NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Formasi

Pagi di tambang tidak pernah benar-benar datang.

Cahaya matahari tidak mampu menembus lorong-lorong batu yang berliku, dan udara di dalam goa selalu terasa seperti malam yang basah. Yang menandakan pergantian hari hanyalah bunyi gong besi yang dipukul para bandit, disusul teriakan kasar dan suara cambuk menyeret lantai.

Shou Wei membuka mata saat bahunya ditendang.

“Bangun, sampah!”

Seorang bandit bertubuh pendek meludah ke dekat wajahnya. “Kau dan si pahlawan itu, ikut aku. Kalian dipindah ke goa terdalam.”

Tubuh Shou Wei terasa remuk. Luka cambuk semalam belum mengering, dan setiap tarikan napas membuat punggungnya berdenyut seperti ditusuk bara. Di sebelahnya, Hui Song sudah bangkit lebih dulu. Wajah pemuda itu pucat, tetapi matanya tetap tenang.

Ia menepuk lengan Shou Wei pelan.

“Berdiri.”

Shou Wei menggertakkan gigi dan memaksa dirinya bangun. Di sepanjang goa utama, puluhan pekerja paksa lainnya menunduk, pura-pura sibuk mengangkat keranjang atau memecah batu. Tak seorang pun berani menatap terlalu lama. Di tempat seperti ini, perhatian bisa mendatangkan petaka.

Bandit pendek itu membawa mereka melewati goa tengah, lalu masuk ke lorong sempit yang menurun tajam ke bawah tanah. Semakin jauh mereka berjalan, udara makin dingin dan bau batu roh mentah makin pekat. Dinding lorong dipenuhi urat-urat mineral redup yang berkilau samar seperti mata-mata kecil di dalam gelap.

Shou Wei diam-diam menghafal jalan.

Belok kiri setelah tiang kayu retak.

Lima puluh langkah turun.

Ada celah kecil di dinding kanan, cukup untuk satu anak bersembunyi.

Di tambang itu, setiap detail bisa menjadi penyelamat nyawa.

Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di ruang batu yang lebih dalam dari bagian lain. Langit-langitnya rendah, lantainya lembap, dan hanya ada dua obor yang dipasang berjauhan. Di ujung ruangan terdapat terowongan baru yang belum sepenuhnya terbuka, penuh batu keras bercampur serpihan batu roh.

“Inilah tempat kalian,” kata bandit pendek itu sambil menyeringai. “Gali sampai urat batu roh di sini habis. Makanan akan diantar sekali sehari. Keranjang hasil galian diambil sore. Kalian tidak perlu keluar kecuali dipanggil.”

Ia menatap Hui Song, lalu Shou Wei, seolah sedang menikmati sesuatu.

“Kalau mati, lebih bagus. Kami tidak perlu repot mengawasi.”

Bandit itu melemparkan dua cangkul kecil, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Suara langkahnya menghilang jauh di lorong. Tinggal kesunyian, tetesan air, dan napas berat dua anak yang dipaksa masuk ke perut gunung.

Hui Song berjalan mengelilingi ruangan, memeriksa sudut-sudutnya. “Hanya satu jalan masuk. Tidak ada penjaga tetap.”

Hui Song memungut cangkulnya.lalu melanjutkan “Mereka pikir kita tak bisa ke mana-mana karena pintu keluar hanya satu. Kalau kita keluar ke ruang utama maka hukuman sudah pasti menanti. Jadi kita selamanya di lorong terdalam..”

Shou Wei tak menjawab. Ia mendekati dinding batu yang harus digali hari itu. Permukaannya keras, tapi di sela retakan ada kilau redup. Batu roh memang ada di sini. Lebih banyak daripada di goa lain. Hanya disini lebih keras.

“Mereka menaruh kita di sini karena tempat ini penting,” katanya.

Hui Song mengangguk. “Dan karena kalau lorong runtuh, yang mati pertama pasti kita.”

Mereka mulai bekerja.

Dentang logam menghantam batu menggema berat di ruang sempit itu. Setiap ayunan cangkul menarik nyeri dari punggung Shou Wei, tetapi ia menahannya tanpa suara. Di dekatnya, Hui Song bekerja lebih cepat, memecah batu besar menjadi bongkahan yang bisa dipindahkan. Keringat, debu, dan darah bercampur di tubuh mereka sampai waktu kehilangan bentuk.

Di sela bunyi galian, Hui Song tiba-tiba berkata, “Namaku Hui Song.”

Shou Wei berhenti sejenak, lalu kembali mengayun. “Aku tahu.”

“Hanya ingin mengatakannya lagi. Di tempat ini, nama gampang hilang.”

Shou Wei memikirkan kalimat itu beberapa saat. “Shou Wei.”

“Aku juga tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak semalam, ujung bibir Hui Song bergerak tipis. Hampir seperti senyum.

Mereka terus bekerja hingga suara langkah kecil terdengar dari lorong. Keduanya langsung menoleh.

Seorang gadis mungil masuk sambil membawa baki kayu. Usianya mungkin baru sepuluh tahun. Bajunya kebesaran dan penuh tambalan. Rambutnya diikat seadanya, namun matanya tajam, tidak seperti anak kecil yang sudah menyerah pada nasib.

Ia meletakkan baki itu di atas batu datar tanpa berkata apa-apa.

Di atas baki hanya ada dua mangkuk bubur encer dan sepotong kecil sayur asin.

Hui Song mendecak pelan. “Hari ini lebih sedikit.”

Gadis itu menatapnya datar. “Semua jatah dikurangi. Ada pengiriman besar malam ini.”

Shou Wei memperhatikan gadis itu. “Namamu?”

Gadis kecil itu menatapnya agak lama, seolah menilai apakah pertanyaan itu layak dijawab.

“Chu Hua.”

Lalu ia menunjuk mangkuk. “Makan cepat. Aku tak boleh lama-lama di sini.”

Hui Song duduk dan menyodorkan salah satu mangkuk kepada Shou Wei. Bubur itu terlalu encer untuk disebut makanan, tetapi kehangatannya tetap terasa berharga. Saat mereka makan, Chu Hua berdiri dekat pintu masuk, mendengarkan suara dari lorong seolah selalu siap kabur.

“Kau selalu yang mengantar?” tanya Shou Wei.

Chu Hua mengangguk.

“Kenapa?”

“Kaki kecil. Langkah ringan. Mudah disuruh-suruh.”

Nada bicaranya datar, tetapi Shou Wei bisa menangkap sesuatu di baliknya. Gadis itu tidak mengeluh. Ia hanya mencatat fakta, seperti seseorang yang sudah terlalu sering diperlakukan sebagai barang.

Sebelum pergi, Chu Hua melirik luka cambuk di punggung Shou Wei. “Kalau malam, jangan tidur menempel lantai. Batu dingin bikin lukamu membusuk.”

Setelah berkata begitu, ia membawa baki kosong dan menghilang ke lorong.

Shou Wei menatap ke arah ia pergi.

“Dia tidak seperti anak sepuluh tahun,” gumamnya.

“Tak ada anak-anak di tambang ini,” balas Hui Song. “Yang ada hanya orang-orang kecil yang belum sempat tumbuh.”

Menjelang sore, datang seorang anak laki-laki lain. Usianya sekitar tiga belas tahun, tubuhnya kurus panjang, wajahnya keras, dan matanya selalu bergerak cepat. Ia membawa keranjang kosong besar di punggungnya.

Tanpa menyapa, ia mulai memungut bongkahan hasil galian mereka.

“Kau siapa?” tanya Shou Wei.

Anak itu tak langsung menjawab. Ia menumpuk batu roh mentah dengan cekatan, lalu baru berkata, “Bo De.”

Hui Song menyandarkan cangkul ke dinding. “Kau yang mengambil hasil dari sini?”

“Setiap hari.”

“Sendirian?”

Bo De mendengus. “Kalau bawa bandit ke sini, kalian mau bagi batu lebih banyak ke mereka?”

Nada bicaranya tajam, tetapi masuk akal. Ia bekerja cepat, tampak terbiasa mengukur mana batu biasa dan mana yang mengandung roh lebih padat.

Shou Wei mengamatinya diam-diam. Anak ini bukan sekadar pembawa keranjang. Ia punya mata yang awas. Tipe orang yang akan bertahan hidup selama mungkin karena tidak percaya siapa pun.

Lalu Bo De berjalan pergi, meninggalkan suara langkah yang cepat dan ringan.

Saat lorong kembali sepi, Hui Song duduk di lantai dan mengusap wajah penuh debu. “Chu Hua, Bo De… menarik.”

Shou Wei ikut duduk, cangkul di pangkuan. “Kau sudah lama di sini?”

“Tiga tahun.”

Shou Wei menoleh. “Sejak umur dua belas?”

Hui Song mengangguk. “Desaku di lereng timur gunung. Bandit datang malam-malam. Membunuh yang melawan. Anak-anak dibawa pergi.” Tatapannya turun ke telapak tangannya sendiri. “Awalnya aku juga berpikir kalau bekerja cukup lama, suatu hari akan dibebaskan. Lalu aku melihat dua orang yang katanya selesai masa kerja dibawa keluar. Esoknya, jubah mereka dipakai untuk membungkus mayat.”

Shou Wei tak berkata apa-apa. Itu artinya didalam goa tidak ada yang berumu 18 tahun karena mereka sudah di keluarkan dari goa saat masih berumur 17 tahun. Entah di berikan kebebasan atau di musnahkan. Kecuali para Bandit tentunya.

“Karena itu,” lanjut Hui Song, “kalau ada kesempatan keluar, itu hanya bisa direbut. Tidak akan pernah diberikan.”

Ucapan itu menetap di kepala Shou Wei saat malam turun.

Setelah pengambilan hasil terakhir dan obor di lorong diganti, tak ada lagi orang yang datang. Goa terdalam menjadi dunia kecil yang terputus dari tempat lain. Tetesan air terdengar makin jelas. Udara dingin mengalir pelan. Hui Song sudah berbaring di sudut, memejamkan mata untuk menghemat tenaga.

Namun Shou Wei tidak bisa tidur.

Punggungnya masih berdenyut, tapi bukan itu yang mengusik pikirannya. Sejak sore tadi, saat memecah batu di sisi kanan lorong, ia merasa ujung cangkulnya beberapa kali membentur sesuatu yang berbeda. Bukan batu biasa. Bukan pula batu roh.

Ia bangkit pelan dan mendekati dinding yang dimaksud. Di sana, di balik lapisan batu kelabu, ada bidang permukaan yang lebih halus. Seperti batu yang pernah dipahat manusia, lalu tertutup endapan selama bertahun-tahun.

Shou Wei meraba permukaannya.

Ada garis.

Bukan retakan alam, melainkan guratan yang tersusun.

Matanya menyipit.

“Hui Song,” panggilnya lirih.

Pemuda itu membuka mata seketika. “Apa?”

“Ambil obor.”

Hui Song bangkit, membawa obor mendekat. Saat cahaya api menyapu dinding, keduanya terdiam.

Di balik batu yang terkelupas, benar-benar ada pola ukiran halus. Lingkaran-lingkaran kecil, garis saling silang, dan simbol-simbol kuno yang hampir pudar. Sebagian tertutup kerak mineral, sebagian lagi masih cukup jelas untuk dikenali sebagai tulisan formasi.

“Ini…” Hui Song mendekatkan api. “Apa ini segel?”

“Bukan.” Shou Wei berjongkok, jari-jarinya mengikuti pola di batu. “Ini diagram. Formasi.”

Hui Song menatapnya. “Kau bisa membaca?”

“Sedikit.”

Sedikit adalah kata yang dipilih Shou Wei, tetapi sebenarnya kemampuannya lebih dari itu. Saat masih sangat kecil, sebelum kediaman keluarganya dibakar, ia pernah melihat beberapa gulungan tua di paviliun samping rumah. Ia tidak mengerti semuanya, namun ayahnya pernah berkata bahwa susunan garis dan arah adalah bahasa lain dari langit dan bumi. Shou Wei masih terlalu muda waktu itu, tetapi ia punya ingatan yang sangat tajam. Sekali melihat, banyak hal tak mudah hilang.

Shou Wei juga dulunya punya Guru yang mengajarkan Formasi. Shou Wei lebih pandai dalam formasi dari pada kultuvasi.

Ia mengambil pecahan batu tajam dan mulai mengikis endapan di sekitar ukiran dengan hati-hati.

Sedikit demi sedikit, lebih banyak pola muncul.

Bukan hanya diagram.

Ada celah sempit di tengah ukiran, seperti tempat sesuatu disembunyikan.

“Bantu kupas bagian ini,” katanya.

Hui Song tak bertanya lagi. Dengan ujung cangkul dan tangannya sendiri, ia membantu memecah lapisan batu sekitar. Pekerjaan itu pelan dan melelahkan. Beberapa kali mereka berhenti saat mendengar suara samar dari lorong, tetapi tak ada yang datang.

Akhirnya, dengan bunyi retak kecil, sebuah lempeng batu tipis lepas dari dinding.

Di baliknya ada rongga seukuran lengan.

Dan di dalam rongga itu tersimpan sebuah gulungan tua berwarna kelabu keemasan.

Debu halus beterbangan saat Shou Wei menariknya keluar. Gulungan itu dingin dan kering, tidak lapuk dimakan waktu, seolah telah disegel oleh sesuatu yang tak terlihat. Pada permukaannya terukir empat lambang samar: sisik panjang, sayap api, tanduk bercabang, dan tempurung gelap.

Jantung Shou Wei berdegup lebih keras.

Hui Song menelan ludah. “Kitab?”

Shou Wei mengangguk perlahan.

Tangannya nyaris gemetar ketika membuka ikatan gulungan itu. Kain kuno di dalamnya memuat barisan simbol, arah mata angin, alur tenaga, dan inti susunan formasi yang jauh lebih rumit daripada ukiran di dinding. Beberapa bagian sulit dibaca, tetapi satu hal langsung tampak jelas.

Ini bukan formasi biasa.

Ini adalah formasi pemanggil warisan darah.

Mata Shou Wei bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya. Semakin ia membaca, semakin dingin punggungnya. Shou Wei begitu serius membacanya. Setiap guratan garis di kenalnya.

Empat posisi.

Utara, selatan, timur, barat.

Empat pengorbanan darah.

Empat nama roh agung.

Dan di bagian paling bawah, ada kalimat yang hampir memudar, namun masih terbaca di bawah cahaya obor:

Mereka yang bertahan akan mewarisi jejak roh suci. Mereka yang gagal akan kembali menjadi debu.

Hui Song membaca ekspresi wajahnya. “Apa isinya?”

Shou Wei mengangkat kepala pelan. Cahaya api memantul di matanya yang gelap, membuat wajah anak dua belas tahun itu tampak jauh lebih tua.

“Sesuatu,” katanya, “yang mungkin bisa membuat kita keluar dari sini.”

Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara.

Di luar ruang kecil itu, perut gunung tetap sunyi. Tambang rahasia Hutan Mosenlin terus bernapas dalam gelap, tidak menyadari bahwa di goa terdalam, dua anak pekerja paksa baru saja menemukan jalan yang bisa menghancurkan semuanya.

Hui Song akhirnya duduk perlahan di lantai batu. “Berbahaya?”

“Ya.”

“Bisa membunuh?”

“Ya.”

Pemuda itu terdiam, lalu menatap lurus ke gulungan di tangan Shou Wei. “Kalau begitu, mungkin itu memang jalan kita.”

Shou Wei menggulung kembali kitab itu dengan hati-hati. Dadanya terasa panas, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang sudah lama mati di dalam dirinya kini mulai bergerak lagi.

Harapan.

Kecil, tajam, dan berbahaya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak dibawa ke tambang, Shou Wei tidak lagi merasa dirinya hanya seekor hewan yang menunggu giliran disembelih.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!