Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pertemuan di Harrods
Sinar matahari pagi London yang pucat menembus celah gorden otomatis di kamar Emrys, perlahan membangunkan Gaby dari tidur nyenyaknya. Gaby mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang jauh lebih nyaman daripada chaise longue yang ia tempati semalam.
Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, Gaby tersentak. Ia tidak lagi berada di sofa pojok. Ia meringkuk di atas kasur king size milik Emrys yang aromanya sangat maskulin. Campuran antara sandalwood dan sabun mewah. Sepertinya di tengah malam, tanpa sadar ia merangkak pindah karena merasa terlalu dingin atau takut.
"Kak Emrys?" panggil Gaby pelan dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong. "Sudah berangkat ke kantor ya?"
Tepat saat Gaby meregangkan tubuhnya, pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram terbuka dengan suara klik yang halus. Gaby menoleh secara spontan, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik itu juga.
Emrys keluar dari sana. Uap hangat tipis mengikuti langkahnya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian, hanya sebuah handuk putih tebal yang melilit pinggangnya dengan rendah, memamerkan garis otot perutnya yang keras dan atletis. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini basah kuyup, dengan tetesan air yang mengalir turun melewati dadanya yang bidang.
Gaby membeku. Matanya membelalak lebar, wajahnya memanas dalam sekejap hingga ke telinga. "K-Kak Emrys!" teriak Gaby pelan sembari refleks menarik selimut menutupi wajahnya sampai ke hidung.
Emrys berhenti melangkah, memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia sama sekali tidak terlihat panik, justru tatapannya tetap tenang dan sedingin es, meskipun tetesan air masih mengalir di lekuk otot dadanya yang bidang.
"Morning, Gaby," sapanya dengan suara berat khas bangun tidur. Ia memperhatikan Gaby yang sudah bersembunyi di balik selimut sutranya. "I see you’ve successfully invaded my bed last night. Comfortable, was it?"
( Kulihat kau berhasil menjajah tempat tidurku tadi malam. Nyaman, ya?)
"A-aku tidak sengaja! Mungkin aku mengigau karena takut hantu!" suara Gaby teredam, benar-benar malu. "Kenapa kau tidak pakai baju dulu sebelum keluar dari kamar mandi!"
Emrys mendengus pelan, sebuah senyum miring yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. Ia melangkah menuju walk-in closet dengan santai. "This is my room, Gaby. If you're so bothered, you should’ve stayed on the sofa like we agreed. But instead, you crawled into my bed in the middle of the night like a lost puppy."
( Ini kamarku, Gaby. Kalau kamu sangat terganggu, seharusnya kamu tetap di sofa seperti yang kita sepakati. Tapi, kamu malah merangkak ke tempat tidurku di tengah malam seperti anak anjing yang hilang.)
Gaby semakin menenggelamkan wajahnya. "Aku benar-benar tidak ingat! Maaf, Kak!"
Padahal, kenyataannya berbeda. Semalam, Emrys terbangun jam tiga pagi dan melihat Gaby meringkuk kedinginan di atas chaise longue dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Alih-alih membiarkannya, Emrys dengan helaan napas panjang akhirnya menggendong gadis itu perlahan, memastikan Gaby tidak terbangun dan merebahkannya di sisi ranjangnya yang luas sebelum menyelimutinya dengan rapat.
Tapi bagi seorang Emrys Aetherion Kaito, mengakui sisi lembutnya adalah hal terakhir yang akan ia lakukan.
"Ten minutes, Gaby," suara Emrys bergema dari balik pintu lemari pakaian. "Get out of my bed, go back to your room, and get ready. I don't pay my chef to make breakfast for someone who’s still hiding under a duvet."
( Sepuluh menit, Gaby. Keluar dari tempat tidurku, kembali ke kamarmu, dan bersiap-siap. Aku tidak membayar koki untuk membuat sarapan bagi seseorang yang masih bersembunyi di bawah selimut.)
"Iya-iya! Aku pergi sekarang!"
Gaby langsung melompat turun dari kasur, memeluk bantalnya erat-erat, dan berlari keluar kamar Emrys secepat kilat. Ia tidak menyadari bahwa di dalam walk-in closet, Emrys sedang menatap pantulan dirinya di cermin, menggelengkan kepala pelan sambil memikirkan betapa merepotkannya (sekaligus menggemaskannya) adik sepupunya itu.
Suasana meja makan pagi itu terasa sedikit lebih canggung bagi Gaby, tapi Emrys sudah kembali menjadi sosok Managing Director yang sempurna. Ia duduk dengan kemeja putih bersih yang kancing atasnya terbuka sedikit, tanpa dasi, memberikan kesan casual-professional.
"Eat your eggs, Gaby. You look like you haven't slept for days," ujar Emrys sambil membolak-balik halaman Financial Times.
( Habiskan telurmu, Gaby. Kamu terlihat seperti belum tidur berhari-hari.)
"Itu karena film horor itu! Dan... kejadian tadi," gumam Gaby sambil menusuk sosisnya. "Kak, apa aku benar-benar mengigau semalam? Aku tidak pernah berjalan sambil tidur sebelumnya."
Emrys menyesap kopi hitamnya tanpa ekspresi. "You were practically sleep-walking, Gaby. You even mumbled something about 'not wanting to be alone' before you claimed half of my mattress. It was quite a performance."
(Kamu benar-benar seperti berjalan dalam tidur, Gaby. Kamu bahkan menggumamkan sesuatu tentang 'tidak ingin sendirian' sebelum kamu mengklaim setengah dari kasurku. Itu adalah penampilan yang cukup menarik.)
Gaby menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Oh God... memalukan sekali. Maafkan aku, Kak Lemon."
Emrys meletakkan korannya, menatap Gaby dengan intensitas yang membuat gadis itu terdiam. "Forget it. Just make sure it doesn't happen again. Now, finish up. I have a meeting at the office, but after that, I'm taking you to Harrods. You need proper winter coats before term starts at Oxford."
( Lupakan. Pastikan saja ini tidak terjadi lagi. Sekarang, selesaikan. Aku ada rapat di kantor, tapi setelah itu, aku akan membawamu ke Harrods. Kamu butuh mantel musim dingin yang layak sebelum semester dimulai di Oxford.)
Gaby langsung mendongak, matanya berbinar. "Ke Harrods? Benarkah?"
"Don't make me change my mind," balas Emrys pendek, meski ia tahu persis bahwa memanjakan Gaby dengan belanja adalah cara terbaik untuk mengalihkan pembicaraan dari kejadian semalam.
(Jangan membuatku berubah pikiran.)
.
.
.
Harrods siang itu sangat ramai, namun kemegahan interiornya yang bernuansa emas tetap memberikan kesan eksklusif. Emrys berjalan dengan tenang di samping Gaby, sesekali memberikan pendapat singkat saat Gaby mencoba beberapa mantel bulu yang harganya setara dengan sebuah mobil kota di Jakarta.
Saat mereka sedang berada di departemen aksesori mewah, sebuah suara tawa yang sangat familiar bergema dari balik rak tas designer.
"No way! I told you that bag is too 'basic' for your vibe, Emilia!"
Gaby menoleh dan menemukan Keytlon sedang berdiri mengenakan topi beanie dan kacamata hitam besar. Upayanya yang gagal untuk menyamar. Di sampingnya, berdiri seorang gadis yang seketika membuat napas Gaby tertahan sejenak.
Gadis itu memiliki kecantikan yang tidak biasa. Kulitnya seputih porselen dengan rambut panjang yang jatuh dengan anggun.
"Key! Kau sedang apa di sini?" sapa Gaby riang.
Keytlon langsung menoleh dan menyeringai lebar. "Lemon! Gaby! What a coincidence! Kenalkan, ini keponakanku yang paling merepotkan, Emilia Varya Roslavleva."
Gadis Rusia itu langsung melangkah mendekat. Ia tidak ragu-ragu. Emilia menggenggam tangan Gaby dengan antusias, seolah mereka sudah berteman selama bertahun-tahun. "Oh my God, are you the cousin Key was talking about? You are absolutely stunning! Key, why didn't you tell me she's this pretty?" dan matanya yang tajam namun jernih menatap Gaby dengan binar ketertarikan yang murni.
( Ya Tuhan, apakah kamu sepupu yang Key bicarakan? Kamu benar-benar memukau! Key, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau dia secantik ini?)
Gaby sedikit terkejut dengan kehangatan Emilia yang tiba-tiba. Ia merasa sedikit tidak nyaman karena mereka belum saling mengenal, namun saat ia menatap wajah Emilia yang luar biasa cantik dengan proporsi wajah sempurna bak lukisan klasik. Gaby merasa benteng pertahanannya runtuh seketika.
"Hai, aku Gaby," jawab Gaby sambil tersenyum malu-malu.
"I'm Emilia. You're going to Oxford, right? Me too! I'm in my final year at the Fine Arts department." (Aku Emilia. Kamu akan pergi ke Oxford, kan? Aku juga! Aku di tahun terakhirku di departemen Seni), celoteh Emilia dengan aksen campuran Rusia-London yang unik. "Kita harus jadi sahabat! Aku akan menjagamu selama setahun ini sebelum aku lulus. Kau tidak boleh menolak!"
Emrys, yang berdiri di belakang Gaby, hanya menyilangkan tangan di dada dengan tatapan skeptis. "Another Gardermoen in the house. Just what I needed," gumamnya sinis.
( Akan ada Gardermoen lain di rumah. Itu yang (sangat tidak) kubutuhkan.)
Keytlon tertawa terbahak-bahak sembari merangkul pundak Emrys. "Chill out, Lemon! Emilia is harmless. She just needs someone to talk to about something other than oil paintings and statues."
( Tenang, Lemon! Emilia tidak berbahaya. Dia hanya butuh seseorang untuk diajak bicara selain tentang lukisan minyak dan patung.)
Emilia mengabaikan para pria dan langsung menarik lengan Gaby menuju deretan perhiasan. "Come on, Gaby! Let's find something that matches your eyes. Ignore them, they’re just being boring old men."
( Ayo, Gaby! Mari kita cari sesuatu yang cocok dengan matamu. Abaikan mereka, mereka hanya orang tua yang membosankan.)
Gaby hanya bisa pasrah ditarik oleh Emilia, namun di dalam hati, ia merasa senang. Setidaknya di Oxford nanti, ia tidak akan sendirian. Ada Emilia Varya Roslavleva, gadis Rusia yang cantik dan berapi-api yang siap menemaninya.