Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKACAUAN DI BASECAMP LOMINOUS
Sementara di kosan Aruna sedang terjadi Tragedi Daster Pink, di pusat kota Jakarta, tepatnya di markas besar grup idola nomor satu, LUMINOUS, situasinya jauh lebih mengenaskan.
Jika fans membayangkan para member sedang duduk melankolis sambil memandangi bintang-bintang meratapi hilangnya sang leader, mereka salah besar. Yang terjadi adalah simulasi kiamat kecil yang dipimpin oleh Manajer Han, pria paruh baya yang rambutnya kini tinggal tiga helai akibat rontok karena stres.
"MANA JAVIER?! SUDAH TIGA HARI! TIGA HARIII!"
teriak Manajer Han sambil menggebrak meja makan marmer yang di atasnya terdapat sisa-sisa kotak pizza dan tumpukan masker wajah yang sudah kering.
Tiga member LUMINOUS lainnya duduk di sofa dengan pose yang sangat tidak mencerminkan idola nasional.
Kenji (Main Dancer), Sedang asyik melakukan gerakan push-up dengan satu tangan sambil mengunyah kerupuk kaleng.
Satya (Visual/Vocal), Sedang mencoba menggunakan detektor logam di sela-sela sofa, berharap menemukan Javi atau mungkin koin dua ratus perak yang hilang.
Rian (Maknae/Bungsu), Sedang menangis sesenggukan sambil menonton kompilasi video Javi Marah-Marah di YouTube karena kangen dibentak.
"Manajer, tenanglah. Javi itu kan Ice Prince. Es kalau hilang paling-paling mencair, nanti juga menguap terus jadi hujan, terus balik lagi ke sini," ucap Satya dengan logika yang membuat Manajer Han ingin segera pensiun dini.
"Satya, ini bukan pelajaran geografi! Ini masalah karier! Lusa kita ada kontrak iklan sabun colek internasional! Kalau Javi nggak ada, siapa yang mau pose pegang busa dengan tatapan seksi?!"
Manajer Han menjambak rambutnya yang tinggal sedikit itu.
Rian tiba-tiba meraung lebih keras.
"Hwaaaa! Javi-hyung! Siapa yang bakal masakin aku mi instan jam dua pagi kalau nggak ada Hyung?! Siapa yang bakal marahin aku kalau aku nggak mandi tiga hari?!"
Kenji berhenti push-up.
"Rian, mending kamu mandi sekarang. Bau badanmu sudah bisa menggantikan aroma terapi ruangan ini jadi aroma terapi tempat pembuangan akhir."
"Dengar semuanya!"
Manajer Han berdiri di atas meja, hampir terpeleset sisa saus sambal.
"Kita tidak bisa mengandalkan polisi karena mereka akan membocorkannya ke media. Kita harus mencari Javi sendiri menggunakan insting grup!"
"Insting grup?"
Satya mengangkat alis.
"Maksud Manajer, kita harus melacak bau parfumnya? Javi pakai parfum yang harganya sejuta per tetes, Manajer. Di Jakarta ini, bau yang paling dominan adalah asap knalpot dan bau gorengan."
"Bukan itu! Kalian kan sudah tinggal bersama lima tahun! Pasti tahu tempat persembunyiannya!"
Kenji berpikir sejenak.
"Javi itu orangnya simpel. Kalau stres, dia biasanya pergi ke tempat yang tinggi. Atau tempat yang banyak kacanya buat dia ngaca sambil nangis estetik."
"Sudah kita cek semua gedung tinggi di Jakarta! Hasilnya nihil!" seru Manajer Han.
Tiba-tiba, HP Rian berbunyi. Ada notifikasi masuk dari akun fanbase terbesar LUMINOUS. Rian membacanya, lalu matanya melotot sampai hampir keluar.
"Manajer... Hyung... liat ini..." suara Rian bergetar.
Di layar HP terlihat sebuah foto buram yang diambil dari kejauhannya. Foto itu menampilkan seorang pria tinggi, memakai sarung yang dililitkan di leher, kacamata hitam, dan sedang memegang es mambo stroberi di pinggir jalan.
"Ini... postur tubuh ini..."
Manajer Han mendekatkan matanya ke layar.
"Bahu yang lebar ini... cara memegang es mambo yang sangat karismatik ini... ini JAVIER!"
Satya menyipitkan mata.
"Tapi tunggu, kenapa dia pake sarung? Dan kenapa dia kelihatan bahagia banget cuma pegang es mambo dua ribu perak? Biasanya dia baru senyum kalau dapet steak Wagyu A5!"
"Itu tandanya dia sedang dalam mode penyamaran tingkat dewa!"
Kenji menyimpulkan.
"Javi-hyung memang jenius. Dia tahu kalau dia dandan gembel, orang nggak bakal percaya itu dia!"
Tanpa pikir panjang, Manajer Han memerintahkan para member untuk bersiap.
"Kita berangkat sekarang! Lokasi foto ini terdeteksi di area... gang kecil dekat kampus DKV? Ngapain Javi ke sana? Mau kuliah lagi?"
"Mungkin dia mau ganti profesi jadi tukang sablon kaos," celetuk Satya.
Mereka berangkat menggunakan mobil van dengan kaca super gelap. Di dalam mobil, kekacauan berlanjut. Satya bersikeras membawa teleskop bintang untuk memantau dari jauh, sementara Kenji membawa nunchaku (dobel stik) untuk berjaga-jaga jika Javi diculik oleh sekte pemuja daster.
"Rian, berhenti makan cokelat! Kita mau misi penyelamatan, bukan piknik!" bentak Manajer Han.
"Aku stres, Hyung! Kalau aku stres, aku harus makan! Kalau nggak makan, aku pingsan! Kalau aku pingsan, siapa yang bakal jadi umpan buat narik perhatian fans?!" balas Rian sambil mengunyah cokelat batangan kelimanya.
Sesampainya di dekat lokasi, mereka melihat pemandangan yang tak masuk akal. Di sebuah gang sempit yang baunya campuran antara got dan bakso, terlihat sosok yang mereka cari sedang duduk di atas motor matic butut, membonceng seorang gadis yang dandanannya seperti baru saja selamat dari ledakan pabrik cat Aruna.
"Itu dia! Berhenti!"
seru Manajer Han.
Tapi mereka tidak langsung turun. Mereka melihat dari kejauhan.
"Tunggu dulu,"
Satya menahan pintu mobil.
"Liat itu. Javi... dia lagi... ketawa?"
Para member terpaku. Di mata mereka, Javier adalah sosok yang jarang tersenyum lebar. Dia selalu menjaga citra Ice Prince yang dingin dan mahal. Tapi di sana, di atas motor butut itu, Javi sedang tertawa terbahak-bahak sambil mencoba membenarkan posisi peci yang miring di kepalanya.
"Dia... dia gila," bisik Kenji.
"Javi-hyung sudah rusak otaknya. Dia tertawa sambil naik motor yang bunyinya kayak mesin jahit rusak."
Rian mulai menangis lagi kali ini pelan.
"Hyung... sepertinya Javi-hyung sudah menemukan kebahagiaan di dunia kemiskinan. Dia nggak mau balik lagi jadi idol..."
Di saat para member LUMINOUS sedang bergalau ria di dalam van, mereka tidak menyadari ada sosok lain yang sedang mengintai. Genta, dengan kamera DSLR-nya, sedang bersembunyi di balik tempat sampah besar, memotret setiap interaksi Aruna dan Javi.
"Dapet!" gumam Genta sambil melihat hasil fotonya.
"Foto Javier LUMINOUS lagi pake sarung dan daster pink di kepala. Kalau aku jual ke lambe-lambean, aku bisa beli Mac Studio baru. Tapi kalau aku pake buat ngancem Aruna biar dia ngerjain tugas UAS-ku... itu jauh lebih berguna."
Tiba-tiba, pundak Genta ditepuk oleh seseorang.
Genta menoleh dan mendapati tiga pria tampan dengan masker hitam dan kacamata hitam berdiri di belakangnya. Salah satunya Kenji yang sedang memutar-mutar nunchaku dengan kecepatan tinggi.
"Lagi foto apa, Dek?" tanya Satya dengan suara yang sangat ramah tapi mengancam.
Genta gemetaran.
"A-anu... foto kucing, Mas..."
"Kucing ya? Kok kucingnya tinggi 185 senti dan punya tahi lalat di bawah mata?"
Kenji mendekatkan wajahnya.
Genta langsung lari terbirit-birit, meninggalkan kameranya yang terjatuh. Rian dengan sigap memungut kamera itu.
"Hyung! Liat! Di sini ada foto Javi-hyung lagi pake daster!" seru Rian.
Manajer Han melihat foto itu dan langsung pingsan di tempat.
"Habis sudah... citra maskulin grup kita... lusa iklan sabun colek... Javier jadi duta daster kamboja..."
Saat mereka hendak menyergap Javi, motor Aruna tiba-tiba melesat masuk ke dalam gang yang lebih sempit, yang tidak bisa dimasuki oleh mobil van mereka.
"KEJAR PAKE KAKI!" teriak Kenji.
Ketiga member itu berlari mengejar motor Aruna. Bayangkan, tiga idola nasional berlari di gang sempit Jakarta, melompati jemuran, menghindari genangan air got, dan hampir menabrak gerobak gorengan.
"JAAAVIIIIII-HYUUUUNG! BALIIIIIIKKKK!" teriak Rian sambil menangis.
Javi, yang sedang dibonceng Aruna, menoleh ke belakang. Dia melihat tiga pria bermasker mengejarnya sambil berteriak-teriak.
"Aruna! Aruna! Ada fans fanatik! Mereka sangat agresif! Mereka membawa pria yang menangis!" seru Javi panik.
"Sudah kubilang kan! Makanya pake daster pink itu lagi buat nutupin muka!" balas Aruna sambil menarik gas motornya lebih dalam.
NGEEEEENG!
Motor Aruna menghilang di tikungan tajam menuju kosan yang tersembunyi. Member LUMINOUS berhenti di tengah gang, terengah-engah, dikelilingi oleh ibu-ibu yang sedang mengupas bawang.
"Aduh Mas, ganteng-ganteng kok main kejar-kejaran di sini," celetuk salah satu ibu kos.
"Mau beli pulsa ya?"
Satya bersandar di tembok yang penuh coretan pilox.
"Manajer... sepertinya kita butuh strategi baru. Javi sekarang punya bodyguard cewek galak yang jago naik motor zig-zag."
Kenji menatap kamera Genta yang tadi diambil.
"Dan kita punya barang bukti bahwa Javi-hyung sudah resmi jadi warga lokal."
Di basecamp, malam itu, Manajer Han bangun dari pingsannya hanya untuk menemukan bahwa Rian sudah memesan daster motif bunga yang sama di toko online karena ingin
"merasakan apa yang dirasakan Javi-hyung".
"Aku benci hidup ini," gumam Manajer Han sambil menatap langit-langit penthouse-nya yang mewah namun terasa hampa tanpa sang raja amnesia.