Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 23
Ilwa berdiri di tengah kamarnya yang kini terasa lebih lapang, menggenggam bilah hitam yang ia beli dengan harga murah itu.
Di bawah cahaya lampu minyak, ia memutar-mutar senjata itu di jemarinya.
Ada beberapa retakan halus di dekat *crossguard* dan ujung bilahnya tampak sedikit kusam, seolah-olah logam itu telah menolak setiap usaha pengasahan dari pandai besi biasa.
"Aneh," gumam Ilwa, matanya menyipit saat memperhatikan pantulan cahaya yang terserap oleh logam hitam itu.
"Aku telah menggenggam ribuan pedang sepanjang hidupku sebagai Albus, tapi benda ini... aku tidak bisa membaca silsilah logamnya."
Logam itu terasa dingin, namun bukan dinginnya es, melainkan dinginnya sebuah kehampaan.
Sejenak, ia ragu apakah ia benar-benar telah membeli sepotong sampah seperti yang dikatakan pemilik toko.
Namun, getaran yang merambat ke telapak tangannya setiap kali ia menyalurkan sedikit niat bertarung memberitahunya bahwa bilah ini hanya sedang tertidur.
Ia menyelipkan bilah hitam itu ke pinggangnya dan melangkah keluar menuju halaman belakang paviliun.
---
Halaman belakang paviliun itu dikelilingi oleh tembok batu tinggi dan pepohonan rimbun, menciptakan tempat yang sempurna untuk menyendiri.
Udara sore yang sejuk menyambutnya saat Ilwa berdiri di tengah hamparan rumput yang dipangkas rapi.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Berkat mandi obat tadi, paru-parunya kini bisa mengembang lebih lebar tanpa rasa sesak yang menghimpit.
Ia mencabut bilah hitamnya dengan satu gerakan halus. *Sring!*
Latihan dimulai.
Ilwa tidak memulai dengan ayunan kaku seperti para kadet di barak. Ia bergerak seperti air yang mengalir.
Tubuh mungilnya melesat ke depan, melakukan tebasan horizontal yang presisi, lalu berputar di tumitnya untuk melakukan tusukan ke arah udara kosong.
Setiap gerakannya sangat lincah; ia melompat, berguling, dan menyerang dalam satu rangkaian gerakan yang tanpa putus.
Berkat purifikasi sumsum tulangnya, persendian Ilwa kini tidak lagi berderit.
Ia merasa seolah-olah berat tubuhnya telah berkurang separuh.
Ia melakukan teknik **"Phantom Step"**, sebuah gerakan kaki yang membuat bayangannya seolah-olah tertinggal di posisi semula sebelum ia muncul beberapa meter di sisi lain.
Bilah hitam itu membelah udara dengan suara desisan yang tajam, meninggalkan jejak hitam tipis di penglihatan mata.
Ilwa melakukan ribuan repetisi dalam hitungan menit.
Tebasan vertikal, tangkisan silang, dan serangan balik cepat.
Semakin ia bergerak, semakin ia merasakan sinkronisasi antara otot dan pikirannya.
Kecepatan serangannya meningkat drastis hingga tangannya tampak seperti kabur di mata orang biasa.
---
Di sudut lain halaman, dekat deretan jemuran kain yang putih melambai ditiup angin, Lina berdiri mematung.
Tangannya yang sedang memegang keranjang jemuran gemetar hingga beberapa helai kain jatuh kembali ke tanah.
Matanya yang tajam, yang biasanya disembunyikan di balik kedok pelayan polos, kini melebar dalam keterkejutan yang nyata. Sebagai yang dikirim oleh Marc, ia telah membaca berkas Ilwa berulang kali: *Anak cacat, sirkuit mana hancur, fisik lemah, batuk darah setiap kali memegang senjata.*
Namun, apa yang ia lihat sekarang adalah kebalikan dari semua itu.
"Apa... apa-apaan itu?" bisik Lina dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Gerakan itu... itu bukan gerakan seorang amatir. Itu adalah teknik bela diri tingkat tinggi yang bahkan para ksatria elit klan pun belum tentu bisa melakukannya dengan sehalus itu."
Lina memperhatikan bagaimana Ilwa bergerak tanpa sedikit pun terlihat terengah-engah. Kecepatan dan kelincahannya melampaui standar anak usia delapan tahun.
"Informasi dari kediaman utama benar-benar salah besar. Bagaimana bisa seorang 'pasien sekarat' memiliki kekuatan fisik seperti itu secara tiba-tiba?"
Ketakutan mulai menyusup ke dalam hati Lina.
Ia menyadari bahwa misi pengawasannya kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Bocah yang ia awasi bukanlah domba yang menunggu ajal, melainkan seekor serigala yang sedang mengasah taringnya di balik bayang-bayang.
---
Ilwa sama sekali tidak menyadari kehadiran Lina.
Fokusnya terlalu dalam, terkunci pada setiap serat otot dan aliran energinya sendiri.
Ia berhenti sejenak, menatap bilah hitam di tangannya dengan napas yang mulai teratur.
"Fisikku sudah siap," gumam Ilwa, matanya berkilat penuh tekad.
"Sekarang, aku harus tahu seberapa jauh 'wadah' ini bisa menahan beban manaku."
Ia teringat rasa sakit yang luar biasa di barak saat ia dipaksa menggunakan sihir pertahanan.
Saat itu, penyakitnya mengamuk karena sirkuit mananya tidak siap menerima beban. Tapi sekarang, setelah mandi purifikasi, ia ingin mencoba melangkah satu tahap lebih jauh.
"Aku akan menggunakan sihir penguat kecepatan," pikirnya.
"Jika aku bisa mengalirkan mana ke otot kakiku tanpa memicu ledakan di jantung, maka aku akan memiliki keunggulan absolut dalam pertempuran jarak dekat."
Ilwa memejamkan matanya, mulai memanggil aliran mana yang sangat tipis dari intinya.
Ia tidak ingin menggunakan mantra suara agar tidak menarik perhatian lebih jauh.
Di dalam pikirannya, ia merumuskan struktur sihir **"Swift Current"**.
"Jangan meledak... mengalirlah seperti sungai, bukan seperti badai,"
bisik hatinya, mencoba menjinakkan mana yang mulai bergejolak di dalam dadanya.
Bilah hitam di tangannya seolah merespons, mengeluarkan dengungan rendah yang hanya bisa didengar oleh Ilwa.
Ia bersiap untuk mengaktifkan sihirnya, mempertaruhkan rasa sakit yang mungkin akan menghantamnya demi sebuah pembuktian kekuatan.
Di balik pohon, Lina menahan napas, menyaksikan sesuatu yang mungkin akan mengubah peta kekuatan di dalam keluarga Eldersheath selamanya.
Ilwa menghela napas terakhir sebelum mananya menyentuh saraf kakinya, dan dalam sekejap, udara di sekitarnya seakan membeku, menanti ledakan kecepatan yang akan segera terjadi.
-----
Ilwa berdiri mematung di tengah halaman, memejamkan mata untuk memfokuskan seluruh sirkuit sarafnya.
Ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari mandi obat tadi masih mengalir hangat di dalam sumsum tulangnya, memberikan fondasi yang jauh lebih stabil dari sebelumnya.
Kini saatnya melakukan sesuatu yang selama ini menjadi tabu bagi tubuh lemahnya: memaksakan mana masuk ke dalam jaringan otot.
"Haste-Reinforce: Surge," bisik Ilwa dalam batinnya.
Seketika, ia memicu aliran mana yang sangat halus namun padat, mengarahkannya langsung ke serat-serat otot paha dan betisnya.
Biasanya, tindakan ini akan langsung memicu *Aura-Lock* miliknya untuk memberikan serangan balik berupa rasa sakit yang menghancurkan jantung.
Namun kali ini, karena jaringan fisiknya telah diperkuat oleh ritual mandi pemurnian, tubuhnya mampu "meredam" guncangan tersebut lebih lama.
*Wush!*
Dalam sekejap mata, Ilwa menghilang dari posisinya semula.
Ia bergerak begitu cepat hingga rumput di bawah kakinya tertekuk rata seolah diterjang badai kecil.
Ia bukan lagi sekadar berlari; ia meluncur seperti kilat hitam di antara bayang-bayang pohon sore hari.
Bilah hitam di tangannya menari-nari, membelah udara dengan suara frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
Setiap tebasan yang ia lakukan kini membawa bobot dan kecepatan yang tiga kali lipat lebih dahsyat.
Ia berputar, melompat, dan melakukan rangkaian serangan udara yang sangat rumit, menciptakan ilusi seolah ada tiga Ilwa yang sedang menyerang dari sudut berbeda secara bersamaan.
---
Lina, yang masih bersembunyi di balik jemuran, merasa dunianya seakan jungkir balik.
Ia adalah seorang assassin yang dilatih untuk menghadapi berbagai macam ksatria, namun ia belum pernah melihat kecepatan seperti itu keluar dari raga seorang bocah berumur delapan tahun yang divonis cacat.
"Tidak mungkin... Kecepatan itu... dia menggunakan penguatan mana tingkat lanjut!" Lina bergumam dengan napas tertahan.
Ia meraba saku pakaiannya, berniat mengambil alat komunikasi sihir untuk melaporkan hal ini secara instan kepada Marc.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh alat tersebut, sebuah suara dingin dan akrab terdengar tepat di belakang telinganya.
"Lina? Apa yang kau lakukan berdiri mematung di sini?"
Lina tersentak hebat, hampir saja ia mengeluarkan pisau tersembunyinya karena insting tempur.
Ia berbalik dengan cepat dan melihat Martha berdiri di sana dengan dahi berkerut, memegang keranjang cucian kosong di pinggangnya.
"Ah... Bibi Martha," Lina mencoba mengatur napasnya yang memburu, memasang wajah polos yang dibuat-buat.
"Itu... saya tidak sengaja melihat Tuan Muda Ilwa. Saya terkejut melihat beliau sedang berlatih di halaman. Bukankah beliau sedang sakit?"
Martha menoleh ke arah lapangan, melihat siluet Ilwa yang bergerak cepat di kejauhan, lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Tuan Muda memang keras kepala. Dia selalu berusaha melampaui batasnya meskipun tubuhnya tidak mengizinkan. Itu bukan hal aneh, tapi kau tidak seharusnya berdiri di sini menontonnya seperti sedang melihat sirkus."
Martha menatap Lina dengan tatapan mendesak, seolah tidak ingin rahasia majikannya menjadi tontonan pelayan baru. "Sudah, jangan banyak tanya. Lanjut bekerja sana! Masih banyak jemuran yang harus kau angkat sebelum embun malam turun. Cepat!"
Lina tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa menunduk patuh. "Baik, Bibi. Saya segera menyelesaikannya."
Dengan berat hati, Lina terpaksa melangkah pergi mengikuti Martha, meninggalkan halaman belakang tanpa sempat merekam lebih banyak bukti tentang kekuatan Ilwa yang sebenarnya.
---
Satu jam berlalu.
Matahari telah benar-benar tenggelam, menyisakan langit ungu gelap yang suram. Ilwa akhirnya berhenti.
Ia berdiri tegak di tengah halaman yang kini tampak berantakan karena jejak kakinya yang dalam.
Napasnya berat dan tersengal-sengal, setiap tarikan udara terasa seperti debu yang menggores kerongkongannya.
Keringat dingin membasahi seluruh seragam latihannya, membuatnya tampak seperti baru saja merangkak keluar dari sungai.
Ilwa mengangkat tangan kirinya untuk menyeka keringat yang membasahi kening, namun saat tangannya menjauh, ia melihat noda merah kental di punggung tangannya.
Darah.
Ia menyentuh hidungnya, dan benar saja, cairan hangat mengalir keluar dari sana. *Aura-Lock* tetap memberikan "hadiah" atas kelancangannya menggunakan sihir. Meskipun mandi obat tadi melindunginya dari pingsan, tekanan internal tetap memaksa pembuluh darahnya pecah.
"Heh... setidaknya aku tidak berlutut kali ini," bisik Ilwa dengan senyum pahit.
Ia menghapus sisa darah di hidungnya dengan tangan kiri, mengabaikan rasa sakit menusuk yang mulai menjalar di dadanya. Mandi obat itu benar-benar ampuh;
jika ini terjadi kemarin, ia pasti sudah memuntahkan gumpalan darah dan tak bisa bergerak selama tiga hari.
Ia memindahkan bilah hitam yang ia genggam dari tangan kanan ke tangan kirinya.
Ia memperhatikan tangan kanannya yang gemetar hebat, telapak tangannya memerah dan memiliki bekas jejak yang dalam karena ia menggenggam senjata itu terlalu kuat selama latihan intensitas tinggi tadi.
"Cukup untuk hari ini," gumamnya pada diri sendiri.
Ilwa mulai berjalan perlahan menuju pintu belakang paviliun.
Langkahnya sedikit goyah, namun kepalanya tetap tegak.
Tanpa ia sadari, setetes darah segar yang masih tersisa di jari manis tangan kirinya mengalir turun, jatuh tepat di atas bilah hitam yang ia pegang secara terbalik.
Begitu tetesan darah merah itu menyentuh logam hitam yang kusam, sebuah fenomena aneh terjadi.
Logam itu seolah-olah mengisap darah tersebut dalam sekejap.
Bagian retakan di pedang itu berpendar dengan warna merah darah yang sangat redup, berdenyut seperti detak jantung yang lemah selama satu detik, sebelum akhirnya kembali menjadi logam hitam mati yang tak tampak istimewa.
Ilwa, yang terlalu fokus menahan rasa sakit di dadanya dan mengatur napasnya yang terputus-putus, sama sekali tidak menyadari kejadian itu.
Ia hanya terus melangkah masuk ke dalam kehangatan rumahnya, menutup pintu di belakangnya,
Bersambung....