Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembicaraan rahasia
Pagi harinya, Kaivalya seperti biasa sudah bersiap untuk ke kampus bersama keponakannya, Kaivalya sebenarnya demam tapi dia tidak memberi tahu Sagara karena dia ingin kuliah.
"Kai jangan terlalu banyak beraktifitas Daddy tahu kamu demam" ucap Sagara karena dia tahu Kaivalya tidak akan mau istirahat di rumah meskipun Sagara sekarang sudah lebih banyak diam di rumah karena perusahaan sudah di pegang Andromeda dan Altair.
"Iya dad" jawab Kaivalya
"Selamat pagi semuanya" sapa Hamad putra kedua Khalid yang juga tinggal di rumah Sagara dan bersekolah bersama Zeeshan.
"Om Kai, Haira hari ini mau ke kebun binatang, adik Haidar juga" ungkap Haira yang pagi itu sudah ke rumah Sagara untuk sarapan bersama keluarga Sagara sekaligus melihat kondisi Kaivalya.
"Benarkah? Kenapa tidak hari Minggu saja supaya Abang bisa ikut?" tanya Kaivalya
"Kata papa, hari sabtunya papa mau ke kampung Mahoni, mau jenguk Om Harsya" jawab Haira
"Dad.. Kai boleh ikut nggak?" tanya Kaivalya
"Tidak, di sana terlalu berbahaya untuk kamu, Daddy tidak ijinkan meskipun Hamka ada di sana" jawab Sagara tegas.
Sagara melarang Kaivalya dan Esmeralda ke sana bukan tanpa alasan, setelah hari di mana Esmeralda di sebut sebagai reinkarnasi Dewi Dara, Sagara langsung meminta Esmeralda tidak ke sana lagi karena para warga kampung Dara terus berdatangan untuk memberikan hadiah ataupun meminta do'a dari Esmeralda dan anak anaknya, jadi Esmeralda memutuskan untuk tidak ke sana lagi agar orang orang itu tidak semakin tersesat.
Dan untuk Kaivalya, jejak Rajasa masih ada di sana dan Sagara tidak mau putranya itu di hasut energi gelap Rajasa yang masih tersisa di sana. Itulah sebabnya Sagara juga begitu keras melarang Kaivalya ke sana.
"Sudah, kamu kan bisa bermain dengan teman kamu" bujuk Safira
"Iya mom" jawab Kaivalya lesu
Selesai sarapan, Aariz sudah datang bersama Arthayasa di antar Abidzar yang seperti biasa akan menjemput Kaivalya dan Mustafa ke kampus, meskipun tidak setiap hari tapi Abidzar selalu menyempatkan diri mengantar anak anaknya itu jika dia tidak di pesantren bersama Adrian.
"Lo udah baikan? Kalau Lo masih pusing nggak perlu kuliah, biar gue minta ijin Bu Rini kalau Lo sakit" tanya Aariz
"Udah nggak apa apa ko, gue udah sehat sekarang" jawab Kaivalya
Sampai kampus mereka langsung turun setelah mencium tangan Abidzar, bahkan Abidzar memberikan uang jajan lebih untuk para pemuda itu agar lebih semangat belajar. Deni, Cantika, Shafeea dan Arkham juga sudah ada di tempat parkir menunggu teman mereka itu.
"Pagi Kunti" sapa Kaivalya
"Pagi Genderuwo" jawab Cantika
"Gue nggak nyapa Lo ya" sinis Kaivalya
"Gue juga nggak nyapa Lo" balas Cantika yang kadang juga sering menggunakan bahasa Lo gue dengan temannya.
"Tapi Lo bilang Genderuwo itu sambil lihat gue!"
"Lo juga panggil Kunti sambil lihat gue!"
"Kaivalya, Cantika"
Zaki langsung menatap keduanya dengan tatapan tajam karena mereka menggunakan bahasa yang tidak pantas di depan para mahasiswa lain.
"Maaf pak, kami tidak akan mengulangi kesalahan kami" ungkap Kaivalya mencium tangan Zaki
"Iya pak, Cantika juga cuma keceplosan, Kai yang duluan pak" ucap Cantika langsung di balas delikan oleh Kaivalya.
"Memang kamu kan yang duluan" sinis Cantika
"Pergi ke kelas kalian dan bersihkan kelas kalian sekarang juga" perintah Zaki langsung pergi ke ruangannya.
"Baik pak" jawab keduanya lesu
"Pagi pagi sudah sarapan hukuman pak pemilik kampus" ledek Mustafa
"Yang rajin ya nak" ledek Aariz
•••••••••••
Selesai membersihkan kelas, mereka segera berjalan untuk menuju ke bangku masing masing, tapi Kaivalya tidak ke sana, dia pergi ke halaman belakang dengan alasan ke toilet karena sejak tadi Suga terus mengintip di balik meja kelas agar Kaivalya menemuinya di halaman belakang kampus.
"Ada apa?" tanya Kaivalya memberikan dua susu coklat untuk Suga yang langsung di terima dengan senang hati.
"Ada hantu baru yang mau masuk, tapi dia bawa hawa panas dan Suga yakin dia itu hantu jahat, dia sering mengikuti anak dari Smith internasional school yang bernama Heru, mungkin jin pelindung atau jin kiriman untuk menyantet anak itu" jawab Suga
"Jin kiriman?" tanya Kaivalya
"Iya, dukun kan kalau mau nyantet orang tidak bisa bekerja sendiri, di bantu jin dan pasti ada sesajen atau tumbalnya, dan dia mengikuti anak kelas sepuluh di Smith internasional school" jawab Suga
"Heru, anak kelas sepuluh, tapi pasti banyak yang namanya Heru di sini" ungkap Kaivalya
"Tenang saja, Heru ini beda, kalau kamu lihat wajahnya, dia mirip orang mati, bukan pucat, lebih mirip ke orang yang sudah tidak punya roh, cek deh mungkin kamu tahu kenapa dia terlihat seperti itu" jawab Suga.
"Ya sudah, nanti aku ajak Mustafa, Aariz dan Arthayasa, mereka biasanya punya penglihatan tentang para mahasiswa dan murid di sini" jawab Kaivalya
"Aku mau ke gedung SMP ya, di sana banyak anak anak nakal yang belajar merokok, mau aku kasih mereka sedikit pelajaran" pamit Suga
"Nggak perlu sedikit, beri mereka banyak pelajaran supaya kapok" ucap Kaivalya dan Suga mengangguk.
•••••••••••
Di belakang gedung SMP.
"Nggak akan ketahuan, di sini itu aman, jarang ada yang datang, gue udah pernah coba" bujuk seorang siswa pada temannya
"Tapi gue takut, pak Brata itu kalau sedang patroli serius banget, belum lagi pak Tama dan para anak buahnya, serem gue" jawab si siswa
"Ini cuma rokok bukan narkoba, kalau narkoba baru Lo boleh takut" ucap satu lagi
Ada tiga orang di samping kelas seni rupa, mereka adalah anak anak remaja yang sedang mencoba ingin merokok setelah seorang dari mereka penasaran karena melihat kakaknya yang sudah kuliah merokok dan mengambil beberapa batang rokok milik kakaknya itu. Dan mengajak dua temannya untuk ikut mencoba juga meskipun mereka tahu di lingkungan sekolah tidak di perbolehkan untuk merokok, mau itu para siswa ataupun tenaga pengajar di sana, merokok hanya di perbolehkan setelah para murid pulang atau di tempat yang sudah di sediakan sekolah hanya untuk para orang dewasa saja.
"Ih.. Ko aneh ya.. Uhuk.. Uhuk.."
Seorang murid sudah menghisap batang rokok itu tapi dia terbatuk-batuk. Temannya terus menepuk pundak si siswa karena batuknya tidak mau berhenti, bahkan asap rokok itu semakin banyak dan membuat dua temannya yang lain ikut batuk.
"Ko asapnya begini ya, waktu gue coba nggak begini"
"Mungkin ini ganja"
"Bukan... Uhuk.. Dada gue sakit"
"Hihihi.... Ada makanan kita, mau kopi hitamnya sekalian pasti enak, hihihi"
"Hhrrrr... Iya, asap rokok ini enak sekali, kita jadi bisa makan enak hari ini"
"Anjin* apa itu, siapa yang ngomong barusan" panik seorang dari mereka dengan mata yang sudah melotot karena terkejut ada suara lain selain mereka, bahkan ada suara perempuan dan tawa yang menakutkan.
"Saya bukan guguk nak.... Hihihihi"