NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan Dapur Tengah Malam

Pukul dua dini hari adalah waktu di mana dunia seolah-olah menahan napas. Di lantai dua belas apartemen itu, kesunyian terasa begitu padat, hanya dipecah oleh dengung halus lemari es dan detak jam dinding di ruang tamu. Sinta terbangun dengan tenggorokan yang terasa sekering gurun pasir. Mimpi buruk tentang tumpukan berkas audit yang berubah menjadi monster pengejar—mungkin manifestasi stresnya di kantor akhir-akhir ini—memaksanya untuk bangun dan mencari air minum.

Ia berjalan berjinjit, membiarkan kakinya merasakan dinginnya lantai marmer. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seberkas cahaya temaram muncul dari arah dapur. Lampu gantung di atas meja makan kecil mereka menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Di sana, duduk sesosok pria yang biasanya terlihat sangat tegap dan angkuh di kantor. Jingga. Ia hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek basket, rambutnya berantakan, dan matanya menatap kosong ke arah sebuah cangkir kosong di depannya. Ia tampak... rapuh. Sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan di bawah lampu neon kantor Divisi Kredit.

"Nggak bisa tidur juga?" tanya Sinta pelan, hampir berbisik agar tidak mengejutkan keheningan malam.

Jingga tersentak kecil, bahunya menegang sesaat sebelum kembali rileks saat menyadari siapa yang datang. "Haus. Terus tanggung, kepikiran kerjaan."

Sinta berjalan menuju dispenser, mengisi gelasnya dengan air dingin, lalu duduk di kursi seberang Jingga. Ia tidak langsung kembali ke kamar. Ada magnet tak terlihat yang menahannya di sana. "Kerjaan yang mana? Audit triwulan yang bikin lu pusing tujuh keliling itu?"

Jingga menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat lelah. "Bukan cuma itu. Gue ngerasa... gue kayak lagi jalan di atas tali jemuran, Sin. Di kantor, gue harus pura-pura nggak kenal sama istri gue sendiri. Di rumah, gue harus pura-pura kalau semua ini cuma kontrak bisnis. Kadang gue lupa, Jingga yang asli itu yang mana."

Sinta terpaku. Ia memutar-mutar gelas di tangannya, merasakan dinginnya kaca meresap ke telapak tangannya. "Gue juga. Kadang pas Mas Adrian pegang tangan gue di kantor, gue ngerasa bersalah banget. Tapi pas gue pulang ke sini dan lihat lu, gue ngerasa... aneh. Kayak gue punya dua dunia yang nggak akan pernah bisa nyambung."

Jingga mendongak, menatap mata Sinta di bawah temaram lampu kuning. "Lu beneran suka sama dia? Pak Adrian?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa filter, tanpa ejekan ketus yang biasanya menyertai pembicaraan mereka. Sinta terdiam cukup lama. Ia mencoba mencari jawaban di dalam hatinya yang paling dalam.

"Dia baik, Jingga. Dia tipe pria yang gue bayangkan bakal jadi suami gue dulu. Rapi, perhatian, punya rencana masa depan yang jelas," jawab Sinta jujur. "Tapi... makin ke sini, gue ngerasa perhatiannya itu kayak beban. Kayak dia sayang sama 'citra' gue sebagai staf teladan, bukan sama Sinta yang kalau bangun tidur rambutnya kayak singa dan suka makan mi instan tengah malam."

Jingga tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mengandung sinisme. "Yah, setidaknya gue tahu Sinta yang versi singa itu. Dan sejujurnya, itu lebih manusiawi daripada Sinta yang pakai blazer kaku di kantor."

Sinta tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat jernih di tengah malam. "Terus lu sendiri? Gimana sama Luna? Dia kelihatan sayang banget sama lu."

Jingga menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit dapur. "Luna itu tulus. Terlalu tulus sampai gue ngerasa jadi bajingan setiap kali gue bohongin dia. Dia pengen masa depan yang normal, Sin. Rumah kecil dengan pagar putih, anak-anak yang lucu, dan suami yang pulang jam lima sore. Gue nggak bisa kasih itu. Bukan karena gue nggak mau, tapi karena... hidup gue udah terlanjur rumit gara-gara perjodohan gila ini."

"Apa impian lu yang sebenernya, Jingga? Lu nggak mungkin mau selamanya jadi auditor yang kerjaannya nyari kesalahan orang lain, kan?" tanya Sinta penuh rasa ingin tahu.

Jingga terdiam sejenak, seolah sedang menggali ingatan yang sudah lama ia kubur. "Gue pengen punya bengkel restorasi motor klasik. Gue suka mesin. Mesin itu jujur, Sin. Kalau rusak, lu perbaiki bagian yang salah, dia bakal jalan lagi. Nggak kayak manusia yang kalau rusak hatinya, lu nggak tahu harus ganti sparepart yang mana."

Sinta menopang dagunya dengan tangan, menatap Jingga dengan pandangan baru. "Bengkel motor? Lu serius? Lu yang rapi begini mau belepotan oli tiap hari?"

"Kenapa nggak? Gue rasa itu jauh lebih membahagiakan daripada liatin angka yang nggak ada habisnya," balas Jingga. "Kalau lu? Impian lu apa? Selain jadi direktur bank?"

"Gue pengen punya toko bunga dan toko buku jadi satu. Florist-cum-library. Gue pengen orang-orang datang bukan cuma buat beli bunga, tapi buat ngerasain tenang. Gue pengen hidup yang... nggak buru-buru. Nggak dikejar deadline, nggak dikejar target nasabah."

Mereka berdua terdiam, membiarkan impian-impian itu menggantung di udara dapur yang sempit. Untuk pertama kalinya, mereka tidak bicara sebagai rekan kerja yang bersaing, atau sebagai pasangan yang terjebak. Mereka bicara sebagai dua jiwa yang sama-sama lelah dengan tuntutan dunia.

"Sin," panggil Jingga pelan.

"Ya?"

"Makasih ya buat kopinya tiap pagi. Gue nggak pernah bilang, tapi... itu bagian terbaik dari hari-hari gue belakangan ini. Pas gue minum kopi lu, gue ngerasa... siap buat sandiwara lagi."

Dada Sinta bergetar lembut. Pujian itu terasa lebih berarti daripada kenaikan bonus tahunan yang ia terima bulan lalu. "Sama-sama. Makasih juga udah mau benerin mesin cuci dan... nggak terlalu sering protes soal masakan gue yang kadang keasinan."

Jingga terkekeh. "Emang asin banget sih yang kemarin. Tapi nggak apa-apa, gue jadi lebih banyak minum air putih, sehat buat ginjal."

Sinta memukul pelan lengan Jingga. "Hih! Masih aja sempet-sempetnya ngeledek!"

Suasana menjadi lebih santai. Sinta beranjak dari kursinya, membuka lemari kabinet, dan mengeluarkan sebungkus biskuit gandum. Ia membaginya dengan Jingga. Di bawah lampu dapur yang remang-remang, mereka makan biskuit bersama seperti dua orang sahabat lama yang sedang berkemah.

"Lu tahu nggak," ucap Sinta sambil mengunyah biskuitnya, "tadi di kantor, pas Pak Adrian tanya soal Tante Lastri, gue hampir aja keceplosan manggil dia 'Mama'. Untung gue cepet-cepet batuk."

Jingga tertawa, kali ini lebih keras. "Lu emang buruk banget kalau soal akting, Sin. Untung Pak Adrian itu tipe yang terlalu percaya sama lu, jadi dia nggak curiga."

"Tapi Luna curiga, Jingga. Gue bisa lihat dari matanya. Dia itu pinter, dia ngerasa ada yang aneh antara kita berdua," Sinta menghela napas, rasa khawatir kembali menyelinap.

Jingga terdiam, raut wajahnya kembali serius. "Gue tahu. Gue juga ngerasain itu. Makanya gue coba buat lebih jaga jarak sama lu kalau di kantor. Tapi... makin gue jaga jarak, makin gue pengen tahu lu lagi ngapain, lu udah makan siang apa belum, atau lu lagi pusing gara-gara nasabah mana lagi."

Sinta menatap Jingga lekat-lekat. "Kenapa?"

Jingga tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas kosongnya, memutar-mutarnya di atas meja. "Mungkin karena lu satu-satunya orang yang tahu rahasia terbesar gue. Dan entah gimana, rahasia itu bikin gue ngerasa... terikat sama lu lebih dari sekadar surat nikah di laci itu."

Malam semakin larut, namun mereka seolah tidak ingin obrolan itu berakhir. Dalam temaram dapur, mereka menceritakan hal-hal kecil lainnya—ketakutan Sinta pada kecoa, kebencian Jingga pada aroma durian, hingga lagu-lagu lama yang diam-diam mereka berdua sukai.

Tanpa mereka sadari, mereka sedang membangun jembatan. Jembatan yang tidak terbuat dari semen atau baja, melainkan dari kata-kata jujur yang hanya bisa diucapkan saat dunia sedang tertidur. Di dapur itu, mereka bukan lagi Jingga si Auditor dingin atau Sinta si Staf Kredit ambisius. Mereka hanya dua manusia yang sedang mencoba memahami satu sama lain.

"Dah, tidur yuk. Besok kita harus bangun pagi lagi," ajak Sinta akhirnya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih lima belas.

"Lu duluan aja. Gue mau cuci gelas dulu," balas Jingga.

Sinta berdiri, namun sebelum ia melangkah pergi, ia berhenti di samping kursi Jingga. Tanpa sadar, ia menepuk bahu pria itu lembut. "Jangan terlalu dipikirin kerjaannya. Lu auditor hebat, Jingga. Bengkel motor itu... suatu saat pasti bakal terwujud."

Jingga menoleh, menatap tangan Sinta di bahunya, lalu beralih ke wajah wanita itu. "Makasih, Sin. Lu juga... toko bunga lu pasti bakal cantik banget."

Sinta tersenyum, lalu berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi. "Oiya, besok pagi kopinya mau pake biji yang Flores atau Gayo?"

Jingga tersenyum, senyum tulus yang membuat matanya ikut mengecil. "Flores aja. Gue butuh yang agak kuat buat ngadepin Mas Adrian besok."

Sinta tertawa dan menutup pintu kamarnya. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa malam ini, sesuatu telah berubah secara permanen. Mereka telah berbagi sisi yang paling gelap dan paling terang dari diri mereka.

Di dapur, Jingga mencuci gelas dengan gerakan perlahan. Ia merasakan sisa kehangatan dari tepukan tangan Sinta di bahunya. Ia menyadari bahwa di apartemen ini, di tengah segala keterpaksaan dan sandiwara, ia telah menemukan sesuatu yang tidak pernah ia cari: seorang teman cerita yang memahami pahitnya kopinya dan manisnya impiannya.

Hujan rintik-rintik mulai turun di luar jendela, membasahi jalanan Jakarta yang sepi. Di dalam apartemen 12-B, dua orang yang terpaksa menikah itu akhirnya bisa tidur dengan sedikit lebih tenang, tahu bahwa di tengah badai rahasia yang mereka jalani, mereka punya satu sama lain untuk sekadar berbagi obrolan di dapur tengah malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!