Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pagi itu, suasana rumah terasa lebih lega namun juga sedikit sepi. Maura akhirnya benar-benar memindahkan kembali barang-barangnya ke rumah Menteng setelah dibujuk habis-habisan oleh Mama Sari. Gadis itu sempat menggoda kakaknya berkali-kali sebelum pergi, menyebut bahwa ia tidak ingin menjadi "penonton film dewasa gratis" setiap pagi. Kini, di rumah besar itu, hanya tersisa Davino, Alisa, dan Bi Ijah yang sedang sibuk mengepel lantai dapur.
Davino muncul dari arah tangga dengan kaos polo putih dan celana jins gelap. Wajahnya tampak segar, meskipun ada kantung mata tipis karena ia hampir tidak tidur semalam hanya untuk memandangi wajah Alisa yang tertidur lelap di sampingnya—tanpa guling pembatas.
"Sudah siap?" tanya Davino, menghampiri Alisa yang sedang memeriksa daftar belanjaan di ponselnya.
Alisa menoleh dan tersenyum. "Sebentar, Mas. Aku sedang mencatat stok deterjen dan sabun cair. Bi Ijah bilang stok di gudang sudah menipis."
"Kita beli semua hari ini. Aku yang dorong trolinya," ucap Davino santai sembari mengambil kunci mobil di meja.
Ini adalah pertama kalinya mereka pergi belanja bulanan sebagai pasangan "asli". Tidak ada lagi rasa canggung atau keinginan untuk cepat-selesai-lalu-pulang. Di supermarket, Davino benar-benar menepati janjinya. Ia mendorong troli besar itu di belakang Alisa dengan patuh, sesekali memasukkan barang yang menurutnya penting—seperti stok kopi hitam dan camilan untuk Alisa.
"Mas, jangan beli cokelat sebanyak itu. Nanti aku tambah gemuk," protes Alisa saat Davino memasukkan bungkus cokelat kelima ke dalam troli.
"Kamu sedang haid hari kedua, Alisa. Kata artikel yang aku baca semalam, cokelat membantu memperbaiki suasana hati," jawab Davino dengan nada sangat serius, seolah sedang membacakan pasal hukum.
Alisa tertawa renyah. "Mas beneran baca artikel tentang itu?"
"Aku harus mempelajari musuhku, bukan? Dan musuhku sekarang adalah hormonmu yang bisa meledak kapan saja," canda Davino sembari mengacak rambut Alisa pelan.
Momen-momen kecil itu terasa sangat manis bagi Alisa. Melihat seorang Kapten polisi yang biasanya memegang senapan laras panjang kini sibuk membandingkan harga minyak goreng dan memilihkan buah alpukat yang matang adalah pemandangan yang tak ternilai harganya.
Dua hari kemudian, sebuah tantangan baru muncul bagi Alisa. Sebagai istri seorang perwira polisi, ia memiliki kewajiban untuk mengikuti kegiatan Bhayangkari. Selama masa sandiwara kemarin, ia selalu mencari alasan untuk menghindar. Namun kini, dengan status mereka yang sudah nyata, Alisa merasa perlu memberikan dukungan penuh pada karir suaminya.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Alisa mengenakan seragam kebesaran Bhayangkari—setelan berwarna merah muda (pink) yang sangat khas. Ia mematut dirinya di depan cermin besar di kamar.
"Bagaimana, Mas? Terlihat aneh ya?" tanya Alisa saat Davino masuk ke kamar untuk mengambil baretnya.
Davino terpaku di ambang pintu. Ia menatap Alisa dari bawah ke atas. Seragam pink itu entah kenapa membuat Alisa tampak lebih lembut namun juga berwibawa. "Tidak aneh. Kamu cantik sekali pakai warna itu."
"Aku gugup. Aku tidak tahu harus bicara apa dengan istri-istri polisi yang lain. Bagaimana kalau mereka bertanya soal spesialisasi medisku atau hal-hal yang tidak aku mengerti tentang kepolisian?"
Davino mendekat, merapikan kerah seragam Alisa. "Cukup jadi dirimu sendiri. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu adalah Dokter Alisa, mereka pasti akan menghargaimu. Lagipula, ada rekan-rekanku di sana yang istrinya juga sangat ramah."
Sesampainya di aula pertemuan, Alisa merasa seperti mahasiswa baru di hari pertama kuliah. Suasana penuh dengan ibu-ibu berseragam pink yang sedang asyik mengobrol. Davino mengantarnya sampai ke pintu depan aula sebelum ia harus pergi ke ruang rapat para perwira.
"Aku jemput dua jam lagi," bisik Davino sebelum berlalu.
Alisa menarik napas dalam-dalam dan masuk ke dalam. Ia duduk di salah satu kursi di barisan tengah. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan wajah yang sangat ramah dan senyum manis duduk di sampingnya. Wanita itu membawa seorang anak kecil perempuan berusia sekitar empat tahun yang sedang asyik memegang boneka kelinci.
"Pagi. Anggota baru ya? Saya belum pernah lihat sebelumnya," sapa wanita itu dengan suara lembut.
Alisa tersenyum canggung. "Pagi. Iya, saya Alisa. Istri Kapten Davino Narendra."
Mata wanita itu berbinar. "Oh! Istri Kapten Davino! Suami saya sering cerita tentang keberanian Kapten Davino di lapangan. Saya Keyla, istri dari Iptu Bagas, salah satu anggota tim Satgas-nya Mas Vino."
"Salam kenal, Mba Keyla," jawab Alisa merasa sedikit lega karena menemukan orang yang mengenal suaminya.
"Dan ini Dinda," Keyla memperkenalkan anak kecil di pangkuannya. "Dinda, beri salam pada Tante Dokter Alisa."
"Halo Tante Dokter," ucap Dinda malu-malu, menyembunyikan wajahnya di balik boneka.
Alisa langsung merasa gemas. Insting dokternya yang menyukai anak-anak seketika muncul. "Halo Dinda cantik. Bonekanya namanya siapa?"
"Namanya Kuki," jawab Dinda kecil, mulai berani menatap Alisa.
Keyla tertawa kecil. "Maaf ya, Dinda memang agak pemalu kalau baru kenal. Wah, Mba Alisa ini dokter ya? Hebat sekali. Pasti sibuk sekali mengatur waktu antara rumah sakit dan kegiatan seperti ini."
"Masih belajar, Mba. Jujur, ini pertemuan pertama saya yang serius. Biasanya saya selalu punya alasan untuk absen karena jadwal operasi," aku Alisa jujur.
"Jangan khawatir, kita semua di sini senasib," Keyla menepuk lengan Alisa. "Menjadi istri polisi itu harus punya stok sabar yang banyak. Apalagi suami kita di Satgas, sering ditinggal tugas mendadak. Kalau Mba Alisa butuh teman mengobrol atau bingung soal urusan administrasi Bhayangkari, tanya saja pada saya. Jangan sungkan ya."
Obrolan itu mengalir begitu saja. Keyla menceritakan bagaimana ia menghadapi kecemasan setiap kali Bagas pergi operasi, dan Alisa pun berbagi ceritanya sebagai dokter bedah. Ternyata, memiliki teman yang mengerti dinamika pekerjaan suami sangat membantu meredakan rasa gugup Alisa.
Pertemuan rutin itu diisi dengan pengarahan dari Ibu Kapolres, namun bagi Alisa, momen yang paling berharga adalah persahabatan barunya dengan Keyla. Ia merasa tidak lagi sendirian di dunia "pink" ini.
Saat pertemuan usai, Davino sudah menunggu di luar bersama Iptu Bagas. Terlihat kedua pria itu sedang mengobrol serius namun santai.
"Dinda! Papa di sini!" seru Keyla.
Anak kecil itu langsung berlari ke arah Bagas yang dengan sigap menggendongnya dan mencium pipinya gemas. Pemandangan itu membuat Alisa tersenyum. Ia melirik Davino, dan mendapati suaminya itu sedang menatapnya dengan tatapan bangga.
"Bagaimana pertemuannya?" tanya Davino saat mereka sudah di dalam mobil.
"Sangat menyenangkan! Aku punya teman baru, namanya Keyla. Dia sangat baik, dan anaknya, Dinda, lucu sekali," cerita Alisa dengan antusias. "Ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan, Mas."
Davino tersenyum sembari mengemudikan mobilnya membelah kemacetan Jakarta. "Baguslah kalau begitu. Aku senang kamu bisa beradaptasi. Bagas itu salah satu orang kepercayaanku, dia orang yang sangat setia kawan. Istrinya pun pasti luar biasa."
"Mas..." Alisa menoleh ke arah Davino. "Tadi aku lihat Mas Bagas menggendong Dinda... mereka terlihat sangat bahagia ya?"
Davino terdiam sejenak, ia mengerti arah pembicaraan Alisa. Ia meraih tangan Alisa dan menggenggamnya erat. "Suatu saat nanti, kita juga akan punya 'Dinda' kita sendiri, Alisa. Tapi untuk sekarang, biarkan aku fokus mencintaimu dulu tanpa gangguan apapun."
Alisa tersipu, menyandarkan kepalanya di bahu Davino. "Mas gombalnya semakin lancar ya sekarang."
"Ini bukan gombal, Dokter Alisa. Ini adalah pernyataan dari seorang suami yang baru menyadari betapa beruntungnya dia memiliki istri sepertimu."
Matahari sore Jakarta mulai meredup, namun kehangatan di dalam mobil itu semakin nyata. Belanja bulanan sudah selesai, pertemuan pertama Bhayangkari sudah dilalui, dan persahabatan baru telah dimulai. Alisa menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi rahasia. Yang ada hanyalah sebuah perjalanan panjang yang akan ia lalui bersama pria yang paling ia cintai.
Sesampainya di rumah, Bi Ijah menyambut mereka dengan wajah ceria. Stok belanjaan sudah ditata rapi. Malam itu, Alisa memutuskan untuk memasak makan malam spesial untuk Davino sebagai perayaan kecil atas hari pertamanya sebagai anggota Bhayangkari yang aktif. Di dapur, Davino sesekali membantu memotong bawang, meskipun ia lebih banyak mengganggu Alisa dengan pelukan-pelukan tiba-tiba dari belakang.
Normalitas ini... adalah normalitas yang paling indah yang pernah Alisa bayangkan.
Bersambung