NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 - Malam yang Tidak Bisa Mereka Lupakan

Staf hotel itu bernama Rian.

Usianya belum tiga puluh. Wajahnya pucat saat duduk di ruang keamanan hotel, dikelilingi Bima, Arga, Maya, Kevin, dan manajer hotel. Nadira duduk di kursi paling ujung dengan selimut di bahunya. Dokter Rendra sudah memeriksanya lagi dan mengizinkan ia mendengar, asal tidak terlalu lama.

Arga berdiri di belakang kursinya, tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk menangkapnya kalau ia goyah.

Kevin terlihat marah dengan cara orang yang terbiasa menahan emosi di depan publik.

"Kamu bekerja untuk keluarga saya," katanya pada Rian. "Bicara jujur sebelum saya serahkan kamu ke polisi."

Rian menunduk. "Saya cuma diminta menukar gelas."

"Oleh siapa?" tanya Bima.

"Saya tidak tahu namanya."

Maya tertawa sinis. "Klasik."

Bima meletakkan ponsel di meja. Di layar ada rekaman CCTV dari area pantry. Rian tampak menerima gelas dari seorang perempuan berseragam panitia. Perempuan itu lalu bicara dengan seseorang di balik pilar.

Wajah orang di balik pilar tidak jelas, tapi gaun biru mudanya terlihat.

Laras.

Nadira menatap layar tanpa ekspresi.

Arga merasa amarahnya naik. "Panggil Laras."

Kevin memberi perintah pada keamanan. Beberapa menit kemudian, Laras masuk bersama Vania. Laras tampak pucat, sedangkan Vania tetap rapi seolah semua ini hanya kesalahpahaman kecil.

"Apa ini?" Vania bertanya. "Acara belum selesai, tamu mulai bertanya."

Kevin menatap adik angkatnya. "Bagus. Kalau kamu tidak mau tamu bertanya lebih banyak, jawab sekarang. Apa yang kamu lakukan pada minuman Dokter Nadira?"

Vania tertawa pelan. "Aku? Kak Kevin, kamu menuduhku?"

"Aku bertanya."

"Aku tidak tahu apa-apa."

Maya berdiri. "Kamu mau aku bantu ingatkan?"

Nadira menarik lengan Maya. "Duduk."

"Dir..."

"Duduk."

Maya duduk, tapi matanya tetap menyala.

Bima memutar rekaman lain. Kali ini dari lorong samping. Vania terlihat bicara dengan Laras. Tidak ada audio, tapi Vania menyerahkan sesuatu pada Laras. Laras kemudian memberikannya pada panitia perempuan yang ada di rekaman sebelumnya.

Laras langsung menangis.

"Aku tidak tahu isinya apa. Vania bilang itu vitamin supaya Nadira tampak sedikit pusing. Bukan racun. Aku tidak mau melukai dia."

Arga menatap Laras seperti tidak mengenalnya.

"Kamu tetap memberikannya."

Laras terisak. "Aku marah. Aku hanya ingin dia malu. Dia membuat Kendra kehilangan kamu."

"Kendra kehilangan kebohongan yang kamu buat."

Laras menutup wajah.

Vania mendengus. "Drama sekali. Tidak ada yang terluka serius. Dokter Nadira baik-baik saja."

Nadira akhirnya mengangkat kepala.

"Menurut Anda, orang baru boleh marah kalau sudah mati?"

Vania menatapnya.

Nadira berdiri perlahan. Arga refleks ingin membantu, tapi menahan diri saat Nadira mengangkat tangan kecil, memberi isyarat ia bisa.

"Anda mempermalukan saya di acara publik, menggunakan obat tanpa izin, dan melibatkan staf hotel. Kalau saya kehilangan kesadaran di tempat yang Anda pilih, apa rencana berikutnya? Foto? Video? Akun gosip?"

Wajah Vania berubah tipis.

Kevin menatapnya tajam. "Vania."

"Aku tidak melakukan sejauh itu."

"Tapi kamu memikirkan."

Vania diam.

Nadira tersenyum lelah. "Terima kasih sudah menjawab."

Vania sadar ia terpancing. "Kamu tidak punya bukti."

Bima mengangkat plastik bukti berisi gelas. "Ada sisa minuman. Ada CCTV. Ada staf. Dan kalau perlu, kami lapor polisi malam ini."

Vania menatap Kevin. "Kak, kamu akan membiarkan mereka mempermalukan keluarga kita karena perempuan ini?"

Kevin menjawab dingin, "Kamu yang mempermalukan keluarga kita."

Vania tampak terpukul.

Laras mendekati Arga. "Mas, aku salah. Aku benar-benar tidak tahu efeknya akan seperti itu."

Arga mundur setengah langkah.

Gerakan kecil itu membuat Laras berhenti.

"Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu," kata Arga. "Jangan ganggu Nadira."

"Aku cemburu."

"Cemburu bukan izin menyakiti orang."

"Aku mencintaimu."

Nadira menunduk. Kalimat itu tetap sakit didengar, walau ia sudah tahu.

Arga menatap Laras dengan wajah keras.

"Aku tidak mencintaimu."

Tangis Laras pecah.

"Aku hanya menjalankan amanah Bayu," lanjut Arga. "Aku akan tetap memastikan Kendra baik-baik saja. Tapi mulai malam ini, semua bantuan untukmu akan lewat pengacara dan wali keluarga Bayu. Kamu tidak boleh menghubungi Nadira, Maya, atau keluargaku."

Laras menatapnya hancur.

Vania tertawa sinis. "Hebat. Semua laki-laki jadi pahlawan untuk Nadira."

Nadira memandangnya. "Tidak. Saya hanya tidak diam saat disakiti."

Kevin menghubungi kepala keamanan dan kuasa hukum keluarga Hartono. Bima menghubungi kenalannya di kepolisian untuk konsultasi awal. Maya mengirim pesan ke redakturnya, bukan untuk menerbitkan, tapi untuk menyimpan kronologi kalau nanti Vania memutar cerita.

Di tengah semua itu, Nadira mulai merasa tubuhnya kembali lemah.

Arga melihat wajahnya memucat.

"Cukup. Kamu istirahat."

Kali ini Nadira tidak melawan.

Maya ingin ikut, tapi Kevin menahannya. "Saya butuh saksi independen untuk kronologi. Kamu jurnalis. Kamu tahu cara menulisnya rapi."

Maya menatap Nadira.

Nadira mengangguk. "Aku tidak apa-apa."

Arga membawa Nadira kembali ke kamar. Tidak menggendong seperti tadi, hanya berjalan di sampingnya dengan tangan siap di belakang punggung tanpa menyentuh.

Di dalam kamar, Nadira duduk di tepi sofa.

"Mas bisa pergi. Maya nanti naik."

"Aku tunggu sampai dia datang."

"Aku tidak selemah itu."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku yang belum tenang."

Jawaban itu membuat Nadira diam.

Arga berdiri di dekat jendela, menjaga jarak. Wajahnya pucat karena luka, tapi matanya masih awas.

Nadira memandangnya. "Kenapa Mas tidak marah padaku?"

Arga menoleh. "Kenapa aku harus marah?"

"Karena aku ikut acara Kevin. Karena aku minum tanpa hati-hati. Karena semuanya jadi kacau."

Arga berjalan mendekat, lalu berhenti sebelum terlalu dekat.

"Dulu aku mungkin akan mencari alasan untuk marah. Sekarang aku tahu orang yang salah bukan kamu."

Nadira menatap tangannya sendiri.

"Aku benci merasa membutuhkanmu."

"Aku tidak akan menggunakan itu untuk menekanmu."

"Mas pernah menggunakan banyak hal."

"Iya."

"Rumah. Status. Perintah. Rasa bersalah."

"Iya."

"Aku takut kalau aku luluh, Mas akan kembali jadi orang yang sama."

Arga duduk di kursi di seberangnya.

"Aku juga takut."

Nadira mengangkat mata.

"Aku takut kamu benar. Aku takut aku berubah hanya karena takut kehilangan kamu. Tapi aku tidak mau berhenti karena takut. Aku mau membuktikan, pelan-pelan, kalau aku bisa jadi pria yang tidak membuatmu menyesal memilihku."

Ruangan hening.

Nadira tidak tahu apakah obat masih tersisa di tubuhnya, atau kalimat Arga memang masuk terlalu dalam. Ia merasa lelah, marah, dan ingin menangis sekaligus.

"Jangan bicara terlalu bagus malam ini," katanya pelan. "Aku sedang tidak kuat membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya terdengar indah."

Arga mengangguk. "Baik."

Nadira berbaring di sofa, menarik selimut sampai bahu. Arga mengambil kursi dan duduk agak jauh. Ia tidak bermain ponsel, tidak bicara, hanya berjaga.

Waktu berjalan.

Maya tidak segera naik karena kronologi di bawah ternyata panjang. Dokter Rendra pulang setelah memastikan Nadira stabil. Bima mengirim pesan bahwa situasi aman.

Nadira setengah tertidur ketika rasa dingin kembali datang.

"Mas Arga."

Arga langsung berdiri. "Apa yang sakit?"

"Dingin."

Ia mengambil selimut tambahan, tapi Nadira menggeleng.

"Duduk sini."

Arga membeku.

Nadira membuka mata sedikit. "Jangan buat aku mengulang."

Arga duduk di tepi sofa. Nadira menarik ujung lengan bajunya, bukan memeluk, hanya memastikan ia ada di sana.

"Aku masih marah," gumamnya.

"Aku tahu."

"Kalau besok aku sadar penuh dan menyesal, jangan ungkit."

"Tidak akan."

"Kalau kamu bohong, aku akan membencimu lebih parah."

"Aku tidak akan bohong."

Nadira memejamkan mata.

Arga duduk tanpa bergerak. Bahunya menjadi sandaran ringan ketika Nadira tanpa sadar mendekat. Ia menahan napas, takut gerakan kecil saja membuatnya merasa terancam.

Namun beberapa menit kemudian, Nadira berbisik, "Peluk aku. Sebentar saja."

Arga merasa seluruh pertahanan dirinya runtuh.

Ia merangkul Nadira perlahan, memberi kesempatan perempuan itu menolak. Nadira tidak menolak. Ia justru menyembunyikan wajah di dadanya, di sisi yang tidak terluka.

"Aku capek," katanya.

Arga menunduk, tidak mencium, tidak mengambil lebih.

"Istirahat."

"Jangan pergi."

"Aku di sini."

Malam itu tidak ada janji besar. Tidak ada kata cinta. Tidak ada pengampunan.

Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terluka, duduk dalam ruang hotel yang terlalu terang, saling meminjam tenang karena di luar sana terlalu banyak orang ingin menghancurkan mereka.

Menjelang pagi, Nadira tertidur lebih dalam.

Arga masih terjaga.

Ia menatap wajah perempuan yang pernah ia tinggalkan, ia salah pahami, ia usir, lalu ia cari seperti orang kehilangan arah.

Dalam hati, ia membuat sumpah tanpa suara.

Mulai sekarang, siapa pun yang menyentuh Nadira harus melewati dirinya.

Tapi sebelum semua itu, ia harus belajar agar perlindungannya tidak berubah menjadi penjara baru.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!