah istrinya yang malah tertidur. Tangannya terulur mengusap kepala Ruby.

“Bangun, jangan tidur di sini.”

“Tidurin dong!” gumam Ruby masih dengan mata terpejam.

“Astaga! Ruby bangun atau saya biarkan kamu tidur di sini”

Tidak ada jawaban. Bara menepuk pelan pipi Ruby yang akhirnya menggeliat. Alih-alih berpindah ke ranjang, malah duduk di samping Bara sambil memeluk bantal dan menyandarkan kepala dibahu pria itu.

“Selesaikan dulu!” titah Ruby, lalu kembali dalam buaian. Kepala Ruby terlelap nyaman di bahu Bara, nafasnya yang teratur menyatu dengan keheningan di antara mereka.

Tadinya Bara pun sudah didera kantuk. Saat ia perlahan menoleh untuk memperbaiki posisi, pandangannya justru terkunci pada garis bibir sang istri. Seketika kesadaran yang tadinya menguap, berganti debar asing di dada. Tergoda untuk sekedar mencicipi. Dengan nafas tertahan, Bara mengikis jarak, membiarkan bibir mereka bersentuhan dalam sebuah kecup4n.

“Aku ambil sendiri.”

“Hm … lagi,” ucap Ruby meracau.

“Oke.” Bara kembali mendekat, kali ini bukan kecup4n melainkan memagut bibir itu meski dengan hati-hati khawatir gadis itu terbangun dan mengamuk. “Manis, aku suka.”

 

 

1
Koesbandiana
ma mau mau..😅😅😅😘
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!