"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlindungan Untuk Levara
Suasana ruang tamu mansion Velmore masih terikat dalam keheningan tebal sesaat setelah pintu utama tertutup rapat di balik punggung Julian Veyron. Bau parfum beracun dan aura intimidasi dari paman Dante itu seolah masih tertinggal di udara, meninggalkan jejak ancaman yang nyata.
Danira menghembuskan napas gemetar, sementara Evran merangkul bahu istrinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Arelio masih berdiri kaku, mengepalkan tangan di samping tubuhnya, menatap ke arah pintu dengan kemarahan yang membakar.
"Pria itu ... dia benar-benar iblis," bisik Danira pelan, suaranya bergetar membayangkan bahaya yang kini mengintai anak angkatnya.
Levara berdiri mematung di dekat sofa. Kalimat terakhir Julian tentang nasib ayahnya masih bergema di dalam kepalanya seperti dentang lonceng kematian. Lenyap tanpa bekas, bahkan jasadnya pun tak pernah ditemukan.
"Papa ...,"
Sebelum rasa cemas itu sempat menguasai benaknya, sebuah bayangan tegap bergerak mendekat. Dante mengendalikan kursi rodanya hingga berhenti tepat di depan Levara, memotong pandangan gadis itu dari pintu utama dan memutus pusaran pikiran buruk yang melingkupinya.
"Levara," panggil Dante. Suaranya tidak lagi dingin atau formal, melainkan bernada bass yang berat, dalam, dan dipenuhi kepastian yang menenangkan.
Levara menunduk, menatap iris mata cokelat gelap milik Dante. Di dalam mata itu, tidak ada sedikit pun rasa takut, keraguan, atau penyesalan. Yang ada hanyalah tekad baja yang tak tergoyahkan.
"Jangan pernah biarkan kata-kata Julian masuk ke dalam kepalamu," ujar Dante tegas, menatap lurus ke dalam mata Levara. "Itu adalah taktik klasik yang dia gunakan untuk memecah fokus lawan. Dia tahu dia kalah dalam perebutan saham, jadi dia mencoba menyerang mentalmu."
Levara menarik napas panjang, berusaha menetralkan debar dadanya yang liar. "Aku tahu, Dante. Tapi dia menyebut nama Papaku ... Dia tahu siapa aku, dan dia tahu apa yang dicari Papa 21 tahun lalu."
"Memang, dan itulah alasan kenapa mulai detik ini, semua protokol keamanan di rumah ini dinaikkan ke level tertinggi," potong Dante cepat. Pria itu menoleh ke arah pengawal pribadinya yang berdiri di dekat koridor. "Riko!"
"Siap, Tuan Dante," jawab pria bertubuh kekar itu seraya melangkah maju dan membungkuk hormat.
"Gandakan personel pengawasan di luar mansion. Batasi semua akses masuk kendaraan asing, dan mulai hari ini, Levara tidak boleh keluar dari area rumah tanpa pengawalan empat personel tim utama dan mobil antipeluru," perintah Dante dengan nada lugas tanpa kompromi. "Jika ada pergerakan mencurigakan dari jaringan Keluarga Veyron atau paman Julian, tindak langsung di tempat."
"Dilaksanakan, Tuan!" Riko membungkuk tegas lalu segera melangkah keluar untuk menjalankan instruksi.
Levara tertegun memperhatikan bagaimana Dante mengambil alih situasi dengan begitu tenang, cepat, dan terukur. Di saat semua orang terkesiap oleh gertakan Julian, Dante berdiri sebagai benteng pertama yang langsung memasang badan membentenginya.
Evran melangkah mendekati Dante dan Levara, menatap menantunya itu dengan binar penghormatan yang baru tumbuh. "Dante, kamu yakin Julian tidak akan nekat bertindak di luar hukum?"
"Julian memang licik, Tuan Evran. Tapi dia bukan orang bodoh," jawab Dante seraya memutar kursi rodanya sedikit menghadap Evran.
"Dia tahu kalau sampai ada satu goresan luka pada Levara, saya tidak akan ragu membawa seluruh bukti transaksi ilegal jaringan Veyron dan Julian ke muka hukum. Saya sudah menyiapkan dead man's switch untuk arsip-arsip itu."
Arelio, yang sejak tadi menatap Dante dengan kecurigaan, akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya mereda saat melihat betapa sigap dan protektifnya Dante terhadap adik angkatnya.
"Aku akan tetap menempatkan dua tim dari lembaga investigasiku di luar garisan pagar mansionmu, Dante," ujar Arelio, menatap Dante lurus. "Bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena Levara adalah adikku."
Dante menanggapi tatapan Arelio dengan anggukan tipis yang penuh pemahaman. "Diterima. Kerja sama timmu dengan tim pengawalku akan membuat perimeter rumah ini makin sulit ditembus."
Setelah memastikan suasana kembali stabil dan memberikan ketenangan pada Danira serta Evran, kedua orang tua angkat Levara itu akhirnya pamit beranjak pulang. Sebelum pergi, Danira memeluk Levara erat-erat dan menjabat tangan Dante dengan rasa terima kasih yang tulus.
"Tolong, titip anak Mama," ucap Danira menatap Dante dengan mata berkaca-kaca.
Dante mengangguk, "Pasti,"
.
.
.
.
Sore harinya, langit di atas Jakarta berubah menjadi temaram kemerahan. Levara berdiri di balkon lantai tiga, menatap halaman luas mansion tempat beberapa pengawal berjas hitam tampak berpatroli secara berkala.
Suara roda yang berputar halus di atas marmer terdengar mendekat. Dante menghentikan kursi rodanya di samping Levara, ikut menatap pemandangan matahari terbenam. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polos berwarna abu-abu gelap, menyisakan aura santai namun tetap dominan.
"Masih terpikirkan ucapan Julian?" tanya Dante pelan, memecah keheningan di antara mereka.
Levara memeluk tubuhnya sendiri, membiarkan angin sore berhembus memainkan helai rambut hitamnya. "Sedikit. Tapi sejujurnya ... aku lebih memikirkan tindakanmu tadi."
Dante menoleh sedikit, menaikkan sebelah alisnya. "Tindakan saya?"
Levara berbalik, bersandar pada pembatas balkon dan menatap Dante dari atas. "Kamu pasang badan di depan Julian tanpa ragu sedikit pun. Kamu bahkan mengancam akan membongkar seluruh bisnis gelapnya demi melindungiku. Padahal ... pernikahan kita cuma perjanjian di atas kertas."
Dante menyandarkan punggungnya di kursi roda, menatap lurus ke depan dengan iris mata cokelatnya yang memantulkan pendar jingga senja.
"Perjanjian itu dibuat di atas kertas, Levara. Tapi janji saya dibuat di depan keluargamu dan hukum," kata Dante, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat di tengah hembusan angin sore.
"Kamu mungkin menganggap ini cuma kerja sama bisnis, tapi selama kamu berada di samping saya dan menyandarkan namamu pada nama Velmore, jiwa dan ragamu adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya tidak akan biarkan siapa pun menyentuhmu."
Jantung Levara berdesir hebat mendengar ketegasan tanpa ragu dari bibir pria itu. Rasa canggung dan jarak yang selama ini membentang di antara mereka mendadak terkikis. Di balik wujud dingin, tegas, dan keterbatasan fisiknya, Levara mulai melihat sisi protektif Dante yang teramat tulus.
Levara menyunggingkan senyum tipis, senyuman tulus pertamanya sejak memasuki mansion ini.
"Terima kasih, Dante," bisik Levara lembut. "Kamu benar-benar partner yang bisa diandalkan."
Dante menoleh, menatap senyuman di wajah Levara selama beberapa detik sebelum sudut bibirnya sendiri terangkat samar.
"Sekarang, mari kita buka brankas tua Ayah saya," ujar Dante seraya memutar kursi rodanya kembali ke arah dalam ruangan. "Saatnya kita cari tahu rahasia apa yang membuat Julian dan Keluarga Perkasa begitu ketakutan."
Raut wajah Levara berubah tegang, "Ayo!" serunya.
Mereka akan beranjak pergi, tapi sebuah suara mengejutkan mereka.
"Heh, mau kemana kalian olang?"
"Heuh?" Levara menatap bocah botak itu yang lagi-lagi mengganggu.
"Kau lagi lampu bohlam?" ucap Levara yang mana membuat anak itu membulatkan matanya.
"Heh cembala ...,"
"Om dengar Bi Mei membawa semangka," sela Dante membuat Varo langsung berlari pergi sekuat tenaga.
Brugh!
"BIIII MEIIII MANA CEMANGKA VALOOO!"
Levara meringis saat mendengar suara benda jatuh, ia lalu menatap pada Dante yang menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
"Anak itu sangat aktif jika sedang sehat. Ayo, mumpung dia sibuk dengan semangkanya," ajak Dante.
malemgara2 mikirin leva😭😭