NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18. Labirin Sempit dan Harapan

Debu tebal masuk ke dalam hidung Hana Tanaka dengan sangat cepat. Hana mencoba menahan keinginan untuk bersin dengan sekuat tenaga yang dia miliki. Ruang di dalam pipa ventilasi udara ini terasa sangat sempit dan juga sangat menyesakkan.

Dinding logam yang ada di sekeliling mereka terasa sangat panas karena mesin gedung masih bekerja. Kaito Fujiwara merangkak dengan sangat tenang tepat di depan posisi Hana saat ini.

Hana bisa melihat punggung Kaito yang sudah basah oleh keringat yang bercucuran deras. Udara di dalam saluran besi ini terasa sangat tipis dan juga sangat sulit untuk dihirup. Mereka harus terus bergerak maju meskipun otot tangan mereka sudah mulai merasa sangat lemas.

Setiap gerakan kecil yang mereka lakukan menimbulkan suara denting logam yang cukup keras. Suara itu terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian gedung sekolah yang sedang mencekam.

Di bawah sana, suara langkah kaki petugas keamanan yayasan masih terdengar sangat jelas sekali. Para petugas itu terus berteriak sambil memberikan komando untuk menyisir setiap sudut ruangan bawah tanah. Cahaya senter dari bawah sesekali menembus celah-celah kecil yang ada pada sambungan pipa besi.

Mereka semua harus membeku setiap kali cahaya terang itu melintas tepat di dekat mata mereka. Ketakutan yang sangat besar kini sedang menyelimuti hati kelompok lima sekawan yang sangat berani itu.

Hana merasakan lututnya mulai terasa sangat perih karena terus bergesekan dengan permukaan logam yang kasar. Dia tidak berani mengeluh karena dia tahu bahwa teman-temannya juga sedang merasakan sakit yang sama.

Akane Sato berada di belakang Hana dan dia terus memegang ujung sepatu Hana dengan tangan gemetar. Akane mencoba untuk tidak menangis meskipun dia merasa sangat takut akan kegelapan pipa ini.

Yuki Nakamura berada di urutan paling belakang untuk memastikan tidak ada alat pelacak yang mengikuti mereka. Ren Ishida merangkak paling depan untuk membuka jalur bagi sahabat-sahabatnya menuju ke arah dunia luar.

Tiba-tiba seluruh bagian pipa ventilasi udara itu mulai bergetar dengan sangat hebat dan juga menakutkan. Sambungan baut pada langit-langit gedung terlihat mulai melonggar karena tidak kuat menahan beban lima orang.

Suara decitan logam yang sangat melengking mulai memenuhi rongga telinga mereka semua dengan sangat menyakitkan. Ren Ishida segera berhenti bergerak dan memberikan isyarat agar semua orang tidak melakukan gerakan apa pun.

Mereka semua terpaku di posisi masing-masing sambil memegang dinding pipa dengan sangat erat sekali. Hana bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.

"Jangan bergerak sedikit pun karena pipa ini bisa jatuh ke lantai bawah," bisik Ren dengan suara berat.

Kaito menoleh sedikit ke arah belakang untuk melihat kondisi Hana yang terlihat sangat pucat pasi. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam ujung jari Hana untuk memberikan sedikit kekuatan moral bagi gadis itu.

Sentuhan tangan Kaito terasa sangat hangat di tengah dinginnya rasa takut yang sedang Hana alami. Hana mencoba untuk mengatur napasnya kembali agar tidak terlalu panik menghadapi situasi yang sangat darurat ini.

Yuki Nakamura mulai memeriksa struktur pipa melalui kamera kecil yang dia tempelkan pada dinding logam. Dia mencari titik yang paling stabil agar mereka bisa segera melanjutkan perjalanan menuju ke arah keluar.

Pipa besi itu kembali mengeluarkan suara retakan yang sangat keras dan membuat mereka semua merasa sangat ngeri. Ternyata ada satu penggantung pipa yang sudah terlepas sepenuhnya dari langit-langit beton gedung sekolah itu.

Tubuh mereka sekarang sedikit miring ke arah kanan mengikuti arah jatuhnya beban pipa yang sangat berat. Akane Sato menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara teriakannya tidak terdengar oleh petugas di bawah.

Mereka harus bergerak satu per satu secara sangat perlahan untuk memindahkan titik pusat berat tubuh mereka. Ren Ishida mulai bergerak maju kembali dengan gerakan yang sangat lembut seperti seekor kucing yang sedang mengintai.

Di tengah situasi yang sangat kritis tersebut, Hana teringat kembali pada kenangan masa kecilnya bersama sang ayah. Ayahnya dulu sering menceritakan tentang keberanian seekor semut yang bisa mengalahkan seekor gajah yang sangat besar.

Hana menyadari bahwa mereka saat ini adalah semut-semut kecil yang sedang melawan sistem raksasa yang korup. Gacha kehidupan telah menempatkan mereka di dalam pipa yang gelap dan juga penuh dengan debu yang kotor ini.

Namun, persahabatan mereka telah memberikan cahaya yang jauh lebih terang daripada sinar matahari di siang hari. Hana merasa bahwa dia tidak akan pernah menyesali keputusan yang telah dia ambil untuk melawan Haruo.

Kaito Fujiwara memikirkan tentang wajah ayahnya yang selalu terlihat sangat kaku dan juga sangat tanpa emosi. Dia merasa sangat malu karena ayahnya telah merampas masa depan banyak anak muda demi sebuah kekuasaan.

Kaito ingin membuktikan bahwa dia adalah manusia yang memiliki hati nurani yang sangat bersih dan jujur. Dia ingin membangun kembali nama baik keluarganya melalui jalan kebenaran yang sedang dia tempuh saat ini.

Hana menatap punggung Kaito dan dia merasakan ada sebuah ikatan batin yang semakin kuat di antara mereka. Dia tahu bahwa Kaito sedang berjuang melawan batinnya sendiri demi membantu perjuangan Hana Tanaka.

"Terima kasih karena kau sudah tetap berada di sisiku sampai saat ini," ucap Hana dengan suara yang sangat lirih.

Kaito tersenyum tipis meskipun Hana tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas di dalam kegelapan pipa itu. Dia merasa bahwa kehadiran Hana adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam hidupnya yang selama ini terasa hampa.

Hana telah memberikan warna baru pada kehidupan Kaito yang tadinya hanya berisi tentang angka dan juga prestasi. Mereka berdua berjanji di dalam hati untuk terus bersama sampai mereka berhasil melihat dunia yang baru.

Perasaan cinta yang murni mulai tumbuh subur di tengah-tengah ancaman bahaya yang bisa merenggut nyawa mereka. Romansa remaja ini menjadi penyemangat utama bagi mereka untuk tidak menyerah pada keadaan yang sangat sulit.

Yuki Nakamura mulai menyadari bahwa petugas keamanan di bawah mulai menaruh kecurigaan pada suara-suara di dalam pipa. Dia segera mengeluarkan sebuah perangkat pengalih suara yang berbentuk seperti kotak hitam kecil dari tasnya.

Yuki menempelkan perangkat tersebut pada dinding pipa dan mulai mengaktifkan modul suara tiruan secara otomatis. Perangkat itu mulai mengeluarkan suara tikus yang sedang berlari dan juga suara gesekan angin yang sangat alami.

Petugas keamanan di bawah mulai merasa tenang kembali karena mengira itu hanyalah suara hewan pengerat biasa saja. Yuki mengusap keringat di dahinya dan memberikan jempol kepada Akane Sato yang berada di dekatnya sekarang.

Akane Sato mulai merasa sedikit tenang setelah melihat kecerdikan Yuki dalam mengelabui para petugas keamanan yayasan itu. Dia menyadari bahwa Yuki adalah sosok yang sangat bisa diandalkan di dalam segala macam situasi yang genting.

Akane merasa sangat kagum pada kecerdasan Yuki yang selalu bisa menemukan solusi bagi setiap masalah yang mereka hadapi. Ada rasa kagum yang mulai berubah menjadi sebuah rasa suka yang sangat mendalam di dalam hati Akane.

Dia merasa bahwa Yuki adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu bekerja keras di balik layar komputer. Akane berjanji akan memberikan kejutan spesial bagi Yuki jika mereka berhasil keluar dari gedung ini dengan selamat.

Ren Ishida melihat ada sebuah celah cahaya kecil yang berasal dari ujung saluran pipa ventilasi udara ini. Ternyata mereka sudah sampai di dekat kipas pembuangan udara besar yang terletak di dinding luar gedung.

Suara putaran baling-baling kipas terdengar sangat bising dan juga memberikan hembusan angin yang sangat kuat sekali. Mereka harus melewati baling-baling yang berputar sangat cepat tersebut agar bisa melompat keluar dari gedung sekolah.

Yuki mulai bekerja kembali untuk meretas sistem kendali motor listrik yang menggerakkan kipas raksasa tersebut saat ini. Dia mencoba untuk mematikan aliran listrik secara mendadak agar baling-baling kipas itu berhenti berputar sepenuhnya.

Proses peretasan motor kipas berlangsung dengan sangat menegangkan karena sistem tersebut memiliki pelindung sirkuit yang sangat kuat. Yuki harus berkonsentrasi penuh agar tidak terjadi hubungan arus pendek yang bisa memicu alarm kebakaran di sekolah.

Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, baling-baling kipas itu mulai melambat dan akhirnya berhenti berputar. Ren Ishida segera menendang jeruji besi yang menutupi lubang keluar ventilasi tersebut dengan kekuatan kaki atletisnya.

Jeruji itu terlempar ke bawah dan mendarat di atas tumpukan kardus bekas yang ada di halaman belakang gedung. Mereka berlima akhirnya bisa melihat pemandangan langit malam yang sangat luas dan juga sangat indah sekali.

Ren Ishida melompat keluar terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tidak ada petugas keamanan yang berjaga di area halaman belakang. Dia mendarat dengan posisi yang sangat sempurna seperti seorang ninja yang sudah sangat terlatih melakukan aksi tersebut.

Ren segera memberikan kode kepada teman-temannya agar segera menyusul untuk melompat keluar dari pipa yang sempit itu. Kaito membantu Hana untuk turun dengan cara memegang pinggang Hana dengan sangat hati-hati dan juga penuh perhatian.

Hana merasakan kakinya menyentuh tanah yang dingin dan dia merasa sangat lega karena bisa bernapas dengan bebas. Akane dan Yuki menyusul kemudian dengan raut wajah yang menunjukkan rasa syukur yang sangat luar biasa besar.

Bau sampah plastik dan juga bau tanah basah menyengat indra penciuman mereka namun mereka tidak peduli sama sekali. Bagi mereka, bau ini adalah bau kebebasan yang sudah mereka perjuangkan dengan taruhan nyawa mereka masing-masing.

Mereka segera berlari menuju ke area semak-semak yang gelap untuk menghindari sorot lampu menara pengawas sekolah. Hana memegang cakram keras portabel yang berisi data rahasia itu dengan sangat erat ke dalam pelukannya saat ini.

Bukti kejahatan Haruo Fujiwara sekarang sudah berada di tangan yang tepat dan siap untuk disebarkan ke dunia. Mereka adalah pemenang di dalam babak perlawanan yang sangat mendebak jantung dan juga sangat melelahkan ini.

Setelah mereka merasa sudah berada di jarak yang cukup aman, mereka semua berhenti untuk mengatur napas mereka yang terengah-engah. Akane Sato tiba-tiba menangis tersedu-sedu sambil memeluk Hana Tanaka dengan sangat erat dan penuh dengan rasa haru.

Dia merasa tidak percaya bahwa mereka semua berhasil selamat dari maut yang baru saja mengintai mereka di pipa tadi. Hana mengusap rambut Akane dan mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang sedang melepaskan seluruh beban emosinya tersebut.

Ren dan Yuki saling bertukar pandangan penuh kebanggaan dan mereka berdua saling melakukan tos tangan dengan sangat kompak. Kaito berdiri di dekat Hana sambil menatap gedung sekolah yang sekarang terlihat sangat menyeramkan dari kejauhan sana.

"Kita sudah melakukan hal yang mustahil bagi anak sekolah seperti kita," kata Ren dengan napas yang masih memburu.

Mereka menyadari bahwa hidup mereka sudah berubah total mulai malam ini dan tidak ada lagi jalan untuk kembali pulang. Mereka adalah buronan bagi yayasan sekolah yang sangat kuat namun mereka memiliki kebenaran yang tidak bisa dikalahkan.

Hana menatap wajah-wajah sahabatnya satu per satu dengan rasa cinta yang sangat mendalam dan juga sangat tulus. Dia tahu bahwa persahabatan mereka akan menjadi legenda yang akan diceritakan oleh para siswa di masa depan nanti.

Gacha kehidupan mungkin telah memberikan mereka kartu yang buruk namun mereka telah memainkan permainan itu dengan sangat hebat. Mereka siap untuk menghadapi hari esok yang mungkin akan jauh lebih menantang dan juga jauh lebih berbahaya.

Kaito Fujiwara mengajak mereka semua untuk segera meninggalkan area sekitar sekolah sebelum pihak kepolisian datang mengepung lokasi tersebut. Mereka berjalan menyusuri gang-gang kecil di perumahan penduduk untuk menuju ke tempat persembunyian baru yang sudah disiapkan.

Cahaya bulan menyinari langkah kaki mereka seolah sedang memberikan restu bagi perjuangan suci yang mereka lakukan bersama. Hana merasa bahwa ibunya akan segera sembuh dan dia akan bisa hidup dengan tenang setelah semua ini berakhir.

Dia memegang tangan Kaito dan mereka berlima melangkah maju menuju masa depan yang penuh dengan harapan yang baru. Cerita perjuangan remaja ini baru saja akan memasuki babak yang paling besar dan juga babak yang paling menentukan.

1
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
😾🍟 𝒾Ř𝓪 𝐌𝐀ү𝓪 🐚
suka banget sama ceritanya. salut buat Hana. keren! tx kak bulan udah nulis cerita ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangat Kaito 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga akan menjadi sejarah yang baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!