Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMAR BARU YASMIN
Dengan langkah yang masih terasa berat dan lutut yang berdenyut perih, Yasmin terpaksa menumpukan beban tubuhnya pada pegangan tangga marmer yang dingin, mengekor Arya di depannya.
Begitu tiba di lantai atas, mereka melintasi koridor luas di lantai atas yang tampak begitu puitis di bawah temaram lampu downlight. Lantai granitnya yang dipoles sempurna, menjadi cermin bagi bayangan mereka yang berjalan beriringan.
Di sana, ada ruang keluarga di lantai atas yang didominasi oleh sofa berwarna krem yang sangat besar, menghadap ke arah perapian modern yang memberikan sentuhan hangat di tengah desain rumah yang cenderung dingin dan minimalis. Yasmin merasa seperti sedang berjalan di dalam mimpi yang terlalu mewah untuk kenyataan hidupnya yang baru saja hancur.
"Mbok! Mbok Sari!" panggil Arya, suaranya menggema lembut di koridor yang sunyi.
Tak lama kemudian, dari arah depan—sebuah ruangan, muncul seorang wanita tua dengan rambut yang digelung rapi, mengenakan kebaya harian yang sederhana, wajahnya yang penuh kerutan memancarkan ketulusan yang menenangkan—sebuah kontras dari tatapan tajam Maura sebelumnya.
"Iya, Den Arya?" Mbok Sari menghentikan langkahnya, matanya langsung menangkap sosok Yasmin yang mengenaskan. Rasa iba seketika meluap di wajah tua itu saat melihat luka dan debu yang mengotori gadis di samping majikannya. "Eh, ada tamu. Ini..."
"Mbok, tolong siapkan kamar tamu yang paling ujung. Tolong juga siapkan air hangat dan pakaian bersih" perintah Arya lembut namun tak terbantahkan. "Tolong bantu dia juga untuk membersihkan diri, Mbok. Dia sedang terluka."
Mbok Sari mengangguk cepat, tangannya yang hangat segera meraih lengan Yasmin, menuntunnya dengan penuh kelembutan yang selama ini tidak pernah Yasmin rasakan. "Mari, Non."
Sebelum masuk ke dalam kamar, Yasmin sempat menoleh ke arah Arya yang masih berdiri di tengah koridor. Pria itu tampak begitu lelah, namun sorot matanya tetap menjaganya dengan protektif.
"Mas..." bisik Yasmin lirih.
"Istirahatlah, Yasmin," sahut Arya singkat. "Aku akan ada di bawah jika kamu butuh sesuatu. Malam ini, lupakan semua yang terjadi di luar sana."
"Sekali... aku ngucapin terimakasih sama kamu. Aku benar-benar..." kalimat Yasmin menggantung di udara, tertahan oleh isak yang nyaris pecah. Ia menatap punggung tegap Arya, mencoba menyalurkan seluruh rasa syukur yang tak mampu dirangkai kata-kata.
Namun, tanpa menunggu kalimat itu selesai, Arya langsung berbalik. Ia tidak membiarkan Yasmin tenggelam dalam rasa haru yang semakin menyakitkan. Langkah kakinya mantap, meninggalkan wanita itu kini di bawah penjagaan Mbok Sari yang sabar.
"Nama Non siapa?" tanya Mbok Sari lembut, suaranya yang parau khas orang tua seolah memecah kabut kesedihan yang menyelimuti Yasmin.
Yasmin tersentak kecil, lalu menelan saliva dengan susah payah sambil menyeka kasar sudut matanya yang masih basah. Ia mencoba mengatur napasnya yang sesak akibat tangis yang tertahan. "Sa-saya... Yasmin, Buk," jawabnya dengan suara yang masih bergetar.
Mbok Sari tersenyum tulus, jemarinya yang kasar namun hangat menepuk pelan punggung tangan Yasmin. "Panggil saja Mbok Sari, Non. Jangan panggil Ibu, nanti Simbok merasa jadi majikan," candanya ringan untuk mencairkan suasana.
Yasmin hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sangat lemah namun tulus. Rasa perih di hatinya sedikit teralihkan oleh keramahan Mbok Sari yang bersahaja di tengah kemegahan rumah yang terasa mengintimidasi ini.
"Mari Non, Simbok antar Non ke kamar." Kata Mbok Sari
Yasmin mengangguk pelan, membiarkan jemari Mbok Sari yang hangat dan kasar menuntun lengannya yang masih gemetar. Langkahnya masih pincang, meninggalkan jejak samar di atas lantai granit yang dingin. Mereka menyusuri koridor panjang yang dihiasi lukisan-lukisan abstrak bernilai seni tinggi. Setiap langkah yang Yasmin ambil terasa semakin menjauhkan dirinya dari kegelapan jalanan yang baru saja ia lalui, namun sekaligus membawanya masuk lebih dalam ke dunia Arya.
Mbok Sari lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna gelap yang kontras dengan dinding putih bersih di sekelilingnya. Saat pintu itu terbuka, aroma lavender dan linen bersih langsung menyergap indra penciuman Yasmin, memberikan rasa tenang yang asing namun sangat ia butuhkan.
"Ini kamar Non untuk sementara. Semoga Non betah ya," ujar Mbok Sari sambil menyalakan lampu nakas yang memancarkan pendar kuning hangat ke seluruh ruangan.
Yasmin terpaku di ambang pintu. Matanya menatap ranjang besar dengan bedcover tebal yang tampak begitu empuk. Sungguh, ia merasa tidak pantas menyentuh kemewahan ini dengan tubuhnya yang penuh luka dan trauma.
"Ayo masuk, Non. Jangan berdiri saja di situ. Kakinya pasti sakit sekali," Mbok Sari menuntun Yasmin duduk di tepi ranjang. "Simbok sudah siapkan air hangat di dalam. Non mandi dulu ya, biar badannya tidak kaku semua. Nanti Simbok siapkan baju ganti."
Yasmin menelan saliva, tenggorokannya masih terasa sesak oleh rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih, Mbok... Saya benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Mas Arya dan Mbok Sari."
"Tidak perlu dipikirkan, Non," Mbok Sari tersenyum, garis-garis keriput di wajahnya memancarkan keteduhan. "Den Arya itu... meski bicaranya irit, dia punya hati yang sangat peka dan juga tulus."
"Tunggu sebentar ya, Non." Lanjut Mbok Sari. "Simbok ambil baju buat Non Yasmin untuk dipindahkan ke sini. Sementara itu, Non bersih-bersih dulu saja," ucap Mbok Sari dengan nada yang sangat mengemong. Ia lalu melangkah menuju lemari besar berbahan kayu jati yang terpoles rapi di sudut ruangan. "Handuknya... ada di lemari ini ya, Non. Sudah bersih dan wangi,"
Yasmin mengangguk, "Sekali lagi... makasih ya, Mbok."
"Iya, Non. Sama-sama." Angguk Mbok Sari memutar tubuhnya pergi.
Kini, Yasmin hanya bisa menatap punggung Mbok Sari yang kemudian bergegas keluar kamar dengan langkah-langkah kecilnya yang cepat...
Cklek.
Begitu pintu tertutup rapat, keheningan di dalam kamar itu mendadak terasa begitu pekat. Yasmin perlahan berdiri, menyeret kakinya yang masih terasa kaku menuju lemari yang tadi dibuka oleh Mbok Sari.
Tangannya yang gemetar meraih sehelai handuk kuning pastel itu. Begitu kain lembut itu menyentuh kulitnya, Yasmin tak lagi bisa menahan diri. Ia membenamkan wajahnya ke dalam handuk yang beraroma lavender itu, membiarkan isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa suara.
"Aku gak nyangka, apakah aku sedang bermimpi atau tidak..." gumamnya isak. "Di antara orang-orang yang aku temui, pria itu justru yang membawaku ke istana semegah ini. Meski aku sadar, aku gak pantas ada disini."
Yasmin kemudian menoleh, langkahnya tertahan tepat di depan sebuah Cermin besar yang memanjang dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit kamar. Sosok di dalam cermin itu tampak seperti orang asing. Rambutnya yang biasanya terikat rapi kini kusut masai, menyampai bahu dengan helaian yang menempel karena keringat dan debu jalanan. Matanya yang sembab dan redup, memancarkan trauma yang masih segar.
"Tante Maura dan Mbak Freya..." Lirih Yasmin. "... mereka pantas bersikap itu padaku. Aku hanya orang asing yang datang membawa kekacauan di tengah keluarga mereka yang sempurna."
Yasmin menelan saliva dengan susah payah, merasakan tenggorokannya yang mencekik. Hinaan Maura dan Freya tentang "selera yang tragis" dan "gadis jalanan" bukan sekadar kata-kata tajam baginya, melainkan cermin dari ketakutan terbesarnya: bahwa ia memang tidak punya tempat di dunia yang seindah ini. Sungguh, ia merasa seperti noda hitam di atas gaun satin yang putih bersih.
****