NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ayunan senja dan janji di Aethelgard

Pagi yang cerah di Desa Aethelgard dimulai dengan ambisi besar seorang pria yang pernah mengguncang dunia dengan sihir hitamnya. Ferdi berdiri di tengah halaman, memandang kolam ikan yang baru saja selesai ia gali. Dengan satu tarikan tuas dari sistem pengairan yang ia rakit sendiri, air jernih dari mata air pegunungan mulai mengalir, mengisi lubang besar itu hingga membentuk cermin alam yang berkilau.

"Tinggal ikannya," gumam Ferdi. Ia menyeka keringat di dahinya.

Tepat saat itu, sosok pria tinggi dengan telinga runcing dan jubah hijau zamrud lewat di depan pagar rumah mereka. Itu adalah Elrond, pemimpin kaum Elf di Desa Aethelgard yang kini menjadi tetangga sekaligus rekan dagang Ferdi.

"Elrond!" seru Ferdi.

Elrond berhenti dan tersenyum tenang. "Ah, Tuan Ferdi. Kau terlihat lebih seperti petani daripada seorang raja hari ini. Ada yang bisa kubantu?"

"Besok kau akan ke pasar besar di kota bawah, kan?" tanya Ferdi sambil berjalan mendekati pagar. "Aku titip pesan. Tolong carikan ikan hias yang paling cantik. Pilih yang warnanya emas menyala seperti matahari, dan beberapa yang berwarna biru langit. Aku mau kolam ini terlihat hidup saat anakku lahir nanti."

Elrond terkekeh, matanya melirik kolam yang luas itu. "Untuk anakmu, atau untuk menyenangkan istrimu?"

"Dua-duanya," jawab Ferdi pendek, meski telinganya sedikit memerah. "Ini uangnya. Pastikan ikannya sehat, atau aku akan menanammu di kebun sayurku."

"Ancaman Raja Kegelapan tetap tidak berubah, ya? Baik, akan kupilihkan yang terbaik," sahut Elrond sambil berlalu dengan tawa kecil.

Ferdi tidak membuang waktu. Ia segera melangkah menuju gudang kayu di belakang rumah. Di sana, ia mengambil persediaan kayu cendana terbaik yang aromanya harum dan tali tambang serat rami yang sangat kuat. Hari ini, proyek utamanya adalah membuat ayunan di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di samping rumah—posisi strategis yang langsung menghadap ke arah ufuk barat, tempat matahari terbenam setiap harinya.

Vani muncul dari balik pintu, membawa bakul berisi benih. "Ferdi! Kau mau membuat apa lagi? Belum cukup kau merusak pemandangan depanku dengan kolam ikan itu?"

"Membuat ayunan, Vani. Untuk kita... maksudku, untuk anak kita," jawab Ferdi tanpa menoleh, sibuk mengukur panjang tali.

"Di bawah pohon itu? Kau tahu betapa tingginya dahan itu? Kalau kau jatuh, aku tidak mau menggendongmu ke tempat tidur!" Vani berjalan mendekat, mulutnya mulai beraksi. "Dan lihat!

Kenapa kau menanam pohon pisang lagi di sana? Itu akan menghalangi pandanganku ke kebun cabai!"

"Pisang itu untuk nutrisi, Vani. Kau mau anak kita kekurangan vitamin?" Ferdi memanjat pohon itu dengan lincah, mengikat tali tambang dengan simpul mati yang mustahil lepas. "Dan kau sendiri, kenapa sudah di luar? Bukankah aku bilang istirahat saja?"

"Aku bosan!" seru Vani sambil mulai mencangkul kecil di lahan sayurnya. "Aku akan menanam cabai, tomat, dan sayuran hijau. Setidaknya jika kau gagal menjadi petani, kita masih punya sambal untuk dimakan dengan telur ayammu!"

Selama beberapa jam berikutnya, suasana rumah itu dipenuhi bunyi kerja keras. Ferdi memperluas sawahnya di sisi lain pagar, menanam benih padi, gandum, dan jagung dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Ia seolah ingin memastikan stok makanan mereka cukup untuk sepuluh tahun ke depan. Di sela-sela itu, ia juga menanam bibit stroberi di kebun buah,

Vani pun tak mau kalah. Dengan perut buncitnya, ia dengan telaten menanam tomat dan sayur-sayuran lainnya. Meskipun sesekali ia mengeluh punggungnya pegal, ia tetap mengomel setiap kali melihat Ferdi melakukan sesuatu yang menurutnya "kurang estetis".

"Ferdi! Barisan jagungmu miring! Kau ini Raja Kegelapan atau penguasa garis miring?!"

"Jagungnya akan tumbuh lurus ke atas, Vani! Bukan mengikuti garis tanah!" balas Ferdi sambil menyeka lumpur di wajahnya.

Menjelang sore, Ferdi mendekati kandang ternak. Ia tersenyum lebar saat melihat sapi betinanya yang kini berperut besar. "Vani! Lihat! Sapi kita sebentar lagi melahirkan! Dan domba-domba itu... mereka sudah punya anak!"

Vani mendekat, wajahnya melembut melihat anak-anak domba yang baru lahir. "Oh, mereka sangat lucu... tidak seperti ayahnya yang kasar dan berbau lumpur."

"Yah, 'ayah' yang kasar ini akan menyiapkan makan malam yang spesial," kata Ferdi. Ia dengan cekatan namun penuh rasa hormat mengambil satu ayam jantan dari kandang. Dengan doa singkat agar nyawa hewan itu membawa keberkahan, Ferdi menyembelihnya dengan perlahan.

"Mandilah dulu! Aku tidak mau makan malam dengan pria yang berbau darah ayam!" omel Vani saat melihat Ferdi membawa daging ayam yang sudah bersih.

"Iya, Cerewet! Aku mandi!"

Setelah mandi di sumur belakang dan berganti pakaian linen bersih, Ferdi keluar. Matahari sudah mulai turun, memberikan warna jingga kemerahan yang magis di langit Aethelgard. Ia melihat Vani sudah berdiri di dekat ayunan baru di bawah pohon besar.

"Bagaimana? Mau mencobanya?" tanya Ferdi lembut.

Vani mendengus, melipat tangan di dada. "Aku masih marah soal kebun mawar yang kau geser tadi pagi. Dan ayunan ini... kelihatannya kurang tinggi."

"Cobalah dulu, Ratu yang Haus Kritik," Ferdi menarik tangan Vani dan membantunya duduk di papan kayu cendana yang halus.

Ferdi berdiri di belakang Vani, mendorong ayunan itu perlahan. Ayunan itu bergerak maju-mundur dengan lembut, menghadap langsung ke arah matahari terbenam yang memukau. Angin sore meniup rambut emas Vani, menciptakan pemandangan yang membuat jantung Ferdi bergetar.

"Indah, kan?" bisik Ferdi.

"Biasa saja. Kayunya agak keras di bokongku," gumam Vani, meski matanya berkaca-kaca melihat pemandangan sawah, kebun, dan kolam yang telah dibangun suaminya dengan penuh cinta. "Kau benar-benar berlebihan, Ferdi. Kau membangun semua ini dalam sehari..."

"Aku punya waktu seumur hidup untuk membangun apa pun yang kau mau, Vani," Ferdi menghentikan ayunan itu, lalu berjalan ke depan Vani. Ia berlutut, menatap mata Vani yang kini mulai melunak.

"Kau masih ngambek?" tanya Ferdi dengan senyum miringnya.

"Tentu saja! Kau tidak minta maaf soal kencan '' di neraka tempo hari!" seru Vani, bibirnya mengerucut sebal. "Kau itu menyebalkan, egois, kaku, dan—"

Kata-kata Vani terhenti. Ferdi menarik tengkuknya dengan lembut dan mendaratkan sebuah ciuman hangat tepat di bibirnya. Awalnya Vani terkejut, tangannya mencoba mendorong bahu Ferdi, namun perlahan jari-jarinya justru meremas kemeja Ferdi. Ciuman itu terasa manis,

membawa rasa syukur atas kehidupan damai yang mereka pilih.

Di bawah naungan pohon besar, dengan latar belakang sawah yang menghijau dan matahari yang perlahan tenggelam, dua mantan musuh bebuyutan itu bersatu dalam keheningan yang penuh makna.

Saat tautan bibir itu terlepas, Vani terengah, wajahnya merah padam melebihi warna senja.

"Kau... kau selalu melakukan itu kalau kau kalah debat!" omel Vani, meski suaranya kini hanya berupa bisikan malu. "Dasar curang! Raja mesum!"

Ferdi tertawa, tawa yang lepas dan bahagia. Ia memeluk Vani erat, mencium keningnya. "Aku mencintaimu, Vani. Meskipun kau lebih berisik daripada seratus naga, aku tidak akan menukar satu detik pun bersamamu dengan takhta mana pun di dunia ini."

Vani terdiam, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ferdi, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdetak hanya untuknya. "Aku juga... tapi ingat, besok kau tetap harus memperbaiki barisan jagung yang miring itu, atau aku tidak akan memasakkanmu sup ayam!"

"Siap, Permaisuriku," sahut Ferdi sambil menggendong Vani masuk ke dalam rumah, meninggalkan taman impian mereka yang kini bermandikan cahaya bintang.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!