Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Bunga Teratai di Atas Darah
Matahari mulai tergelincir di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan yang tampak seperti luka di langit di atas Hutan Azure. Li Chen masih berada di dalam gua tersembunyi, memproses sisa-sisa energi dari pedang giok Wang Hu yang telah ia hancurkan. Energi itu liar, tajam, dan sempat mencoba merobek pembuluh darahnya, namun pusaran hitam di Dantiannya menelan semuanya dengan rakus.
Tingkat Pengumpulan Qi Tahap Keempat... hampir menyentuh Tahap Kelima, pikir Li Chen.
Kecepatannya mengerikan. Jika seorang murid jenius membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk naik satu tahap, Li Chen melakukannya dalam hitungan jam. Namun, ia bisa merasakan beban mentalnya bertambah. Setiap kali ia menyerap energi secara paksa, emosi negatif—kemarahan, keserakahan, dan rasa sakit—dari pemilik asli energi tersebut seolah ikut menempel di jiwanya.
"Aku butuh air untuk membersihkan tubuh ini," gumamnya, mencium bau amis dari keringat hitam yang keluar dari pori-porinya.
Ia bergerak menuju arah timur, di mana suara gemericik air terjun terdengar samar. Langkahnya kini hampir tak bersuara, sebuah efek samping dari Seni Penelan Bintang yang mulai menyelaraskan frekuensi tubuhnya dengan kegelapan di sekitarnya.
Namun, semakin dekat ia ke sumber air, indranya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres. Bau darah. Bukan darah binatang buas yang amis dan tajam, melainkan bau darah manusia yang segar dan mengandung sisa-sisa Qi yang murni.
Li Chen bersembunyi di balik pohon Willow raksasa yang dahan-dahannya menjuntai ke sungai. Di tepi sungai yang jernih, ia melihat sesosok wanita.
Wanita itu mengenakan jubah sutra berwarna putih salju yang kini ternoda oleh bercak darah merah terang di bagian bahu dan perutnya. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan, sebagian basah oleh air sungai. Meskipun wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah, kecantikannya tampak tidak nyata—seperti dewi yang jatuh ke lumpur duniawi.
"Sial... racun ini..." wanita itu berbisik, suaranya lemah namun penuh wibawa.
Di depannya, tiga ekor Macan Bayangan—binatang buas tingkat dua yang setara dengan kultivator Pembersihan Sumsum—sedang mengitari dengan mata kuning yang lapar. Mereka tahu mangsa mereka terluka parah.
Li Chen mengamati dari bayang-bayang. Dantiannya bergetar. Wanita itu... auranya sangat kuat. Bahkan dalam keadaan sekarat, tekanan energinya membuat udara di sekitar sungai terasa berat. Li Chen bisa merasakan bahwa wanita ini setidaknya berada di ranah Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment) atau lebih tinggi.
Jika aku membiarkannya mati dan menelan energinya, aku mungkin bisa langsung melompat ke ranah Pembersihan Sumsum, pikiran gelap melintas di benak Li Chen. Itu adalah bisikan dari teknik terlarangnya.
Namun, ia juga melihat lencana giok yang tergantung di pinggang wanita itu. Lencana itu berbentuk bunga teratai hitam dengan sembilan kelopak.
Sekte Teratai Hitam? Li Chen terkejut. Itu adalah sekte besar dari wilayah selatan yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Sekte Pedang Azure. Apa yang dilakukan seorang petinggi Sekte Teratai Hitam di wilayah belakang pegunungan Azure?
Tepat saat itu, salah satu macan melompat maju. Wanita itu mencoba mengangkat tangannya untuk membentuk segel mantra, tetapi ia terbatuk darah dan serangannya gagal.
Grrr...
Tanpa berpikir panjang, sebuah insting lain dalam diri Li Chen mengambil alih. Bukan insting untuk membunuh, melainkan insting untuk bertaruh. Memiliki hutang budi dari seorang kultivator kuat jauh lebih berharga daripada sekadar menyerap energi dari mayatnya.
"Seni Penelan Bintang: Jaring Kegelapan!"
Li Chen melesat keluar dari bayang-bayang. Ia tidak menyerang macan itu dengan tangan kosong. Ia meraih rantai besi berkarat yang sempat ia temukan di Lembah Pedang Patah. Saat ia mengalirkan Qi hitamnya, rantai itu memanjang dan bergerak seperti ular berbisa.
SRAK!
Rantai itu melilit leher macan pertama. Li Chen menariknya dengan kekuatan penuh, menggunakan momentum berat tubuh macan itu untuk melemparkannya ke arah dua macan lainnya.
"Siapa?!" wanita itu menoleh, matanya yang tajam meski sayu menatap sosok pemuda berpakaian pelayan yang tiba-tiba muncul.
"Tetaplah diam jika Anda ingin hidup," jawab Li Chen dingin, tanpa menoleh.
Dua macan lainnya mengaum marah. Mereka menyadari bahwa manusia baru ini jauh lebih lemah secara kultivasi, tetapi memancarkan aura yang jauh lebih berbahaya dan menakutkan. Mereka menyerang bersamaan dari dua sisi.
Li Chen memejamkan mata sesaat. Ia membiarkan pusaran di perutnya terbuka lebar.
"Telan!"
Saat kedua macan itu menerjang, Li Chen tidak menghindar. Ia menangkap kepala salah satu macan dengan tangan kirinya, membiarkan taring tajam makhluk itu menusuk lengannya. Rasa sakit yang luar biasa menghujam, tapi Li Chen justru tersenyum gila. Kabut hitam meledak dari lengannya, merambat masuk ke dalam mulut macan itu.
Dalam hitungan detik, macan raksasa itu mulai mengering. Esensi hidupnya ditarik keluar melalui luka di lengan Li Chen. Macan satunya lagi yang menyerang dari sisi kanan terkena kibasan rantai hitam yang kini telah menyerap energi dari macan pertama.
BOOM!
Macan kedua terpental dengan tubuh yang hangus, seolah-olah seluruh energinya telah meledak di dalam. Macan ketiga, melihat kedua rekannya tewas dalam cara yang tidak masuk akal, segera memutar balik dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.
Li Chen terengah-engah. Lengannya berlumuran darah, tapi luka itu mulai menutup dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang saat energi binatang buas itu memperbaiki sel-sel tubuhnya.
Ia berbalik menuju wanita itu. Wanita itu menatapnya dengan campuran rasa terima kasih dan kecurigaan yang mendalam.
"Kultivasi macam apa itu..." bisik wanita itu. "Kau menggunakan teknik iblis... di dalam wilayah Sekte Pedang Azure?"
Li Chen berjalan mendekat, berhenti sekitar tiga langkah di depan wanita itu agar tidak memicu kewaspadaannya. "Teknik apa pun tidak masalah selama itu bisa membunuh. Dan sekarang, teknik 'iblis' inilah yang menyelamatkan nyawa Anda, Nona Teratai Hitam."
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meski dalam keadaan berdarah, tetap mampu menggetarkan jiwa siapa pun yang melihatnya. "Nama saya adalah Yue Yin. Dan kau benar... di dunia ini, hanya kekuatan yang nyata. Teknik hanyalah alat."
Yue Yin mencoba duduk tegak, namun ia meringis kesakitan. "Racun Pemakan Jiwa dari tetua sekte pengkhianatku sedang merusak Dantianku. Aku butuh tempat yang aman."
Li Chen menatapnya lama. Membantu wanita ini berarti ia akan terlibat dalam konflik tingkat tinggi yang jauh di atas levelnya saat ini. Namun, Kaisar Pedang di dalam kepalanya tiba-tiba berbicara.
"Bantu dia, Nak. Garis keturunannya... dia memiliki 'Tubuh Bulan Dingin'. Jika kau membantunya menekan racun itu dengan teknikmu, kau akan mendapatkan sisa energi bulan yang sangat murni untuk kultivasimu sendiri."
Li Chen mengangguk dalam hati. "Ikuti saya. Ada sebuah gua di belakang air terjun ini yang tidak diketahui oleh murid patroli."
Ia memapah Yue Yin. Tubuh wanita itu terasa sangat dingin, seperti es yang membeku. Saat kulit mereka bersentuhan, Li Chen merasakan energi Yin yang luar biasa kuat mencoba masuk ke tubuhnya. Tanpa sadar, Seni Penelan Bintang mulai berputar perlahan, menyeimbangkan hawa panas dari energi binatang buas yang baru saja ia serap dengan hawa dingin dari Yue Yin.
Di dalam gua air terjun, setelah memastikan keadaan aman, Li Chen mendudukkan Yue Yin di atas batu datar.
"Aku akan mencoba menarik racun itu keluar," kata Li Chen. "Tapi ini akan terasa sakit. Sangat sakit."
"Lakukan saja," jawab Yue Yin tegas. "Jika aku mati di tangan seorang pelayan kecil sepertimu, maka memang itulah takdirku."
Li Chen meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Yue Yin. Ia memejamkan mata dan mulai mengirimkan benang-benang Qi hitamnya masuk ke dalam tubuh wanita itu. Di dalam sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan: kabut hijau beracun sedang mencoba melahap Inti energi berwarna perak milik Yue Yin.
"Telan semuanya!" Li Chen memberikan perintah pada Dantiannya.
Proses itu dimulai. Kabut hijau—racun yang bahkan bisa membunuh seorang ahli Pembentukan Pondasi—mulai ditarik keluar oleh kekuatan Seni Penelan Bintang. Namun, bagi Li Chen, racun ini adalah nutrisi yang sangat pekat.
Wajah Li Chen berubah menjadi hijau keunguan saat racun itu mulai masuk ke tubuhnya sendiri. Namun, sebelum racun itu sempat merusak organ-organnya, pusaran hitamnya langsung menghancurkan struktur racun tersebut dan mengubahnya menjadi energi murni yang gelap.
Yue Yin mengerang, tubuhnya gemetar di bawah sentuhan Li Chen. Ia bisa merasakan beban yang selama ini menghimpit jiwanya perlahan terangkat. Ia menoleh sedikit, menatap profil wajah Li Chen yang penuh konsentrasi dan penderitaan demi menyelamatkannya.
Siapa pemuda ini? pikir Yue Yin. Dia hanya seorang pelayan dengan tingkat kultivasi rendah, tapi dia memiliki keberanian untuk menelan racun tingkat tinggi dan memiliki teknik yang menantang akal sehat.
Beberapa jam berlalu hingga bulan mencapai puncaknya di langit. Li Chen akhirnya menarik tangannya. Ia memuntahkan gumpalan darah berwarna hijau pekat ke lantai gua. Napasnya berat, tapi matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.
Tahap Kelima Pengumpulan Qi.
Dan bukan hanya itu, karena ia baru saja menyerap sisa-sisa energi bulan dari Yue Yin, meridiannya sekarang memiliki kilauan perak yang halus, memberikan ketahanan terhadap serangan berbasis es.
Yue Yin menghela napas lega. Warna di wajahnya kembali normal. Ia meraba dadanya, merasakan energinya mulai pulih.
"Kau... kau benar-benar melakukannya," Yue Yin menatap Li Chen dengan tatapan yang kini jauh lebih lembut. Ia melepas sebuah cincin giok dari jarinya dan melemparkannya ke arah Li Chen.
"Itu adalah Cincin Ruang. Di dalamnya ada beberapa batu energi tingkat menengah dan sebuah teknik gerakan kaki dari sekteku sebagai tanda terima kasih awal," kata Yue Yin. Ia bangkit berdiri dengan anggun, luka-lukanya sudah mulai menutup.
"Kenapa memberiku begitu banyak?" tanya Li Chen sambil menangkap cincin itu.
"Karena aku berencana untuk membuatmu berhutang lebih banyak padaku," Yue Yin tersenyum misterius. "Sekte Pedang Azure tidak akan menjadi tempat yang aman bagimu setelah apa yang kau lakukan pada murid bernama Wang Hu itu. Aku bisa merasakannya... badai sedang datang mencarimu."
Yue Yin berjalan menuju pintu keluar gua, lalu berhenti sejenak. "Cari aku di Kota Awan Jatuh dalam waktu tiga bulan jika kau masih hidup. Dunia ini akan segera berubah, Li Chen, dan orang sepertimu harus memilih sisi."
Dengan satu lompatan ringan, Yue Yin menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan aroma bunga teratai yang harum di dalam gua yang lembap itu.
Li Chen menatap cincin di tangannya, lalu ke arah telapak tangannya yang masih bergetar karena energi yang baru ia serap. Ia tahu, mulai malam ini, takdirnya bukan lagi sekadar pelayan yang mencari balas dendam. Ia baru saja menarik perhatian salah satu pemain besar di papan catur benua ini.
"Kota Awan Jatuh..." gumam Li Chen. "Aku akan ke sana. Tapi sebelum itu, aku punya urusan yang belum selesai dengan Sekte Azure."
Ia duduk kembali untuk bermeditasi. Di dalam kegelapan gua, di bawah suara gemuruh air terjun, seorang iblis baru sedang memperkuat sayapnya.