Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM DI BANDUNG
Malam itu Arsa dan Wren duduk di teras hotel — hotel kecil di dekat pusat kota, teras lantai dua dengan pemandangan ke jalan yang lebih tenang dari Jakarta pada jam yang sama. Bandung malam punya cahaya yang berbeda — lebih kuning, lebih hangat, seperti kota yang belum sepenuhnya melepaskan suasana tahun-tahun sebelumnya.
Mereka memesan kopi dari room service yang terlambat datang tapi tidak ada yang komplain.
"Hari ini berat," kata Wren.
"Iya." Arsa memegang cangkir kopinya tanpa minum, jari-jarinya melingkari bagian bawah. "Tapi bukan berat yang buruk. Lebih ke berat yang seharusnya ada dari dulu."
"Bagaimana dengan percakapan dengan Ibu Sari di halaman?"
Arsa menatapnya. "Anda mendengar?"
"Tidak. Tapi saya melihat ekspresi Anda waktu masuk kembali ke rumah." Wren memiringkan kepala. "Seperti seseorang yang baru turun dari sesuatu yang cukup tinggi."
Arsa menceritakannya — tentang telepon Raka yang tidak dijawab, tentang yang tidak pernah dikatakan, tentang dua orang yang duduk di halaman dengan es teh yang akhirnya mencair karena terlalu lama dipegang.
Wren mendengarkan. Tidak menyela.
"Mbak saya," kata Arsa di akhir, "selama ini saya pikir ia yang paling tidak terpengaruh oleh kepergian Raka. Yang paling cepat kembali ke normal. Tapi ternyata ia hanya yang paling rapi menyimpannya."
"Cara menyimpan yang berbeda bukan berarti tidak terpengaruh," kata Wren.
"Saya tahu itu sekarang." Ia minum kopinya akhirnya. "Saya hanya butuh dua puluh menit di halaman belakang dengan kursi besi tua dan es teh untuk benar-benar mengertinya."
Wren tersenyum tipis. "Dan ibu Anda bicara ke saya di dapur."
"Tentang apa?"
"Tentang Anda."
Arsa menatapnya. "Hal apa?"
Wren mempertimbangkan seberapa banyak yang akan ia katakan. "Hal-hal yang baik," katanya akhirnya. "Hal-hal yang membuat saya mengerti lebih banyak dari dua bulan terakhir."
"Seperti apa?"
"Seperti fakta bahwa Anda tidak pernah cerita detail pekerjaan kepada ibu Anda. Sampai tentang pameran ini."
Arsa diam sebentar. "Ia cerita itu?"
"Ya."
Hening yang terasa seperti seseorang yang sedang memproses cermin yang baru disodorkan — tidak menghindar tapi butuh waktu untuk benar-benar melihat.
"Saya tidak sengaja tidak cerita," kata Arsa akhirnya. "Tapi saya juga tidak pernah sadar bahwa saya tidak cerita. Itu mungkin lebih mengkhawatirkan."
"Atau lebih manusiawi dari yang Anda kira." Wren meletakkan cangkirnya. "Kita sering tidak tahu apa yang kita tahan sampai ada seseorang yang menunjukkan bahwa kita sedang menahan."
Arsa menatapnya — dan Wren menyadari cara ia menatap itu bukan cara ia biasa menatap orang dalam percakapan. Bukan tatapan analitis dari seseorang yang sedang mengumpulkan informasi. Lebih langsung dari itu. Lebih personal.
"Wren," katanya. "Sesuatu yang ingin saya katakan."
Nada yang berbeda. Wren mengenalinya — nada yang sama dari malam ketika Arsa bilang seseorang yang spesifik di warung soto, tapi lebih mantap kali ini. Seperti seseorang yang sudah berpikir panjang dan memutuskan bahwa waktunya sekarang.
"Katakan," kata Wren. Satu kata yang menawarkan semua ruang yang diperlukan.
"Dua bulan terakhir," mulai Arsa, "saya bekerja dengan kisah orang-orang yang tidak sempat mengatakan hal yang penting. Dan setiap kali saya membaca surat Raka, membaca jurnal Pak Wahyu, membaca surat Dito — ada satu hal yang terus muncul." Ia menatap tangannya sebentar, lalu kembali ke Wren. "Bahwa kata-kata yang tidak diucapkan tidak hilang. Mereka hanya menumpuk di tempat yang semakin berat untuk dibawa."
Wren tidak bicara.
"Saya tidak mau membawa sesuatu yang seharusnya sudah diucapkan," lanjut Arsa. "Jadi saya akan bilang langsung: saya ingin ini — apapun ini — berlanjut. Bukan hanya pameran. Bukan hanya surat-surat. Saya ingin masih duduk di seberang Anda setelah semua proyek ini selesai." Ia berhenti sebentar. "Dan saya ingin itu bukan karena ada alasan lain selain karena saya ingin."
Malam Bandung berlanjut di bawah mereka — suara motor yang sesekali lewat, angin yang lebih sejuk dari Jakarta, bintang-bintang yang terlihat lebih banyak karena polusi cahayanya lebih sedikit.
Wren menatapnya dalam diam yang cukup panjang untuk membuat orang lain gelisah. Tapi Arsa sudah tahu bahwa diam Wren bukan penolakan — diam Wren adalah cara ia memastikan bahwa apa yang akan ia katakan adalah apa yang sebenarnya ia maksud.
"Saya sudah di seberang Anda," kata Wren akhirnya. "Sudah sejak minggu pertama. Saya hanya tidak yakin Anda ingin saya tetap di sana setelah semua ini selesai."
"Sekarang Anda yakin?"
"Sekarang saya yakin."
Bukan pernyataan besar. Bukan momen dramatis dengan musik latar dan pencahayaan yang sempurna. Hanya dua orang di teras hotel kecil di Bandung, dengan kopi yang semakin dingin, yang akhirnya berhenti berpura-pura bahwa hampir adalah cukup.
Arsa meletakkan tangannya di atas meja — terbuka, bukan memaksa, hanya ada. Dan Wren meletakkan tangannya di atasnya.
Tangan yang sudah sangat ia kenal dari cara ia memegang surat-surat, dari cara ia membuka amplop dengan hati-hati, dari cara ia membuat teh dengan presisi yang tidak ia terapkan pada hal lain.
Jari-jari yang interlaced.
"Raka menulis dua belas surat," kata Arsa pelan. "Saya hanya butuh satu kalimat."
Wren menunduk sebentar — menahan sesuatu di wajahnya, tapi Arsa melihat sudut bibirnya. "Anda sangat bangga dengan efisiensi itu."
"Sangat."
Wren mengangkat kepala. Dan kali ini ia tidak menahan apapun — senyum yang penuh dan nyata, jenis senyum yang Arsa belum pernah lihat sebelumnya karena selama ini selalu ada sesuatu yang sedikit tertahan. Tidak sekarang.
Arsa menyimpan senyum itu di tempat yang sama dengan cara Wren menutup laci dengan pelan, cara namanya terasa seperti kosakata sehari-hari, cara matanya bergerak ketika ia membaca sesuatu yang mengenai.
Di sana, di tempat yang sudah penuh dengan hal-hal yang tidak ia beri label.
Mereka kembali ke Jakarta Senin siang.
Dalam kereta, Wren tertidur di sebelah Arsa — bukan tidur pulas, lebih ke tidur setengah, dengan kepala yang sedikit miring ke arahnya dan napas yang teratur. Arsa tidak tidur. Ia menatap pemandangan Jawa Barat yang bergerak di luar jendela — sawah, perumahan, gunung-gunung yang berdiri di kejauhan — dan membiarkan dua hari terakhir menetap.
Dua bulan ini terasa seperti setahun dalam artian yang baik — bukan panjang yang melelahkan, tapi panjang yang padat. Penuh dengan hal-hal yang tidak bisa ia bayangkan dua bulan lalu ketika ia membuka kotak Pak Wahyu dan melihat foto tangan yang menggenggam di rumah sakit.
Wren bergumam sesuatu dalam tidurnya — tidak jelas, hanya suara. Arsa melirik ke arahnya.
Bahkan tertidur, ekspresi Wren tidak sepenuhnya istirahat — ada sesuatu di alisnya yang sedikit berkerut, cara seseorang yang otaknya tidak pernah benar-benar berhenti. Arsa menduga dalam tidurnya pun Wren sedang mendengarkan sesuatu, memproses sesuatu, menyimpan sesuatu.
Ia menarik selimut kereta yang tipis sedikit lebih ke arah Wren.
Lalu kembali menatap jendela.