NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tamu Tak Diundang

​​"Kau merusak momen emosional kita dengan sangat cepat, Harper." Dominic mendengus pelan. Bukannya marah, pria angkuh itu justru tertawa kecil. Tawa yang sangat jarang terdengar di lantai eksekutif ini.

​"Aku tidak bekerja untuk momen emosional. Aku bekerja untuk uang," balas Harper santai. Tangannya masih menengadah di depan dada Dominic. "Keahlian retas tingkat dewa ini tidak masuk dalam deskripsi pekerjaan utamaku. Jadi, wajar kalau aku menagih biaya tambahan. Cepat transfer ke rekeningku sekarang juga."

​Dominic menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahannya. "Kau benar benar wanita paling materialistis yang pernah kutemui. Berapa yang kau minta kali ini? Lima ratus juta? Atau satu miliar lagi?"

​"Lima ratus juta cukup untuk mengganti biaya perawatan kulitku yang tertunda akibat stres memikirkan kode gila buatan peretas tadi," sahut Harper tanpa berkedip sedikit pun. "Dan aku mau uang itu ditransfer hari ini juga tanpa ada penundaan sedetik pun."

​"Baik. Akan kuurus setelah semuanya benar benar aman dan..."

​Ucapan Dominic terpotong oleh suara keributan yang mendadak meledak dari arah luar ruangan. Terdengar bunyi langkah sepatu hak tinggi yang menghentak kasar ke lantai marmer, disusul oleh suara panik Siska, sang resepsionis lantai eksekutif.

​"Maaf, Nona Vanessa! Nona dilarang masuk ke dalam! Pak Dominic sedang ada urusan sangat penting dan tidak menerima tamu tanpa jadwal resmi!" teriak Siska dengan nada memelas.

​"Minggir kau, pegawai rendahan! Beraninya kau menghalangiku masuk ke ruangan calon suamiku sendiri!" balas sebuah suara wanita yang sangat melengking, tajam, dan melukai gendang telinga siapapun yang mendengarnya.

​Harper langsung menurunkan tangannya. Dia menatap pintu ruang kerja Dominic yang kini bergetar hebat akibat dorongan paksa dari luar. Sudut bibir Harper terangkat membentuk senyuman mengejek. Dia sangat mengenali pemilik suara melengking tersebut.

​"Calon suami?" Harper menaikkan sebelah alisnya, menatap Dominic dengan tatapan penuh cemooh. "Sejak kapan kau bertunangan dengan Vanessa si lintah sosialita itu? Kau tidak menyuruhku menyewa gedung pernikahan untuk kalian berdua."

​Wajah Dominic langsung berubah gelap gulita. "Tutup mulutmu, Harper. Kau tahu persis wanita gila itu yang mengklaim sepihak. Dia makin terobsesi dan terus menempel padaku sejak keluarganya melakukan merger bisnis dengan divisi properti kita tahun lalu."

​Brak.

​Pintu kayu mahoni itu didorong terbuka dengan sangat kasar hingga membentur dinding kaca. Siska terlihat memegangi lengan wanita itu, mencoba menahannya sekuat tenaga, tapi sang wanita menepisnya dengan tenaga ekstra kasar.

​Vanessa melangkah masuk dengan gaya angkuh selangit. Penampilannya sangat berlebihan untuk ukuran pakaian ke kantor di siang bolong. Dia memakai gaun merah menyala dari merek kelas atas, LaVogue. Sepatu hak tingginya penuh taburan kristal berkilauan. Kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya.

​"Dom, Sayang!" seru Vanessa dengan nada manja yang dibuat buat. Dia melepas kacamata hitamnya, memamerkan riasan wajah yang luar biasa tebal. "Pegawaimu ini benar benar tidak tahu sopan santun. Pecat dia sekarang juga karena sudah membuat kulit tanganku lecet."

​Siska menunduk ketakutan di ambang pintu. "Maafkan keteledoranku, Pak Dominic. Aku sudah berusaha menahannya di meja depan, tapi Nona Vanessa terus memaksa masuk."

​"Kembali ke mejamu, Siska," perintah Dominic sangat dingin. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang tiba tiba terasa berdenyut nyeri. Datang satu masalah, belum tuntas urusan napas, kini datang lagi masalah baru yang jauh lebih merepotkan.

​Siska mengangguk cepat dan langsung menghilang dari balik pintu.

​Vanessa berjalan mendekati meja kerja utama dengan pinggul yang sengaja dilenggokkan berlebihan. Dia bersiap memeluk lengan Dominic, namun langkahnya mendadak berhenti total. Mata wanita sosialita itu membelalak lebar melihat pemandangan tidak wajar di depannya.

​Harper masih duduk dengan sangat nyaman di kursi kulit kebesaran milik Dominic. Posisi duduk Harper sangat santai. Kaki kirinya disilangkan ke atas kaki kanan, sementara tangan kanannya mengetuk ngetuk pelan permukaan meja kayu mahoni tersebut. Sepatu kets putih Harper terlihat sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.

​Wajah Vanessa langsung memerah padam menahan amarah yang meledak. Dia tentu saja sangat mengenali wajah dingin sekretaris yang selalu menghalangi jalannya selama lima tahun terakhir ini. Tapi kelakuan Harper hari ini benar benar di luar batas kewajaran.

​"Dom, apa apaan semua ini?" pekik Vanessa histeris. Dia menunjuk Harper dengan jari telunjuknya yang dihiasi kuku palsu panjang berwarna merah darah. "Sejak kapan sekretarismu berubah jadi gembel? Lihat sepatu olahraganya yang menjijikkan itu! Dan kenapa dia berani duduk di kursimu seolah olah ini perusahaannya sendiri?!"

​Dominic menghela napas panjang menahan kesal. "Vanessa, jangan mulai mencari masalah. Kau tahu dia Harper, sekretaris utamaku."

​"Sekretaris yang tidak tahu diri!" Suara Vanessa melengking semakin tinggi sampai membuat kaca ruangan bergetar. "Dulu dia setidaknya tahu aturan berpakaian! Sekarang dia berani memakai sepatu olahraga murah ke kantormu! Pecat dia, Dom! Kelakuannya merusak pemandangan mataku!"

​Harper sama sekali tidak terpengaruh oleh teriakan melengking itu. Wanita itu justru mengambil cangkir kopi Dominic yang tadi dia singkirkan, lalu menatap Vanessa dengan wajah luar biasa datar, khas seorang pembunuh bayaran yang sedang menilai mangsanya.

​"Sepatu murah ini baru saja menyelamatkan seluruh aset berharga calon suamimu dari kebangkrutan total," sahut Harper tenang. Suaranya tidak keras, tapi mengandung aura intimidasi yang sangat pekat. "Dan kursinya ternyata sangat nyaman. Pantas saja Dom sering malas berdiri saat sedang bekerja."

​Vanessa membelalakkan matanya lebar lebar. Dia merasa terhina luar biasa mendapat balasan sekasar itu dari seorang bawahan yang biasanya hanya diam saat dihina.

​Darah sosialita Vanessa mendidih seketika sampai ke ubun ubun. Dia melangkah maju dengan sangat cepat, mengikis jarak hingga berdiri tepat di depan meja kerja utama. Matanya menyala nyala menatap Harper yang masih duduk tenang tanpa berniat menyingkir sedikit pun dari sana.

​"Kau berani menjawab ucapanku dengan mulut kotor itu?!" bentak Vanessa kalap. Tangan kanannya terangkat tinggi, menunjuk tepat di depan wajah Harper yang sedingin bongkahan es. "Heh, sekretaris rendahan! Minggir dari kursinya!"

1
Savana Liora
halo readersku tersayang. mohon maaf banget. aku masih hiatus. tgl 1 Insya Allah mulai up lg. karena saat ini aku lg mudik dan sinyal dikampung ternyata sangat susah banget. lg ada problem katanya. untuk kirim komen ini aku musti ke kabupaten dulu nih buat nyari sinyal. maaf ya 🙏
Siti Hasanah
CEO gilaaaa
MamDeyh
Blm up lagi nih kak😀
Savana Liora: halo readersku tersayang. mohon maaf banget. aku masih hiatus. tgl 1 Insya Allah mulai up lg. karena saat ini aku lg mudik dan sinyal dikampung ternyata sangat susah banget. lg ada problem katanya. untuk kirim komen ini aku musti ke kabupaten dulu nih buat nyari sinyal. maaf ya 🙏
total 1 replies
Rismayanti Ishar
Alhamdulillah cerita Novelx bagus2 semua 👏👏👏👏
Rasax semangat banget klu baca alurx👌Tiap hari kerjaan rmh cpt2 saya selesaikan Krn satu tujuan 🤭 mau lanjt lanjut baca karya KK Savana Liora 🥰🥰🥰🥰
sehat dan sukses sell ya Thor & ditunggu karya selanjutnya 🤲🤲🤲🤲🤲
TETAP SEMANGAT 💪💪💪💪💪
Muft Smoker
good Harper ,,
Kalo perlu si Dom tu sruh tdur di atas air laut pake sekoci ,,
biar Tau rasa dy ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Rlyn
bgus harver🤭🤣
Muft Smoker
khawatir yx Pak bos ,,
makany jgn natckal Pak bos ,, nnti di tinggal Harper baru Tau anda ,,
😑😑😑
Eli Rahma
kok ada yaah manusia bentuknya modelan si Dom..bnr² bikin tensi naik nih
Fbian Danish
cemburu ni yeeee......
Pa Muhsid
galak amat pak bos cinta nya makin dalam ya makanya makin galak
Naureen Ridwan
punya boss kayak gitu ... udh q geprekk
Mei Saroha
kapan nihh bikin bos Dombret nyeselll.. pengen tau reaksinya
Sastri Dalila
cieee😅😅
Rlyn
pertama 🤭🤣
MamDeyh
Ya Allah kuatkan saya,Ya Allah kuatkan saya tiap baca kelakuan DomDom /Sob//Gosh/
Savana Liora: Aamiin
total 1 replies
Muft Smoker
pengen aq rujak si Dom ini kak ,,
boleh ta ,, 🤭🤭🤭😁😁😁

next kak
Muft Smoker: asyyaaap laa kak ,,
di rujak sing Lada ,, 👍👍👍🤭🤭🤭
total 2 replies
Maria Lina
emosi lamo"nengok dom thor
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
.
Mantappp
Mei Saroha
nelen ludah jangan lama2 Thor... kaga laper apa si Dom? eh, ud makan burger ya 🤭😊 tapi emosi tingkat dewa gitu pasti laper lagi kannn
Mei Saroha
jd pengen kasih bom kentut ke Dom mister perfect. asli nyebelin kuadrat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!