NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Selasa Kliwon yang "Khusyuk"

​Sisa asap mesiu dan uap kapur barus masih menggantung tipis di langit-langit kamar belakang yang remang-remang. Suara riuh warga yang mengantar kepulangan Mbah Jambrong dengan sorak-sorai kekaguman berangsur-angsur menghilang di kejauhan gang, menyisakan deru angin malam Selasa Kliwon dan detak jantung Mamat yang belum sepenuhnya kembali normal.

​Mbak Wiwin berdiri merapat di dekat dinding papan. Rambutnya sedikit acak-acakan akibat kehebohan ledakan tadi, namun matanya memancarkan rasa takjub yang makin memuncak. Baginya, pemuda kerempeng di hadapannya baru saja melumpuhkan dukun paling ditakuti di dua desa hanya dengan sebuah lambaian Keris Bengkok Brajamukti.

​"Ki... Ki Mamat tidak apa-apa?" bisik Mbak Wiwin dengan nada suara selembut sutra, penuh perhatian yang membuat bulu kuduk Mamat meremang nikmat. "Ujung rambut Ki Mamat agak bau sangit..."

​Mamat menyapu ujung rambutnya yang sedikit gosong dengan telapak tangan, lalu memasang raut muka sedingin es batu di dalam kulkas pasar.

​"Rambut gosong ini adalah hal kecil, Nyai Wiwin," jawab Mamat dengan nada parau dan penuh wibawa buatan. "Benturan aura tadi memang dahsyat, tapi Keris Bengkok Brajamukti telah menyerap seluruh energi negatif Mbah Jambrong. Sekarang, tempat ini betul-betul bersih dan suci dari segala gangguan ghaib."

​Mbak Wiwin mengangguk-angguk percaya. Ia mengelus dadanya yang naik turun, menarik napas lega. "Alhamdulillah... Saya tadi takut sekali kalau Ki Mamat kalah terus saya dibawa Mbah Jambrong..."

​"Selama kamu berada di dalam naungan ilmu saya, tidak ada satu pun jin atau dukun jahat yang bisa menyentuhmu," kata Mamat melancarkan janji manis yang dibalut jubah paranormal. Ia lalu duduk kembali di atas tikar pandan, membetulkan letak sarung hitam kusamnya, dan menunjuk lantai di hadapannya. "Duduklah kembali, Nyai. Kita harus menyelesaikan Ritual Penyucian Jiwa ini sebelum fajar menyingsing. Jika ditunda, sisa-sisa trauma serangan ghaib tadi bisa mengendap di punggungmu."

​Tanpa rasa ragu sedikit pun, Mbak Wiwin mengangguk nurut. Ia berjalan pelan, berlutut, lalu duduk bersimpuh membelakangi Mamat. Jarak mereka kini sangat dekat—hanya berkisar dua jengkal. Bau wangi parfum melati bercampur aroma mawar dari tubuh Mbak Wiwin kembali memenuhi hidung Mamat, mengikis habis bau hangus mesiu yang tersisa di udara.

​Mamat menelan ludahnya yang terasa kering. Janda cantik yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia intip dari balik celah pohon pisang, kini pasrah sepenuhnya di depan matanya.

​"Lepaskan selendangmu, Nyai... Biarkan jalur cakra di leher dan punggung atasmu terbuka bebas," perintah Mamat pelan, berusaha keras menjaga jemarinya agar tidak bergetar.

​Mbak Wiwin menggeser selendang tipisnya hingga meluruh ke pangkuannya. Leher mulus dan bagian atas punggungnya yang kuning langsat terpapar jelas di bawah pendaran redup lilin kecil yang tersisa di sudut kamar.

​Mamat memejamkan mata sejenak, mengagungkan takdir konyol yang membawanya sampai ke titik ini. Ia merogoh botol minyak serimpi yang tadi dibawa Mbak Wiwin, membalurkannya sedikit ke telapak tangannya sendiri. Sensasi dingin dan wangi menyengat minyak serimpi langsung melapisi kulit jemari Mamat.

​"Ritual Penepukan Cakra diawali dengan sembilan tepukan sakti untuk mengunci aura pemikatmu," kata Mamat penuh nada mistis.

​"Inggih, Ki... Saya pasrah," sahut Mbak Wiwin halus sambil menundukkan kepalanya.

​Mamat mulai melancarkan aksi utamanya. Tangannya yang mengkilap oleh minyak serimpi terangkat ke udara.

​Tep!

​Tepukan pertama mendarat di bahu kanan Mbak Wiwin. Wanita itu sedikit tersentak, tetapi tidak bergeming.

​Tep! Tep!

​Tepukan kedua dan ketiga mendarat di bahu kiri dan tengkuk belakang. Mamat sengaja membiarkan telapak tangannya menempel satu-dua detik lebih lama di kulit leher Mbak Wiwin, beralasan "menyalurkan energi pemanas cakra".

​"Terasa hangat, Ki... Rasa tegang di leher saya langsung hilang," bisik Mbak Wiwin dengan napas teratur.

​"Itu bukti bahwa energi Brajamukti sedang menyapu sisa-sisa ketakutanmu," balas Mamat licik.

​Ia melanjutkan tepukan keempat hingga kedelapan dengan gerakan yang makin berani. Jemari Mamat yang kasar menelusuri garis punggung atas Mbak Wiwin dengan dalih mencari "titik tersumbatnya aura keberuntungan". Setiap kali tangannya menempel, Mamat merasa seperti memenangkan undian kupon berhadiah jutaan rupiah.

​Hingga tiba pada tepukan kesembilan—tepukan penutup.

​Mamat menempelkan kedua telapak tangannya sekaligus di tengah-tengah punggung Mbak Wiwin, menahannya selama hampir sepuluh detik sambil komat-kamit membaca mantra asal-asalan dalam hati: "Bongkar janda, kunci janda, mumpung sepi mumpung aman, jangan sampai Pak RT datang lagi..."

​"Selesai..." hembus Mamat dengan napas agak terengah-engah akibat menahan gejolak gairahnya sendiri.

​Mbak Wiwin perlahan membalikkan badannya kembali berhadapan dengan Mamat. Wajahnya yang polos merona merah, matanya berbinar-binar memancarkan perasaan lega luar biasa. "Matur nuwun sanget, Ki Mamat Sastrogati... Badan saya rasanya enteng sekali, seperti baru bangun dari tidur nyenyak."

​"Itu karena aura burukmu telah sirna sepenuhnya," kata Mamat sambil mengusap batu akik merah besarnya dengan gaya sok bijaksana. Ia lalu melirik ke arah kantong plastik hitam di samping tikar. "Adapun pakaian dalam hijau muda milikmu itu... akan saya ritualkan secara khusus di bawah kucuran air sumur belakang selama tiga malam Kliwon berturut-turut untuk memastikan Jin Banaspati tidak akan pernah kembali."

​"Inggih, Ki. Tolong disimpan dan didoakan nggih," sahut Mbak Wiwin tanpa curiga sedikit pun. Ia merogoh saku kebaya tipisnya, lalu mengeluarkan amplop putih yang cukup tebal dan meletakkannya di atas tikar pandan. "Ini sedikit tanda bakti dan rasa terima kasih saya karena Ki Mamat sudah mempertaruhkan nyawa melawan Mbah Jambrong demi melindungi saya."

​Mamat melirik amplop itu. Dari ketebalannya, Mamat bisa menebak isinya tidak kurang dari tiga ratus ribu rupiah!

​"Terima kasih, Nyai. Sajen ini akan saya gunakan untuk membeli minyak penyucian pusaka," jawab Mamat dengan keagungan penuh kepalsuan. "Sekarang, pulanglah lewat jalan samping. Angin malam Selasa Kliwon tidak baik untuk auramu yang baru saja disucikan."

​Mbak Wiwin membungkuk hormat hingga keningnya hampir menyentuh lantai. "Nggih, Ki. Saya pamit..."

​Dengan langkah anggun dan hati yang berbunga-bunga, janda cantik itu melangkah keluar meninggalkan kamar belakang Mamat.

​Begitu derit pintu depan menandakan Mbak Wiwin telah benar-benar pergi, Mamat langsung melepaskan jubah sarung hitamnya dan melemparkannya ke sudut kamar. Ia menyambar amplop putih pemberian Mbak Wiwin, membukanya dengan tergesa-gesa, dan menghitung lembaran uang merah lima puluh dan seratus ribuan di dalamnya.

​"Tiga ratus lima puluh ribu rupiah! CASH!" jerit Mamat sambil menari-nari konyol di atas tikar pandan. "Tambah uang kemarin... Jancuk! Aku kaya mendadak!"

​Mamat merebahkan tubuh kerempengnya di atas kasur kapuk tua. Seluruh otot tubuhnya terasa lemas setelah melewati ketegangan gila melawan Mbah Jambrong dan momen mesum bersama Mbak Wiwin. Namun, di dalam dadanya, rasa puas dan kemenangan membakar begitu hebat.

​Klek...

​Pintu dapur samping mendadak terbuka pelan. Sosok Darto dan Bowo menyelinap masuk dengan wajah pucat dipenuhi rasa takjub dan tawa yang ditahan-tahan.

​"MAT! ASLI, KAMU EDAN!" bisik Darto sambil melompat dan menindih tubuh Mamat di kasur. "Aku sama Bowo tadi ngintip dari balik celah papan dapur pas ledakan mesiu petasan itu meletus! Mbah Jambrong sampai nangis-nangis mukanya hitam semua kayak pantat wajan!"

​"Iya, Mat!" timpal Bowo sambil tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Si Jumadi sampai bopong Mbah Jambrong sambil teriak 'Ampun Ki Mamat!'. Sekarang satu kampung Kalisari lagi geger di pos ronda! Katanya kamu punya Ajian Geni Brajamukti yang bisa meledakkan api dari telapak tangan!"

​Mamat duduk di tepi kasur, membetulkan letak celana pendeknya, lalu tersenyum licik bercampur bangga. "Kalian lihat sendiri kan? Itu yang namanya keahlian manajemen krisis! Kalau aku tadi ndak nekat melempar minyak kayu putih sama korek ke tumpukan mesiu petasan banting buatan kalian, kita bertiga sekarang sudah diarak warga ke balai desa!"

​"Tapi gila sih, Mat..." Darto menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa hormat. "Trik mesiu petasan banting dicampur kapur barus itu bener-bener jenius. Bau asapnya bikin mata perih sampai orang mikir itu asap siluman!"

​"Makanya, hargai bos kalian ini," kata Mamat sambil merogoh saku sarungnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Ia membagikan masing-masing seratus ribu rupiah kepada Darto dan Bowo. "Ini komisi kalian malam ini. Besok pagi, tugas kalian makin berat."

​Darto dan Bowo menerima uang itu dengan mata berbinar-binar. "Tugas apa lagi, Ki Mamat?"

​Mamat menyulut batang rokok kreteknya, menghembuskan asapnya perlahan ke udara. "Reputasi kita sekarang sudah di puncak. Dukun sekelas Mbah Jambrong saja sudah kita tumbangkan. Besok pasti bakal banyak orang luar desa yang datang berobat ke sini. Rumah tua ini harus kita renovasi sedikit biar makin mirip 'Markas Besar Paranormal'."

​"Mau diubah gimana, Mat?" tanya Bowo penasaran.

​"Pertama, pekarangan depan harus dipasangi tirai kain hitam biar antrean pasien ndak kelihatan dari jalan utama," papar Mamat menyusun rencana besar. "Kedua, buatkan meja sajen dari kayu jati bekas yang lebih besar. Ketiga... kita beli pasokan kapur barus, minyak kayu putih, sama petasan banting dalam jumlah grosir dari pasar kota!"

​Darto dan Bowo manggut-manggut setuju. "Siap, Bos! Apapun perintah Ki Mamat Sastrogati, bakal kami laksanakan!"

​"Satu lagi," tambah Mamat dengan senyum mesum yang mendadak terkembang di wajahnya. "Simpan kantong plastik hitam ini di lemari terkunci. Ini adalah 'benda pusaka penyucian' milik Mbak Wiwin. Jangan sampai ada yang menyentuhnya!"

​Darto melirik kantong plastik itu lalu tertawa terkekeh. "Halah... bilang saja itu koleksi pribadi niat mesummu, Mat!"

​"Jancuk! Ini aset spiritual!" tangkis Mamat sambil melemparkan bantal kusam ke arah Darto, disambut tawa berderai dari mereka bertiga di tengah pekatnya malam Selasa Kliwon.

​Keesokan harinya, matahari terbit memancarkan sinar hangat di atas Kampung Kalisari. Namun, suasana di depan rumah Mamat sudah tidak seperti hari-hari biasanya.

​Sejak pukul tujuh pagi, pekarangan rumah Mamat yang biasanya sepi dan dipenuhi rumput liar kini telah dipenuhi oleh puluhan orang yang mengantre! Berita tentang "kekalahan mengenaskan Mbah Jambrong akibat Ajian Geni Brajamukti Ki Mamat" telah menyebar seperti wabah ke tiga desa tetangga.

​Orang-orang datang membawa berbagai macam masalah: ada pedagang pasar yang usahanya sepi, petani yang sawahnya diserang hama dan menganggapnya guna-guna, hingga para pemuda nakal yang ingin pasang susuk kekebalan agar ditakuti di jalanan.

​Di tengah antrean yang makin mengular itu, Pak RT Sugino berdiri gagah mengenakan seragam batiknya, bertindak sebagai "Ketua Pengatur Antrean dan Kupon Sajen".

​"Harap tertib! Harap tertib!" teriak Pak RT Sugino menggunakan pengeras suara TOA masjid yang sengaja dipinjamnya. "Yang belum dapat nomor antrean, silakan daftar dulu ke Mas Darto di meja depan! Ingat, pendaftaran butuh uang sajen kebersihan tempat sebesar lima puluh ribu rupiah! Ki Mamat Sastrogati hanya menerima pasien yang niatnya bersih!"

​Di samping meja pendaftaran, Darto dan Bowo sibuk mencatat nama-nama pasien sambil mengumpulkan lembaran uang lima puluh ribuan yang menumpuk tinggi di dalam kotak kardus bekas mi instan.

​Sementara itu, di dalam kamar belakang yang kini telah dilapisi kain hitam di dindingnya dan dinyalakan dua belas lilin merah, Mamat duduk anggun di atas kursi kayu ukir yang disewa Darto dari tempat persewaan alat pesta.

​Mamat mengenakan jubah hitam baru yang dibeli dari pasar, ikatan kepala perca yang lebih rapi, dan Keris Bengkok Brajamukti bertengger gagah di pangkuannya. Di hadapannya, mangkuk sajen kuningan siap mengepulkan racun racikan terbaru yang lebih mantap: kombinasi serbuk kamfer, minyak kayu putih, dan semprotan racun serangga aroma jeruk.

​Mamat mengelus batu akik merah besarnya, menatap pintu kamar yang siap mengetuk pasien pertamanya hari ini. Uang mengalir deras, reputasi meroket tinggi, dan wanita-wanita desa antre meminta "Penyucian Jiwa".

​Mamat sang pengangguran miskin yang dulu dikejar-kejar penagih utang pinjaman online, kini telah resmi bertransformasi menjadi raja paranormal palsu paling berkuasa di kawasan Semarang pinggiran—sebuah puncak kejayaan konyol yang siap membawa petualangan komedinya ke tingkat kekacauan yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!