Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - INVESTIGASI DIAM-DIAM
Malam itu, hujan turun rintik-rintik, membuat udara kota terasa lebih menusuk tulang dari biasanya. Kael duduk diam di balik kemudi sebuah mobil sedan sewaan berwarna abu-abu kusam. Mobil ini jauh banget dari kelas Maybach atau Range Rover yang biasa dia kendarai. Nggak mencolok, persis seperti hantu yang berbaur dengan bayangan gedung-gedung tua di kawasan perumahan elite sektor timur.
Kael memakai jaket kulit hitam, ritsletingnya ditarik sampai ke leher untuk menutupi kemeja gelapnya. Sebuah topi bisbol hitam ditarik rendah menutupi matanya.
Di kursi penumpang sebelahnya, tergeletak sebuah laptop dengan layar yang menyala menampilkan program peretasan. Di layar itu, titik merah kecil berkedip-kedip, menunjukkan posisi ponsel milik Leon, kepala divisi logistik klan mereka.
Kael melirik jam tangannya. Pukul satu dini hari.
Udah dua hari sejak insiden peledakan konvoi senjata di jalur utara. Selama dua hari itu juga Kael bergerak layaknya hantu kelaparan. Dia nggak langsung mendobrak pintu rumah para tersangka. Itu cara amatir. Kael memilih menyadap komunikasi kelima Tetua Klan secara digital dan membobol rekening rahasia milik Leon.
Hasilnya? Rekening para Tetua bersih dari aliran dana masuk mendadak. Namun rekening lepas pantai milik istri Leon mendadak gendut karena ada transferan masuk senilai lima miliar rupiah, tepat satu jam setelah rapat penentuan rute rahasia.
Tebakan Valeria dan insting Kael terbukti benar. Leon, si kepala divisi logistik yang terlihat penakut itu, rupanya diam-diam menjual informasi rute konvoi kepada Viper.
Titik merah di layar laptop tiba-tiba berhenti bergerak, berlokasi tepat di sebuah kelab malam bawah tanah eksklusif tiga blok dari tempat Kael memarkir mobil. Leon rupanya lagi foya-foya ngerayain uang hasil pengkhianatannya.
"Tikus bodoh," guman Kael dingin.
Kael mematikan laptop, menutupnya, lalu meraba dua pistol Glock yang tersarung di balik jaket kulitnya. Dia keluar dari mobil, berjalan menembus rintik hujan tanpa payung. Langkah panjangnya sangat tenang, tapi penuh perhitungan mematikan.
Kelab malam bernama *The Velvet* itu dijaga oleh dua preman berbadan besar di pintu depan. Kael nggak berniat masuk lewat depan dan bikin keributan. Dia melipir ke gang sempit di samping gedung, memanjat pipa saluran air dengan sisa tangan kirinya sementara tangan kanannya yang masih terluka dipaksa menahan sedikit beban. Rasa ngilu di bahunya dia abaikan begitu saja.
Dalam waktu kurang dari dua menit, Kael berhasil menyusup masuk melalui ventilasi di lantai dua, langsung mendarat tanpa suara di lorong gelap dekat area VVIP.
Suara musik EDM yang berdentum keras dari lantai dasar cukup membantu menyamarkan pergerakannya. Kael berjalan menyusuri lorong, matanya setajam elang memindai setiap pintu. Dia berhenti di depan ruang VVIP nomor tujuh. Dari celah pintu, terdengar suara tawa melengking seorang pria. Itu suara Leon.
Kael nggak langsung mendobrak masuk. Dia berdiri di sudut gelap sebelah pintu, menunggu dengan sabar. Dia tahu Leon adalah pengecut yang nggak akan berani jalan ke mana-mana sendirian tanpa *bodyguard*-nya.
Benar saja, lima menit kemudian, pintu ruang VVIP itu terbuka. Dua orang *bodyguard* Leon keluar lebih dulu, disusul Leon yang berjalan sempoyongan sambil merangkul pinggang seorang wanita penghibur. Wajah Leon memerah karena terlalu banyak menenggak alkohol.
"Bos, kita langsung ke parkiran *basement*?" tanya salah satu *bodyguard*.
"Iya, iya, bawa mobilnya ke pintu belakang. Gue nggak mau lewat depan, banyak paparazi," racau Leon sok penting.
Mereka berempat berjalan menyusuri lorong sepi menuju tangga darurat belakang. Kael mengikuti dari belakang, menyelinap dari satu bayangan ke bayangan lain layaknya asap. Keahlian Kael menghilangkan hawa keberadaannya bener-bener di luar nalar. Bahkan dua *bodyguard* terlatih itu sama sekali nggak sadar ada monster yang mengintai punggung mereka.
Saat mereka berempat mulai menuruni tangga darurat yang remang-remang dan sepi, Kael memutuskan inilah saatnya bertindak.
*SREEEK!*
Kael melesat turun dari anak tangga atas. Gerakannya begitu cepat sampai cuma terlihat seperti kelebatan hitam.
Tangan Kael menyambar leher *bodyguard* pertama dari belakang, memutarnya dengan sudut 180 derajat. Terdengar bunyi *KRAK* yang renyah. Pria itu jatuh mati tanpa sempat berteriak.
*Bodyguard* kedua refleks memutar tubuhnya sambil merogoh pistol di pinggang. Tapi tangan Kael udah lebih dulu meninju ulu hatinya dengan tenaga luar biasa, disusul hantaman siku ke pelipis yang langsung bikin pria itu pingsan seketika, otaknya terguncang parah.
Seluruh proses eksekusi kilat itu terjadi kurang dari tiga detik.
Wanita penghibur yang dirangkul Leon menjerit histeris ketakutan. Dia melepaskan diri dari Leon dan lari terbirit-birit menuruni sisa anak tangga tanpa peduli *heels*-nya nyaris patah. Kael sengaja membiarkan wanita itu pergi, dia nggak membunuh orang yang nggak ada urusannya dengan klan.
Tinggal Leon sendirian yang berdiri mematung di tengah tangga. Efek alkohol di kepalanya menguap seketika diganti oleh rasa horor yang luar biasa.
Kael melangkah turun, mendekati Leon pelan-pelan. Topi bisbol Kael menutupi separuh wajahnya, tapi cahaya lampu jalanan yang menembus jendela tangga cukup untuk memperlihatkan rahangnya yang mengeras dan senyum seringainya yang sangat mengerikan.
"K-Kael...?" bisik Leon gemetar hebat. Kakinya lemas, pria itu jatuh terduduk di anak tangga. "A-apa yang lo lakuin di sini? Lo gila?! Gue petinggi klan!"
"Petinggi yang menjual rute senjata klan ke Viper seharga lima miliar," potong Kael dingin. Suaranya bergema pelan di tangga darurat yang sepi itu. "Harga yang terlalu murah untuk menukar nyawamu, Leon."
Leon menelan ludah kasar. Matanya melotot horor. "G-gue nggak tahu lo ngomongin apa! I-itu fitnah! Gue bisa jelasin ke Nyonya Valeria! Bawa gue ke Nyonya sekarang!"
"Itulah tepatnya niat saya," balas Kael santai.
Pria bertubuh raksasa itu berjongkok di depan Leon. Tangan Kael mencengkeram kerah kemeja mahal Leon dan mengangkat pria itu hingga wajah mereka sejajar.
"Nyonya sudah menunggu, tikus kecil. Tapi beliau minta saya tidak membawamu dalam keadaan mulus," bisik Kael dengan nada mematikan.
"Kael, t-tolong... gue bisa kasih lo uang! Setengah dari lima miliar itu buat lo, gimana?! Lepasin gue—AAAARGH!"
Ucapan Leon terputus oleh jeritan melengking yang menyayat hati.
Tanpa peringatan, tangan kiri Kael merogoh saku jaketnya, mengeluarkan pisau lipat tempur, lalu menancapkannya tepat menembus telapak tangan kanan Leon, memaku tangan pria itu ke pegangan tangga besi di sebelahnya.
Darah muncrat membasahi kemeja Leon. Pria itu menangis histeris, kesakitan luar biasa.
"Uangmu tidak berguna. Tangan kananmu ini terlalu gampang mengetik pesan untuk Viper. Sebaiknya kita lumpuhkan dulu," ucap Kael tanpa ekspresi, mencabut pisaunya dengan kasar.
Kael lalu menarik tubuh Leon yang meronta-ronta kesakitan, menyeret pria itu turun dari tangga layaknya menyeret sekarung sampah. Kepala Leon membentur anak tangga berulang kali, tapi Kael sama sekali nggak peduli. Otak Kael sudah terprogram hanya untuk memuaskan perintah ratunya.
Valeria menginginkan pengkhianat ini hidup-hidup untuk disiksa, maka Kael akan menyerahkannya hidup-hidup. Walau mungkin dengan beberapa tulang yang patah sebagai bonus darinya.
Malam itu, di bawah guyuran hujan, Kael memasukkan tubuh Leon yang setengah pingsan ke dalam bagasi sedan abu-abunya, menutup pintu bagasi dengan keras, lalu mengemudikan mobil itu membelah kegelapan kota, kembali menuju kaki takhta sang Ratu Mafia.