NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Puing-Puing yang Tersisa ​

​Fajar menyingsing di ufuk timur dengan warna kelabu yang pekat, seolah langit pun enggan memberikan keceriaan pada kota yang baru saja menyaksikan drama pelarian dan keputusasaan. Jip Hael melaju membelah aspal basah, meninggalkan garis-garis air yang berkilau di bawah lampu jalan yang mulai redup. Di dalam kabin, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Sora yang masih memburu dan deru mesin yang stabil.

​Sora menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin. Tangannya yang tadi membedah The Chronos Heart kini terasa kebas. Bau ozon dan logam panas masih tertinggal di ujung jarinya, mengingatkannya pada betapa dekatnya ia dengan maut hanya beberapa menit yang lalu. Di sampingnya, Hael mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali melirik ke arah Sora, memastikan wanita di sampingnya tidak jatuh pingsan karena syok.

​"Kita tidak pulang ke bengkel," ucap Hael memecah kesunyian. Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang menenangkan.

​Sora menoleh pelan. "Lalu ke mana?"

​"Ke tempat di mana Ezra atau polisi tidak bisa menemukanmu dalam dua puluh empat jam ke depan. Kamu butuh tidur, Sora. Bukan interogasi atau permohonan maaf yang memuakkan."

​Hael membelokkan mobil ke arah perbukitan, menuju sebuah pondok kayu kecil yang tersembunyi di balik barisan pohon pinus. Itu adalah gudang restorasi pribadi Hael, tempat ia menyimpan benda-benda yang terlalu berharga atau terlalu hancur untuk dipajang di tokonya.

​Sesampainya di sana, Hael membantu Sora turun. Kakinya terasa seperti jeli, lemas karena adrenalin yang baru saja surut. Di dalam pondok, aroma kayu cendana dan pelitur menyambut mereka. Hael menyalakan perapian kecil, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan Sora.

​"Minumlah," Hael menyodorkan segelas teh hangat dengan aroma melati yang kuat. "Ini akan membantu menenangkan sarafmu."

​Sora menerima gelas itu dengan tangan gemetar. "Hael... menurutmu, apakah Liora...?"

​Sora tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bayangan Liora yang terjun ke dalam kegelapan sungai terus berputar di kepalanya seperti film rusak. Liora, sang primadona yang kakinya patah, memilih untuk tenggelam daripada harus terus menari di atas duri yang dipasang oleh Ezra.

​Hael duduk di kursi kayu di depan Sora. "Tim SAR sudah menyisir area itu saat kita pergi. Arusnya deras, Sora. Tapi Liora adalah wanita yang penuh kejutan. Jika dia ingin menghilang, dia akan melakukannya dengan cara yang paling dramatis. Jangan biarkan pilihannya menjadi bebanmu. Kamu sudah melakukan bagianmu. Kamu menyelamatkan jam itu, dan kamu memberikan dia kesempatan untuk memilih jalannya sendiri."

​Tiga jam kemudian, saat matahari mulai meninggi, ponsel Hael bergetar di atas meja. Ia melihat layarnya dan mendengus. "Ezra. Dia benar-benar tidak tahu malu."

​"Angkatlah," bisik Sora. Ia sudah bangun dari tidur singkatnya yang tidak nyenyak. "Gunakan pengeras suara. Aku ingin mendengar apa yang tersisa dari pria itu."

​Hael menekan tombol hijau. Suara Ezra terdengar parau, pecah, dan penuh dengan keputusasaan yang egois.

​"Hael... aku tahu Sora bersamamu. Kumohon, biarkan aku bicara padanya. Polisi baru saja menemukan jubah Liora di hilir sungai... tapi dia tidak ada di sana. Dan jamnya... The Chronos Heart... mekanismenya kembali macet setelah Sora menyentuhnya semalam. Aku butuh dia untuk memperbaikinya secara total. Aku akan membayar berapa pun, Hael! Tolong, katakan pada Sora bahwa aku... aku mencintainya. Aku menyadari semalam bahwa dialah satu-satunya yang selalu ada untukku saat duniaku runtuh."

​Sora mendengarkan setiap kata itu dengan ekspresi datar. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi debaran jantung yang menyakitkan. Kata-kata "cinta" dari mulut Ezra kini terdengar seperti suara karat yang bergesekan—kasar dan merusak.

​"Dia tidak mencintaiku, Hael," Sora bicara pelan, namun suaranya masuk ke dalam mikrofon ponsel. "Dia hanya mencintai fungsi yang aku berikan padanya. Dia mencintai kenyamanan karena memiliki seseorang yang bisa memperbaiki segala kerusakannya."

​Keheningan terjadi di seberang telepon. Ezra tampaknya tersentak mendengar suara Sora.

​"Sora? Ra... dengarkan aku. Liora sudah pergi. Dia mengkhianatiku, dia bekerja sama dengan Bastian! Dia ingin menghancurkan keluargaku! Tapi kamu... kamu mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan warisanku semalam. Itu bukti bahwa kita ditakdirkan bersama, Ra. Mari kita lupakan sepuluh tahun yang sia-sia ini dan mulai dari awal. Aku akan membawamu ke Paris, kita akan—"

​"Hentikan, Ezra," potong Sora tajam. "Kamu bicara tentang warisan di saat tunanganmu mungkin sudah mati di dasar sungai. Kamu bicara tentang takdir di saat kamu baru saja kehilangan wanita yang kamu puja selama bertahun-tahun. Kamu bukan mencintaiku. Kamu hanya takut sendirian menghadapi puing-puing yang kamu buat sendiri."

​Sora menarik napas panjang, menatap api di perapian yang mulai mengecil. "Jam itu macet bukan karena aku merusaknya semalam. Ia macet karena ia memiliki nurani yang lebih besar darimu. Ia berhenti berdetak karena ia menolak menjadi simbol dari cinta yang penuh kepalsuan. Jangan cari aku lagi, Ezra. Di duniaku, namamu sudah menjadi waktu yang kadaluwarsa."

​Hael langsung mematikan sambungan telepon. Ia menatap Sora dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. "Itu adalah kata-kata paling berani yang pernah kudengar dari seorang tukang jam."

​Sora tersenyum kecil, senyum yang terasa nyata dan ringan. "Aku hanya sedang mengatur ulang poros hidupku, Hael. Ternyata, membuang bagian yang rusak memang membuat mesinnya bekerja lebih ringan."

​Sore harinya, saat berita tentang hilangnya Liora Thalassa mulai memenuhi layar televisi dan surat kabar, Hael membawa Sora kembali ke kota. Namun, alih-alih kembali ke bengkel, mereka berhenti di pinggir jembatan besar yang melintasi sungai tempat kejadian semalam.

​Sora turun dari mobil, berjalan menuju pagar pembatas. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah roda gigi porselen bertuliskan 'L' yang ia ambil dari tangan Liora semalam sebelum wanita itu melompat.

​"Hael bilang beberapa jam memang tidak ditakdirkan untuk diperbaiki," gumam Sora. "Mungkin Liora benar. Beberapa rahasia lebih baik terkubur di dasar air."

​Sora melemparkan roda gigi kecil itu ke dalam sungai. Ia melihatnya berkilat sejenak sebelum tenggelam dan menghilang. Di saat yang sama, ia merasa ikatan terakhirnya dengan drama keluarga Vance telah putus.

​Tiba-tiba, seorang gadis kecil penjual bunga mendekati mereka. Ia menyerahkan setangkai bunga lili putih kepada Sora. "Ada wanita cantik bertopi lebar yang memintaku memberikan ini padamu, Kak. Dia bilang, 'Terima kasih telah memberikan detik terakhir yang berharga'."

​Sora tersentak. Ia segera memandang ke sekeliling kerumunan orang di trotoar jembatan, namun ia tidak melihat siapa pun yang mencurigakan. Ia menatap bunga lili di tangannya. Aroma wanginya begitu akrab.

​"Liora..." bisik Sora. Ada rasa lega yang luar biasa menyusup ke dadanya. Liora masih hidup. Dia berhasil melarikan diri, bukan hanya dari sungai, tapi dari kehidupan palsu yang mencekiknya. Dia benar-benar bebas.

​Hael mendekati Sora, merangkul bahunya dengan lembut. "Sepertinya nakhoda kita yang satu lagi sudah menemukan pelabuhan barunya."

​Sora mengangguk, ia menghirup aroma bunga itu dalam-dalam. "Dan sekarang, giliran aku mencari pelabuhanku sendiri, Hael."

​"Aku tahu sebuah tempat di mana waktu tidak pernah menuntut apa pun darimu," ucap Hael sambil menunjuk ke arah toko antiknya yang tampak tenang di kejauhan. "Tempat di mana kita bisa memperbaiki apa pun yang kita inginkan, bukan karena kita harus, tapi karena kita peduli."

​Sora menatap Hael, pria yang selama ini menjadi pengamat dingin namun selalu ada di saat-saat kritisnya. Pria yang mengenalkan padanya arti dari menghargai barang-barang mati hingga mereka hidup kembali.

​"Ayo pulang, Hael," ucap Sora manis.

​Mereka berjalan kembali ke mobil, meninggalkan puing-puing masa lalu di dermaga dan sungai itu. Sora menyadari bahwa hidupnya baru saja dimulai. Di pergelangan tangannya, jam tangan buatannya sendiri berdetak dengan stabil—sebuah simfoni yang menceritakan tentang keberanian, kemandirian, dan cinta yang tidak lagi menuntut pengorbanan yang buta.

​Waktunya bukan lagi milik Ezra. Waktunya bukan lagi milik Liora.

Waktunya adalah miliknya sendiri. Dan mungkin, sebagian kecil darinya, mulai ia bagikan untuk pria misterius di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!