Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Anggareksa
Pagi ini Anggareksa sengaja menemui bawahan yang hampir jadi besan di rumahnya.
Dia yakin kalo Cakra juga ada di sana.
Seperti dugaannya, Danu Sumirat bersama istri dan putranya kini sudah ada di hadapannya.
"Om, saya minta naaf." Cakra bahkan sampai sungkem di depan Anggareksa. Dia sudah siap untuk dimurkai mantan bos papanya.
Anggareksa menghembuskan nafas secara perlahan. Kemarahannya sudah lumer sejak tau hubungan Cakra dengan Fiola.
Walaupun Jetro tidak nekat menikahi Febi, dia tetap merasa lega. Karena Febi-putrinya, tidak menikah dengan orang yang salah akibat kepengecutan sikapnya.
"Sudahlah, Cakra. Febi juga sudah menikah dengan Jetro. Hanya saja om kecewa karena kamu tidak mau berterus terang dengan om."
"Saya benar benar minta maaf, om," ulang Cakra lagi.
Anggareksa mengangkat tubuh Cakra agar bangkit dari posisi sungkemnya.
"Iya. Om mengerti. Pasti kamu bingung mau terus terang," ucap Anggareksa berusaha maklum.
Cakra tidak sepenuhnya bersalah. Dia sudah mendengar sendiri pengakuan putrinya.
"Pak Angga, semua ini salahku." Marlena mengaku dengan suara bergetar.
"Maafkan saya, pak."
Anggareksa menarik nafas dalan dalam.
"Aku mengerti kalo kamu kurang menyukai Fiola karena sikap sikapnya dulu terhadap Febi. Dia masih menganggap Febi yang membuatnya kehilangan mamanya. Aku berharap kamu bisa lebih mengerti-in Fiola, Lena." Anggareksa tidak menghakimi istri mantan bawahannya, karena Marlena ikut bantu merawat kedua putrinya setelah kepergian istrinya untuk selamanya.
Hening.
Marlena mengangguk. Mungkin karena dia terlalu mengenal kedua putri Anggareksa, jadi bisa menilai karakter keduanya.
"Sekarang bagaimana Cakra? Kamu masih mau melanjutkan hubungan dengan Fiola?"
Hening lagi. Danu dan istrinya sama sama memfokuskan tatapannya pada Cakra.
Cakra mengambil nafas dalam dalam.
"Om, malam itu saya sudah putuskan untuk mundur dari menikahi Febi. Saya katakan pada Fiola, kalo saya yang akan mengaku pada Om Angga, kalau yang saya sukai dia. Tapi....." Ucapan Cakra terputus dengan nada yang mengambang.
Semuanya masih menyimak dan tidak ada yang bermaksud untuk memotong.
Cakra menarik nafas lagi lebih dalam.
"Fiola menolak karena dia sudah tidak ingin bersama saya lagi. Katanya dia sudah tertarik dengan laki laki lain." Cakra sengaja tidak mengatakan yang diinginkan Fiola. Dia ngga mau gadis itu nanti malah tambah dirujak oleh mamanya.
Pasti mamanya akan senang dan mungkin sangat pu@s mendengarnya. Gadis yang menolak putra tunggalnya harus menerima nasib karena laki laki yang diinginkannya malah menikah dengan adiknya sendiri.
Anggareksa terdiam. Dia teringat yang putrinya katakan padanya malam itu. Dia tau yang Cakra katakan benar, karena dia sempat mendengar mereka berbicara via telpon malam itu.
Anggareksa harusnya berterimakasih karena Cakra tidak mengatakan ceritanya secara utuh di depan kedua orang tuanya.
Mamanya-Marlena tercekat mendengarnya.
Anaknya ditolak berkali kali? batinnya kesal.
Siapa laki laki yang membuat putranya ditolak? batinnya penasaran sekaligus kesal.
Danu hanya bisa menghela nafas panjang, tidak mengira akan serumit ini. Dia pikir, setelah istrinya mengakui kesalahannya, pernikahan Cakra dan Fiola bisa dilangsungkan.
"Fiola menolak kamu karena dia tau mama kamu belum bisa menerima dia," ucap Anggareksa dengan nada penuh ganjalan. Dia merasa bersalah karena belum siap mengatakan alasan yang sebenarnya. Dan sudah menjadi pribadi yang egois.
"Danu, Lena, apakah kalian masih bisa menerima Fiola?" Anggareksa menatap mantan bawahan dan istrinya dengan tatap memohon.
Danu menatap istrinya dengan tatapan yang sama.
Marlena menghembuskan nafas menahan kesal.
"Aku juga sayang dengan Fiola, hanya saja beberapa sikapnya membuat aku ilfeel."
Danu tersenyum lega mendengarnya.
"Terimakasih. Semoga rencana berbesanan kita dapat dimudahkan," harap Anggareksa.
"Jadi Fiola tidak benar benar sudah tertarik dengan laki laki lain?" tanya Danu Sumirat agak ragu.
"Aku rasa tidak. Oh ya, bisakah aku berbicara dengan Cakra? Berdua saja?"
Danu mengangguk.
"Tentu."
Nanti kita juga harus bicara Danu, batinnya Anggareksa tidak nyaman karena menyimpan keburukan niat putrinya.
*
*
*
Anggareksa mengajak Cakra pergi ke sebuah kafe, karena pembicaraan ini akan lebih sensitif. Dia perlu berbicara pada Cakra terlebih dahulu sebelum membuat pengakuan pada Danu Sumirat.
"Om minta maaf." Anggareksa memutar cangkir kopinya perlahan.
"Om sudah tau, kan, alasan sebenarnya Fiola?" todong Cakra langsung dengan nada sopan.
Anggareksa mengangguk
"Om dengar pembicaraan kalian malam itu. Bahkan Om juga sempat meminta Fiola menggantikan Febi." Anggareksa menghembuskan nafas perlahan. Mengingat lagi kekeraskepalaan putrinya.
Cakra tidak merasa perlu mendengar lanjutan yang akan disampaikan papanya Fiola. Sudah jelas kalo Om Anggareksa gagal.
"Seperti yang kamu tau, om gagal." Anggareksa meneguk pelan kopinya.
Cakra juga melakukan hal yang sama.
"Om akan membujuk Fiola karena mama kamu sudah mau menerimanya," ucap Anggareksa sambil menatap Cakra.
'Om rasa Fiola menolak malam itu karena tidak yakin mama kamu mau menerimanya," lanjutnya lagi.
Cakra sudah tidak menggebu lagi seperti dulu. Hatinya terasa hambar.
"Om hanya ingin pastikan kamu mau menerima Fiola lagi."
Cakra tersenyum sopan.
"Ya, om. Kalo Fiola mau, saya ngga akan menolak." Dalam hati Cakra ngga yakin kalo Om Anggreksa bisa membujuk putrinya. Tapi dia hanya tidak mau mengecilkan usaha papanya Fiola.
Buktinya saja pesan pesan yang dikirimkan Fiola padanya masih berisikan kemarahan karena tidak datang di pernikahannya kemarin.
Tapi hanya dia baca saja, tanpa dibalas. Cakra juga tidak berniat menerima telpon Fiola atau balik menelpon gadis itu.
Cakra yakin, cinta Fiola terhadapnya sudah terganti. Cintanya pun rasanya sudah pudar.
Hanya saja sekarang hatinya lega karena kemarahan Om Anggareksa tidak terjadi. Mungkin karena Om Anggareksa sudah tau yang sebenarnya terjadi.
*
*
*
Jetro membawa Febi berkumpul dengan para sepupu dan kerabatnya.
"Lusa kita mancing," ujar Abiyan yang sudah tidak sabar menunjukkan yatch barunya.
"Oke," sahut Deva.
"Sudah lama juga ngga ke laut," sambung Ferdi.
"Ada berapa yatch?" tanya Quin.
"Empat cukup, ya," jawab Fathir-kembaran Fadel mencoba menganalisa.
"Oke," sahut Jayden.
Febi tertegun mendengarnya.
Empat yatch?
Begini, ya, mancing dengan anak konglomerat
"Kita mancing di laut?" bisiknya pada Jetro.
"Iya, laut lepas."
Febi merutuki pikiran sederhananya. Dia pikir mereka akan mancing di tempat pemancingan seperti yang papanya biasa lakukan dengannya.
"Jangan lupa bawa sunblock," pesan Nathalia yang berada di dekat Febi yang hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Bawa topi sama kaca mata juga," sambung Kayana-istri Fadel.
"Bikini woiii, yang paling penting dan jangan lupa dibawa," sergah Sean lantang, tapi kemudian meringis karena Ariella-istrinya mencubit keras lengannya.
"Loh, bener, kan, Riel. Di laut pakenya bini," tawa Dewa ngakak.
Di tengah tawa berderai itu, Jetro sempat sempatnya berbisik pada Febi.
"Kamu sudah punya? Yang two piece?"
Pipi Febi merona seperti kepiting rebus.
maafkan jika ada kritik, saran/pun komen aq zg tanpa sengaja menyinggung kalian yaaaa.... 😊😊😊