Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

BAB 1 - MALAM YANG SALAH

Lily tidak pernah berencana memergoki mereka. Dia cuma mau ambil selimut cadangan dari lemari di lorong belakang, karena malam itu angin masuk dari celah jendela dapur dan dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Besok dia akan menikah. Seharusnya malam ini dia tidak bisa tidur karena gugup, karena senang, karena semua perasaan yang wajar dirasakan perempuan di malam terakhirnya sebagai gadis.

Tapi yang Lily rasakan justru gelisah yang berbeda. Gelisah yang tidak punya nama.

Dia sudah coba pejamkan mata dari jam sembilan. Tidak bisa. Dia coba hitung napas seperti yang pernah dia baca di majalah bekas milik ibu tirinya. Tidak mempan. Akhirnya dia bangkit, ambil cardigan tipis yang tergantung di balik pintu, dan berjalan keluar kamar dengan kaki telanjang.

Kamarnya di pojok paling belakang rumah. Sudah dari dulu begitu, sejak Tante Sari dan Nindi datang tujuh tahun lalu. Kamar Lily yang tadinya di lantai dua dipindah ke sini dengan alasan "biar lebih dekat dapur, kan kamu yang paling sering masak." Ayahnya tidak protes. Lily juga tidak. Waktu itu dia baru empat belas tahun dan sudah terlatih untuk tidak protes.

Lorong belakang gelap. Lily tidak nyalakan lampu, sudah hafal jalurnya di luar kepala. Tapi di ujung lorong, ada cahaya tipis keluar dari bawah pintu kamar tamu.

Lily berhenti.

Kamar tamu seharusnya kosong. Tidak ada tamu malam ini. Semua persiapan pernikahan sudah selesai, dekorasi sudah dipasang di aula, keluarga Dimas sudah pulang tadi sore setelah makan malam bersama. Tidak ada alasan ada orang di sana.

Dia hampir melanjutkan langkah.

Hampir.

Sampai dia dengar suara Nindi. Bukan suara bicara. Tapi cukup untuk membuat perut Lily langsung dingin.

Dia berdiri di depan pintu itu selama dua detik yang terasa seperti dua tahun. Tangannya naik sendiri, menyentuh permukaan kayu pintu yang dingin. Pikirannya bilang jangan buka. Kakinya sudah tidak bisa diajak mundur.

Lily membuka pintu.

Yang dia lihat pertama adalah punggung Dimas.

Yang dia lihat kedua adalah wajah Nindi yang langsung memucat, lalu dalam sepersekian detik berubah menjadi sesuatu yang bukan rasa malu... melainkan rasa jengkel karena terganggu.

Dunia Lily berhenti.

Bukan dramatis. Bukan seperti di sinetron yang pernah dia tonton diam-diam sambil menggosok baju Tante Sari. Tidak ada musik. Tidak ada slow motion. Hanya hening yang tiba-tiba sangat penuh, sampai Lily bisa dengar suara darahnya sendiri berdesir di telinga.

Dimas berbalik. Mukanya merah. Matanya ... mata yang kemarin menatap Lily dan bilang "besok kamu jadi milik aku selamanya", sekarang menghindari pandangannya.

Lily berdiri di ambang pintu. Cardigan tipisnya tiba-tiba terasa tidak ada gunanya.

"Lily---" Dimas mulai bicara.

"Keluar," kata Nindi.

Lily menatap saudara tirinya itu. Nindi sudah duduk tegak, menarik selimut ke atas tubuhnya, rambutnya berantakan tapi dagunya terangkat seperti tidak ada yang salah. Seperti Lily yang salah karena sudah masuk ke sini.

"Apa?" suara Lily keluar sendiri. Pelan. Aneh rasanya di telinga sendiri.

"Kamu keluar," Nindi mengulang. Lebih keras. "Kamu ganggu."

Sesuatu di dada Lily, sesuatu yang hangat dan berdenyut yang selama ini dia jaga baik-baik mulai retak dari pinggirnya.

"Nin," Dimas akhirnya bicara, tapi nada suaranya bukan nada orang yang membela. Lebih ke nada orang yang minta situasinya tidak makin runyam.

"Mas Dimas." Suara Lily keluar lebih stabil dari yang dia kira. "Jelaskan."

Dimas akhirnya menatapnya. Di matanya ada sesuatu yang membuat Lily lebih sakit dari pemandangan yang baru saja dia lihat ... kelegaan. Seolah dia sudah lama menunggu ini terjadi dan sekarang beban itu akhirnya bisa dia lempar.

"Aku minta maaf, Lily. Kami... ini sudah lama. Jauh sebelum kamu dan aku..."

"Tiga tahun," Nindi memotong, suaranya datar. "Kami sudah tiga tahun. Lebih panjang dari kamu."

Lily tidak bergerak.

"Dan aku hamil," lanjut Nindi. Kali ini tanpa nada apa-apa. Seperti laporan cuaca. "Empat bulan. Jadi kamu yang harus pergi, Lily. Bukan kami."

Tiga kalimat itu masuk ke kepala Lily satu per satu, seperti palu yang dipukulkan dengan sabar dan teratur.

Tiga tahun. Lebih panjang dari kamu.

Empat bulan.

Kamu yang harus pergi.

"Kami saling mencintai," kata Dimas pelan. Seperti itu harusnya jadi penjelasan yang cukup. "Kamu pasti bisa ngerti, kan?"

Lily akhirnya bergerak. Dia mundur satu langkah. Dua langkah. Tangannya memegang kusen pintu karena lantai tiba-tiba terasa miring.

Lalu dia dengar langkah kaki dari ujung lorong yang lain. Ayahnya berdiri di sana dengan wajah yang sudah tahu.

Itu yang paling menyakitkan. Bukan ekspresi terkejut, bukan marah, bukan malu. Wajah ayahnya adalah wajah orang yang sudah tahu dan sudah memilih, dan sekarang cuma menunggu Lily menyelesaikan reaksinya supaya semuanya bisa dibereskan dengan rapi.

"Lily," kata ayahnya.

"Ayah tahu?" suaranya pecah di kata terakhir.

Ayahnya tidak menjawab. Itu sendiri sudah jawaban.

"Sudah. Masuk kamar."

"Ayah---"

"Masuk kamar!"

Lily tidak masuk kamar. Lily berlari.

Dia tidak tahu mau ke mana. Kakinya membawa dia melewati dapur, melewati pintu belakang yang tidak pernah dikunci, keluar ke halaman belakang yang gelap dan berbau tanah basah karena sore tadi sempat hujan. Angin malam menghantam mukanya dan Lily baru sadar dia menangis. Bukan isak tangis yang cantik tapi tangis yang jelek dan berisik dan tidak dia rencanakan sama sekali.

Di belakangnya pintu dibuka keras.

"Lily! Kamu mau ke mana?!" suara ayahnya.

Lily terus lari. Tapi halamannya tidak besar, dia tersandung batu yang tidak kelihatan di gelap. Lututnya menghantam tanah, tangannya menahan jatuh di atas tanah basah. Dinginnya langsung menggigit telapak tangannya.

Dia dengar langkah ayahnya mendekat. Lalu suara ibu tirinya dari pintu belakang.

"Pak, sudah. Suruh dia masuk gudang saja dulu. Biar besok kita bereskan baik-baik."

Gudang.

Gudang tua di pojok belakang yang sudah tidak terpakai bertahun-tahun. Yang pintunya berkarat dan di dalamnya cuma ada kardus lama, perabot rusak, dan bau apek yang tidak pernah hilang.

Lily tidak sempat protes. Ayahnya menarik lengannya berdiri, menggiring dia ke pintu gudang yang geraknya berat saat dibuka, dan Lily masuk atau lebih tepatnya didorong masuk ... sebelum pintu itu ditutup dari luar.

Suara gerendel dipasang.

Lalu hening.

Lily duduk di lantai gudang yang dingin. Lututnya masih sakit. Telapak tangannya penuh tanah. Di luar, suara langkah kaki ayahnya menjauh.

Gelap di sini. Gelap yang pekat.

Lily memeluk lututnya sendiri dan mencoba bernapas.

Besok harusnya hari pernikahannya. Sekarang dia dikurung di gudang seperti...

Seperti apa?

Seperti pembantu yang kurang ajar. Seperti anak yang tidak punya hak. Seperti debu yang terlanjur kena angin dan sekarang harus disapu balik ke sudut.

Lily menundukkan kepala ke atas lututnya.

Lalu dia melihatnya.

Di sudut paling belakang gudang, di balik tumpukan kardus yang miring, ada garis cahaya. Tipis. Hampir tidak kelihatan kalau Lily tidak sedang duduk di posisi ini, di ketinggian ini, dengan sudut pandang yang persis seperti ini.

Cahaya kuning keemasan. Dari balik dinding batu.

Lily mengerjap. Mengusap matanya dengan punggung tangan yang kotor.

Cahaya itu masih ada.

Dia bangkit. Kakinya membawa dia ke sana sebelum pikirannya sempat memutuskan apapun. Menyingkirkan satu kardus, lalu dua, lalu melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan itu.

Sebuah pintu kecil. Setinggi bahunya. Dari kayu tua yang catnya sudah mengelupas. Dengan gagang besi berkarat yang bentuknya seperti tangan mengepal.

Dan dari bawahnya, dari celah tipis antara kayu dan lantai batu ... cahaya itu keluar. Hangat. Stabil. Seperti ada matahari kecil di balik sana.

Lily meletakkan tangannya di gagang pintu.

Dingin.

Lalu tiba-tiba tidak dingin lagi, justru hangat seperti ada yang memegang tangannya dari sisi yang lain.

Dan dari balik pintu itu, perlahan, seperti suara yang datang dari dalam kepala sendiri.

"Kamu mau apa?"

Lily menelan ludah.

Tangannya tidak lepas dari gagang pintu itu.

Terpopuler

Comments

Bunda tambun

Bunda tambun

𝒊𝒛𝒊𝒏 𝒃𝒄 𝒍𝒈 𝒚𝒂 𝒕𝒉𝒐𝒓, 𝒃𝒓𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒔 𝒃𝒄 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂𝒎𝒖 𝒍𝒈 𝒕𝒉𝒐𝒓

2026-05-03

1

Fia Ayu

Fia Ayu

Baru bab awal dah bikin emosi dan sakit hati😥

2026-03-04

1

WeGe

WeGe

bab awal sudah syuka 🤗

2026-03-03

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 - MALAM YANG SALAH
2 BAB 2 - ANAK YANG TIDAK DIPILIH
3 BAB 3 - TIGA TAHUN YANG BOHONG
4 BAB 4 - SEBELUM SEMUANYA HANCUR
5 BAB 5 - HADIAH PERTAMA
6 BAB 6 - PENGUMUMAN TANPA MALU
7 BAB 7 - PAMAN YANG TIDAK ADA DI FOTO
8 BAB 8 - TAMU YANG TIDAK DIUNDANG
9 BAB 9 - YANG BERJALAN DI MALAM HARI
10 BAB 10 - PRIA YANG DATANG MEMINTA MAAF
11 BAB 11 - SURAT DARI ORANG YANG SUDAH PERGI
12 BAB 12 - MATA YANG MENGAWASI
13 BAB 13 - DIAM YANG DIPILIH
14 BAB 14 - MERAWAT MUSUH
15 BAB 15 - PAK SYARIF
16 BAB 16 - MEMBACA ORANG
17 BAB 17 - KERABAT JAUH YANG TAHU TERLALU BANYAK
18 BAB 18 - TAMU YANG MEMBUAT AYAH TAKUT
19 BAB 19 - DOKUMEN PERTAMA
20 BAB 20 - BERDIRI DI DEPAN CERMIN
21 BAB 21 - KELUAR PERTAMA KALI
22 BAB 22 - NOTARIS
23 BAB 23 - HARI NINDI MELAHIRKAN
24 BAB 24 - YANG TIDAK PERLU DIUCAPKAN
25 BAB 25 - IRREGULARITAS
26 BAB 26 - CATATAN RAPI
27 BAB 27 - KETAHUAN SETENGAH
28 BAB 28 - MAKAN MALAM DAN SEJARAH
29 BAB 29 - FITNAH YANG TERENCANA
30 BAB 30 - API YANG DIATUR
31 BAB 31 - DAFTAR PERTAMA
32 BAB 32 - KERJA PERTAMA
33 BAB 33 - DUA KEHIDUPAN
34 BAB 34 - RAKA
35 BAB 35 - NINDI YANG BERUBAH
36 BAB 36 - SURAT DI DALAM SURAT
37 BAB 37 - SURAT NENEK
38 BAB 38 - SEJARAH RUANG
39 BAB 39 - AYAH YANG SAKIT
40 BAB 40 - YANG LILY MAU
41 BAB 41 - PERTEMUAN BISNIS PERTAMA
42 BAB 42 - MAKAN SIANG DENGAN REINALDO
43 BAB 43 - SEMUA JALUR TERBUKA
44 BAB 44 - PENGAKUAN AYAH
45 BAB 45 - GUGATAN RESMI
46 BAB 46 - NINDI YANG MEMILIH
47 BAB 47 - SEPULUH HARI
48 BAB 48 - TIGA PULUH TAHUN
49 BAB 49 - BOCOR
50 BAB 50 - SEBELUM BADAI
51 BAB 51 - NAMA DI BERITA
52 BAB 52 - MALAM SEBELUM SIDANG
53 BAB 53 - SIDANG PERTAMA
54 BAB 54 - PESAN DARI LORONG
55 BAB 55 - JEJAK YANG DIBERSIHKAN
56 BAB 56 - DUA MINGGU TERAKHIR
57 BAB 57 - SIDANG KEDUA
58 BAB 58 - SUDUT YANG SEMPIT
59 BAB 59 - MALAM DI GUDANG
60 BAB 60 - SIDANG KETIGA
61 BAB 61 - YANG TAK TERDUGA
62 BAB 62 - KABAR DARI RUMAH SAKIT
63 BAB 63 - PERTEMUAN TERAKHIR
64 BAB 64 - SIDANG KEEMPAT
65 BAB 65 - DUA MINGGU MENUNGGU
66 BAB 66 - SEBELUM PUTUSAN
67 BAB 67 - PUTUSAN
68 BAB 68 - SETELAH PUTUSAN
69 BAB 69 - AWAL YANG BARU
70 BAB 70 - MAKAN MALAM
71 BAB 71 - SISA-SISA HARAPAN
72 BAB 72 - TITIK DIDIH
73 BAB 73 - CAP ORANG GILA
74 BAB 74 - SISA ABU
75 BAB 75 - DARAH DAN KEBENARAN
76 BAB 76 - RATU DI BALIK LAYAR
77 BAB 77 - ANTARA NYAWA DAN DENDAM
78 BAB 78 - KUNCI MENUJU MASA LALU
79 BAB 79 - BAYANGAN MASA LALU
80 BAB 80 - PUNCAK MENARA KACA
81 BAB 81 - ASAL-USUL YANG TERLUKA
82 BAB 82 - DASAR YANG TERSEMBUNYI
83 BAB 83 - TAHTA YANG BERDARAH
84 BAB 84 - PENJAGA TERAKHIR
85 BAB 85 - MAWAR YANG MEKAR SEMPURNA
86 Afterword Author
Episodes

Updated 86 Episodes

1
BAB 1 - MALAM YANG SALAH
2
BAB 2 - ANAK YANG TIDAK DIPILIH
3
BAB 3 - TIGA TAHUN YANG BOHONG
4
BAB 4 - SEBELUM SEMUANYA HANCUR
5
BAB 5 - HADIAH PERTAMA
6
BAB 6 - PENGUMUMAN TANPA MALU
7
BAB 7 - PAMAN YANG TIDAK ADA DI FOTO
8
BAB 8 - TAMU YANG TIDAK DIUNDANG
9
BAB 9 - YANG BERJALAN DI MALAM HARI
10
BAB 10 - PRIA YANG DATANG MEMINTA MAAF
11
BAB 11 - SURAT DARI ORANG YANG SUDAH PERGI
12
BAB 12 - MATA YANG MENGAWASI
13
BAB 13 - DIAM YANG DIPILIH
14
BAB 14 - MERAWAT MUSUH
15
BAB 15 - PAK SYARIF
16
BAB 16 - MEMBACA ORANG
17
BAB 17 - KERABAT JAUH YANG TAHU TERLALU BANYAK
18
BAB 18 - TAMU YANG MEMBUAT AYAH TAKUT
19
BAB 19 - DOKUMEN PERTAMA
20
BAB 20 - BERDIRI DI DEPAN CERMIN
21
BAB 21 - KELUAR PERTAMA KALI
22
BAB 22 - NOTARIS
23
BAB 23 - HARI NINDI MELAHIRKAN
24
BAB 24 - YANG TIDAK PERLU DIUCAPKAN
25
BAB 25 - IRREGULARITAS
26
BAB 26 - CATATAN RAPI
27
BAB 27 - KETAHUAN SETENGAH
28
BAB 28 - MAKAN MALAM DAN SEJARAH
29
BAB 29 - FITNAH YANG TERENCANA
30
BAB 30 - API YANG DIATUR
31
BAB 31 - DAFTAR PERTAMA
32
BAB 32 - KERJA PERTAMA
33
BAB 33 - DUA KEHIDUPAN
34
BAB 34 - RAKA
35
BAB 35 - NINDI YANG BERUBAH
36
BAB 36 - SURAT DI DALAM SURAT
37
BAB 37 - SURAT NENEK
38
BAB 38 - SEJARAH RUANG
39
BAB 39 - AYAH YANG SAKIT
40
BAB 40 - YANG LILY MAU
41
BAB 41 - PERTEMUAN BISNIS PERTAMA
42
BAB 42 - MAKAN SIANG DENGAN REINALDO
43
BAB 43 - SEMUA JALUR TERBUKA
44
BAB 44 - PENGAKUAN AYAH
45
BAB 45 - GUGATAN RESMI
46
BAB 46 - NINDI YANG MEMILIH
47
BAB 47 - SEPULUH HARI
48
BAB 48 - TIGA PULUH TAHUN
49
BAB 49 - BOCOR
50
BAB 50 - SEBELUM BADAI
51
BAB 51 - NAMA DI BERITA
52
BAB 52 - MALAM SEBELUM SIDANG
53
BAB 53 - SIDANG PERTAMA
54
BAB 54 - PESAN DARI LORONG
55
BAB 55 - JEJAK YANG DIBERSIHKAN
56
BAB 56 - DUA MINGGU TERAKHIR
57
BAB 57 - SIDANG KEDUA
58
BAB 58 - SUDUT YANG SEMPIT
59
BAB 59 - MALAM DI GUDANG
60
BAB 60 - SIDANG KETIGA
61
BAB 61 - YANG TAK TERDUGA
62
BAB 62 - KABAR DARI RUMAH SAKIT
63
BAB 63 - PERTEMUAN TERAKHIR
64
BAB 64 - SIDANG KEEMPAT
65
BAB 65 - DUA MINGGU MENUNGGU
66
BAB 66 - SEBELUM PUTUSAN
67
BAB 67 - PUTUSAN
68
BAB 68 - SETELAH PUTUSAN
69
BAB 69 - AWAL YANG BARU
70
BAB 70 - MAKAN MALAM
71
BAB 71 - SISA-SISA HARAPAN
72
BAB 72 - TITIK DIDIH
73
BAB 73 - CAP ORANG GILA
74
BAB 74 - SISA ABU
75
BAB 75 - DARAH DAN KEBENARAN
76
BAB 76 - RATU DI BALIK LAYAR
77
BAB 77 - ANTARA NYAWA DAN DENDAM
78
BAB 78 - KUNCI MENUJU MASA LALU
79
BAB 79 - BAYANGAN MASA LALU
80
BAB 80 - PUNCAK MENARA KACA
81
BAB 81 - ASAL-USUL YANG TERLUKA
82
BAB 82 - DASAR YANG TERSEMBUNYI
83
BAB 83 - TAHTA YANG BERDARAH
84
BAB 84 - PENJAGA TERAKHIR
85
BAB 85 - MAWAR YANG MEKAR SEMPURNA
86
Afterword Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!