Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Debu Perkamen dan Tinju Karatan
Tiga hari telah berlalu sejak badai salju di Lereng Utara.
Bagi Sekte Langit Berkabut, tiga hari hanyalah sekejap mata. Namun bagi area pelataran luar, tiga hari ini diwarnai oleh keheningan yang mencekam. Hilangnya Gou San dan dua antek Lin Hai menjadi rahasia umum yang tidak berani dibicarakan secara terang-terangan. Semua orang tahu ada predator tak kasat mata yang sedang bersembunyi di balik kabut Puncak Pedang Patah, namun tidak ada yang tahu siapa, atau apa, predator itu.
Di tengah ketegangan yang menggantung layaknya pedang di atas leher, kehidupan Shen Yuan berjalan dengan rutinitas yang membosankan. Ia bangun sebelum fajar, menyapu pelataran, membelah kayu, dan makan bubur encer dalam diam.
Namun, ada satu hal kecil yang berubah. Pagi ini, ketika Shen Yuan duduk di sudut ruang makan pelayan, sebuah bakpao daging yang masih hangat tiba-tiba diletakkan di atas mejanya.
Shen Yuan mendongak perlahan. Li Mu berdeham pelan, tidak berani menatap mata Shen Yuan, lalu bergegas pergi membawa mangkuk buburnya sendiri ke meja yang jauh. Tidak ada kata yang terucap, namun Shen Yuan mengerti. Itu adalah bentuk penghormatan diam-diam. Di dunia kultivasi, kekuatan tidak selalu butuh panggung untuk diakui; bau darah yang hilang sudah cukup untuk membuat serigala lain menunduk.
Shen Yuan memakan bakpao itu tanpa ekspresi. Hari ini adalah hari libur yang dijanjikan oleh Mandor Zhao. Ini adalah waktu yang sangat berharga, dan ia tidak berniat menyia-nyiakannya untuk tidur.
Targetnya hari ini sangat jelas: Ia butuh Teknik Serangan.
Kekuatan fisiknya memang setara dengan banteng gila, dan ia sudah memodifikasi Langkah Penghancur Bayangan. Namun pertarungannya dengan Gou San menyadarkannya bahwa tanpa teknik bertarung yang terstruktur, ia akan kesulitan menghadapi kultivator yang benar-benar berpengalaman.
Setelah menghabiskan sarapannya, Shen Yuan melangkah meninggalkan area pelayan, berjalan menuju pusat Puncak Pedang Patah.
Tujuannya adalah Paviliun Kitab Luar.
Bangunan berlantai tiga itu berdiri megah, terbuat dari kayu ulin hitam pekat yang konon tahan terhadap api dan tebasan pedang. Atap melengkungnya dihiasi patung gargoyle es yang memancarkan aura menekan. Aroma dupa cendana bercampur debu perkamen tua menyambut siapa pun yang mendekat.
Shen Yuan berdiri di depan pintu perunggu raksasa. Di sisinya, seorang lelaki tua renta berjubah abu-abu duduk bersila dengan mata setengah terpejam. Debu tipis menutupi bahunya, seolah ia telah duduk di sana selama berabad-abad. Ia adalah Penatua Penjaga Paviliun. Kultivasinya tidak bisa dirasakan, yang justru membuktikan bahwa ia berada di ranah yang jauh melampaui pemahaman Shen Yuan.
"Identitas," suara Penatua itu terdengar kering, seperti kertas yang diremas, tanpa ia perlu membuka matanya.
Shen Yuan membungkuk hormat sembilan puluh derajat. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah medali kayu kusam dan sebuah botol porselen kecil.
"Pelayan nomor tujuh, Shen Yuan. Saya ingin menukarkan Pil Penghalau Dingin tingkat rendah ini dengan izin masuk lantai satu selama dua jam, Penatua."
Pil Penghalau Dingin itu adalah hadiah dari Mandor Zhao tiga hari yang lalu. Bagi murid pelayan di Lapisan Ketiga, pil itu adalah nyawa tambahan di musim dingin. Namun bagi Shen Yuan yang tubuhnya telah ditempa dan berada di Lapisan Kelima, hawa dingin sekte luar tidak lagi memengaruhinya. Pil itu jauh lebih berharga jika diubah menjadi akses pengetahuan.
Penatua itu perlahan membuka satu matanya. Ia melirik botol porselen itu, lalu menatap Shen Yuan. Sedikit rasa heran melintas di matanya yang keruh. Jarang ada pelayan yang menukar nyawanya demi membaca buku rongsokan di lantai satu.
Tanpa banyak bicara, Penatua itu mengibaskan lengan bajunya. Botol porselen itu melayang masuk ke lengan bajunya, dan sebagai gantinya, sebuah token kayu kecil bertuliskan kata 'Dua' melayang ke telapak tangan Shen Yuan.
"Lantai satu. Jangan sentuh tangga lantai dua jika kau tidak ingin meridianmu hancur oleh formasi pelindung. Dua jam. Jika token itu memanas, segera keluar."
"Terima kasih atas bimbingan Penatua."
Shen Yuan melangkah masuk melewati pintu perunggu yang terbuka secara otomatis. Begitu kakinya menginjak lantai kayu di dalam, suara angin musim dingin di luar seketika lenyap, digantikan oleh keheningan absolut yang sakral.
Lantai satu Paviliun Kitab Luar dipenuhi oleh ratusan rak kayu yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Ribuan gulungan bambu, perkamen kulit binatang, dan buku-buku berdebu tersusun rapi. Meskipun ini hanya lantai satu—tempat bagi teknik-teknik buangan dan pengetahuan umum—bagi Shen Yuan, ini adalah lautan harta karun.
Waktunya hanya dua jam. Ia tidak boleh membuang satu detik pun untuk takjub.
Shen Yuan mengabaikan rak berlabel "Sejarah Benua" dan "Ensiklopedia Obat". Ia berjalan lurus ke deretan paling sudut, tempat rak berlabel "Teknik Bela Diri Dasar" berada.
Jari-jarinya yang kasar menyusuri punggung-punggung buku.
Seni Pedang Tetesan Hujan. Ia menarik gulungan itu, membacanya sekilas, lalu mengembalikannya. Membutuhkan pedang ringan dari baja murni. Gerakan mengutamakan kelenturan. Tidak cocok. Qi purbaku terlalu berat, pedang biasa akan hancur dalam satu kali aliranku.
Jari Penembus Daun. Ia membaca yang lain. Mengumpulkan Qi di ujung jari telunjuk. Butuh kontrol sangat halus. Tidak cocok. Energinya terlalu buas, jariku sendiri yang akan meledak sebelum menyentuh musuh.
Satu jam berlalu dengan cepat. Puluhan buku telah ia tolak. Logikanya bekerja sangat dingin dan objektif. Ia tidak mencari nama jurus yang paling keren atau paling mematikan. Ia mencari jurus yang tidak akan membunuhnya saat ia mengalirkan energi dari Benih Hitam.
Qi dari Kitab Penelan Surga bersifat dominan, berat, dan merusak. Ia butuh sebuah wadah seni bela diri yang sama liarnya. Seni yang mengandalkan kebrutalan dan daya tahan tubuh, bukan keanggunan akrobatik.
Waktu tersisa setengah jam. Token kayu di tangannya mulai terasa hangat.
Shen Yuan berjalan ke rak paling belakang, tempat buku-buku yang paling berdebu dan tidak terawat diletakkan. Kebanyakan adalah teknik rusak atau teknik cacat yang ditinggalkan oleh para tetua ratusan tahun yang lalu.
Di sudut rak terbawah, tertindih oleh tumpukan perkamen kosong, matanya menangkap sebuah buku bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas. Tidak ada judul di sampulnya.
Shen Yuan menariknya keluar, meniup debu tebal yang menutupi usianya, dan membuka halaman pertama. Tulisannya kasar, seolah ditulis menggunakan jari yang dicelupkan ke dalam tinta darah yang sudah mengering.
"Seni Tinju Runtuh Gunung. Teknik Tingkat Menengah - Cacat."
Alis Shen Yuan bertaut. Sebuah teknik tingkat menengah di lantai satu? Ia segera membaca kalimat penjelasan di bawahnya.
"Seni ini tidak meminjam energi alam untuk memukul. Seni ini memadatkan Qi di dalam tulang lengan, memadatkannya hingga sekeras baja, lalu meledakkannya dalam jarak satu jengkal dari target. Kehancuran yang dihasilkan mutlak."
Mata Shen Yuan berbinar. Ini dia! Ini adalah teknik serangan fisik murni yang sangat cocok dengan karakteristik energinya yang mendominasi!
Namun, senyumnya segera memudar saat ia membaca paragraf peringatan di halaman kedua.
"Peringatan: Teknik ini dilarang dipelajari oleh murid di bawah Ranah Pembentukan Inti. Ledakan Qi dari dalam tulang sangat merusak meridian pengguna. Praktisi yang memaksakan diri di Ranah Kondensasi Qi akan mengalami patah tulang parah, meridian lengan meledak, dan berujung pada kecacatan permanen. Karena sifatnya yang bunuh diri, teknik ini dianggap Cacat dan dibuang."
Shen Yuan terdiam cukup lama. Ia memandangi tangannya sendiri.
Bagi kultivator normal, peringatan itu adalah vonis mati. Meridian manusia seperti pipa kaca; jika kau memaksakan aliran air yang terlalu deras dan berat, pipa itu akan pecah. Itulah mengapa sekte melarang keras teknik ini dipelajari oleh murid rendahan.
Namun, kultivator normal tidak memiliki Benih Hitam di perut mereka.
Kultivator normal tidak melewati proses Pembersihan Sumsum dengan lumpur hitam secara ekstrem seperti yang ia alami di malam pertamanya menembus Lapisan Kelima. Berkat energi purba yang mengalir di tubuhnya setiap hari, meridian dan tulang Shen Yuan tidak lagi seperti pipa kaca, melainkan pipa baja tempa.
"Teknik ini cacat bagi mereka yang lemah," gumam Shen Yuan perlahan, meraba aksara kasar di atas perkamen itu. Detak jantungnya berpacu dalam ritme yang menggairahkan. "Tapi bagi tubuhku, ini adalah pakaian yang dijahit khusus untukku."
Token kayu di sakunya mendadak memanas, menandakan dua jam waktunya telah habis.
Dengan kecepatan kilat, Shen Yuan yang kini memiliki daya ingat yang diperkuat oleh kultivasinya, membolak-balik dua belas halaman buku tersebut. Ia memindai setiap diagram aliran Qi, setiap posisi kuda-kuda, dan setiap titik meridian yang harus ditekan. Semuanya dicetak mati ke dalam ingatannya bagaikan pahatan di atas batu.
Begitu rasa panas dari token mencapai puncaknya, Shen Yuan mengembalikan buku jelek itu ke sudut rak terbawah, tepat di posisi aslinya. Ia merapikan debu di sekitarnya, memastikan tidak ada jejak bahwa buku itu baru saja dibaca. Ia tidak akan meminjamnya keluar. Membawa teknik cacat keluar dari paviliun hanya akan mengundang kecurigaan dan pertanyaan dari penjaga. Membawanya di dalam kepala adalah cara teraman.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari Paviliun Kitab Luar dengan langkah tenang.
Saat ia melewati pintu perunggu, Penatua Penjaga masih dalam posisi yang sama. Shen Yuan meletakkan token kayu itu di atas meja kecil, lalu membungkuk hormat.
"Waktu telah habis. Pelayan ini undur diri, Penatua."
Penatua itu hanya menggumamkan persetujuan tanpa membuka matanya. Ia tidak peduli apa yang dibaca oleh seorang pelayan miskin selama dua jam di lantai sampah tersebut.
Shen Yuan berjalan menyusuri jalan berbatu yang mulai disinari mentari siang. Udaranya masih sedingin es, namun darah di dalam tubuh pemuda itu mendidih oleh antisipasi.
Langkah Penghancur Bayangan untuk mengejar kematian, dan Seni Tinju Runtuh Gunung untuk memastikan kematian itu. Potongan puzzle terakhir untuk bertahan hidup di tahap awal ini akhirnya lengkap.
"Mulai malam ini," bisik Shen Yuan pada hembusan angin yang lewat, "Hutan Pinus Hitam tidak akan lagi beristirahat dengan tenang."