NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Setelah kajian selesai, Zira dan Nathan bersiap untuk pulang. Di area parkir, mereka bertemu dengan seorang wanita yang terlihat cantik, anggun, dan sopan dengan aura tenang yang memikat. "Assalamualaikum, Gus Nathan," sapa wanita itu lembut. Nathan, yang mendengar namanya dipanggil, spontan menoleh. Seketika, wajahnya berubah kaget saat melihat siapa yang berdiri di depannya. "Waalaikumsalam, Ning Salwa?" balas Nathan dengan nada tak percaya. Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa wanita itu telah kembali ke Indonesia. Dulu, Salwa selalu menolak lamarannya karena ingin melanjutkan studi di Tarim.

"Iya, Gus. Saya baru pulang seminggu yang lalu," jawab Ning Salwa dengan senyum. "Bagaimana kabar Kyai Husen? Sehat?" tanya Nathan sambil memandang lembut ke arahnya. "Alhamdulillah, Abah sehat wal afiat," jawab Ning Salwa dengan sopan.

Di sisi lain, Zira memperhatikan suaminya yang tampak begitu akrab dengan wanita itu meskipun tanpa pandangan langsung seperti saat dia pertama kali bertemu Nathan yang kini menjadi suaminya. Merasa diabaikan, Zira sengaja berdehem pelan sebagai pengingat bahwa dirinya ada di sana. Nathan segera menoleh ke arah Zira dan tersadar. "Oh ya, Ning, kenalkan ini istri saya, Zira," ujar Nathan memperkenalkan keduanya.

Ning Salwa mengalihkan pandangannya ke Zira dan menyapa ramah, "Assalamualaikum, Ning Zira." Zira pun segera menjawab dengan tak kalah ramah, "Waalaikumsalam, Ning."

Namun, suasana yang tampak hangat tadi berubah begitu saja ketika Zira berkata, "Mas, kita pulang sekarang ya. Khawatir anak kita di rumah sudah bosan menunggu." Nathan langsung terkejut mendengar perkataan istrinya. Anak? Anak yang mana? Dalam hati ia berpikir, pernikahan mereka saja baru seumur jagung dari mana datangnya "anak"? Tetapi ia menyadari satu hal Zira rupanya mulai tidak nyaman berada di sana.

"Baiklah, Ning. Saya dan istri pamit dulu, ya. Tolong sampaikan salam saya untuk Kyai Husen. Assalamualaikum," ucap Nathan penuh sopan santun. "Waalaikumsalam, Gus. Insyaallah akan saya sampaikan pada Abah," sahut Ning Salwa sebelum mereka beranjak pergi.

Di dalam mobil menuju rumah, suasana mendadak berbeda. Zira tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya. Berbagai pertanyaan pun meluncur dari bibirnya dengan nada cemburu yang kentara. "Mas, kok tadi akrab banget sih? Nada bicaranya lembut lagi beda banget waktu kita pertama kali kenal dulu. Waktu itu kamu malah dingin dan bicara cuma seperlunya saja," celoteh Zira sambil melepaskan pandangan ke jendela mobil.

Nathan tersenyum tipis melihat istrinya menunjukkan sisi itu. "Kamu kenapa sih, Dek?" tanyanya mencoba memahami. "Nggak papa, cuma nanya aja," jawab Zira berusaha terlihat tenang meski jelas ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

"Kamu cemburu ya?" goda Nathan sambil menoleh sejenak seraya menahan senyum. Napas panjang Zira terdengar sebelum ia membalas agak gemas, "Kenapa senyum-senyum? Nggak ada yang lucu, Mas! Siapa sih yang nggak cemburu kalau suaminya, yang biasanya dingin banget kayak es batu pas ngomong sama orang lain, tiba-tiba berubah jadi hangat dan ramah?"

Mendengar ucapan itu, Nathan tidak bisa lagi menahan tawanya kecil. "Masyaallah, ternyata istri Mas cemburu ya." Ia mengulurkan tangan, mencoba meraih tangan Zira yang masih dilipat di dadanya. "Maaf ya, Dek. Maafkan Mas. Mulai sekarang Mas nggak bakal bikin kamu cemburu lagi deh," katanya penuh tulus.

Zira tetap memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil, tapi rona di pipinya tak bisa menyembunyikan perasaan leganya mendengar ucapan itu. Sementara itu, Nathan hanya tersenyum sambil terus menyetir, lebih berhati-hati membagi perhatian agar tidak lagi mengusik hati wanitanya tercinta.

Sesampainya di rumah, Zira dan Nathan langsung melangkah masuk sambil memberi salam. Assalamualaikum, ucap mereka serempak. Waalaikumsalam, balas Umi Aisyah yang sedang bersantai di ruang tamu bersama Abi Adam.

Dengan senyum lembut, Umi Aisyah memandang Zira dan Nathan. "Oh, kalian sudah pulang. Ada apa? Zira, kok wajahmu memerah begitu?" tanyanya sambil mengamati Zira yang tampak terganggu. Tanpa banyak bicara, Zira segera duduk di sebelah Umi Aisyah dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Mendengar itu, Umi Aisyah hanya tersenyum simpul sambil mengangguk pelan. "Ooh, begitu rupanya," katanya tenang.

Nathan yang menyaksikan interaksi mereka, langsung menyadari Zira telah mengungkapkan sesuatu kepada ibu mertuanya. "Umi, aku ke kamar dulu ya," katanya sambil melangkah pergi menuju kamarnya. Mata Umi Aisyah mengikuti kepergian Nathan sebelum kembali memandang Zira. "Zira, jangan cemburu berlebihan ya. Suamimu itu anak yang baik, insyaAllah tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Umi Aisyah lembut sambil menyentuh rambut Zira dengan sayang.

Zira hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Iya, Umi. Aku tahu kok," jawabnya lirih sambil memegang tangan Umi Aisyah erat-erat. Melihat itu, Umi Aisyah tersenyum lagi. "Lalu, siapa sebenarnya wanita yang bikin menantu cantik Umi ini jadi cemburu, hmm?" tanyanya menggoda. "Namanya Ning Salwa, Mi," jawab Zira dengan nada pelan. Mendengar nama itu, ekspresi Umi Aisyah berubah sejenak. "Salwa? Anak Kyai Husen?" tanyanya heran.

"Iya, Mi. Umi kenal?" sahut Zira penasaran. "Tentu saja Umi kenal," jawab Umi Aisyah. "Dia dulu calon yang hendak dilamar oleh Nathan. Tapi Salwa menolak karena ingin fokus melanjutkan pendidikannya." Umi Aisyah lalu menatap Zira dengan lembut, memberikan penjelasan lebih lanjut. "Nak, kamu nggak usah cemburu. Nathan adalah sosok yang setia. Dulu saja dia punya mainan yang sudah rusak tetap dia jaga dan mainkan, sampai-sampai tidak pernah minta untuk dibelikan yang baru."

Mendengar itu, Zira tertegun. Tak disangka, wanita yang sempat mengusiknya ternyata adalah mantan tunangan suaminya sendiri! Dalam hati kecilnya ia bergumam kesal, Pantas saja orangnya sopan sekali. Ternyata mantan tunangan. Waah, mantannya kayak bidadari pula! Aku memang nggak bisa menyangkal kalau dia cantik, tapi... aah, nyebelin banget sih.

Zira tersentak dari lamunannya saat mendengar suara lembut Umi Aisyah lagi. "Zira, cemburu itu wajar kok. Tandanya kamu benar-benar sayang sama suamimu," ujar sang mertua dengan senyum menenangkan. Zira mengangguk perlahan, wajahnya memerah menahan malu. "Iya deh, Mi. Zira berusaha untuk berpikir lebih positif," balasnya.

Umi Aisyah mengusap punggung tangan Zira dengan penuh kasih sayang. "Baguslah kalau begitu." Setelah itu, Zira pamit undur diri. "Umi, Abi, Zira izin ke kamar dulu ya. Assalamualaikum," katanya sambil berdiri. "Waalaikumsalam," jawab Umi Aisyah dan Abi Adam hampir bersamaan.

Setelah Zira pergi, Umi Aisyah tertawa kecil seraya menoleh pada suaminya. "Lucu ya, Bi. Ngeliat hubungan Nathan sama Zira tuh kayak ngingetin masa-masa kita dulu." Abi Adam tertawa kecil mendengar komentar istrinya itu. "Benar sekali. Zira itu jadi ingetin Abi waktu Umi cemburu sama jamaah-jamaah Abi dulu," balasnya menggoda.

"Ah Abi mah ada-ada aja! Itu kan cerita lama banget, kenapa sih suka diungkit terus?" balas Umi Aisyah merajuk manja, sambil ikut tertawa mengenang masa-masa indah mereka kala itu.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!