Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aura, mahasiswi teladan
Aura meremas album foto cokelat di pelukannya erat-erat. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.
Tatapan mata Devan yang tadi angkuh dan dingin, kini berubah total menjadi penuh selidik dan keterkejutan. Ada kilat kebingungan yang sangat jelas di dalam manik mata cowok itu.
"Aura, aku tanya sekali lagi..." Suara Devan memelan, melangkah mendekat satu tindak. Tangannya yang tadinya terkepal di saku jaket kini terulur sedikit, seolah ingin meraih album foto itu. "Foto-foto itu... kamu dapat dari mana?"
"Bukan urusan kamu!" potong Aura cepat. Suaranya agak gemetar, menutupi rasa panik yang membakar dadanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Aura menyambar sisa buku-bukunya yang masih tersisa di atas semen parkiran, memasukkannya asal ke dalam tas kain, lalu berbalik dan berlari secepat yang ia bisa menuju gedung sekretariat panitia kampus.
Ia bahkan tidak peduli lagi dengan panggilan Bimo atau pandangan bingung mahasiswa lain di tempat parkir. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah melarikan diri dari Devan.
"Aura! Tunggu!" panggil Devan dari belakang, tapi Aura terus berlari tanpa sekali pun menengok.
Napas Aura terengah-engah saat ia akhirnya berhasil mendorong pintu kaca gedung sekretariat dan masuk ke ruangan Senat Mahasiswa yang dingin ber-AC.
Ia langsung duduk tersungkur di kursi plastik terdekat, menyandarkan punggungnya yang terasa lemas. Tangannya masih mendekap album foto cokelat itu di dada.
"Astaga, Ra! Kamu kenapa? Kok kayak habis dikejar hantu begitu?" tanya Nisa, sahabat sekaligus sesama anggota panitia acara yang sedang sibuk menata tumpukan berkas di meja.
Aura berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Ia menggeleng pelan sambil meletakkan album foto itu masuk jauh ke dalam tasnya, paling dasar, agar tidak ada orang lain yang melihatnya lagi. "Nggak... nggak apa-apa, Nis. Cuma tadi habis berlari dari tempat parkir."
"Dari tempat parkir?" Nisa memicingkan mata, lalu mendesah pelan. "Oh, aku tahu. Kamu pasti habis ketemu Devan, ya? Anak-anak di grup WhatsApp panitia ramai banget membahas kalau si Devan bikin masalah lagi di depan gedung F-2. Katanya bumper mobil operasional kita digores sama dia?"
Aura mengusap wajahnya yang terasa panas. "Iya. Dia bawa motornya ugal-ugalan banget, Nis. Bikin pusing kepala."
"Ya ampun, Ra... kamu tuh nekat banget sih pakai menegur Devan segala?" Nisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Aura.
"Semua orang di kampus ini juga tahu Devan itu tipe orang yang jangan pernah dicari masalahnya. Dia itu langganan dipanggil dosen, kerjaannya balapan malam, terus kalau marah serem banget. Biarkan saja dia, nanti juga panitia yang urus ke pihak kampus."
"Tapi kita butuh mobil itu buat jemput pembicara esok pagi, Nisa," balas Aura pelan. Matanya menatap lurus ke lantai.
"Kalau semua orang takut menegur dia cuma karena dia bad boy, dia bakal makin semena-mena di kampus ini."
"Iya, aku paham kamu itu mahasiswi teladan yang super bertanggung jawab," ujar Nisa lembut sambil menepuk-nepuk bahu Aura.
"Tapi kamu juga manusia, Ra. Jangan semua beban kampus kamu yang pikul. Lihat tuh, muka kamu pucat banget. Kamu udah makan siang belum?"
Aura menggeleng. Sejujurnya, rasa lapar itu sudah hilang sepenuhnya berganti dengan rasa cemas yang luar biasa.
Sebagai mahasiswi tingkat akhir yang memegang posisi penting di Senat Mahasiswa, hari-hari Aura memang selalu diisi dengan tumpukan tugas, proposal acara, dan rapat yang tiada habisnya.
Ia dikenal sebagai sosok yang sempurna: selalu dapat nilai A, ramah, dan sangat teratur. Hidupnya sudah memiliki alur yang jelas dan tertata rapi.
Tapi sejak beberapa bulan lalu, alur hidupnya yang tenang mulai terganggu oleh satu hal: sebuah akun anonim di Instagram bernama @BehindTheLens.
Aura merogoh ponsel dari saku roknya. Tangannya yang masih sedikit bergetar membuka aplikasi Instagram dan mencari akun tersebut. Akun itu tidak pernah menampilkan wajah pemiliknya, hanya membagikan foto-foto keindahan kampus dengan sudut pandang yang sangat estetik. Namun yang membuat jantung Aura selalu berdebar adalah... hampir sepertiga dari postingan akun itu adalah foto-foto dirinya secara diam-diam.
Ada foto saat Aura sedang membaca buku di bawah pohon rindang, foto saat Aura tertawa bersama teman-temannya di kantin, hingga foto saat Aura sedang mengusap keringat di pelipisnya sewaktu mengurus acara kampus.
Semua foto itu diambil dari jauh, sangat indah, dan memperlihatkan sisi dirinya yang bahkan tidak pernah Aura sadari.
Dan tadi siang... saat album fotonya terjatuh, Devan melihat foto-foto yang sudah Aura cetak dari akun tersebut.
Reaksi Devan yang bertanya dari mana Aura mendapatkan foto itu, serta ekspresi terkejut di wajah Devan, membuat satu pemikiran gila mendadak melintas di kepala Aura.
Apakah Devan... adalah orang di balik akun @BehindTheLens?
Aura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Nggak mungkin, batinnya menolak keras. Devan itu cowok kasar, urakan, suka bikin masalah, dan hobi balapan. Mana mungkin cowok seperti Devan punya perasaan sehalus itu sampai bisa mengambil foto-foto yang begitu estetik dan penuh makna? Itu sama sekali tidak masuk akal.
"Ra? Aura! Kamu melamun, ya?" teguran Nisa mengagetkan Aura dari jalan pikirannya.
"Eh? Kenapa, Nis?"
"Ini, Pak Surya baru saja menelepon," kata Nisa sambil menunjuk ponselnya.
"Beliau minta berkas laporan keuangan acara bulan lalu diserahkan sekarang ke ruangannya di lantai tiga. Kamu bisa tolong antarkan? Aku harus menyelesaikan desain banner sebelum sore."
Aura menarik napas panjang, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada tugas kampus.
"Bisa, Nis. Sini berkasnya, sekalian aku mau ke perpustakaan habis dari ruangan Pak Surya."
"Makasih ya, Ra! Kamu memang andalan banget!" seru Nisa lega.
Aura mengambil map tebal di atas meja, lalu berjalan keluar dari sekretariat. Sepanjang koridor gedung kampus, pikiran Aura tetap saja melayang. Ia teringat tatapan mata Devan tadi siang di tempat parkir.
Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap di hatinya saat teringat kata-kata pedas yang sempat ia ucapkan pada Devan. 'Aku kasihan sama kamu, Devan. Kamu cuma tahu cara merusak hal-hal di sekitar kamu.'
Apakah kata-katanya tadi terlalu jahat?
Saat Aura sedang berjalan menunduk di koridor lantai tiga yang agak sepi dekat tangga darurat, sebuah bayangan tinggi mendadak menghadang langkahnya.
Aura menghentikan langkahnya seketika. Bau harum samar aroma kayu dan tembakau yang sangat ia kenali masuk ke indra penciumannya.
Aura mendongak perlahan.
Di depannya, Devan sudah berdiri menyandar di dinding koridor. Cowok itu masih mengenakan jaket kulit hitamnya, tapi kali ini ia tidak bersikap angkuh seperti tadi.
Tatapan matanya lurus menatap Aura, dan di tangan kanan Devan... ada sebuah kamera DSLR tua berseri klasik yang tergantung luncur di jarinya.
"Kamu..." Aura melangkah mundur satu tindak, memeluk map tebalnya erat-erat. "Kenapa kamu ada di sini? Kamu mengikuti aku?"
Devan tidak langsung menjawab. Ia menegakkan posisinya, melangkah mendekati Aura hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal.
Cowok itu mengangkat kameranya sedikit, lalu menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Foto-foto yang ada di album kamu tadi..." suara Devan terdengar amat pelan, tapi menusuk langsung ke telinga Aura. "...kamu cetak dari akun Instagram kan?"
Aura menahan napasnya. Lidahnya mendadak terasa kelu untuk menjawab.
Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang belum pernah Aura lihat sebelumnya.
Cowok itu lalu memutar layar kecil di bagian belakang kameranya, menekan sebuah tombol, lalu mengarahkan layar itu tepat ke depan mata Aura.
"Coba kamu lihat ini," kata Devan pelan.
Mata Aura melebar sempurna saat melihat layar kamera tersebut. Di sana, tertera file foto asli yang belum diedit—foto yang sama persis seperti salah satu foto yang ada di dalam album miliknya, lengkap dengan detail tanggal dan jam pengambilannya.
Aura mendongak menatap wajah Devan dengan rasa tidak percaya yang membuncah. "Devan... jadi selama ini... kamu?"
Bersambung...