"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: KARUNG TERAKHIR
DARAH mengalir di sela jari Dullah.
Bukan darah musim tanam—luka terkena pacul atau tergores duri. Tapi darah dari kepala bocah laki-laki yang dipeluknya erat. Darah yang meleleh pelan, hangat, bercampur air mata.
Dari dalam kereta kencana, Datuk Maringgih melihat semuanya.
Kereta itu berhenti di tepi jalan setapak. Dua kuda putih gemuk mengibas-ngibaskan ekor, tidak sabar melanjutkan perjalanan. Kusir di depan menggenggam cambuk, menunggu perintah. Tapi Datuk Maringgih diam. Tangannya yang bersarungkan cincin berlian—lima butir, hadiah dari saudagar India—menggenggam jendela kereta sampai buku-buku jarinya memutih.
"Sudah kubilang jangan macam-macam dengan petugas Kompeni."
Suara itu. Dingin. Tenang. Seperti sedang memberi kuliah.
Laki-laki berbaju putih dengan lencana VOC di dada itu berdiri tegap. Dua orang pengawal di sampingnya—serdadu dengan senapan terhunus. Di belakang mereka, pintu gudang cengkih menganga lebar, siap menelan apa pun yang tersisa dari panen rakyat.
"Karung itu sudah masuk hitungan." Laki-laki itu melanjutkan, suaranya tidak pernah naik. "Kau sembunyikan, berarti kau curang pada Kompeni."
Dullah berlutut. Darah bocah di pelukannya menetes ke tanah kering. Anak itu—mungkin enam atau tujuh tahun—terisak pelan, tapi berusaha keras tidak berteriak.
"Tuan... dia cuma anak kecil. Dia tak tahu apa-apa. Dia hanya takut papanya dipukul—"
"Aku tidak memukul." Potong laki-laki itu. "Aku hanya mengingatkan. Dengan cara yang perlu diingat."
---
Datuk Maringgih menarik napas.
Tiga puluh enam tahun. Sudah tiga puluh enam tahun ia hidup di dunia ini. Tiga puluh enam tahun ia habiskan untuk berdagang—naik turun gunung, berlayar ke seberang, tidur di gudang, bangun sebelum subuh. Tiga puluh enam tahun dan belum sekalipun ia punya waktu untuk beristri. Belum sekalipun ia punya anak yang bisa dipeluk.
Sekarang, melihat anak orang lain berdarah, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dada.
Bukan karena dagangannya sepi. Itu urusan lain. Gudangnya sendiri tetap berjalan karena ia punya perkebunan rempah luas—cengkih, lada, pala—yang dikelola puluhan pekerja. Ia tidak butuh petani lain untuk survive. Dagangannya tetap jalan meski tak satu pun petani datang menjual hasil bumi.
Tapi ini soal lain.
Ini soal anak kecil berdarah. Ini soal perempuan kehilangan suara. Ini soal kemanusiaan yang diinjak-injak.
Ini bukan urusanku.
Pikirannya berbisik. Suara yang selama ini membuatnya selamat.
Tapi matanya tidak bisa berpaling.
Istri Dullah. Perempuan itu berlari dari arah kampung, kain basah di tangan—mungkin baru selesai mencuci di sungai. Ia berhenti beberapa langkah dari tempat suaminya berlutut. Kain jatuh dari genggaman. Mulutnya terbuka. Tapi suara tidak keluar.
Laki-laki berbaju putih menoleh. Menatap perempuan itu sebentar. Lalu kembali pada Dullah.
"Besok, semua petani wajib serahkan sisa panen. Aku akan datang sendiri memeriksa. Yang ketahuan sembunyi..." Ia menjeda. Tersenyum. "...tidak hanya anaknya yang terluka."
---
Dunia berputar lambat.
Datuk Maringgih melihat semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan: Dullah yang memeluk anaknya lebih erat. Istri Dullah yang akhirnya berlari, menjatuhkan diri di samping suaminya. Tangannya meraih kepala bocah itu, gemetar, lalu melolong. Lolongan yang tidak seperti manusia. Lolongan yang hanya keluar dari rahim perempuan yang melihat darah anaknya sendiri.
Dan laki-laki berbaju putih itu? Ia berbalik. Melangkah menuju kudanya. Sama sekali tidak terganggu.
"Tuan!" Dullah berteriak. Suaranya pecah. "Tunggu, Tuan! Karungnya... karung itu saya kasih! Saya tidak sembunyi! Saya hanya... hanya minta satu karung buat anak saya makan—"
Laki-laki itu berhenti. Tidak menoleh.
"Anakmu?" Suaranya terdengar, datar. "Anakmu bukan urusan Kompeni. Urusan Kompeni adalah cengkih. Semua cengkih."
Ia naik ke kuda. Pengawal mengikuti. Tapal kuda menghentak tanah, meninggalkan debu dan darah dan tangis.
---
Pintu kereta terbuka sebelum Datuk Maringgih sadar ia sudah mendorongnya.
Kakinya menginjak tanah. Sepatu kulitnya—buatan Eropa, pesanan khusus—tenggelam dalam debu. Tapi ia tidak peduli. Ia berjalan. Melewati kuda-kudanya yang mendengus heran. Melewati kusir yang terperangah. Menuju Dullah yang masih berlutut di tempat yang sama, seolah akar telah tumbuh dari lututnya ke dalam tanah.
"Pak Dullah!"
Ia berjongkok. Sutra bajunya menyapu tanah. Napasnya memburu. Tapi semua itu lenyap saat melihat kepala bocah itu.
Luka. Lebar. Darah masih mengalir. Mungkin kena gagang senapan. Mungkin sengaja dihantam.
"Kami... kami tidak punya apa-apa lagi, Datuk." Suara Dullah keluar seperti bisikan orang sekarat. Matanya kosong. Menatap sesuatu yang tidak ada. "Satu karung... saya minta satu karung. Buat anak saya. Dia belum makan sejak kemarin. Cuma minum air. Saya kira mereka... saya kira mereka akan mengerti."
Istri Dullah tidak bicara. Ia merobek ujung kainnya, membalut kepala anaknya dengan gerakan otomatis. Tangannya terampil, tapi matanya... matanya kosong. Melihat ke tempat tanpa orang.
Datuk Maringgih merogoh saku. Tangannya gemetar.
"Ini." Ia mengeluarkan sekantung uang. "Bawa anak kau ke dukun. Beli obat. Beli makan."
Dullah menatap kantong itu. Lalu menatap Datuk Maringgih. Lalu menangis.
Bukan menangis biasa. Tapi menangis dengan seluruh tubuh. Bahunya terangkat, dadanya sesak, air mata bercampur ingus dan debu. Ia meraih tangan Datuk Maringgih—tangan bersarungkan berlian—dan menciumnya.
"Jangan." Datuk Maringgih menarik tangannya cepat. "Jangan lakukan itu."
"Datuk... Datuk penyelamat kami..."
"Aku bukan penyelamat siapa-siapa." Datuk Maringgih berdiri. Ia mundur setengah langkah. "Aku cuma... aku cuma tidak tega."
---
Malam turun perlahan.
Datuk Maringgih duduk di beranda rumahnya. Rumah besar dengan pilar-pilar kayu ukir. Halaman luas dengan lampu-lampu minyak di tiap sudut. Tapi rumah ini kosong. Hanya ada ia dan para pembantu. Tidak ada istri yang menunggu. Tidak ada anak yang berlari menyambut.
Tiga puluh enam tahun. Dan ia memilih begini.
Di tangannya, secangkir kopi. Pahit. Seperti yang dulu selalu ia minum bersama Sulaiman.
Sulaiman.
Nama itu muncul lagi. Pagi tadi, sebelum kejadian di gudang, ia mendengar kabar. Dari pedagang di pasar. Sulaiman sekarang pengelola gudang VOC. Sulaiman yang tentukan harga. Sulaiman yang teken aturan.
Dan anak buah Sulaiman yang memukul anak Dullah.
Apakah Sulaiman tahu? pikirnya. Atau anak buahnya bertindak sendiri?
---
Kilas balik datang tanpa diundang.
Sembilan tahun lalu. Malam-malam di beranda rumah Maringgih yang sudah mulai besar—tidak sekecil dulu, tapi belum semegah sekarang.
Sulaiman duduk di kursi bambu. Kopi di tangan. Wajahnya lebih tua dari usianya, matanya sembab, bajunya lusuh. Ia menunduk dalam-dalam.
"Aku minta maaf, Ringih. Aku... aku kehilangan semuanya."
Maringgih—waktu itu masih dua puluh tujuh tahun—diam. Menatap kawannya yang hancur.
"Kapalku karam di selat. Barang dagangan habis. Aku berhutang ke sana-sini. Sekarang mereka tagih. Aku... aku tidak punya apa-apa lagi, Ringih."
Sulaiman menangis. Laki-laki dewasa menangis di depan kawannya.
Maringgih muda berdiri. Masuk ke dalam rumah. Keluar dengan sekantung uang.
"Ini."
Sulaiman menatap kantong itu. Matanya melebar. Tangan gemetar menerima.
"Ringih... ini terlalu banyak. Ini... ini semua tabunganmu?"
"Kau kawanku." Maringgih muda tersenyum. Tapi senyum yang lelah. "Sembilan tahun kita bersahabat. Kau dulu bantu aku waktu pertama kali merintis. Sekarang giliranku."
Sulaiman memeluknya erat. Air mata membasahi bahu Maringgih.
"Aku tidak akan lupa ini, Ringih. Suatu hari... suatu hari aku akan balas. Aku janji."
Maringgih muda tertawa kecil. "Tidak usah balas. Cuma... jangan lupa jadi manusia baik. Itu saja."
Malam itu, mereka berpisah. Sulaiman pergi dengan uang di tangan dan hutang budi di hati.
Sembilan tahun kemudian, ia kembali—bukan sebagai kawan, tapi sebagai pengelola VOC.
---
Datuk Maringgih menghela napas. Kopi di tangannya sudah dingin.
Sembilan tahun. Ia tidak pernah minta balasan. Tidak pernah minta uangnya kembali. Tapi di dalam hati kecilnya, ia berharap Sulaiman akan menjadi orang yang benar. Orang yang tidak melupakan dari mana ia datang.
Sekarang? Lihatlah.
Anak buahnya memukuli anak kecil.
Apakah kau tahu, Sulaiman? Atau kau terlalu sibuk di kantor hingga tidak lihat apa yang terjadi di lapangan?
---
Tengah malam.
Datuk Maringgih tidak bisa tidur. Ia bangun, berjalan ke jendela, membukanya.
Udara malam masuk. Wangi cengkih dari kebunnya sendiri—kebun luas yang ia kelola dengan puluhan pekerja. Ia tidak butuh petani lain. Dagangannya tetap jalan. Tokonya tetap ramai. Gudangnya tetap terisi—dari hasil kebun sendiri.
Tapi kenapa ia tidak bisa tidur?
Karena ini bukan soal dagangan. Ini soal anak kecil berdarah. Ini soal perlakuan ke rakyat.
"Kau di sana, Sulaiman?" bisiknya ke dalam gelap. "Kau tahu apa yang dilakukan anak buahmu? Atau jabatan sudah butakan matamu?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin.
---
Pagi datang.
Datuk Maringgih memutuskan pergi ke gudangnya di Pasar Atas. Bukan untuk berdagang—urusannya sudah diatur Jafar dan Kasim. Tapi untuk menenangkan pikiran.
Gudangnya ramai. Pekerja masuk keluar membawa karung. Rempah-rempah dari kebunnya sendiri ditimbang, dicatat, disimpan. Semua beres.
"Datuk." Jafar menyambut. "Ada kabar dari utusan."
"Kabar apa?"
"Dari kantor gudang VOC. Katanya... Datuk Sulaiman akan datang hari ini."
Datuk Maringgih mengerutkan dahi.
"Ke sini?"
"Mengutus orang tadi pagi. Bilang ingin bertemu."
Hening.
"Baik." Datuk Maringgih duduk di kursinya. "Kalau dia datang, persilakan masuk."
---
Sore hari, kereta kuda berhenti di depan gudang.
Bukan kereta biasa. Kereta bagus, dengan ukiran di setiap sudut. Dua kuda hitam perkasa. Kusir berseragam rapi.
Pintu kereta terbuka.
Laki-laki berbaju putih turun. Lencana VOC di dada. Perut sedikit buncit. Rambut memutih di pelipis. Umurnya 46 sekarang, tapi wajahnya menunjukkan ia hidup enak di kantor.
Datuk Sulaiman.
Ia berdiri, memandangi gudang Maringgih. Gudang itu besar—lebih besar dari gudang VOC di kampung. Rempah-rempah masuk keluar. Pekerja sibuk. Tanda bahwa Maringgih memang saudagar sukses.
Sulaiman menghela napas. Lalu melangkah masuk.
"Selamat sore, Ringih."
Datuk Maringgih duduk di kursinya. Tidak bergerak. Tidak menyambut.
"Selamat sore, Sulaiman."
Mereka saling menatap. Sembilan tahun. Sembilan tahun sejak terakhir bertemu—sejak malam Sulaiman menangis di berandanya.
Sulaiman menatap gudang itu. Matanya berbinar—bukan serakah, tapi kagum bercampur segan.
"Gudangmu bagus, Ringih. Lebih bagus dari yang kubayangkan. Daganganmu maju pesat."
"Terima kasih."
Sulaiman menghela napas. Ia melangkah maju, duduk di kursi yang disodorkan—tapi tidak dengan sombong. Ada rasa segan di setiap geraknya. Bahkan ketika duduk, ia tidak berani bersandar.
"Ringih..." Ia menunduk sebentar. Lalu menatap Maringgih. "Aku tahu... mungkin kau kecewa padaku. Aku masuk VOC. Aku kerja dengan mereka. Tapi..."
"Tapi apa?"
Sulaiman diam. Tangannya di pangkuan, menggenggam erat. Keringat di keningnya terlihat jelas meski sore tidak panas.
"Aku tidak pernah lupa, Ringih. Sembilan tahun lalu, kau selamatkan aku. Waktu aku jatuh, waktu kapalku karam, waktu aku tidak punya apa-apa. Kau beri uang—tabunganmu sendiri. Kau selamatkan hidupku." Suaranya serak. "Aku... aku berhutang nyawa padamu."
Hening.
Datuk Maringgih menatapnya lama. Mencari kebohongan di mata itu. Tapi tidak ada. Yang ada hanya... beban. Beban seorang laki-laki yang tahu ia berhutang dan tidak bisa membayar.
"Kalau kau ingat itu, Sulaiman, kenapa anak buahmu perlakukan petani seperti kemarin?"
Sulaiman mengerutkan dahi.
"Anak buahku?"
"Kemarin. Di gudang kampung. Seorang petani—Dullah namanya—dipaksa serahkan karung terakhirnya. Anaknya dipukul sampai berdarah. Istrinya kehilangan suara. Matanya kosong, Sulaiman. Kosong."
Sulaiman terdiam. Wajahnya berubah. Bukan marah, tapi kaget. Tidak percaya.
"Aku... aku tidak tahu."
"Tidak tahu?"
"Sumpah, Ringih. Demi Allah, demi hutang budi padamu, aku tidak tahu." Sulaiman berdiri. Tangannya gemetar. "Aku kasih perintah: kumpulkan panen sesuai aturan. Tapi tidak pernah... tidak pernah aku suruh mereka pukul anak kecil! Aku bukan monster!"
Datuk Maringgih menatapnya tajam. Mencari kepalsuan.
Tapi Sulaiman mundur selangkah. Wajahnya pucat. Dadanya naik turun.
"Aku akan selidiki ini. Aku akan pecat siapa pun yang—"
"Percuma pecat, Sulaiman. Lukanya sudah ada. Darahnya sudah tumpah." Datuk Maringgih berdiri. Kini mereka berhadapan. Hanya satu langkah jaraknya. "Kau tahu kenapa aku marah? Bukan karena daganganku sepi. Lihat sekeliling—" ia menunjuk gudangnya, "—aku punya kebun sendiri. Puluhan pekerja. Aku tidak butuh petani lain untuk hidup. Daganganku tetap jalan meski tak satu pun petani jual padaku."
Sulaiman diam. Menunggu.
"Aku marah karena lihat anak kecil dipukul. Lihat ibu kehilangan suara. Lihat bapak berlutut di tanah." Suara Maringgih naik, matanya basah—bukan karena sedih, tapi karena marah yang memuncak. "Ini bukan soal dagang, Sulaiman. Ini soal perlakuan ke rakyat. Dan anak buahmu—VOC-mu—sudah keterlaluan!"
Sulaiman menunduk. Tidak bisa menatap mata Maringgih.
"Maafkan aku, Ringih. Aku... aku benar-benar tidak tahu."
"Maaf?" Datuk Maringgih tertawa pahit. "Kau pikir maaf cukup? Coba kau lihat sendiri anak itu. Coba kau lihat sendiri ibunya yang matanya kosong. Baru kau tahu apa artinya maaf."
Hening lama.
Sulaiman berdiri di tempatnya, seperti patung. Tangannya di sisi tubuh, menggenggam erat. Lalu perlahan, ia berlutut.
Satu lutut. Di lantai gudang.
"Apa kau—"
"Aku minta maaf, Ringih." Suaranya lirih. "Bukan sebagai pejabat VOC. Tapi sebagai kawan yang berhutang budi padamu. Aku gagal jadi orang baik."
Datuk Maringgih tertegun.
Sulaiman, pejabat VOC, berlutut di depannya. Di depan karyawan-karyawan yang terperangah melihat dari kejauhan.
"Berdiri, Sulaiman."
"Maafkan aku."
"Berdiri, kubilang!"
Sulaiman mengangkat wajah. Matanya basah.
"Aku akan perbaiki ini. Aku janji. Bukan karena kau minta. Tapi karena aku tahu—kau benar. Ini bukan soal aturan. Ini soal kemanusiaan."
Ia berdiri perlahan. Menatap Maringgih lama.
"Aku akan cari tahu siapa yang pukul anak itu. Akan aku tindak. Dan mulai besok—"
"Besok?" Potong Maringgih. "Besok katanya ada penyitaan besar. Kau sendiri yang pimpin."
Sulaiman mengangguk pelan.
"Aku akan pimpin. Tapi tidak seperti yang mereka mau. Aku akan pastikan tidak ada kekerasan."
"Kau bisa?"
Sulaiman diam sebentar. Lalu tersenyum—senyum yang dulu, senyum yang Maringgih kenal dari sembilan tahun lalu.
"Aku bisa. Karena kalau tidak..." ia menghela napas, "...aku pantas kau maki sampai mati."
---
Sulaiman pergi sore itu.
Meninggalkan Maringgih dengan perasaan campur aduk. Marah masih ada. Tapi ada juga... harapan? Mungkin Sulaiman sungguh tidak tahu. Mungkin ia masih bisa berubah.
Tapi harapan itu kecil. Kecil sekali.
Malam turun.
Datuk Maringgih duduk di beranda. Kopi di tangan. Menatap gelap.
Dari kejauhan, dari arah kampung Dullah, terdengar tangis. Tangis yang sama. Masih ada. Belum berhenti.
Ia mengepalkan tangan.
Besok. Besok ia akan lihat sendiri. Apakah Sulaiman sungguh berubah, atau hanya pandai bicara.
Besok semuanya terjawab.
---
[Bersambung...]
---