**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4—Ide Jenius Si Hacker
Bab 4
Sudah dua hari semenjak Maya memutuskan bekerja sama dengan Rahmat. Terkadang gadis itu mengerjakan di kantor secara langsung terkadang menjaga keamanan melalui online atau daring. Hasil yang didapatkan luar biasa hebat.
Berkat kerjasama kedua orang dengan kemampuan hacking dan IT tingkat atas sistem keamanan yang kemarin-kemarin rentan, bisa dimasuki kapanpun lagi kembali aman. Bahkan dengan ide cemerlang dari Maya, dia menciptakan sistem auto yang bisa langsung mematikan pihak luar manapun yang mencoba menerobos masuk keamanan.
Hanya terhitung dari dua hari mereka melakukan duet dan Galleri yang sebelumnya hampir “mati” kini berubah menjadi benteng digital yang bahkan Rahmat sendiri tidak pernah bayangkan sebelumnya.
Di lantai dua, kamar kantor keciln yang dulunya hanya berisi satu komputer sederhana kini dipenuhi monitor tambahan. Kabel-kabel tersusun rapi. Tambahan dekorasi dari Maya setelah join
Maya duduk di depan layar, tubuhnya sedikit membungkuk seperti biasa. Namun ada satu hal yang berbeda—
Tangannya bergerak tanpa ragu.
Tat. Tat. Tat.
Barisan kode mengalir seperti bahasa ibu baginya.
“Port scanning selesai… anomaly log aman… intrusion attempt dari IP luar dua hari yang mencoba mengambil alih kepemilikan sudah ke-blacklist permanen,” gumamnya pelan.
Di belakangnya, Rahmat bersandar di meja, memperhatikan.
“…gila,” ucapnya singkat. Dia melihat fitur baru, ia tidak membuat ini semalam. Jadi ini ulah Maya.
Maya berhenti mengetik sejenak. “Eh?”
Rahmat mengangguk ke layar. “Sistem auto-kill itu… kamu yang buat?”
Maya mengangguk kecil. “I-itu… cuma script sederhana. Kalau ada pola serangan berulang, sistem langsung putus koneksi, lalu kirim feedback palsu ke penyerang.”
“Feedback palsu?”
“Iya… biar mereka pikir berhasil masuk. Padahal sebenarnya mereka cuma muter di sandbox.”
Rahmat tersenyum tipis. Bahkan dengan kemampuan hacking yang dibeli dari sistem dia membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat beginian, namun dengan bekerja sama Maya, mereka menyelesaikan semua pertahanan dengan cepat.
Memang kemampuan asli tidak bisa dibandingkan dengan skil instan yang dibeli sembarangan.
“Jadi mereka buang waktu… sementara kita tetap aman.”
Maya menunduk sedikit. “Kurang lebih… begitu…”
Sunyi sejenak. Rahmat menatap layar lebih lama. Dalam dua hari, bukan cuma celah keamanan yang ditutup— Maya membangun layer baru.
“…aku benar-benar dapat monster,” gumam Rahmat dalam hati.
Sementara itu, Maya perlahan menarik napas. Ia beristirahat sejenak, minum kopi kaleng dan sesekali melihat Rahmat yang duduk disamping.
Aneh. Biasanya… kalau ada orang di belakangnya, dia akan gugup.
Takut dinilai, takut salah, tapi sekarang. “...rasanya tenang.” Bisik dia pelan.
Lelaki ini tidak menekan. Tidak mengganggu, hanya ada. Selain itu dia juga punya kemampuan IT dan hacking yang hebat, bahkan Maya sadar bahwa orang di depannya memiliki kemampuan lebih jago. Tapi dengan kemampuannya dia masih membutuhkan Maya? Itu buat dia bingung sendiri. Namun yang buat dia senang, saat mereka melakukan pekerjaan bersama rasanya seperti sedang resonansi jiwa, gerakan dan pola mereka sama persis.
***
Sementara itu di ruangan gelap. Seorang pria juga terlihat fokus akan komputer dan beberapa monitor di kamarnya itu. Jari-jari yang sejak tadi menari berhenti.
“Aneh.” Gumam pria itu. “Seranganku semua dicancel. Kemarin dia cuma panik dan asal mematikan koneksi agar data kepemilikan aman, namun sekarang..” ada jeda sebelum melanjutkan.
Pria berjas putih ala-ala profesor itu berputar di kursinya. Menatap langit-langit atap.
“Ada 12 celah keamanan utama disana dan sekitar 27 celah minor … dalam dua hari ini semua tertutup dengan rapi. Tidak ada celah sama sekali.”
CCTV yang kemarin sempat dia akses sekarang juga punya keamanan tingkat tinggi.
Semua jadi bersih dalam waktu singkat.
Itu artinya ..” dia sekarang tidak sendiri? Pasti juga punya rekan yang paham tentang dunia IT serta hacking parahnya dia punya kemampuan level tinggi.”
Ia pun tersenyum. “Semakin menarik.”
***
Kembali ke ruangan kantor rahmat. Suasana jadi hening, maya yang memulai membuka pembicaraan.
“Hmm … kamu?”
Maya tiba-tiba bicara.
Rahmat mengangkat alis. “Hm?”
“Aku mau tambah satu fitur lagi.”
“Langsung aja. Kamu gak perlu izin.”
Maya menggeleng pelan. “Ini agak… ekstrim.”
Rahmat tertarik. “Se-ekstrim apa?”
Maya memutar kursinya sedikit. Menatap layar lain. “Kalau sistem kita diserang lagi… aku mau sistem ini bukan cuma bertahan.”
Ia berhenti sejenak. Matanya yang biasanya ragu… sekarang tajam.
“…tapi balik menyerang.”
Sunyi. Rahmat tidak langsung menjawab.
“…jelaskan lebih detail.”
Maya menelan ludah pelan. Tapi tetap lanjut. “Aku bisa buat sistem tracking balik. Kalau ada yang masuk, kita tanam ‘marker’ di jalur mereka.”
“Terus?”
“Kita ikuti balik sampai ke sumbernya.”
Rahmat menyipitkan mata. “…dan?”
Maya menggenggam ujung bajunya sedikit. “…dan kalau perlu… kita hancurkan sistem mereka dari dalam, selain itu dengan ini kita bisa melacak balik seseorang yang mencoba menyerang kita! Gimana?”
Hening. Kali ini bukan hening canggung, tapi hening yang berat. Itu jelas ide yang luar biasa menyerang balik alih-alih bertahan, juga melacak balik lokasi musuh.
Mereka kekurangan informasi, jika dengan fitur keamanan baru itu terjadi maka bravo. Dia bisa mendapatkan informasi tentang para musuh bahkan dengan lokasi.
Rahmat perlahan tersenyum. Wajar saja Anissa mengatakan maya berpotensi, dari semua orang yang Rahmat kenal, Maya adalah orang dengan potensi masa depan terbaik.
Dari sistem mengatakan demikian juga, istingnya juga berkata begitu. Ia jadi ingin membimbing adik kelas manis ini menuju potensi terbaiknya, sekalian melihat hadiah spesial apa yang akan dia dapatkan.
“…itu baru yang aku cari.”
Maya sedikit terkejut.
“Apa yang kamu butuhkan untuk membuat keamanan itu berjalan lancar?”
` Maya sedikit terdiam mendengar pertanyaan itu. Untuk sesaat… dia tidak langsung menjawab.
Tangannya yang tadi menggenggam ujung baju perlahan mengendur. Matanya kembali ke layar, tapi pikirannya sudah berjalan jauh ke depan—menghitung, menyusun, merancang.
“…aku butuh beberapa hal,” ucapnya akhirnya, pelan tapi jelas.
Rahmat menyilangkan tangan. “Sebutkan.”
Maya mengangkat satu jari. “Pertama. Server tambahan.”
Rahmat mengangguk kecil. “Kenapa?”
“Kalau kita mau tracking balik dan melakukan counter-attack… sistem utama tidak boleh ikut terlibat langsung,” jelas Maya. “Aku butuh layer terpisah. Semacam… sistem bayangan.”
“…decoy system?”
Maya mengangguk. “Iya. Tapi lebih kompleks. Bukan cuma umpan… tapi juga senjata.”
Rahmat tersenyum tipis. Menarik. “Lanjut.”
Jari kedua terangkat. “Dedicated monitoring unit. Minimal dua mesin lagi. Satu untuk real-time analysis, satu lagi untuk logging penuh.”
“Jadi kamu butuh device baru?”
Maya menganggukan kepala agak tidak enak. “hehe iya.”
“Spesifikasi?”
“…tinggi,” jawab Maya jujur. “kalau dilihat dari pola penyerangan mereka … jelas bukan orang biasa.”
Rahmat tidak terlihat kaget. “Uang bukan masalah.”
Maya sedikit terdiam. Kalimat itu terasa sangat asing baginya.
Jari ketiga.“Jaringan harus dirombak.”
Rahmat mengernyit. “Sejauh itu?”
Maya mengangguk. “Sekarang sistem kita memang aman… tapi masih satu jalur utama. Kalau nanti kita aktif menyerang balik… jalurnya harus bercabang.”
Ia menunjuk diagram di layar.
“Aku mau buat tiga layer:
1.layer publik
2.layer pertahanan utama
3.layer ofensif
Rahmat memperhatikan dengan serius. “…jadi kalau mereka masuk…”
Maya menyambung pelan. “…mereka gak akan tahu mereka sedang dilihat… atau sedang diarahkan.”
Sunyi sejenak. Rahmat tersenyum. “Licik.”
Maya menunduk sedikit. “…efektif.”
Maya melanjutkan. “Dan yang terakhir … waktu.”
Masuk akal. “Berapa lama kira-kira?”
Maya menggaruk rambutnya, agak sedikit ragu untuk menjawab. “sekitar berminggu-minggu, tapi karena aku sibuk juga dengan agenda sebagai kandidat ketua OSIS, banyak seleksi dan lain-lain … aku tidak bisa menjamin. Tapi yang pasti di bawah dari satu bulan.”
“itu sudah lebih dari cukup.”